Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Numpang


__ADS_3

Fujiko meraih bubur tanpa menjawab sama sekali terlihat kecewa. Bahkan membanting pintu kamarnya. Duduk di kursi meja makan, sejenak kemudian mulai berfikir, apa kesalahannya?


Berusaha mengingat hal yang terjadi saat dirinya memakan steak. Hingga perlahan adegan panas itu terbayang."Tidak mungkin pasti hanya mimpi kan?" gumamnya tertawa sendiri.


Sejenak kemudian mengingat Raka yang membawanya ke kamar mandi. Kemudian menyiram tubuhnya dengan air dingin. Setelahnya menggantikan pakaiannya. Segalanya terbayang jelas dalam benaknya. Meskipun sahabat."Memalukkan!" jerit Fujiko menjambak rambutnya sendiri. Apa karena ini? Karena Raka melihat kelakuan anehnya?


Fujiko kemudian bangkit, bingung berikutnya harus bagaimana. Bertemu kembali malah terasa canggung. Hanya satu yang dapat dilakukannya, pura-pura tidak ingat. Keputusan muka badak yang diambilnya karena hanya Raka satu-satunya sahabatnya saat ini, tempat untuknya bersandar. Ingat! Ini bukan Romeo dan Juliet tapi kisah laskar pelangi yang berkaitan erat dengan persahabatan.


Perlahan motor matic dihidupkan olehnya. Sesekali menoleh ke arah belakang, berharap Raka keluar dari kamarnya. Namun, tidak ada yang terjadi. Sang pemuda tidak keluar sama sekali.


Sementara itu Raka mengintip dari balik gorden jendela kamarnya. Ruangan yang cukup gelap hanya laptop yang menyala disana."Sabunku habis, uang untuk membeli sabun sudah aku belikan bubur. Tapi dia tidak ada terimakasihnya sama sekali." Pemuda yang menggeleng-gelengkan kepalanya heran seolah-olah sudah memberikan hadiah senilai puluhan juta.


Pemuda yang kembali mengetik, menjalankan hoby-nya sebagai ghost writer tidak terkenal. Sampai saat ini jumlah pembacanya hanya sedikit.


Wajahnya tersenyum, tidak ada salahnya menulis adegan tadi malam sebagai tulisan. Jemari tangannya mengetik dengan cepat, hingga mengirim naskahnya. Beberapa notifikasi terlihat pertanda beberapa kali mendapatkan saran dari editor tentang tulisannya yang aneh.


Saran-saran yang dianggapnya sebagai angin lalu. Meningkatkan moodnya sendiri dalam menjalani hidup. Jika tinggal di rumah keluarga besarnya akan lebih berhemat. Tapi, saat disana ancaman isi kantongnya terkuras akan semakin besar.


Ibunya yang curhat tentang tas bermerek keluaran terbaru, uang bensin mobil yang mahal, belum lagi jika mengantar ibunya ke salon. Black card-nya harus keluar, tangannya gemetaran saat itu memikirkan isi tabungannya yang berkurang.


Keluarga kaya dituntut untuk selalu berpenampilan sempurna. Mengemban tanggung jawab besar sebagai cikal bakal trand fashion. Begitu juga dirinya hanya hanya diperbolehkan menggunakan baju mahal sekali pakai oleh ibunya. Kehidupan yang sama dengan Imanuel, bedanya Imanuel menjalani dengan senang hati.

__ADS_1


Sedangkan dirinya tidak, tidak pernah bahagia kala rupiah demi rupiah melayang, walaupun itu Pattimura (seribu rupiah) sekalipun. Hari ini dirinya membuat perubahan besar dalam hidupnya, membelikan bubur untuk Fujiko.


Perubahan yang sangat, amat sangat drastis. Tersenyum sendiri setelah memberikan hadiah untuk sahabatnya. Mungkin mulai merelakan Fujiko untuk memiliki kekasih lebih baik.


Dirinya belum dapat bertanggung jawab. Tidak dapat dibayangkan olehnya, memiliki seorang istri yang akan meminta satu rak berisikan tas senilai miliaran rupiah, belum lagi koleksi pakaian, jika bosan liburan ke Paris. Harus membiayai istrinya, menelan ludahnya sendiri. Dalam bayangannya patokan dapat membahagiakan wanita ada pada ibunya dan pacar Imanuel.


Jika memiliki kekasih maka mobil dan villa pribadi harus sudah siap. Penghasilan yang disisihkan untuk skincare juga harus ada, tapi jika dirinya bernasib buruk kekasihnya minta operasi plastik ke luar negeri, dirinya juga harus mengangguk.


Mencari pasangan hidup adalah hal yang sulit semua harus dipikirkan baik-baik. Apa akan dapat membahagiakannya nanti? Tidak ingin istrinya seperti ibu-ibu yang pergi ke pasar mengendarai motor sambil membonceng anak. Kehidupan yang terjamin, hanya itu yang ada di otaknya.


Hingga orang kepercayaannya, kembali mengirimkan dokumen, berisikan tentang sebuah perusahaan yang hampir pailit. Apa dirinya berani untuk menyuntikkan dana? Kondisi perusahaan yang stabil, hanya saja salah satu pabrik mereka mengalami ledakan akibat arus pendek, membuat perusahaan hampir gulung tikar. Menjual saham dengan nilai rendah, juga mengharapkan adanya investor baru.


Suara dering phonecell yang lumayan berisik. Handphone yang bahkan masih memiliki tombol, layarnya tidak berwarna. Ukuran yang benar-benar kecil."Apa?" tanya Raka dengan nada malas saat mengangkat telpon.


"Beli sahamnya, suntikan dana, aku akan mengirimkan rincian lewat e-mail, apa yang harus kamu lakukan. Satu lagi, tinjau pabrik-pabriknya yang masih tersisa. Jangan sampai aku rugi," ucap Raka.


"Kenapa WA mu tidak aktif?" tanya Danu orang kepercayaan Raka.


"Agar akses internet lebih cepat. Aku memakai WIFI bersama, jadi kalau membuka laptop dan smartphone bersamaan maka internet tidak akan lancar." jawaban dari Raka.


"Kenapa tidak pakai WiFi yang bisa dibawa kemana-mana lebih praktis. Atau untuk smartphone pakai saja paket data. Uang yang mengalir ke rekeningmu banyak, lagi pula ini untuk kepentingan bisnis." Danu mengenyitkan keningnya, menunggu jawaban si kikir.

__ADS_1


"Begini, jika kamu menghubungiku menggunakan WA. Maka paket data milikku dan milikmu akan terkuras, kita sama-sama rugi. Jika tidak menggunakan WA, kamu menghubungiku secara normal, aku tidak akan rugi paket data. Hanya kamu yang rugi pulsa," jawaban tidak tahu malu dari pemuda yang mulai berbaring hanya dengan boxer melekat di tubuhnya.


"Aku ini bawahanmu! Kenapa selalu aku yang terjebak keluar uang!" bentak Danu.


"Lalu harus aku? Kamu tidak kasihan padaku? Aku anak perantauan, tinggal jauh dari orang tua. Tidak ada yang dapat diandalkan, hari ini aku bahkan makan roti yang hampir kadaluarsa untuk sarapan." Gumam Raka dengan nada suara penuh drama.


"Jarak rumahmu hanya 9 kilometer dari rumah orang tuamu." Danu benar-bebar geram dibuatnya pada bos-nya tersayang. Pemuda kikir yang perhitungan tidak boleh hilang seribu rupiah pun.


"Ibuku ingin anak dariku," Raka berucap dengan tatapan kosong ke arah langit-langit kamarnya.


"Bagus! Hamili saja temanmu, masuk ke kamarnya tengah malam. Lakban mulutnya, lalu ikat tangannya, pegang kakinya. Buat dia takluk," jawaban santai dari Danu.


"Awalnya aku memang berfikiran hal yang sama, mengikat dan melakban mulutnya. Setelah anakku ada dalam perutnya baru melepaskannya. Tapi sayangnya dia menyukai orang lain. Lagipula aku juga tidak yakin dapat membahagiakannya. Seperti kataku sebelumnya, bagaimana jika keadaan finansialku mundur? Lalu bagaimana jika dia ingin perawatan total di luar negeri setiap minggu? Lalu saat memiliki anak juga. Aku tidak mungkin pelit pada anakku. Harus ada warisan yang cukup untuknya, berjaga-jaga kalau aku mati muda," jawaban dari Raka.


"Jadi kamu benar-benar serius dengan temanmu?" tanya Danu antusias.


"Tidak, dia sudah punya pacar, mungkin dapat membahagiakannya daripada makan sayur dan tempe yang aku masak," Raka menghela napas kasar, mematikan panggilannya. Dirinya harus kembali bekerja memantau asetnya. Siang ini dirinya bahkan harus menyewa ojek untuk menghadiri rapat pemegang saham. Bekerja keras menyiapkan beras dan sebongkah berlian untuk istrinya nanti.


*


Sedangkan siang ini banyak chatt dari Nolan. Chatt semalam kembali dibaca Fujiko di waktu istirahatnya. Chatt yang berisikan dirinya yang bertanya pada Nolan. Pertanyaan basa basi, sudah makan atau belum, sedang apa, ada juga emoji aku mencintaimu.

__ADS_1


Semua ditulis dan diterimanya tanpa perasaan gembira, hatinya mendung saat ini. Mengapa Raka mendiamkannya? Apa dirinya harus masuk ke kamar Raka? Kemudian numpang mandi, agar tidak merasa canggung?


__ADS_2