Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Dimana


__ADS_3

"Emh..." lenguhannya. Bibirnya kini masih dinikmati. Tubuh Fujiko kini benar-benar menegang, bergerak gelisah dalam pelukan Raka. Sepasang kaki yang bagaikan saling melilit.


Tidak ada jarak sama sekali. Ini adalah miliknya kini, pemuda yang tidak serakah, memulainya perlahan. Kala tubuh itu beradu. Memberi lebih banyak sentuhan lagi di sela ciumannya.


Deru napas lebih tidak teratur lagi terdengar di ceruk leher Fujiko."Maaf," hanya satu kata yang terucap dari bibir Raka. Mengarahkan segalanya, Tubuh Fujiko bergetar hebat, menonggakkan kepalanya, mungkin menahan rasa sakit.


Sedangkan Raka hanya menunduk di ceruk lehernya, sembari mendekap tubuhnya. Menerima cakaran di punggungnya. Namun, dirinya tidak dapat berhenti saat ini.


"Raka hen... hentikan. Hentikan!" pinta Fujiko, menahan rasa sakit yang menjalar.


Tidak ada jawaban, Raka hanya terdiam, membungkam bibir istrinya. Hingga pada akhirnya Fujiko merasakan puncak rasa sakitnya. Dirinya ingin menghentikan semuanya, hingga Raka menatap matanya."Maaf," lagi-lagi hanya itulah kata yang diucapkannya.


Tangan Fujiko terangkat, membelai pelan wajah Raka. Dirinya tidak dapat berbuat apapun saat ini, hingga pada akhirnya suaminya mengguncang tubuhnya pelan, membuatnya terumbang ambing. Tetesan darah mengotori sprei, tidak menghentikan sang pemuda sama sekali.


Wanita yang meringis, merasakan mahkotanya telah direnggut. Rasa sakit yang masih ada, namun perlahan memudar menginginkan pemuda ini lagi dan lagi.


Berciuman di sela tubuh mereka yang bergerak perlahan. Hingga sepasang tubuh itu mulai menegang. Erangan panjang terdengar dari keduanya, merasakan cairan tubuh yang menyatu. Gerakan terakhir yang perlahan, menginginkan buah hati mereka akan tubuh nantinya.


Wajah sang pemuda tersenyum, rambutnya basah oleh tetesan keringat. Memangut bibir itu kembali, hingga berguling ke sampingnya. Dua orang yang telah memakai selimut menatap ke arah plafon kamar.


"Kita melakukannya?" tanya Fujiko masih mencerna segalanya. Rasa sakit dan perih masih ada hingga saat ini.


Raka menoleh padanya, kemudian mengangguk."Aku sudah tidak perjaka," ucapnya.


"Raka, aku... jangan tinggalkan aku setelah ini," ucap Fujiko cepat, dengan segera memunggungi Raka.


Hingga tangan itu terulur memeluknya dari belakang."Aku tidak akan meninggalkanmu."


"Tidak akan selingkuh?" tanya Fujiko.


"Tidak selingkuh," janji Raka.

__ADS_1


"Kamu lelah?" tanyanya tidak mendapatkan respon. Pemuda itu bangkit, duduk di atas tempat tidur. Kini hanya bagian pinggang ke bawahnya yang tertutup selimut. Tubuh bagian atasnya terlihat. Matanya melirik ke arah istrinya yang tertidur dengan nyenyak.


Membelai pelan rambut Fujiko."Sekarang kamu juga adalah keluargaku."


*


Sinar matahari menembus jendela yang hanya tertutup kain. Selimut yang memulai terasa hangat. Perlahan Fujiko membuka matanya. Mencium aroma teh dan makanan hangat.


Perlahan dirinya bergerak, walaupun agak sulit. Ada rasa sakit dan perih, dirinya bukan seorang gadis lagi.


"Selamat pagi sayang!" ucap Raka, membuka kacamata bacanya. Entah sejak kapan barang-barang pemuda itu dari kamar kost sebelah telah pindah ke tempat ini.


Tidak banyak memang, hanya lemari plastik, pakaian, meja kursi dan laptop. Sedangkan tempat tidur sponge miliknya telah dijemur di halaman.


"Kita benar-benar melakukannya?" tanya Fujiko lagi tertunduk, mengingat bagaimana suaminya tadi malam.


Raka mengangguk, kemudian menyalakan kompor. Menghangatkan air yang tadinya sudah mendidih, kemudian dibawanya ke kamar mandi, mencampur dengan air dingin.


"Mandi air hangat, mungkin bisa meredam rasa sakit, aku membacanya di internet," ucapnya mengambil handuk untuk istrinya.


"Tidak usah!" ucap Fujiko berjalan cepat, tapi mengangkang bagaikan pinguin, kemudian menutup pintu kamar mandi dengan kasar.


"Aku ingin lagi," gumam Raka menghela napas berkali-kali. Tempat tidur dibereskan olehnya adegan tadi malam terbayang lagi membuatnya menelan ludah."Tidak, tidak boleh, dia masih sakit, alihkan fikiran, alihkan fikiran," gumam Raka menghela napas berkali-kali.


Tidak ada satu orang pun di tempat kost, membuat akses internet lancar. Dirinya mulai membuka laptop, memeriksa e-mail yang masuk.


Namun ada yang aneh. Data yang seharusnya dikirimkan ayahnya belum sampai juga hari ini. Seharusnya sesuai janji mereka beberapa hari yang lalu, tadi malam seharusnya telah terkirim.


Menghela napas berkali-kali, mencoba menghubungi phonecell Patra. Namun, nomor tersebut tidak aktif.


Ini bukan kebiasaan ayahnya yang selalu tepat waktu. Mungkin seperti biasanya, ayahnya pergi selama sebulan. Ini sering terjadi, memutuskan komunikasi sepihak. Tidak ingin Pramana mencampuri bisnis ayahnya yang lain.

__ADS_1


"Semoga saja begitu," gumam Raka.


*


Keadaan yang tidak baik-baik saja. Memiliki banyak peliharaan hewan eksotis, termasuk katak langka yang beracun, dapat mati hanya dengan menyentuh kulitnya saja.


Kandang yang tertutup, seekor anak kucing yang terlahir cacat di masukannya ke dalam kandang kaca tempat sang katak berada.


"No... nona, tuan Jovi datang mengunjungi anda." Sang pelayan tertunduk.


"Suruh dia masuk," perintah Nadila.


Perlahan sang anak kucing yang cacat lemas setelah menyentuh kulit karak dengan warna kulit cerah itu. Menunggu kematiannya, Nadila hanya terdiam tanpa ekspresi penuh rasa ingin tahu. Cukup menarik baginya menatap detik demi detik kematian makhluk cacat yang tidak patut untuk hidup.


Suara kucing kecil terdengar nyaring memanggil ibunya. Lebih nyaring lagi, tubuh yang telah lumpuh tidak dapat bergerak. Hingga induk kucing tiba memasuki kandang. Membawa anaknya yang hampir meregang nyawa.


Sang induk kucing mengendus anaknya, menjilatinya. Hingga kucing kecil mengeong untuk terakhir kalinya, kala napasnya terhenti.


"Kamu marah padaku? Lebih baik kamu ikut mati saja," Nadila mengambil induk kucing, menguncinya di dalam kandang ular piton albino peliharaannya.


Untuk apa memelihara hewan yang akan dendam padanya. Tubuh kucing itu dililit, perlawanan yang tidak berarti, menunggu ajal perlahan yang akan menjemput.


"Nadila," Jovi tiba-tiba masuk menatap ke arah putrinya.


"Ayah," ucap Nadila tersenyum pada ayahnya, satu-satunya tempat teraman miliknya. Seseorang yang tidak akan mengkhianatinya.


Jovi menghela napas kasar, berjalan ke arah putrinya."Mobil Patra jatuh ke laut dekat dermaga saat orang-orang kita mengejarnya. Tinggal menunggu ada orang yang menyadari Patra menghilang."


"Paman Patra sering pergi ke luar kota memutuskan komunikasi dengan keluarganya. Akan membutuhkan waktu kira-kira satu bulan untuk menyadari, daging orang itu sudah dimakan habis oleh ikan," Kata-kata dari mulut Nadila penuh senyuman.


"Nadila, apa kamu tidak puas dengan Imanuel saja? Setelah ini tinggal menghabisi Raka. Jujur, walaupun ayah menyukai Imanuel, karena dia selalu mengutamakanmu. Jangan lupa ayah dari anak dalam kandunganmu adalah Imanuel," nasehat dari Jovi.

__ADS_1


Namun Nadila menggeleng."Aku sudah bosan dengan Imanuel," jawaban dari putrinya penuh senyuman.


Tidak dapat mencintai? Hatinya bagaikan telah beku. Atau memang tidak memiliki hati sama sekali? Entahlah. Nadila hanya terdiam, mengupas buah apel, tanpa peduli induk kucing yang mulai ditelan oleh ular besar peliharaannya.


__ADS_2