Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Tanpa Dosa


__ADS_3

Kamar tiga kali tiga meter dengan tempat tidur dan lemari juga ada disana. Tidak banyak tempat yang tersisa. Sedangkan di dalam ruangan itu ada 9 orang.


Tidak nyaman? Tentu saja, hingga pintu dan jendela dibiarkan terbuka, agar tidak kehilangan pasokan oksigen.


Martabak manis dan asin dibuka. Ada empat kotak disana. Pelit? Tentu saja masih, tapi mereka memang sudah berjasa dan berusaha menemukan ayahnya. Mengingat Raka yang juga harus menghendel aset ayahnya kini, sedangkan semua pekerjaannya sendiri dialihkan pada Danu.


"Ka...kamu anak konglomerat? Coba buktikan!? Tunjukkan berapa saldo tabunganmu?" pinta Rosita, ingin mengetahui kehidupan crazy rich.


"Kakak! Jangan mempermalukan ku!" geram Fujiko.


Raka keluar sejenak, mencari sinyal WiFi, karena tidak ingin menghabiskan kuota internetnya. Kemudian menunjukkan jumlah uang yang ada di akun atas nama Fujiko.


"Jangan saldo tabunganku. Karena jumlah keluar masuknya cepat." Raka memberikan phonecellnya pada Rosita.


Wanita yang mengenyitkan keningnya, kemudian memberikan phonecell Raka pada Tari."I...ini berapa? Terlalu banyak nolnya, aku bingung."


"14 miliar?" gumamnya.


"Ta... tabunganku 14 miliar? Kamu gila!" bentak Fujiko tiba-tiba.


"Tidak gila hanya uang simpanan di luar aset, kita harus menabung untuk persiapan hamil, melahirkan, membeli popok, membeli susu, belum lagi kalau anakku sakit, omong-ngomong jika terlalu menyakitkan normal, lebih baik kita operasi sesar di Jerman saja ya?" ucap Raka cepat.


"Jangan-jangan kamu pelit, karena persiapan akan mempunyai istri?" Kini Evi yang menatap curiga.


Raka mengangguk."Menikah itu mahal! Saat siap pacaran villa dan mobil harus sudah lengkap. Belum lagi saat menikah, semuanya harus lebih daripada saat pacaran."


"Tapi kamu tidak memperlakukan adikku seperti itu." Fumiko mengenyitkan keningnya.


"Fujiko yang tidak mau, aku sudah mengajaknya tinggal di villa dari hari pertama pernikahan tapi dia ingin tinggal di tempat kost katanya supaya lebih irit." Raka menghela napas berkali-kali.


"Mana aku tahu Raka serius mengatakan untuk menginap di villa. Aku pikir dia ingin menyewa penginapan murah." Fujiko meraih martabak manis kemudian memakannya cepat.


"Setelah ini selesai, kita menginap di villa." Raka tersenyum mengacak-acak rambut istrinya.


"Aku ikut! Kita pesta barbeque!" teriak Evi bersemangat.


Tawa semua orang terdengar, Raka dapat kembali tersenyum menghapus lelahnya. Jujur, jika saja Fujiko tidak ada, dirinya tidak tau dimana harus beristirahat. Ingin marah, tapi entah harus pada siapa. Ibunya sendiri belakangan ini lebih sering bepergian, jika tidak mengurung diri di kamar.


Mungkin menemukan salah satu dari tiga orang yang menghilang akan memperjelas semuanya. Hingga dering suara phonecell terdengar.


Dengan ragu Raka meraih phonecellnya mengetahui siapa yang menghubunginya."Nadila," ucapnya.

__ADS_1


"Angkat! Semua diam! Pakai mode load speaker!" perintah Rosita.


Pemuda itu mengangguk, menuruti perintah kakak iparnya.


"Hallo Raka? Maaf aku menghubungimu. Aku---" Kata-kata wanita itu terpotong.


"Tidak apa-apa. Kamu sudah makan? Aku sedang lembur, jadi mungkin pulang tidak tepat waktu, maaf..." Kata-kata dari Raka membuat semua orang tertegun. Benar-benar akting yang luar biasa.


"Apa Raka playboy?" Bisik Fumiko pada adiknya, dengan cepat Fujiko menggeleng.


"Dia hanya si kikir yang sering mengairi lahannya saja." Batin Fujiko.


"Boleh aku memanggilmu sayang?" Tanya Nadila dari seberang sana.


"Tentu sayang. Kamu yang tercantik." Kata-kata semanis madu dari bibir Raka. Tapi dengan raut wajah bagaikan ingin membunuh.


Semua orang menelan ludah saat ini. Benar-benar ekspresi dan suara yang berbeda. Suara bagaikan berkata aku mencintaimu, tapi raut wajah bagaikan mengatakan aku akan membuatmu menyesal sudah pernah dilahirkan.


"Aku membuatkan makan malam untukmu. Sebaiknya calon suamiku tersayang pulang malam ini," pinta Nadila..


"Dia lebih lihai merayu pria daripadamu. Sebaiknya malam ini kamu berikan Raka service habis-habisan. Sampai tidak dapat bangun dari tempat tidur!" perintah Fumiko masih dengan berbisik-bisik.


"Biasanya aku yang tidak dapat bangun." Batin Fujiko mengingat betapa mengerikan keinginan suaminya di ranjang. Dapat mengontrol diri? Tapi jika tenaga Fujiko belum habis, Raka tidak akan berhenti.


Fujiko mengangguk, pertanda dirinya mengijinkan suaminya pergi.


"Aku akan datang. Dandan yang cantik, aku sedang ada pekerjaan. Partner bisnisku baru datang dari kamar mandi, aku tutup dulu."


"Tapi, Raka---" Kalimat Nadila terpotong, panggilan dimatikan sepihak oleh Raka.


"Kenapa dimatikan!?" tanya Rosita.


"Seperti yang dilakukannya pada sepupuku Imanuel. Dia akan meminta uang padaku, untuk membeli gaun dan pernak pernik ke pesta." Kata-kata dari mulut Raka, sang pengiritan sejati.


"Kalau hanya itu jangan ditutup. Paling juga satu atau dua juta." Ucap Dwi meremehkan.


"Minimal satu miliar habis," Raka mengambil martabat manis kemudian mengunyahnya.


"Satu miliar? Tidak salah? Beli es cendol satu miliar, monas bisa kebanjiran es cendol." Celetuk Evi.


"Satu miliar untuk pergi ke acara TV? Apa saja yang dibelinya?" tanya Tari yang bahkan belum pernah memegang uang sebanyak itu.

__ADS_1


"Pakaian, sepatu, perawatan salon ternama, dan yang paling pasti dibelinya tas baru berukuran kecil dengan harga di atas langit." Jawaban Raka dengan mulut penuh.


Karena inilah Raka selalu menganggap dirinya kurang mapan untuk memiliki pasangan. Ibunya yang juga dimanjakan ayahnya. Imanuel yang juga mengikuti semua keinginan gila Nadila. Jujur, sampai saat dirinya merasa belum bisa membahagiakan Fujiko.


"Fujiko aku---" Kata-kata Raka disela.


"Aku bahagia! Aku juga pandai bersyukur kamu orang kaya! Malah aku semakin cemas, karena semakin banyak wanita mendekat. Pelakor ada dimana-mana membuatku serangan jantung!" Cerocos Fujiko, memaki.


"Terimakasih," Hanya itu yang dikatakan Raka. Menatap lekat ke wajah wanita yang dicintainya.


"Suami-istri jangan membuat cemburu! Setelah ini aku akan melamar Cahaya!" tegas Ragil.


"Aku terima," jawaban dari Cahaya.


"Benar?" tanya Ragil lagi, menatap penuh harap.


"Dalam mimpimu pun tidak." Jawaban yang begitu menyakitkan, menusuk langsung ke relung hati yang paling dalam.


"Ajang penghargaan?" Rosita menghela napas kasar, mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Raka, boleh kami mencoba hadir? Sebagai pengisi acara saja. Kami berempat punya bakat terpendam yang berbeda-beda. Hanya pengisi acara. Kamu punya koneksi kan?" tanya Rosita setelah beberapa lama berfikir.


Mata Tari melirik ke arah kakaknya, wajahnya tersenyum. Begitu juga dengan Fumiko yang menatap jenuh, sudah menebak isi otak, orang-orang ini.


"Kalau sebagai pengisi acara saja, itu mudah, asalkan menunjukkan bakat terlebih dahulu. Memangnya kalian mau apa?" tanya Raka.


"Bullying."


"Bullying."


Jawaban dari Tari dan Rosita bersamaan.


Fujiko seketika terkejut, mendengar hal yang sudah tidak dilakukan kakak-kakaknya dari jaman sekolah dulu akan dilakukannya kini. Keterkejutan sambil makan yang membuat bencana.


Brot!


Suara kentut yang begitu keras, begitu menggemparkan, membuat ke 7 orang itu keluar. Gas beracun di ruangan tiga kali tiga meter.


"Ueek!" Dwi bahkan muntah setelah keluar dari ruangan.


Semua orang menghirup oksigen sebisa mereka, menghilangkan bau gas mematikan. Menyisakan hanya Raka dan Fujiko yang ada dalam ruangan.

__ADS_1


"Maaf, ini karena aku makan dan terkejut bersamaan." Ucap Fujiko masih duduk bersama Raka di dalam kamar. Dua orang yang makan tanpa dosa.


__ADS_2