Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Sama


__ADS_3

Pramana mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar, dirinya malah bersembunyi di lantai dua. Menyuruh kepala pelayan yang memeriksa keadaan di dalam kamar.


Sang kepala pelayan menelan ludahnya, mengetuk pintu beberapa kali. Hingga pada akhirnya pintu dibukakan Fujiko, mata tajam sang kepala pelayan menelisik, tidak ada keberadaan Raka di sana. Apa tuan mudanya bersembunyi?


"Ada a...apa?" tanya Fujiko terbata-bata.


"Bukan apa-apa, saya hanya mendengar suara berisik dari---" Kata-kata kepala pelayan terhenti menatap Nadila yang baru keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah kuyup, disusul dengan Adinda yang juga keluar dari kamar mandi. Sementara Raka pada akhirnya keluar dari bawah tempat tidur.


"Ada apa ini?" Mungkin itulah yang ada dalam benaknya. Pasalnya dirinya tidak mengetahui bagaimana semua orang dapat ada dalam kamar Fujiko.


Sedangkan wanita itu terkekeh."Maaf membuat keributan, ada beberapa kerusakan di kamarku. Raka memperbaiki bagian bawah ranjang. Sementara ibu dan Nadila membantuku memperbaiki keran air."


"Perlu aku panggil tukang reparasi nyonya?" tanya kepala pelayan menunduk sopan memberi hormat pada Adinda.


"Tidak perlu..." Jawaban darinya berjalan pergi diikuti oleh Raka. Sementara Nadila dan Fujiko tetap berada satu ruangan. Entah apa yang dilakukan sepasang musuh bebuyutan itu.


Namun, asalkan bukan sesuatu yang membahayakan tidak masalah bagi sang kepala pelayan.


"Nona Nadila akan menginap disini?" tanya sang kepala pelayan.


"Iya...aku ingin membuat konten dengan adik iparku." Alasan logis darinya. Sang kepala pelayan berjalan keluar menutup pintu kamar.


Memerintahkan salah seorang pelayan untuk berjaga di depan kamar Fujiko. Tujuannya? Tentu saja untuk menjaga keselamatan Fujiko. Ingat seekor hiu kini sedang berada sekamar dengan burung pelikan. Salah-salah yang tersisa dari burung itu mungkin hanya bulunya saja, ketika dikoyak habis oleh hiu. Saat itu Raka akan murka dan meninggalkan Pramana pergi. Itulah yang ditakutkan sang kepala pelayan.


Namun, tidak ada yang terjadi setelahnya. Nadila melangkah keluar dari kamar Fujiko, setelah dua jam berlalu.


Sedangkan Pramana mengenyitkan keningnya menatap curiga.


*


Resepsi pernikahan, disiapkan, gaun serta berbagai dekorasi tidak ada yang terlewat sama sekali. Namun, janji suci akan dibuat hanya dengan kehadiran Jovi (ayah Nadila) dan Adinda. Sebuah alasan dengan menggunakan keperluan perusahaan agar Pramana tidak hadir.


Namun, Fujiko dan Raka sejatinya duduk di sana menunggu waktu resepsi. Tidak ada acara pernikahan sama sekali. Hanya Nadila yang diam dengan Jovi menoleh ke arah putrinya.

__ADS_1


"Jadi kalian sudah mengetahuinya?" tanyanya pada Raka.


"Iya..." jawaban dari sang pemuda yang duduk di kursi kayu belakang mereka.


Jovi menghela napas kasar menatap ke arah putrinya."Ayo pergi!" ucapnya tidak ingin sang putri terkena masalah hukum.


Namun, tanpa diduga tangan sang ayah ditepis."Aku tetap ingin melakukan ini. Karena inilah tujuan hidupku..." Kata-kata dengan raut wajah datar, menatap ke arah latar yang kosong. Membayangkan dirinya menikah dengan kekasihnya. Andai kecelakaan itu tidak terjadi.


"Tujuan apa!? Semuanya sudah gagal! Kamu tidak akan dapat menjadi nyonya rumah keluarga Pramana!" bentak Jovi, sejenak menitikkan air matanya, menurunkan nada bicaranya pada putrinya."Maaf, ayah membentak mu. Tapi hanya kamu kelurga ayah satu-satunya."


Nadila menggeleng."Ayah memiliki Valentino..."


"Valentino?" Jovi mengenyitkan keningnya.


"Ayah salah paham dengan tujuanku yang sebenarnya. Apa ayah pernah mengunjungi makam ibu? Ada makam orang yang tidak dikenal di sampingnya." Kata-kata dari bibir Nadila dengan mata masih menatap ke arah altar.


"Makam?" Jovi terdiam, setiap mengunjungi makam mantan istrinya dirinya memang hanya fokus menceritakan tentang Nadila. Tidak pernah menyadari atau mengingat area sekitar.


"Maksudmu ayah punya cucu?" tanya Jovi.


Nadila mengangguk, memberikan selembar kertas berisikan alamat dan nama pasangan suami istri pada ayahnya."Namanya Valentino, tapi aku tidak akan dapat menjadi ibu yang baik. Karena itu aku menitipkannya pada keluarga lain. Aku harap jika ayah bertemu dengannya, jangan mengakuinya sebagai cucu. Melihatnya bahagia dengan keluarga barunya dari jauh sudah cukup," pintanya.


"A...aku punya cucu. Aku akan..." Kalimat Jovi terpotong.


Nadila menggeleng."Jangan, jangan memberi pilihan pada putraku untuk memilih kita atau orang tua yang membesarkannya. Ayah boleh menyayangi sebagai kakek yang hanya sekedar kenal saja. Jangan menemuinya, kecuali keluarganya tidak membahagiakannya."


Jovi tertunduk dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Foto seorang anak di tatapnya. Anak yang begitu rupawan, mirip seperti putrinya. Tapi memiliki hidung yang tidak begitu pesek, serta mungkin akan tumbuh cukup tinggi.


"Kita hidup bahagia bertiga bersama!" tegas Jovi.


"Tidak, tujuanku menjadi nyonya, hanya untuk menginjak Dwiguna. Dia yang sudah membunuh ayah dari anakku. Seharusnya aku sudah menikah, Dahlan juga... seharusnya dia sekarang bekerja di perusahaan ayah. Seharusnya aku memiliki keluarga yang utuh. Aku ingin dia mati, aku ingin dia mati bersamaku..." Gumam Nadila.


"Jangan menghancurkan hidupmu untuk dendam! Kamu berhak bahagia!" bentak Jovi pada putrinya.

__ADS_1


"Ayah, kita tidak saling mengenal satu atau dua hari. Ayah mengetahui gangguan kepribadian yang aku alami. Aku tidak akan pernah bahagia seumur hidupku. Atau mungkin aku akan membunuh Valentino, dan diriku hanya agar dapat bertemu dengan Dahlan. Jadi ayah ingin aku bahagia bukan?" tanya Nadila jemari tangannya yang dingin menyentuh pipi sang ayah.


"Tidak...kamu harus---" Kalimatnya terpotong.


"Jika aku beruntung aku akan tetap hidup. Tapi jika pun aku berakhir mati. Aku akan tetap ada dalam hati ayah dan putraku. Jadi jangan menghalangi jalanku, ini permintaan putrimu. Hal yang aku inginkan hanya ayah mengawasi bagaimana putraku tumbuh." Pinta Nadila, menangis terisak untuk pertama kalinya, setelah kematian Dahlan.


Jovi mengepalkan tangannya. Tidak pernah dapat menentang keinginan putrinya. Tekanan psikologis dari kecil, rasa kehilangan adalah penyebabnya. Anak perempuannya yang manis berubah menjadi bagaikan iblis.


Dan kali ini, hanya kali ini senyuman itu terlihat dalam air mata yang tulus dari putrinya."Ayah tidak meminta apapun. Ayah hanya ingin kamu bahagia. Dimanapun kamu berada..."


Seorang ayah yang menyadari betapa buruk perbuatan putrinya. Bahkan mengerahkan uang untuk membantu sang putri. Mengerti sifat putrinya, tidak dapat dihalangi. Membawanya ke psikolog? Itu pernah dilakukannya ketika Nadila remaja. Tapi hasil yang lebih buruk di dapatkannya. Anaknya pergi dari rumah berhari-hari dengan sebuah pisau di tangannya hendak membunuh sang ayah tiri yang ada di penjara.


Hingga pada akhirnya seorang pemuda bernama Dahlan menghubunginya. Mengatakan Nadila berada di rumahnya. Mungkin hanya itulah pertemuannya dengan orang yang berhasil meluluhkan hati putrinya.


Tidak mengharapkan apa-apa lagi, kala mengetahui segalanya. Menyeret Nadila menemui psikolog? Itu mungkin akan menjadi hari terakhir dirinya bertemu dengan putrinya. Mungkin akan lebih banyak lagi orang yang mati untuk tujuan putrinya balas dendam.


"Ayah mencintaimu..." kalimat dari Jovi penuh rasa sesak di dadanya. Tidak menyetujui pilihan putrinya. Namun, tidak dapat menentangnya. Apapun akan dilakukannya hanya untuk melindungi Nadila.


*


Sedangkan Fujiko yang duduk di belakang mereka mengeluarkan air matanya. Dengan sigap Raka yang memakai pakaian pengantin pria memberikan saputangan.


Bukannya air mata, Fujiko malah mengeluarkan seluruh ingusnya pada sapu tangan."Ini!" ucapnya mengembalikan saputangan suaminya.


Raka menghela napas kasar kemudian tanpa jijik sedikitpun memasukkan kembali saputangan yang telah kotor, sedikit menggulungnya.


"Kenapa tidak dibuang?" tanya Fujiko.


"Sampai rumah aku cuci lagi, jemur kemudian masih bisa dipakai lagi." Jawaban logis dari Raka.


"Omong-ngomong pernikahan ini palsu. Berarti hidangan catering bisa dibungkus kan? Bagaimana jika di jual setengah harga saja pada anak-anak di tempat kost." Ide cemerlang dari Raka. Mengingat hidangan acara pengucapan janji suci yang akan terbuang percuma.


"Dijual berapa?" pertanyaan dari Fujiko yang kali ini sudah menjadi sama kikirnya.

__ADS_1


__ADS_2