Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Menemui Laut


__ADS_3

"Tinggal buat saja!?" bentak pemuda itu tiba-tiba, mendorong tubuh Reina. Benar-benar aneh, anak manja kesayangan orang tuanya itu yang memeluk, namun dia juga yang mendorong.


Dalam anggapan Imanuel yang dimaksud Reina adalah membuat anak dengan sang janda gatal.


"Iya, tinggal buat anak saja. Menikahlah dengan tunanganmu. Kemudian cetak anak yang banyak seperti mesin fotocopy." Jawaban Reina penuh senyuman.


Imanuel yang awalnya sedih hanya dapat memijit pelipisnya sendiri. Antara bingung, kecewa, dan merasa dongkol.


"Aku akan menikah, tapi tidak dengan tunanganku. Dia berselingkuh dengan sepupuku, dan merencanakan pembunuhanku. Agar dapat menjadi pewaris tunggal dari perusahaan kakek." Jelasnya pada akhirnya menceritakan semua masalahnya.


"Lalu masalah tunanganmu yang hamil?" tanya wanita itu lagi dengan mulut penuh, memakan nugget yang seharusnya diperuntukkan untuk putranya tersayang.


"Aku terlalu antusias menjadi calon ayah. Dia bilang hamil anggur, tidak ada janin. Aku tidak mengerti maksudnya, tapi dia mengatakan sudah melakukan kuret. Itu artinya anakku sudah tidak ada bukan?" tanya Imanuel, tertunduk. Dirinya benar-benar menginginkan anak itu, anaknya, anak dari seorang Imanuel.


"Bukan tidak ada, tapi belum ada. Aku tidak begitu tau. Tapi ada saudara jauhku yang pernah mengalami hamil anggur. Dia bahkan lebih parah, kamu bilang tunanganmu tidak ada janinnya kan? Kalau sepupuku, ada janinnya dan berkembang hingga bulan ke 5. Janin dinyatakan terlambat berkembang, plasenta menebal. Ada janin berarti ada kehidupan bukan? Tapi, sayangnya, cepat atau lambat janin akan meninggal." Gumamnya.


Berbeda dengan hamil anggur sempurna, ketika sp*rma membuahi sel telur kosong, plasenta akan tumbuh namun tidak ada embrio sama sekali dari awal. Sedangkan, hamil anggur sebagian, dua spr*ma membuahi satu sel telur, embrio ada dan tumbuh, namun plasenta tumbuh tidak normal.


"Itu kehamilan pertamanya. Kamu tau betapa berharapnya mereka? Tapi setelah itu mereka mencoba bangkit, bercocok tanam kembali. Hingga sekarang memiliki empat orang anak. Kamu juga harus semangat! Kamu tidak mandul, aku yakin akan ada wanita bodoh yang mau denganmu." Senyuman terlihat di wajah Reina, menghibur tapi juga menyakitkan.


"Sudah! Aku mau pulang!" bentak Imanuel, berjalan keluar dari semak-semak menunju motor, diikuti oleh Reina.


*


Hari sudah mulai larut ketika mereka sampai. Total 200 ribu rupiah yang diberikan Imanuel pada Reina. Sebagai rasa terimakasihnya sudah menyelamatkan nyawanya.


Cukup sedikit bukan untuk ukuran anak konglomerat? Tapi dirinya tidak bisa kembali ke rumah saat ini. Sebelum memastikan siapa saja orang-orang yang terlibat. Jika kembali sekarang, mungkin saja Raka akan membunuhnya dengan mudah, mengingat sifat keji sepupunya tersebut.

__ADS_1


Keji? Di usia muda Raka menembak mati salah satu penculik yang melarikannya, sebagai bentuk pertahanan diri. Pernah juga di sekolah menengah pertama, pemuda itu membenturkan kepala teman sekelas mereka, karena hampir mencelakai Imanuel.


Dulu Raka memang menyayanginya. Hingga saat akan dijadikan pewaris perusahaan oleh kakek, saudara sepupunya itu pergi dari rumah. Berkata sakit kepala melihat betapa borosnya jika tinggal di rumah. Padahal saat itu Raka hanya ingin memberikan status padanya di rumah utama.


Apa sifat Raka berubah karena Nadila? Itulah kesimpulan yang diambilnya. Baru sebuah kesimpulan, sekali lagi dirinya harus menemukan bukti nyata, sebelum kembali menampakan diri. Agar tidak berakhir mati sia-sia.


Pintu dibuka olehnya.


"Papa!" teriak Egie menatap Imanuel yang baru saja memasuki rumah. Sang anak yang cemas jika ayahnya kembali melaut dan tidak pulang-pulang.


Tubuh kecil itu memeluknya erat, entah kenapa ini menjadi hiburan tersendiri bagi Imanuel. Memiliki anak? Anak ini mendekapnya erat, bagaikan enggan melepaskan.


"Egie boleh tidur sama mama, papa?" tanya anak br*ngsek itu.


"Sayang begini, mama tidurnya berbeda kamar dengan papa. Tidak boleh bersama," senyuman dipaksakan terlihat di wajah Reina. Bagaimana cara mengajari putranya, bahwa tuan muda kere ini bukan papanya? Papanya yang sebenarnya sudah meninggal, sedangkan calon papanya, pak Danu tersayang sedang diusahakan oleh sang ibu.


Dua orang yang menghela napas kasar, bingung bagaimana harus menjelaskannya.


"Egie nenek dimana?" tanya Reina mengalihkan pembicaraan.


"Nenek sudah tidur, Egie tadi juga sudah tidur di kamar nenek. Tapi rindu papa, jadi bangun, mama, papa dan Egie tidur bersama ya?" pintanya lagi, anak keras kepala tidak terbantahkan. Sifat yang menurun dari almarhum Rian, seorang pemuda yang sudah ditolak Reina, namun dengan gigihnya tidur di teras, hingga pernyataan cintanya diterima.


"Sayang, tidak bisa, Egie mau nugget?" sang ibu kembali menawari.


Egie lagi-lagi menggeleng."Mama, papa dan Egie tidur bersama kan?"


"Tidak bisa, besok paman akan membawamu jalan-jalan." Imanuel ikut-ikutan membujuk.

__ADS_1


"Mama, papa dan Egie akan tidur bersama kan?" pinta sang anak dengan raut wajah berbeda seperti akan menangis.


"I... iya! Ka...kami akan tidur dengan Egie!" ucap Imanuel cepat, sebelum anak itu menangis. Baru saja kecewa, kehilangan bayi yang benar-benar diharapkannya. Melihat seorang anak menangis memanggilnya papa? Pria mana yang akan tega.


Sedangkan Reina menatap kesal."Jika Egie sudah tidur! Kamu kembali ke kamarmu!" tegasnya.


Imanuel hanya menghela napas kasar menatap sang wanita buluk."Jika bukan karena Egie, aku juga tidak mau. Dasar wanita genit! Jelek! Kegagalan!"


Pemuda yang tidak kalah sengit, menggendong putranya. Maaf, salah menggendong anak orang.


"Dasar kurang ajar!" bentak Reina.


Dengan cepat Imanuel melarikan diri ke dalam kamar."Ibumu mengamuk!" teriaknya tertawa, diikuti tawa Egie.


Rasa nyaman, seperti dengan ibunya sendiri. Reina yang berlari, menyerang dirinya dan Egie dengan batal. Cukup nyaman, tidak ada tuntutan, tidak ada gengsi dan pura-pura dalam hidupnya.


Hingga malam tiba, pasangan ibu dan anak itu sudah tertidur. Imanuel sedikit melirik ke arah mereka, sang pemuda yang mulai tertawa kecil."Rian, kamu beruntung memiliki mereka. Jika saja kamu dapat pulang, mungkin istri dan anakmu, akan menyambutmu. Aku iri denganmu..." gumamnya, menatap foto kecil yang tertempel di dinding.


Kehidupan sempurna yang ditinggalkan sang suami kala ajal menjemput. Apa sang istri harus melupakan? Atau harus setia?


Tidak ada yang tau pada takdir, hidup, mati dan jodoh. Seseorang yang singgah di hati mungkin saja merupakan jodoh orang lain yang kita pinjam. Atau jodoh kita sedang dipinjam oleh orang lain.


Tapi satu yang pasti dalam suatu hal yang dikatakan sebagai jodoh, yaitu laut. Seperti air yang singgah di danau kecil dan air terjun. Sang air mencintai danau, juga mencintai air terjun, namun sang air atas keinginannya sendiri ataupun dipaksa takdir untuk terus berjalan menuju laut. Itulah jodoh, tempat terakhir untuk berlabuh, seberapapun mencintai danau, namun takdir akan menyeretnya untuk mencintai laut.


Bagaikan sebuah perjalanan hidup, akan ada kalanya mencintai orang lain. Tapi pada akhirnya, hanya akan berlabuh pada satu orang yang tidak terduga.


"Mama, papa, aku ingin adik," gumam Egie tersenyum dalam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2