
Bingung? Itulah perasaan Reina saat ini. Dirinya menatap kebaya berwarna putih, menghela napas kasar. Bingung bagaimana harus menolaknya. Apa bisa menjadikan Egie sebagai alasan? Ibu mertuanya juga memerlukannya. Tidak dapat bekerja berat mengingat diabetes yang dideritanya.
Apa yang harus dilakukannya? Terdiam menatap ke arah foto almarhum suaminya yang masih setia tersenyum. Andai saja Rian masih hidup semua akan menjadi lebih mudah.
Air mata Reina mengalir, masih mengingat segalanya. Hidup yang dijalaninya berempat, ibu mertua yang tidak pernah marah padanya. Membantu sebisanya, bahkan membiarkan dirinya dirinya berjualan agar-agar di waktu senggang mengasuh Egie. Suami yang pergi bekerja berlayar, pulang hanya tinggal jazad.
Pada akhirnya keputusan ini diambilnya. Matanya melirik ke arah cermin, hemat skincare? Memang, tapi peralatan make up-nya masih lengkap, walaupun sudah terlampau lama. Mungkin terakhir kali dirinya berdandan 4 tahun yang lalu, kala keputusan menikah belum diambilnya. Selebihnya wanita itu hanya memakai skincare yang dibeli dengan uang pemberian suaminya. Saat suaminya tidak ada maka dirinya tidak dapat merawat diri sama sekali.
Tidak terlalu lama, mungkin hanya 30 menit, pada bagian akhir menata rambutnya, memakai kebaya merah yang dulu dimilikinya ketika masih gadis.
Tidak sepenuhnya kembali ke masa gadisnya. Namun, kini dirinya terlihat jauh lebih baik, mungkin bagaikan foto model salon-salon ternama.
Ingin rasanya Rian melihat dirinya secantik ini. Tapi suaminya sudah tenang disana. Pernikahan yang menyisakan Egie dan mertua yang bergantung padanya.
*
Dan benar saja, rombongan keluarga pak lurah datang siang ini. Lukman, seorang pemuda yang memakai kacamata, berpenampilan rapi berjalan bersama ayahnya. Tidak ada konfirmasi pada Reina sebenarnya, hanya kebaya putih yang dititipkan Lukman pada tetangga.
Pemuda yang kini menjadi pegawai negeri sipil itu menghela napas kasar, mengingat hubungan asmaranya yang kandas akibat melanjutkan kuliah di kota. Dirinya hadir saat pernikahan Reina dan Rian, berusaha untuk ikhlas mengingat itu adalah pilihan Reina sendiri.
Tapi kematian Rian? Haruskah dirinya bahagia? Entahlah mungkin dianggap jahat. Tapi dirinya benar-benar membenci segala hal tentang pria yang sudah merebut kekasihnya itu. Semua kata-kata tetangga di dengar olehnya, bagaimana Reina yang tidak tegaan, didatangi Rian setiap hari dengan pernyataan cinta, walaupun sudah ditolak. Bagaimana pria itu memaksa Reina menerima lamaran, dengan membuat dirinya sendiri sakit.
Jujur saja, bahkan untuk melihat wajah Egie dirinya membencinya, mengingat ada darah pria itu mengalir di sana. Namun, dirinya masih mencintai Reina, wanita pekerja keras, baik hati yang dulu selalu ada untuknya.
Bersabar untuk mendapatkan hatinya, menerima anaknya. Nanti jika sudah memiliki anak dengan Reina, Egie dapat dititipkan pada Lastri, ibu Rian. Itulah yang ada di fikirannya, tidak menyukai anak itu sama sekali.
"Mama! Egie mau makan!" Ucap sang anak lugu, memegang jemari tangan ibunya.
"Ini kue kering untuk Egie," Reina tersenyum memberikan kue untuk putranya.
__ADS_1
Sedangkan Lukman yang baru datang mengepalkan tangannya berusaha tersenyum. Benar-benar memendam amarahnya, dirinya masih mengingat bagaimana Reina menyuapi Rian di pelaminan.
Anak si*lan! Sama seperti ayahnya.
Pada akhirnya rombongan keluarga yang tidak begitu banyak masuk. Rumah yang tidak begitu besar. Sementara Lastri terlihat cemas kali ini. Dirinya benar-benar takut hidup seorang diri. Putra bungsunya yang tinggal di Sulawesi menganggapnya beban, bahkan menantunya memerintahnya untuk melakukan pekerjaan kasar.
Jika pekerjaan rumah dirinya masih bisa. Tapi bukan hanya pekerjaan rumah, menyabit rumput untuk pakan sapi, terkadang menanam singkong. Katanya agar hidup lebih bermanfaat untuk cucu, tapi tubuh fisiknya yang digerogoti penyakit, lemah.
Sedikit saja kelelahan atau beban fikiran gula darahnya akan naik, tidak boleh terluka, jika terluka akan sulit untuk sembuh, harus rutin membeli obat. Dulu meskipun berpenghasilan berlebih karena semua tanah warisan diberikan pada anak keduanya, tapi untuk sekedar membeli susu diabetes anak bungsunya seakan enggan.
Hingga tubuhnya berangsur kurus, gula darah yang tinggi menyebabkannya harus dirawat di rumah sakit. Saat itulah putra tertuanya yang baru memiliki pekerjaan tetap datang menjemputnya. Berkenalan dengan Reina yang terlihat ramah, menantu yang mengerti kondisi kesehatannya. Hanya memperbolehkannya melakukan pekerjaan rumah ringan dan menjaga cucunya. Benar-benar berbanding terbalik bukan?
Tapi seakan kemalangan selalu menimpanya, hanya kurang lebih setahun dirinya dapat melewati masa tua dengan tenang. Semua berubah saat kematian Rian, rumah ini juga sebenarnya milik Reina, dirinya dan putranya yang tinggal di rumah istri.
Lastri benar-benar cemas Reina akan mengembalikan dirinya pada putra bungsunya. Tapi tidak, menantunya tetap ingin merawatnya, berusaha saling menguatkan. Menantu wanita yang berganti tugas menjadi tulang punggung. Karena itulah sampai sekarang dirinya takut, benar-benar takut menantunya menikah lagi, kemudian membuang dirinya.
"Jadi sebenarnya niat kami kemari ingin melamar nak Reina, untuk putra saya Lukman." Ucap pak Lurah memulai pembicaraan.
Mata Lukman menelisik, bukan kebaya putih yang diberikannya. Tapi masih terlihat cantik, walaupun kulit putihnya yang dulu telah memudar, namun wajah itu masih sama. Wanita yang masih dicintainya sampai saat ini.
Hening tidak ada yang bicara, Reina yang yatim-piatu hanya memiliki ibu mertuanya saja yang masih tertunduk diam.
"Bagaimana jika kita tentukan tangganya saja?" usul pak Lurah, pria yang memang sudah mengenal sifat Reina sejak dulu.
Semua orang kasak-kusuk, memuji betapa beruntungnya Reina. Janda cantik yang mendapatkan bujangan mapan. Sudah pasti lamaran yang akan langsung diterima.
Reina menghela napas kasar, mulai mencoba bicara terus terang."Begini, sebelum menerima lamaran aku ingin mengajukan syarat."
"Pasti mahar," kasak-kusuk orang-orang di teras sedikit terdengar
__ADS_1
"Apa syaratnya?" tanya Lukman penuh senyuman.
"Aku ingin tetap tinggal di sini dengan ibu Lastri, dia seorang diri di tempat ini. Jadi aku ingin merawatnya. Aku juga akan tetap bekerja, untuk keperluan Bu Lastri dan Egie." Ucap Reina, syarat yang sejatinya ringan.
Lukman menggeleng dengan cepat, raut wajahnya berubah. Begitu juga dengan pak Lurah.
"Tidak, tidak ada kewajiban bagimu untuk peduli pada mantan ibu mertuamu!" tegas Lukman tidak terima.
"Kalau begitu aku tidak bisa menikah." Jawaban dari Reina penuh senyuman, benar-benar terlihat menyebalkan.
"Reina, dengar begini. Kami sudah berdiskusi, rumah ini tidak begitu besar, lagipula rumah ini warisan dari almarhum orang tuamu bukan pemberian Rian. Jadi setelah bapak berdiskusi dengan Lukman sebaiknya kamu jual rumah ini. Nanti kebun perempatan jalan, milik Lukman, kalian bisa membangun rumah yang lebih besar di sana. Terserah nama surat-suratnya atas namamu."
"Setelah itu, ibu mertuamu dapat kembali tinggal dengan putra bungsunya yang tinggal di Sulawesi. Saya dengar-dengar beberapa minggu ini dia sempat berkunjung. Tentang bekerja, kamu bisa lanjut untuk bekerja di pabrik, tapi sebaiknya tabung untuk masa depanmu dan Lukman." Jelas pak Lurah tentang pembicaraan keluarganya.
Wanita itu menghela napas berkali-kali, memijit pelipisnya sendiri. Melirik ibu mertuanya yang masih tertunduk ketakutan.
"Maaf, saya hanya iba pada ibu Lastri. Jika tidak dapat menerima persyaratan saya, lebih baik lamaran ini kita urungkan saja." Jawab Reina berusaha tersenyum memendam kekesalannya. Belum apa-apa sudah berani mengatur jalannya uangnya. Dan menjual rumah? Siapa yang mau.
Mengapa Reina dapat sekokoh ini mempertahankan ibu Lastri? Itu karena tanpa ibu mertuanya dirinya tidak akan dapat berdiri dengan tegar. Mengurus balita, membersihkan rumah, memasak, menjadi tulang punggung keluarga. Sesuatu yang terasa sulit untuk dilakukan, tidak bekerja maka tidak makan. Bekerja artinya mengabaikan anak yang masih balita. Dirinya masih tau tentang hutang budi.
"Reina, tidak akan ada pria yang mau jika istrinya masih merawat mantan mertuanya. Bu Lastri juga seharusnya sadar, dan kembali pada anak bungsu ibu." Pak lurah memberi wejangan.
Lastri hanya tertunduk sembari menangis. Jalan buntu untuknya, dirinya tidak tau harus apa lagi.
"Dan untuk Reina, Lukman sudah bersedia menerima Egie sebagai anaknya. Kamu seharusnya bersyukur masih ada yang mau menjadi sosok ayah bagi putramu." Lanjut pak Lurah.
"Saya tetap---" Kata-kata Reina terpotong.
"Papa! Papa tidak jadi pergi! Egie sayang papa!" Egie tiba-tiba berlari, memeluk dedemit kuburan.
__ADS_1