Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Dimana Dan Kapan Pun


__ADS_3

Semua berawal kala Fujiko menyaksikan segalanya. Wanita itu tersenyum, menemukan celah untuk hal yang terjadi malam ini. Matanya melihat keadaan, terlihat Nadila kebingungan mencari tempat untuk membuang bungkus obat tidur.


Mengapa? Jika dibuang di tempat sampah dapur maka akan segera ditemukan. Semuanya niatnya akan gagal. Nadila berjalan ke pintu belakang dapur, mencari tempat lain untuk menyembunyikan bekas botol obat tidur sementara. Sebelum membuangnya besok.


Tepat pada saat itu Fujiko masuk ke kamar suaminya tanpa permisi. Raka yang memang belum tidur mengenyitkan keningnya, melepaskan kacamata bacanya.


"Kenapa kemari? Bagaimana kalau ketahuan?" tanya Raka cemas.


"Aku merindukanmu. Jika ingin jatah, nanti Nadila akan kemari membawa susu, aku juga akan datang. Tukar gelasnya! Ingat tukar gelasnya! Minum susu yang aku buat!" peringatan dari Fujiko, mencium pipi suaminya. Kemudian kabur dengan cepat.


Sedangkan Raka merapatkan bibirnya, tersenyum-senyum sendiri."Sial!" gumamnya, tidak dapat mengendalikan perasaannya sendiri pada adik palsunya. Kakinya menendang-nendang udara tidak menentu ala anak SMU yang jatuh cinta.


Dan benar saja tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Perlahan pemuda itu tersenyum kemudian membukanya.


Ada yang aneh menurutnya, usia kehamilan Nadila saat ini seharusnya menginjak bulan ke empat. Walaupun dirinya tidak begitu mengetahui, seharusnya sudah sedikit terlihat bukan?


Awalnya Raka tidak memperhatikan karena Nadila lebih sering memakai pakaian longgar. Tapi sekarang tidak lagi, wanita itu memakai gaun tidur cukup tipis. Jadi dirinya dapat memperkirakan lekuk tubuhnya, tanda perut yang sedikit membuncit tidak terlihat sama sekali. Tapi apa hanya pemikirannya saja?


"Aku membuatkan susu untukmu." Ucap Nadila menyodorkan segelas susu.


"Aku sedang bekerja. Taruh saja," Kata-kata dari Raka berusaha tersenyum. Padahal sejatinya mencari cara dan langkah selanjutnya. Seharusnya setelah ini Fujiko akan datang membawa gelas lain berisikan susu.


Dan benar saja, baru saja duduk, tidak lama suara pintu diketuk kembali terdengar. Perlahan Raka membukanya, terlihat Fujiko disana membawakan segelas susu.


"Ma... maaf mengganggu. Kakak ipar ada disini. Aku jadi malu... maklum masih gadis," ucap Fujiko cengengesan, padahal aslinya menahan rasa kesal.


"Masih gadis!? Jangan bercanda! Sudah gol berapa kali, selama menikah?" batin Raka gemas, ingin mencubit telinga istrinya.


"Sudah dibuatkan susu ya? Kalau begitu ini buat kak Nadila saja. Selamat menikmati malam dingin." Fujiko melarikan diri keluar dari kamar, memberikan segelas susu pada Raka.


Mata Raka menelisik terlihat wanita di hadapannya ini lega. Apa mungkin karena Fujiko tidak menggangu dirinya dan Nadila? Pintu tertutup, bersamaan dengan Raka yang kembali duduk di dekat Nadila. Meletakkan dua gelas susu yang memiliki gelas serupa itu.


"Raka diminum dulu susunya." Pinta Nadila, menyodorkan gelas miliknya.


"Em," Raka menjawab, pada akhirnya menemukan cara. Wanita modelan begini sebagian besar akan mencari kesempatan meraba tubuh pria. Karena itu Raka akan memberikannya kesempatan.


Gelas yang disodorkan Nadila diraihnya, seolah-olah hanya terpaku pada laptopnya. Hingga pada akhirnya, menumpahkan sedikit susu pada celananya sendiri.

__ADS_1


"Agh!" pekiknya meletakkan kembali gelas ke atas meja, menggeser sedikit posisi hingga berhimpitan dengan gelas milik Fujiko.


Seperti yang diduga dengan cepat Nadila mengambil kesempatan, membersihkan celana panjang Raka menggunakan tissue.


Suasana romantis adalah yang utama untuk menaklukkan hati wanita. Menatap matanya lebih dalam, akan menunjukkan bagaikan memberikan perhatian atau mencoba memahami isi hati. Tapi hanya itu, jika tidak ingin terjebak trik sendiri, hanya perlu tersenyum padanya.


Mata mereka bertemu sesaat. Raka tersenyum padanya membuat Nadila terdiam, tidak menyadari salah satu tangan Raka meraih gelas milik Fujiko.


Jakun pemuda itu terlihat naik turun, meminum susu. Tapi entah itu apa mungkin memang ada yang tidak beres dengan minuman yang dibuat Nadila.


"Kamu minum juga, walaupun bukan susu ibu hamil tapi setidaknya bagus untuk kesehatan. Kamu hamil tapi masih bekerja, aku iba padamu dan anak kita." Ucap Raka tersenyum cerah, membuat Nadila meminum segelas susu lainnya.


Apapun itu Raka tidak peduli. Hanya perhatian dan senyuman saja. Dua gelas susu itu telah tandas. Nadila menunggu dengan sabar obat tidur bereaksi hingga dirinya menguap beberapa kali. Matanya memerah mengeluarkan air mata.


Tidak boleh tidur? Mungkin itulah yang ada dalam fikirannya. Tapi matanya tidak dapat diajak kompromi. Bagaikan author yang ingin tidur tapi tangan terus ingin mengetik.


"Kamu ngantuk? Aku juga, tapi tanggung, kamu boleh bersandar di bahuku. Nanti kalau sudah selesai aku bangunkan." Kata-kata dari mulut Raka penuh senyuman, membelai rambut Nadila, membuat wanita itu menyandar padanya.


Perlahan Nadila yang merasa sulit untuk mengendalikan diri tertidur. Matanya benar-benar tertutup sempurna. Tapi suasana yang romantis bukan? Kala seorang wanita menyandar pada bahu kekasihnya saat tertidur.


Menciptakan nuansa yang intim, adalah trik mendekati wanita walaupun tidak memiliki perasaan. Wanita akan mengangguk menganggap sang pria serius. Memahami pria? Seberapa dalam dan dangkal perasaannya? Itu lebih sulit daripada memahami wanita.


Karena itu, wanita harus berusaha lebih menyelami hati pasangannya, berhati-hati jika bertemu pasangan yang hanya berpura-pura mencintai. Tidak terpaku dengan kata-kata dan suasana romantis yang tercipta. Sedangkan pria juga harus mengelus dada,l dengan kata 'terserah' karena percuma berdebat, wanita selalu benar.


Kembali ke masalah utama. Kala wanita itu tertidur Fujiko segera masuk. Wajahnya tersenyum melihat Raka yang terlihat benar-benar kesal."Kamu senang melihat suamimu dengan wanita lain."


Dengan cepat Fujiko menggeleng."Lucu saja!" wanita itu malah tertawa.


Apa yang terjadi setelahnya? Nadila diletakkan di ranjang Raka dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pakaian dua orang teronggok di lantai. Memang calon suami dan adik ipar laknat.


Suara derasnya shower kamar mandi terdengar. Decapan bibir, saling memangut dengan tubuh yang sama-sama basah. Lidah mereka keluar dari mulut, bermain menari-nari mencari kehangatan. Suhu air yang diatur dingin, membuat tubuh mereka semakin merapat.


Ini akan menjadi hal yang jarang terjadi, tidak ingin semuanya terbongkar terlebih dahulu. Tubuh wanita itu dipojokan pada sekat kaca. Bayangan tangan Fujiko terlihat, mencoba mengais-ngais kaca yang berembun. Tubuhnya tengah dikuasai, hingga perlahan tubuhnya terangkat. Punggungnya masih menyandar pada sekat kaca berkebun. Tangannya mengalung pada leher suaminya.


"Agghh..."


"Agghh..."

__ADS_1


Pekik mereka bersamaan tertahan dalam sebuah ciuman. Tubuhnya terasa terombang-ambing, ini sulit dijelaskan olehnya. Punggung Raka dicakar entah kenapa. Tapi pemuda itu seorang tidak peduli, mencicipi bibirnya sambil meracau tiada henti.


Apa yang mereka katakan? Hanya kata-kata cinta, saling memanggil nama pasangan kala kenikmatan itu mencapai puncaknya. Akan segera berakhir. Dua orang yang masih mengatur napasnya kembali beberapa kali berciuman, merasakan cairan tubuh mereka yang menyatu.


"Sekali lagi ya? Kita coba di kamar Nadila." Kata-kata dari mulut Raka, tidak tahu malu.


"Raka!" bentak Fujiko.


*


Tidak menyadari Pramana mengamati dari lantai dua. Setelah kepala pelayan memberitahunya, Nadila dan Fujiko memasuki kamar Raka. Menunggu sekitar satu jam, Raka pada akhirnya keluar seorang diri dari kamarnya dengan rambut yang basah, memakai piyama berbentuk kimono.


"Raka," Suara sang kakek dari lantai dua membuat Raka menghentikan langkahnya.


"Imanuel menghilang, berhentilah main-main, lebih baik kembali ke perusahaan." Ucap Pramana, berjalan menuruni tangga.


"Kenapa harus aku? Ada paman Heru bukan?" tanya Raka berusaha keras untuk tersenyum.


"Kamu yang kakek pilih. Apa kamu kira karena kamu pernah menolong kakek? Tidak, integritas, skill, keuletan, relasi, kamu memiliki semuanya untuk memajukan perusahaan." Jawaban dari sang kakek, ingin mengukuhkan perusahaan yang didirikannya dari nol.


"Tidak, lebih baik jaga kesehatan kakek." jawaban dari Raka, hendak melanjutkan pergi.


"Perjodohanmu dengan Annette sudah kakek batalkan sepihak, semenjak kamu pergi dari rumah." Kata-kata dari Pramana tidak membuat Raka menghentikan langkahnya. Berjalan memasuki kamar Fujiko, membanting pintu dengan kasar.


Air matanya mengalir, menyender di pintu. Pada awalnya, dirinya mengikuti sang ibu untuk lebih menyayangi dan memperhatikan sang kakek. Agar perlahan hati pria tua itu luluh untuk menyayanginya. Tapi hanya dirinya yang perlahan selalu ada di samping sang kakek.


Apa Raka tidak menyayangi Pramana? Sangat, dia sangat menyayanginya. Hingga tidak dapat melaporkan pada polisi tentang menghilangnya Patra. Hanya dapat mengerahkan orang-orang untuk menemukannya.


*


Pagi menjelang, matahari sudah menampakkan sinarnya. Perlahan seorang wanita membuka matanya."Ini kamar Raka?" gumamnya dengan mata menelisik, otak yang masih di restart.


Mungkin misinya sudah berhasil? Tapi ingatan terakhirnya dirinya tertidur di bahu Raka. Nadila kembali memejamkan matanya, berpura-pura masih tidur. Merubah posisi tidurnya dengan tangan yang ingin meraba otot dada dan perut pria yang akan segera menikah dengannya.


Tapi ada yang aneh, benar-benar aneh. Sesuatu yang empuk, tidak seperti otot pria. Perasaannya tidak enak. Matanya segera terbuka.


"Kakak ipar! Kenapa meraba-raba badanku! Kakak pecinta sesama wanita ya?" pekik Fujiko beringsut mundur kala tangan Nadila meraba sumber nutrisi anaknya nanti.

__ADS_1


"Hah!?" Mata Nadila terbuka lebar, kenapa malah adik ipar menyebalkan ini yang ada di tempat tidur.


__ADS_2