
Senyuman terlihat di wajah Fujiko, menggenggam erat jemari tangan suaminya. Perjalanan mereka menunju Singapura hari ini. Untuk pertama kali dirinya ke luar negeri, walaupun sudah cukup lama memiliki paspor.
Menghela napas kasar menatap lautan yang dilewati oleh pesawat. Suara dengungan sedikit terdengar, apa ini juga untuk pertama kalinya Raka pergi ke luar negeri? Pasti iya.
Suaminya akan benar-benar tegang dan berdebar-debar. Tapi kala dirinya menoleh Raka tengah tertidur dengan mulut terbuka. Suaminya tidak tegang sama sekali, malah terlihat biasa-biasa saja, bagaikan menaiki bis hendak ke luar kota.
"Fujiko lagi," gumam pemuda itu dengan mata terpejam.
"Dasar!" geram sang istri pada suaminya.
Hingga pada akhirnya pesawat mendarat. Fujiko benar-benar ketakutan saat ini. Melewati beberapa orang melangkah bersama suaminya. Pelajaran bahasa Inggris seakan menghilang semuanya dalam waktu beberapa detik.
"Tidak usah tegang, tidak semuanya menggunakan bahasa Inggris ada beberapa yang bisa bahasa Melayu," ucap sang suami tersenyum, menggandeng tangan istrinya.
Bandara yang terlihat berbeda, desain yang luas terlihat modern. Berjalan menuju area depan bandara, hendak memesan taksi.
"Dengan tuan Raka? Tuan kami menyedikan kendaraan untuk menjemput anda," ucap orang suruhan rekan bisnisnya.
"Ada tumpangan gratis," Raka tersenyum, menarik tangan Fujiko masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju meninggalkan area bandara, wanita itu melihat ke arah jendela pemandangan perkotaan yang indah, tertata rapi, terlihat benar-benar bersih, beberapa orang asing juga ada di sana. Dirinya hanya dapat menghela napas, penasaran dengan jalan kehidupan selanjutnya.
"Bosmu baik juga ya? Mengirimkan orang untuk menjemputmu," ucap Fujiko pada suaminya.
"Karena sudah disini dan kamu tidak bisa melarikan diri jika marah maka aku akan jujur. Aku kemari bukan untuk menjadi TKI, tapi berinvestasi pada teman ayahku untuk membuka club'malam di salah satu cabang. Kamu ingat pria yang bertemu denganmu di pertunangan Fumiko itu adalah aku." Kata-kata dari mulut Raka, membuat Fujiko tertawa.
"Tidak mungkin!" Hanya dua kata yang keluar dari mulutnya. Bagaimana bisa seorang crazy rich tinggal di kontrakan kumuh menumpang mandi ketika sabunnya menipis. Kehidupan crazy rich tidak seperti itu, bepergian menggunakan mobil sport, royal pada wanita, memakai out fit seharga ratusan juta, itulah kehidupan crazy rich di sosial media. Benar-benar berbanding terbalik dengan Raka yang menggunakan kaos partai.
Raka kembali memijit pelipisnya sendiri, Tidak tau bagaimana lagi menjelaskan pada istrinya. Hingga pada akhirnya mereka sampai di sebuah apartemen, sang driver memberikan kunci sekaligus memberitahukan nomor unit.
Hingga kepergian sang driver mereka masuk ke dalam tower apartemen yang terlihat cukup mewah dari luar. Tombol lift ditekannya, lift yang naik perlahan menuju lantai 12. Mereka berjalan keliling, mencocokkan nomor unit.
__ADS_1
Hingga nomor unit yang sesuai ditemukan pada akhirnya. Kode akses ditekan, juga harus membukanya menggunakan kunci. Pintu terbuka, setelah suara aneh terdengar.
Fujiko membulatkan matanya, ruangan yang cukup luas, mewah serta rapi, berkonsep minimalis, dilengkapi satu kamar tidur yang terhubung dengan toilet, ruang tamu dan dapur. Wanita yang bergerak cepat menggeledah ke segala tempat.
"Apa ini mes pegawainya? Apa tidak terlalu mewah?" tanya Fujiko.
"Ini apartemen rekan bisnis ayahku, dia punya beberapa unit disini. Jangan khawatir dia tidak akan bangkrut jika meminjamkan salah satu unit padaku." Cerocos Raka mengeluarkan barang-barang dari dalam koper, meletakkannya pada lemari yang ada di dalam kamar.
"Tapi..." Kata-kata Fujiko disela, gadis itu dipojokan dekat kaca besar kamar mereka. Kamar dengan tema yang benar-benar terbuka. Pemandangan gedung-gedung yang tinggi menjulang terlihat.
"Tapi?" tanya Raka, membelai pelan bibir Fujiko.
Benar-benar wanita yang peka, suasana kini sudah tidak kondusif."Tutup tirainya, jika ada orang yang lihat maka---"
"Maka apa? Kita sudah terlalu lama menjadi sahabat," ucap sang pemuda membuka pakaiannya sendiri, melemparkannya asal."Kamu tau bagaimana aku menahan diri setiap kamu memintaku menginap?"
"Mana aku tahu, saat itu aku masih menginginkan pacar kaya. Maaf," Fujiko tertunduk.
Secarik kain kecil itu terjatuh, Raka mulai menundukkan kepalanya. Bersamaan dengan Fujiko yang menikmati segalanya menonggakkan kepalanya, menjambak pelan rambut Raka, bagaikan menginginkan lebih dari suaminya.
Bug!
Entah sejak kapan, tubuhnya di jatuhkan di atas tempat tidur. Jemari tangan yang tidak berhenti bergerak, bibir sang pemuda yang tidak bisa diam, helai demi helai sisa pakaian teronggok di lantai. Hingga seprei dicengkeram kuat olehnya kala tubuhnya diguncang.
"Kamu adalah milikku, hanya milikku, orang lain tidak boleh memilikimu," Kata-kata posesif dari Raka.
"Agh..." suara Fujiko tertahan, ini begitu sulit untuknya. Rasa yang tidak pernah dibayangkan olehnya, hingga beralih kini duduk di pangkuan suaminya, menggerakkan tubuhnya agresif di hadapan Raka. Membuat sang pemuda meracau tidak karuan, suara yang bersahutan terdengar. Sesekali berciuman dengan Fujiko yang masih ada di pangkuan Raka menggerakkan tubuhnya.
Hingga tiba-tiba segalanya terhenti, kedua orang yang berpelukan, merasakan menjerit pelan dengan tubuh bergetar, merasakan rasa rileks yang aneh, kala cairan itu menyatu bersamaan.
"Kita akan memiliki anak," gumam Raka mengatur napas, memeluk erat Fujiko dalam pangkuannya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, bukan karena pertemuan singkat. Tapi perlahan, aku tidak bisa tanpamu," ucap Fujiko dengan napas yang sama tidak teraturnya. Hingga Raka melepaskan pelukannya, sepasang bola mata saling menatap, kembali saling memangut perlahan dengan mata terpejam.
Box berisikan makanan delivery yang kosong terlihat. Langit kini sudah benar-benar gelap, pasangan yang tertidur hanya dengan berbalut selimut. Perlahan Fujiko membuka matanya, biaya hidup yang pastinya mahal, mungkin besok dirinya harus mulai mencari pekerjaan untuk meringankan beban suaminya. Itulah tekadnya, mulai bangkit memakai jubah mandinya ,berjalan dengan pinggang yang sakit menuju kamar mandi.
Apa membuat istrinya tidak berdaya adalah tindakan KDRT? Raka tersenyum-senyum sendiri, pemuda yang hanya berpura-pura tertidur.
"Apa aku keterlaluan? Tapi jika tidak dihisap hingga energinya habis, dia akan berselingkuh dan mencari pria barat yang lebih tahan lama," gumam Raka ya mungkin memiliki pemikiran sama dengan Reina. Hisap energinya hingga habis tidak bersisa, maka Fujiko tidak akan memiliki tenaga untuk berselingkuh.
*
Hari pertama suaminya bekerja, memakai pakaian santai, mengatakan akan pulang terlambat. Dan benar saja Raka kembali pukul 12 malam.
Karena itu kesempatan di hari kedua Fujiko meninggalkan apartemen, membawa ijazah, CV, dan visa serta paspornya. Berkeliling hingga mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan restoran dengan gaji yang tidak begitu besar, untuk seukuran biaya hidup di Singapura. Tapi sekali lagi dirinya ingin mengurangi beban suaminya.
Tidak ada kecurigaan dalam diri Raka, memberikan kartu kredit pada istrinya, untuk bersenang-senang selama dirinya bekerja. Tapi sekali lagi, berapa gaji Raka yang hanya lulusan SMU? Pasti benar-benar kecil.
Karena itu setiap suaminya keluar rumah, dirinya juga akan keluar untuk bekerja. Hingga tepat pada hari keempat, seseorang pria mendatangi restauran tempat Fujiko bekerja bersama seorang wanita berpakaian minim.
"Theo?" batin Fujiko mengingat nama salah satu mantannya. Tapi tetap saja dirinya harus tetap melayani mereka selaku pelanggan.
Daftar menu diberikan olehnya, kemudian bersiap-siap untuk mencatat pesanan.
"Tenderloin steak, dessert tiramisu, minumannya orange juice." Ucap Theo menoleh pada sang pelayan. Kemudian menipiskan bibirnya menahan tawa."Kamu Fujiko kan? Kamu jadi pelayan!?"
"Sayang kamu kenal dia?" tanya wanita yang datang bersama Theo.
"Kenal, dia mantan pacarku yang paling matre dan munafik." Jawaban dari Theo.
"Setidaknya walaupun aku dulu cerewet bertanya tentang penghasilanmu. Tapi aku tidak pernah meminta barang-barang darimu. Aku beli sendiri..." batin Fujiko berusaha untuk tersenyum ramah.
"Suamimu pasti cleaning service?" Theo tertawa semakin kencang.
__ADS_1