
Apa yang dilakukan Sean saat ini? Dirinya menghubungi orang-orang yang dikenalnya mencari keberadaan Barbara. Tidak ada petunjuk sama sekali. Ini benar-benar aneh untuknya.
Mobil miliknya melaju, membelah jalanan perkotaan. Tersangka utama baginya saat ini adalah Raka. Tapi apa Raka akan melakukannya? Entahlah.
Hal pertama yang akan dilakukan adalah pergi menemui keluarga Fujiko. Setidaknya mencari tahu cara menghubungi Fujiko yang diyakininya masih berada di Singapura bersama Raka.
Mobil yang melaju hingga terparkir tepat di depan rumah Firman. Seperti biasa, beberapa ibu-ibu yang berada di tukang sayur mulai kasak-kusuk.
"Pacar siapa itu? Ada mobil lagi. Kemarin kan Fujiko sudah menikah." Gumam seorang wanita berdaster batik.
"Mungkin Fumiko, Rosita atau Tari yang putus dengan pacarnya, lalu punya pacar baru. Tau sendiri kan, kakak beradik itu tidak ada yang benar, sok cantik, matre lagi," Wanita yang memakai setelan kulot memandang sinis.
"Tapi, kemarin pak Firman sempat batuk-batuk. Ketiga calon menantunya lengkap antar ke rumah sakit. Tidak mungkin Tari, Rosita atau Fumiko yang putus." Sang pedagang sayur menyela.
"Berarti Fujiko, mungkin karena suaminya modal tampang saja dia minta cerai. Terus punya pacar baru." Celetuk ibu-ibu berdaster batik.
"Wah, tambah murahan saja. Saya mau pulang dulu." Ucap ibu-ibu yang memakai setelan kulot, mungkin tidak sabar rasanya menyebarkan hot news, pada suami, anak, pembantu, tetangga dan bahkan kucing kampung peliharaannya.
"Bu! Hutangnya gimana!?" teriak sang pedagang sayuran.
"Tanggal satu, kalau suami saya gajian saya bayar!" jawab sang ibu-ibu tetap melenggang pergi.
"Tanggal satu, tanggal satu, tanggal satu. Bayar 112 ribu kayak nunggu gaji pegawai kantoran saja. Padahal saya pedagang sayur, tidak kerja di kantoran." Geram sang pedagang sayur, mencatat di buku hutangnya.
*
Bingung? Canggung? Itulah situasi saat ini, kala Fumiko sudah membukakan pintu gerbang. Bagaimana cara menceritakan dan mencari informasi dari mereka, itulah yang ada di benak Sean saat ini.
__ADS_1
Uang 500 juta pemberian Barbara sudah sekitar 100 juta dipergunakannya. 25 juta untuk kepentingan pribadi sedangkan 75 juta sisanya untuk menyewa detektif. Bagaimana pun Barbara adalah kenalannya, selain itu uang wanita itu masih ada di tangannya, walaupun jumlahnya sejatinya tidak seberapa bagi Barbara.
"Kamu pasti tau Fujiko sudah menikah," ucap Fumiko memandang sinis.
Sedangkan Rosita dan Tari yang masih ada di rumah belum berangkat bekerja, menatap aneh pada saudari mereka. Mengapa Fumiko begitu membela Raka? Padahal dari segi finansial Sean lebih mapan. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Fujiko telah menikah dengan Raka. Tidak ada gunanya lagi Sean kemari.
"Aku tau," jawaban dari Sean, menghela napas kasar."Ayah kalian dimana?"
Sean mungkin lebih memilih bicara dengan Firman yang tidak menghakimi menjadi penengah. Bagaimana pun kali ini dirinya bersalah, sebagai orang yang menerima uang dari Barbara. Menceritakan? Dirinya tentu saja akan dihujat.
"Sudah berangkat bekerja," Tari menuangkan teh hangat dari tea pot, kemudian menghidangkan untuk Sean.
"Sebenarnya aku ingin meminta e-mail, Facebook, atau jika ada cara lain menghubungi Fujiko. Ada hal penting yang harus aku tanyakan tentang Raka." Ucap Sean ragu untuk berucap.
"Akan aku berikan e-mail---" Tari yang hendak meraih phonecellnya dicegah oleh Fumiko.
"Tunggu! Jangan berikan! Apa tujuanmu sebenarnya? Kamu tidak murni mendekati Fujiko dari awal kan? Aku tau dari gelagatmu saat bertemu Raka untuk pertama kalinya. Apa tujuanmu?" tanya Fumiko, dari ekspresinya yang sungkan dan ketakutan kala berhadapan dengan Raka, wanita itu mengetahui Sean sejatinya tahu identitas sebenarnya dari Raka.
"Baik! Akan aku katakan tujuanku sebenarnya. Tapi kalian berjanji harus memberikanku jalan untuk menghubungi Fujiko." Kata-kata dari mulut Sean membuat Tari dan Rosita mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Aku berjanji." Ucap Fumiko.
"Aku orang bayaran, untuk menikahi Fujiko. Temanku yang bernama Barbara memberikan uang muka 500 juta. Sisanya akan diberikan setelah aku menikah dengan Fujiko. Awalnya aku enggan tapi setelah bertemu dan mengetahui sifat adik kalian aku benar-benar menginginkannya---" Kata-kata Sean terhenti, Rosita menarik kerah kemejanya.
"Kamu bilang apa? Kamu pikir pernikahan itu mainan! Dibayar untuk menikahi adikku? Laku setelah mendapatkan uang kamu akan menceraikannya!? Aku bersyukur Fujiko tidak memilihmu!" Kali ini Rosita benar-benar murka, wanita dengan bentuk tubuh serta paras cantik itu mengamuk mendengar penuturan Sean.
"Tenang! Tenang!" Fumiko menarik kakaknya agar kembali duduk.
__ADS_1
Rosita melepaskan cengkraman tangannya dari pakaian Sean. Dirinya memang menginginkan adik-adiknya memiliki kekasih mapan. Tapi tidak untuk ditinggalkan pria kaya br*ngsek.
Setelah lebih tenang, kini Rosita kembali duduk. Dirinya tetap menatap tajam ke arah Sean yang terlihat tenang.
"Lalu? Apa tujuanmu kemari?" tanya Fumiko kembali.
Situasi yang sejatinya tidak dimengerti oleh Rosita dan Tari. Ada orang yang membayar 500 juta agar menikahi adik mereka. Bahkan itu baru uang muka? Sekaya apa orang yang membayar dan apa tujuannya?
"Barbara, orang yang membayarku tiba-tiba menghilang. Orang-orang mengatakannya melarikan diri dengan Imanuel, saudara sepupu Raka. Tapi aku tidak percaya begitu saja, Barbara sudah membayarku, tidak mungkin tiba-tiba saja membatalkan niatnya untuk menikah dengan Raka, tanpa konfirmasi sama sekali. Satu-satunya orang yang memiliki kepentingan untuk membatalkan perjodohan antara Raka dan Barbara adalah Raka sendiri," jelasnya.
Penjelasan yang sejatinya hanya dimengerti oleh Fumiko. Tari hanya menerka-nerka orang kampung yang menjual hektaran tanahnya karena jatuh cinta pada Raka, itulah Barbara dalam bayangannya. Sedangkan Rosita yang memang memiliki sinyal otak lemah belum mengerti sama sekali.
"Jadi kamu mencurigai Raka menculik Barbara? Tapi apa tujuannya?" tanya Fumiko lagi.
"Tujuannya mungkin agar menjadi pewaris tunggal, selain itu untuk membatalkan perjodohannya dengan Barbara. Tapi aku juga ragu, karena menurut pelayan saat ini Raka dipaksa untuk bertanggung jawab menikahi tunangan Imanuel yang sedang hamil muda. Karena itu aku ingin menghubungi Fujiko, menanyakan tentang kecurigaanku pada Raka." Ucap Sean menghela napas berkali-kali.
"Tunggu! Pelayan!? Warisan!? Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Rosita, mencium bau sesuatu yang berhubungan dengan kalangan atas.
"Hanya kamu yang tau?" tanya Sean, dengan cepat Fumiko mengangguk.
"Kakak ingat seseorang dari keluarga Pramana yang datang ke pesta pertunanganku?" Tanya Fumiko, kali ini Rosita yang mengangguk.
"Kakak tau apa hadiah pertunangan yang diberikannya?" Fumiko mengenyitkan keningnya.
"Tidak tau," jawaban dari Rosita.
"Satu set perhiasan berlian, harganya ratusan juta. Aku fikir ada angin apa orang yang memiliki status tinggi datang. Sampai dia mendekati dan mengatakan padaku, dia orang kikir yang tinggal di kamar sebelah adikku. Benalu sejati yang sering numpang mandi." Tegas Fumiko.
__ADS_1
Tari mulai tertawa, benar-benar tertawa. Dirinya juga hadir jadi menyaksikan bagaimana pria kaya itu di tampar adik mereka."Kamu bercanda kan?" tanyanya.
Tidak mungkin seorang pria yang bagaikan pangeran tinggal di tempat kost. Bahkan menikah dengan adik mereka.