
"Kamu sengaja menggodaku? Dasar bujang gatal," cibir Reina tersenyum mengejek, dengan sengaja menyentuh otot perut pemuda itu, kemudian berlalu.
"Dasar janda gatal!" bentak Imanuel tidak terima.
*
Hari belum larut, entah mengapa cuaca begitu dingin malam ini. Agar-agar yang dibuat Reina sudah selesai. Tinggal menunggu dingin, untuk dimasukkan ke dalam lemari es.
"Kenapa kembali?" tanya Reina menghela napas kasar duduk di samping Imanuel yang tengah menonton televisi.
"Kamu tidak akan dapat mengetahui sifat aslinya jika aku tidak datang. Karena itu aku datang." Jawaban Imanuel, masih mengganti-ganti chanel. Entah kenapa dirinya grogi saat ini menatap ke arah Reina yang tengah meminum teh menggunakan gelas kaca. Bibirnya terlihat basah.
"Sial!" batinnya, memencet tombol dengan lebih cepat.
"Sini!" geram Reina mengambil remote TV dari tangan Imanuel. Sepasang tangan ya tidak sengaja bersentuhan sepersekian detik.
Ekspresi Reina biasa saja. Tapi tidak dengan Imanuel. Pemuda itu ingin menyentuh kulit itu lagi. Bagaimana cara mengalihkan fikiran mesumnya? Apa janda ini mengirimkan jampi-jampi padanya?
Entahlah, jemari tangannya meraih jemari tangan Reina. Hanya perlahan, aneh sensasi yang bertambah aneh ketika tangannya bersentuhan.
Sedangkan Reina masih fokus pada TV, setidaknya itulah yang terlihat. Imanuel benar-benar bingung dengan dirinya saat ini. Rasanya nyaman, itulah yang ada di benaknya.
"Berapa lama kamu akan tinggal?" tanya Reina tiba-tiba.
"Tidak tau, aku belum berani pulang." Imanuel kembali menjawab, tapi sesekali memperhatikan leher wanita itu, bagaimana jika ada tanda yang tercetak disana? Entah kenapa fikirannya menjadi kacau begini.
Tidak, tidak boleh, dirinya dari keluarga bermartabat. Tidak akan tergoda seorang janda. Tapi...
Pemuda yang menghela napas kasar, mungkin bicara lebih baik. Akan mengurangi fikiran negatifnya.
"Reina, bagaimana kamu dan almarhum suamimu bertemu?" tanya Imanuel.
"Aku dulu bekerja di koperasi desa. Dia datang setiap hari membawa nasi bungkus. Tidak kenal menyerah dan tidak tau malu walaupun sudah ditolak. Tapi jika difikir-fikir itulah sisi romantis darinya." Jawaban dari Reina tersenyum namun wajahnya tertunduk.
__ADS_1
"Saat mayatnya tiba di rumah, tubuhnya sudah menggembung. Wajahnya juga membengkak, dia--- dia mati karenaku." Lirihnya menitikkan air matanya.
"Karenamu?" tanya Imanuel.
Reina mengangguk."Saat itu cuaca sedang buruk. Dia tetap pergi melaut agar kami bisa makan." Tangisan wanita itu semakin kencang membuat Imanuel memutar bola matanya malas.
Cinta sejati sampai mati? Masa bodoh!
"Dasar pelaut si*lan!" entah kenapa pemuda itu mengumpat dalam hati. Entah apa yang membuatnya kesal.
"Lalu ceritakan kalian sampai sejauh mana?" Cecar pemuda itu lagi.
"Bagaimana ya? Dia yang mengambil ciuman pertamaku. Setelah berciuman di teras kami mengalikan pandangan. Aku benar-benar malu. Sampai saat ini memang hanya dia yang paham denganku." Kata-kata dari mulut Reina.
Tangan Imanuel mengepal, wanita ini memang benar-benar gatal dari masa masih menjadi gadis."Ceritakan lagi!" perintah Imanuel.
"Dia perhatian, kami selalu jalan kaki bersama ketika pulang karena belum mempunyai motor. Dia membelikanku roti bakar rasa keju, walaupun yang di sakunya masih 20.000 rupiah." Cerita dari Reina, membanggakan almarhum suaminya.
"Kamu bilang apa?" tanya Reina tidak mendengar dengan jelas.
"Aku bilang almarhum suamimu sangat baik dan perhatian," dustanya.
"Dia memang baik. Karena itulah aku belum menikah sampai saat ini. Dia bahkan mendekorasi kamar kami saat malam pertama. Karena kelopak mawar tidak ada dia malah membeli bunga di dekat kuburan, lalu menaburkan nya di tempat tidur. Besoknya badan kami warna warni, bau khas kuburan." Suara tawa Reina terdengar. Tapi tidak dengan tawa Imanuel.
Membayangkan tubuh wanita ini dijamah pria lain? Dirinya tidak rela sama sekali, walaupun itu orang mati. Dengan cepat tangannya bergerak pada tengkuk Reina. Kini tidak ada jarak antara mereka. Bibirnya terbuka menyusupkan ludahnya. Matanya terpejam, otaknya kelu, terasa melayang, tidak dapat memikirkan apapun. Sensasi bagaikan mengkonsumsi narkotika.
Menjilat pelan setiap sudut rongga mulut. Ini benar-benar nikmat, dirinya tidak dapat melepaskan diri. Lebih tepatnya tidak ingin melepaskan diri.
"A...apa yang kamu lakukan!? Hentikan!" ucap Reina ketika ciuman itu terlepas, akibat dirinya mendorong sang pemuda.
Tapi deru napas itu masih didengarnya. Sang pemuda yang menatap aneh padanya. Tidak biasanya seperti ini."Apa yang dia lakukan padamu? Dengar, mulai saat ini Egie adalah putraku..." suara bisikan yang masih dapat didengar Reina.
Ada apa dengan orang ini? Apa dia mabuk? Tapi tidak ada bau alkohol.
__ADS_1
"Imanuel, ingat! Keluarga kaya!" Reina berucap penuh keseriusan.
"Pernah dengar istilah jodoh adalah laut?" tanya pemuda itu, meraba bibir Reina. Dijawab dengan gelengan kepala oleh wanita itu.
"Hujan akan turun dari langit, melewati sungai, danau, teluk, atau bahkan langsung sampai pada laut. Itulah jodoh." Kata-kata dari Imanuel menatap tajam padanya. Dirinya benar-benar merasa keanehan dalam sikap Imanuel kali ini. Reina hanya terdiam pertanda tidak mengerti.
"Air hujan dapat langsung bertemu dengan laut, atau harus melewati sungai terlebih dahulu. Mengira sungai yang tenang adalah akhir, sebuah cinta untuknya. Tidak mengetahui dirinya hanya akan melewati sungai dan kembali ke pelukan laut yang baru dikenalnya. Apa kamu merasa dia adalah laut? Satu-satunya orang yang kamu cintai seumur hidup?" tanya Imanuel.
Reina terdiam, pengalaman hari ini kala dirinya mencoba membuka hari untuk Lukman membuatnya mengangguk. Menyerah untuk mencari cinta yang lain.
"Percaya diri." Imanuel tersenyum."Jika begitu, coba tolak, dorong dan tampar aku dengan keras."
Sebuah perintah darinya, namun pemuda itu malah kembali meraih tengkuk Reina. Menjulurkan lidahnya, membelai, menggoda wanita itu untuk membalas.
"Ini tidak benar," batin Reina mencoba untuk memberontak. Tapi sulit, bukan karena tenaganya lemah, tapi debaran di dirinya yang perlahan timbul. Jemari tangan yang awalnya, memukul-mukul Imanuel pelan agar menghentikan tindakannya, berubah menjadi mencengkeram erat kaos putih yang dipakainya.
Perasaan yang aneh, bagaikan ada magnet yang menariknya. Perlahan jemari tangannya mengalung.
"Reina! Tidak boleh!" jeritnya dalam hari.
Apa yang terjadi dengan tubuhnya? Sungguh sulit dikendalikan. Napasnya tidak teratur, ini benar-benar tidak boleh terjadi. Fikirannya menolak.
Pemuda yang juga tidak mengendalikan fikirannya. Dirinya benar-benar merasa aneh, ingin semakin dekat. Pemuda yang sejatinya tidak pernah memiliki kekasih selain Nadila. Memperlakukannya bagaikan seorang putri.
Tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Jujur, sebuah hubungan yang aneh kala dirinya tidak pernah cemburu melihat kedekatan Nadila dengan pria lain. Tapi sensasi yang benar-benar berbeda, ini indah.
Berciuman? Setelah one night stand, dirinya memang pernah berciuman dengan Nadila. Apa itu salah? Sebuah rasa yang berbeda ketika dengan wanita ini.
Mungkin karena wanita ini, tidak pernah berpura-pura padanya. Tidak menjaga image, tapi seseorang yang paling peduli.
"Aku mencintaimu," batinnya, mengehentikan ciuman, menatap mata itu lagi. Kemudian kembali menjelajahi bibirnya.
Mungkin kala itulah Imanuel menyadari Nadila hanyalah danau baginya. Tapi wanita ini adalah lautnya, tempatnya untuk kembali, sesuatu yang ditakdirkan untuknya.
__ADS_1