Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Jodoh Yang Tertunda


__ADS_3

Imanuel menatap jengkel, menghela napas berkali-kali."Aku sudah membeli pakaian ini sebagai pakaian ganti dari ibu mertuamu!" tegasnya.


"Kenapa dijual! Jika aku merindukannya aku harus bagaimana!?" gumam Reina, dengan tangan gemetar."Apa dijual semuanya? Atau hanya yang ada di plastik laundry?"


"Hanya yang di plastik laundry," jawaban dari Imanuel. Reina bergerak cepat, mencari salah satu pakaian suaminya. Masih ada, wanita itu tersenyum, bagaikan fans yang mendapatkan baju dari artisnya.


Sedangkan Imanuel yang tidak memiliki teman bicara mulai duduk di tepi tempat tidur. Dirinya benar-benar merasa heran."Kamu bilang ini rumah warisan kedua orang tuamu kan?" tanyanya, dengan cepat Reina mengangguk.


"Jadi suamimu tidak membeli rumah ini. Apa saja yang sudah dibelikan untukmu?" tanya Imanuel penasaran, ingin Nadila selalu setia dan mengingat dirinya dalam situasi apapun.


"Tidak ada, kami menabung bersama ketika belum menikah untuk membeli perabotan rumah. Lalu, tinggal disini, menabung untuk kehamilan dan saat persalinanku. Hingga pada akhirnya saat Egie berusia 1 tahun dia meninggal, hanya mayatnya yang kembali dari laut." Jelas Reina, tersenyum lirih.


"Kalau begitu dia tidak pantas dicintai, pria tidak ada modal, hanya bermodalkan alat perkembangbiakan. Dia bahkan menitipkan ibunya padamu kan? Hanya menyusahkan." Cibir Imanuel, benar-benar tidak mengerti.


"Suami istri adalah teman hidup, partner yang saling membantu, barulah hidup akan terasa lebih menyenangkan. Jika tidak saling memahami, bukan pasangan namanya." Ucap Reina, berjalan berlalu, kembali meletakkan pakaian suaminya yang belum sempat di laundry. Masih ada bekas aromanya saat itu.


Move on? Kata yang mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Dirinya lelah hidup sendiri, harus mengatur dan mencukupi kebutuhan tiga orang. Tapi juga tidak dapat melupakan almarhum suaminya. Sebenarnya ada beberapa duda yang pernah melamarnya. Namun, dirinya menolak, dengan alasan Egie tidak mudah akrab dengan orang lain. Padahal alasan aslinya adalah masih merindukan suaminya.


"Aku selalu memanjakan pacarku. Aku yakin dia sedang menangis sambil menungguku pulang." Khayalan tingkat tingginya terbayang. Berimajinasi jika Nadila tengah menangis merindukannya. Sangat berat menjadi seorang anak konglomerat yang rupawan, tunangannya yang bucin setengah mati.


Imanuel menghela napas kasar, mengingat pertemuannya dengan Nadila yang saat itu mewakili Jovi dalam acara pesta. One night stand? Dirinya melakukannya secara tidak sengaja. Meminum wine dengan Nadila, setelahnya berakhir di kamar hotel entah kenapa.


Tidak mengingat dengan jelas saat dirinya tidak perjaka lagi. Tapi yang diketahuinya saat itu Nadila menangis, mengatakannya dirinya sudah merenggut kesuciannya. Bekas kemerahan juga ada di sprei. Semuanya dimulai saat itu, dirinya harus bertanggung jawab, menyatakan cinta pada orang baru pertama kali dikenalnya.

__ADS_1


Jika difikir-fikir pertemuan yang singkat, pertunangan yang juga buru-buru, khawatir jika kekasihnya mengandung. Dan benar saja, kejadian malam itu membuat hidupnya berubah, akan memiliki anak dari seorang wanita yang perlahan telah dicintainya.


Semua perhatian sudah diberikan olehnya. Jadi siapa sebenarnya yang bucin? Sampai saat ini Imanuel masih mengira yang bucin adalah Nadila. Hingga rela berbuat apa saja untuk menyenangkan Pramana dan Tiara.


Tapi apa benar? Pemuda itu belum juga sadar, isi rekeningnya terkuras untuk memanjakan tunangannya. Seorang wanita yang selalu mencari perhatian dari keluarga besarnya, dengan dalih agar mendapatkan restu. Siapa yang bucin sejati? Nadila atau Imanuel? Hanya Chu Pat Kai yang tau.


Tidak ada yang istimewa dari keluarga ini. Dirinya baru datang dari luar membawa sebungkus ayam goreng crispy. Duduk di ruang tamu seorang diri. Matanya menelisik, menatap keluarga itu.


Hanya ada dua potong ayam goreng, tempe, dan sayur bayam. Nasi hangat mengepul terlihat, di sendok untuk Egie dan Lastri.


"Ini untuk Egie, ini untuk ibu," ucapnya tersenyum ikhlas memberikan dua potongan ayam yang tidak begitu besar. Sedangkan dirinya mengambil tempe.


"Ibu tidak perlu, kamu besok harus bekerja, harus mengisi tenaga." Lastri memindahkan ayam miliknya ke piring menantunya.


"Maaf, ibu menyusahkanmu lagi," Lastri menghela napas kasar.


"Tidak menyusahkan, coba ibu bayangkan jika ibu tidak ada. Siapa yang akan menjaga Egie di rumah saat aku bekerja. Jika aku tidak bekerja, aku dan Egie akan mati kelaparan. Ibu tidak menyusahkan ku." Ucapan dari Reina, membuat nafsu makan Imanuel menghilang. Dirinya membeli potongan ayam besar.


"Kalian membuatku tidak selera makan!" bentaknya berjalan dari ruang tamu yang tidak bersekat dengan meja makan. Membagi potongan ayamnya ke piring Reina.


"Sudah! Tidak boleh ada drama menyedihkan ala Titanic lagi! Semua dapat daging ayam!" bentaknya, ikut makan di meja makan, mengambil sedikit sayur bayam.


Hingga tangan kecil itu menarik pakaiannya."Papa sayang mama," sang anak yang menatap dengan berkaca-kaca, menampakan aura manis yang menyengat. Membuat Imanuel benar-benar silau dengan personanya.

__ADS_1


Bagaimana tidak, anak yang melihat papanya membagi ayam dengan mamanya. Makna kecil yang berarti, membuat jantung anak itu berdegup lebih cepat. Dirinya mulai mengagumi sosok ayah, ingin seperti Imanuel.


"A...aku bukan. Begini, aku hanya berbaik hati pada janda miskin. Tidak ada salahnya beramal. Satu lagi, aku bukan papamu." Imanuel menjelaskan pelan-pelan kali ini, dirinya sudah membayar uang sewa. Jadi kesalahpahaman harus dihapuskan.


"Papa sayang mama," tidak memperhatikan kata-kata Imanuel, Egie hanya terpaku kagum pada perilakunya saja. Masih menatap dengan berkaca-kaca.


"Ti... tidak, siapa yang akan menyukai wanita kusam sepertinya. Aku juga pilih-pilih," Pembelaan dari Imanuel.


"Artinya papa sayang mama?" anak itu masih bergumam, melihat potongan ayam di piring Imanuel dan Reina.


"Aku bilang tidak, sebentar lagi aku akan punya anak. Tidak mungkin aku sayang mamamu!" geram Imanuel, pusing bagaimana harus menjelaskannya.


"Jadi aku akan punya adik?" kesimpulan yang diamati oleh sang anak, membuat Reina tersedak, terbatuk-batuk.


"Mulut kecilmu benar-benar lancang. Jika aku berkata aku sayang mamamu kamu akan berhenti bicara?" tanya Imanuel, dijawab dengan anggukan oleh Egie.


"Aku sayang mamamu! Puas!?" bentak Imanuel, kali ini Lastri yang menatap sinis. Putranya tidak boleh digantikan sama sekali.


Sedangkan Egie makan dengan tenang sudah cukup puas dengan kalimat dari papanya yang sudah datang dari melaut.


"Katanya tidak akan khilaf!" cerocos Lastri.


"Tidak akan, aku tidak akan menyukai menantumu yang buluk. Ini hanya agar Egie diam." Jawaban dari Imanuel dengan mulut penuh.

__ADS_1


Sedangkan Reina tersenyum-senyum sendiri. Dirinya mungkin harus memberikan sosok ayah untuk putranya. Diono, tetangga depan perempatan lumayan juga. Apalagi kalau Danu yang sama-sama sudah ditinggalkan. Duda bertemu janda, mungkin adalah jodoh yang tertunda.


__ADS_2