
Hari ini Fujiko mulai mengemasi barang-barangnya. Dirinya harus pindah ke kediaman utama. Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan pekerjaannya? Sesuatu yang sejatinya bukan beban fikiran untuknya. Mungkin saja setelah keadaan dapat diatasi barulah dirinya akan mulai bekerja kembali.
Reina menatap ke arah sahabatnya yang tengah mengemasi barang-barang. Matanya menelisik ke arah Fujiko."Sebenarnya aku ingin minta tolong," ucapnya ragu.
"Minta tolong apa?" Fujiko mengenyitkan keningnya.
"A...aku punya pacar. Dia anak orang kaya, tapi memutuskan tidak ingin kembali ke rumahnya. Jadi, dia ingin menjadi orang biasa. A...aku, dia kesulitan mendapatkan pekerjaan karena seluruh identitas dan ijazahnya ada di rumah orang tuanya. Bisa kamu bicara kepada kepala pabrik, atau mungkin ada lowongan---"
Fujiko mengenyitkan keningnya, sejenak kemudian mulai tertawa nyaring."Jadi kemarin pria lembek dengan kulit mulus itu pacarmu?"
"Saat itu belum, sekarang iya," Kini Reina benar-benar malu. Seorang janda gatal dengan bujang gatal tinggal satu rumah? Apa sebenarnya yang terjadi?
Fujiko yang sekarang sudah lebih berpengalaman mendekat. Jujur dirinya benar-benar sangat penasaran saat ini."Kalian sudah mencoba posisi apa saja?"
Bug!
Mulut Fujiko yang asal bicara itu didorongnya. Wanita yang benar-benar menyebalkan, mulut dan kentutnya seakan senada tanpa sedikitpun filter.
"Kami walaupun serumah tidak melakukan apapun! Gaya pacaran yang sehat!" tegasnya dengan semangat bagaikan pejuang kemerdekaan.
"Gaya pacaran yang sehat? Kalian pernah berciuman?" tanya Fujiko.
"Sudah," Jawab mama tersipu malu. Ini terjadi karena papa yang nakal. Padahal papa kan tidak sayang mama. Papa hanya cemburu saja.
"Tapi apa sudah sampai---" Fujiko dengan sengaja menghentikan kata-katanya, melirik ke arah pangkal paha Reina.
"Belum!" Geram sang janda gatal.
"Oh belum, aku kira sudah. Tidak sepertiku yang melakukannya dimana saja." Fujiko tersenyum masih mengemasi barang-barangnya.
"Kamu tidak ingat dulu hubungan kalian seperti apa? Kamu selalu mengatakannya sebagai kutu penghisap darah. Tapi pada akhirnya kutu itu kamu kutuk jadi pangeran juga. Mengingat hubungan kalian aku jadi iri," Reina terkekeh sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Fujiko hanya tersenyum. Pada awalnya dirinya kagum dengan wajah rupawan sang tetangganya. Perlahan membenci kelakuannya, tapi juga bergantung padanya. Lama kelamaan menjadi takut kehilangan. Hingga akhirnya memutuskan untuk menikah dengan si kikir.
Cinta memang unik bukan? Dapat datang dari sudut mana saja. Seperti sahabatnya yang kali ini mungkin serius menjalin hubungan.
"Bagaimana dengan pak Danu?" tanya Fujiko.
Reina menggeleng."Aku sendiri bingung, jujur saja aku masih ingin sendiri. Tapi pacarku yang sekarang berkata kalau almarhum Rian bukan jodohku, almarhum Rian hanya meminjam tanpa ijin. Dialah jodohku yang sebenarnya. Kelakuannya terkadang membuatku kesal, sekaligus tertawa."
"Aku akan menghubungi kepala pabrik agar menerima pacarmu bekerja. Menggantikanku sementara," Ucap Fujiko, menghela napas berkali-kali.
"Terimakasih," Reina tersipu masih mengingat kejadian yang beberapa hari ini dialaminya. Berciuman, memasak bersama, terkadang terkekeh, menikmati kebersamaan bertiga dengan Egie. Inilah pasangan kumpul kebo berkedok kakak ipar.
Sedangkan Imanuel masih menunggu di area depan gang. Dirinya tidak berani lagi mendekati tempat tersebut. Entah kenapa dirinya tidak ingin bertemu dengan Raka.
Hingga mobil milik Raka mulai masuk. Dengan cepat Imanuel yang memakai helm mengalihkan pandangannya.
Wajah yang tidak terlihat, tapi perawakan yang sama. Saat ini Raka benar-benar ragu. Tapi sekali lagi, Imanuel tidak mungkin berada di sini. Jika sepupunya itu selamat, harusnya segera pulang. Bukan, mungkin bukan Imanuel.
Dirinya masih memiliki Reina dan Egie, jika tertangkap oleh Raka artinya mati. Dirinya tidak boleh mati diusia semuda ini.
"Reina cepatlah datang..." batinnya, menatap predator yang mungkin kini berada dalam tempat kost.
Dan benar saja selang beberapa puluh menit pemudanya itu kembali keluar. Kemudian berlalu pergi bersama seseorang yang dikenalnya.
"Fujiko?" gumamnya kini bersembunyi di belakang gerobak pemulung yang terparkir. Dua orang terlihat akrab, walaupun dirinya hanya melihat sekilas dari kaca jendela mobl.
Beberapa saat kemudian Reina berjalan mendekatinya."Lihat siapa?"
"Mobil tadi itu, Fujiko dengan Raka?" tanya Imanuel tidak mengerti sama sekali.
"Kamu kenal Raka?" Reina balik bertanya. Dijawab dengan anggukan kepala oleh Imanuel.
__ADS_1
"Tapi kenapa mereka bersama. Mereka---" Imanuel yang masih bingung menggantungkan kata-katanya.
"Mereka pasangan suami istri. Sudah menikah sekitar tiga bulan yang lalu. Dulunya Raka memang tinggal bersebelahan dengan Fujiko. Seperti pasangan kumpul kebo, Raka sering menginap dan numpang mandi di kamarnya. Kenapa?" tanya Reina.
Imanuel terdiam, jika Nadila dan Raka tidak memiliki hubungan. Maka ini tidak ada sangkut pautnya dengan Raka.
Aneh! Benar-benar aneh baginya. Lalu kenapa Nadila memutuskan untuk mengkhianatinya, jika bukan suruhan Raka?
"Sudah! Ayo pulang! Kamu bilang mencari pekerjaan kan? Ingin hidup bersamaku? Fujiko akan bicara pada kepala pabrik, mulai besok kita akan bekerja di tempat yang sama." Ocehannya.
Pemuda itu melirik ke arah sekitar, mengamati kondisi yang sepi. Dengan cepat satu ciuman dicuri olehnya. Walaupun hanya kecupan singkat.
"Iii...ih! Nakal!" Reina mengalihkan pandangannya, terlihat malu-malu. Saling lirik salah tingkah. Dua orang yang mulai melanjutkan perjalanan pulang mereka menggunakan motor matic.
Ada sedikit perubahan dalam diri Reina. Wanita yang biasanya mandi sehari sekali, karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukannya. Bahkan untuk keramas paling lima hari atau seminggu sekali.
Kini? Dirinya mulai kembali menata diri. Walaupun tidak mungkin secantik dulu, tapi setidaknya dirinya mandi sehari dua sampai tiga kali. Dan keramas setiap hari. Mengapa? Ada yang membantu pekerjaannya. Imanuel setiap pagi selalu ke warung menggantikannya membeli keperluan dapur, sambil mendengarkan berita gosip yang sedang trend saat ini. Termasuk gosip Lukman ingin mengirimkan jampi-jampi.
Tapi itu hanya sekedar gosip. Jikapun dikirim jampi-jampi, dirinya tinggal bernegosiasi dengan sang jin. Kemudian meminta sang artis mengantar pada manajemen perusahaan yang mengorbitkannya. Maaf salah, maksudnya. meminta jin mengantar pada sang dukun. Tinggal transfer uang ke rekening dukun beres. Transaksi yang sama-sama menguntungkan.
"Reina, aku ingin tau bagaimana hubungan Raka dan Fujiko." Ucapnya menyakinkan tentang terlibat atau tidaknya Raka.
"Mereka bertetangga dan berteman selama setahun. Selama itu juga mereka terlihat saling menyukai, tapi juga enggan untuk pacaran. Alasannya Fujiko materialistis, sedangkan Raka miskin dan kikir. Tapi pada akhirnya Fujiko takluk juga." Reina tertawa lepas masih mengingat segalanya.
"A...apa ada kemungkinan Raka menyukai wanita lain?" tanya Imanuel.
"Kenapa!? Kamu menyukai Fujiko ya? Dasar buaya yang naik ke daratan!" bentak mama, murka. Kala papa sudah sayang mama tapi masih memikirkan wanita lain.
"Aku menyukaimu! Sudah aku bilang aku menyukaimu!" Ucapnya dengan motor masih melaju.
"Aku juga---" Reina mengeratkan pelukannya, menyandar di punggung Imanuel.
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan Imanuel selanjutnya? Dirinya akan menemui Raka secara pribadi. Tidak akan melibatkan Reina dalam hal ini.