Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Tidak Tahu Diri


__ADS_3

Fujiko sedikit melirik ke arah suaminya. Pemuda yang menari bersamanya, bahkan menciumnya secara paksa saat pesta pertunangan Fumiko?


Menghela napas berkali-kali, ternyata memang Raka. Hanya itulah yang ada di benaknya, kala memasuki pintu besar di hadapannya. Ruang tamu yang cukup luas terlihat, berbeda dengan saat dirinya memasuki rumah secara diam-diam.


Bagian depan rumah ini bahkan lebih dari yang diduganya. Lampu kristal besar terlihat tergantung di bagian atas ruang tamu. Tangga besar dengan ukiran besi sebagai pegangannya. Ada unsur klasik bagaikan istana di sana.


Hingga langkahnya terhenti, ini adalah hari pertamanya kembali. Kesan baik harus ditunjukkannya, melawan seseorang yang bernama Nadila.


Beberapa orang berada di ruang tamu, mungkin menunggu kedatangan Raka. Dirinya berjalan beriringan menyeret koper.


Seorang wanita cantik, selebgram yang biasa terlihat di hampir semua sosial media. Bahkan membuat banyak video YouTube.


"Jadi dia?" batin Fujiko, mengingat salah satu selebgram terkenal bernama Nadila.


"Raka," Pramana bangkit, memeluk cucu kebanggaannya. Semua orang melihatnya, bahkan orang-orang yang tidak dikenal Fujiko sebelumnya.


Mata semua orang menelisik dengan kedatangan seorang wanita cantik, yang berada di samping Raka.


"Dia siapa?" tanya Pramana melepaskan pelukannya.


"Fujiko perkenalkan dirimu." Raka tersenyum merangkul bahu Fujiko.


"Perkenalkan aku Fujiko, anak dari ipar saudara sepupu Tante Adinda. Masih saudara jauh dengan Raka. Sebelumnya aku tinggal dengan ayahku yang menjadi TKI di Singapura. Lumayan sulit mencari pekerjaan, jadi ayah meminta tolong pada Raka untuk mencarikanku pekerjaan." Jawaban Fujiko tertunduk sopan.


"Adik sepupu jauhku yang cantik!" Raka terlihat gemas, mencubit hidung wanita yang katanya saudara jauhnya.


Nadila tertunduk diam, tidak mau kalah adalah sifatnya. Wajah yang begitu cantik membuatnya tidak nyaman. Hanya manipulasi, itulah yang dapat dilakukannya.


"Kakek, aku---" Kata-kata Nadila ragu, ingin menarik iba dan perhatian semua orang.


"Oh...jadi ini yang namanya Nadila? Kita hampir seumuran. Kita akan menjadi akrab, lagi pula kamu akan menikah dengan Raka kan? Raka sudah menceritakannya padaku saat di Singapura." Dengan sigap Fujiko memeluk Nadila, tersenyum layaknya seorang adik yang bertemu kakak iparnya.


"Aku mengenalmu. Kamu orang yang ingin merebut suamiku? Aku akan membuat hidupmu seperti di neraka." Batin Fujiko, membelai rambut Nadila.


"Kamu begitu cantik, pantas saja menjadi selebgram. Jika bisa aku ingin menjadi sepertimu, kita buat group nanti, Nadila yang jadi pemimpinnya. Bagaimana jika Miracle Angel?" Puji Fujiko, tidak ingin bertindak gegabah.


"Kalian cepat akrab, perlakukan adikku dengan baik ya? Dia ini terlalu lugu dan naif. Aku anak tunggal, jadi aku begitu menyayanginya seperti adikku sendiri." gumam Raka penuh senyuman.

__ADS_1


Nadila mengepalkan tangannya, kenapa wanita ini harus muncul di saat-saat seperti ini. Namun, status yang dipertegas sebagai seorang adik. Mungkin dengan menarik perhatian Fujiko akan membuat Raka mulai takluk layaknya Imanuel.


"I...iya..." tidak ada penolakan sama sekali dari Nadila.


Menarik perhatian orang lain? Taukah kalian kelebihan wanita penggoda? Itulah yang dimiliki Fujiko, dapat dengan mudah membuat orang akrab dengannya. Pelajaran dari kakak-kakaknya untuk menarik perhatian pria kaya.


Wanita yang membuka kopernya, membawa beberapa oleh-oleh. Berjalan mendekati Tiara dan Heru, selaku orang tua Imanuel."Aku tau Om dan Tante sedih Raka sudah menceritakan semuanya, karena itu aku membelikan coklat, di dalamnya juga dicampur ginseng. Walaupun aku tidak tau kadarnya berapa. Tapi kalian harus tetap sehat untuk mencari Imanuel,"


Pasangan suami-istri yang tersenyum, anak supel yang bahkan lebih mencemaskan mereka dibandingkan dengan Nadila.


"Kamu juga jaga kesehatan. Nanti paman akan mencarikan posisi yang cocok denganmu di perusahaan." Ucap Heru penuh senyuman.


"Tidak perlu, kak Raka yang akan mencarikan ku pekerjaan. Paman hanya harus memperhatikan kesehatan, dan mencari keberadaan Imanuel." Jawaban Fujiko tertunduk cemas.


"Serigala berbulu domba. Untung berpihak padaku." Kata-kata yang tidak terucap dari bibir Adinda menatap kelakuan menantunya. Tapi memiliki sekutu seperti Fujiko tidak buruk juga, ada yang dapat diandalkan olehnya.


"Untuk kakek, ini ukiran kayu berbentuk naga, aku memilihnya sendiri. Ayo kita cari tempat untuk memanjangnya!" Kata-kata penuh senyuman dari mulut Fujiko, membimbing Pramana masuk.


"Tidak perlu repot-repot," Pramana tersenyum sungkan.


"Tidak repot kakek, hanya ukiran kayu yang aku beli. Bukan aku yang buat, kalau aku yang buat, jadinya bukan ukiran kayu, tapi kayu bakar." Candaan dari Fujiko, membuat Pramana tertawa. Mungkin rasanya bagaikan memiliki cucu perempuan.


Hingga dirinya hanya dapat membuat citra buruk nantinya sebagai orang yang akan membuat dirinya keguguran. Itulah yang akan dilakukannya, tepat setelah pernikahannya dengan Raka.


*


Tapi apa benar menjadi calon menantu itu menyenangkan. Malam semakin larut, Raka yang tidak bekerja di kantor lebih fokus mengerjakan berkasnya di ruang baca. Sedangkan Pramana dan Heru yang menghendel perusahaan, mungkin sudah pulang dan beristirahat.


Memakai kacamata, tangannya mengetik dengan cepat, benar-benar fokus. Membaca satu persatu kontrak yang menyangkut dengan asetnya.


Hingga pada akhirnya pintu terbuka, Nadila tersenyum membawa sponge cake dan teh hijau. Berjalan mendekati Raka.


"Jangan terlalu banyak bekerja," ucapnya menunjukkan perhatian, penuh senyuman bagaikan seorang malaikat.


"Aku harus tetap bekerja, agar tidak bangkrut." Jawaban dari Raka penuh senyuman, menghela napas, tanpa menyentuh minuman yang dibuatkannya.


"Maaf, karena Imanuel melarikan diri dengan Barbara. Kamu harus---" Kata-kata Nadila disela.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, semua sudah terjadi." Ucap Raka masih setia tersenyum.


Jauh diluar dugaannya. Raka begitu mudah didekati. Cukup lega rasanya, jemari tangannya bergerak menggenggam jemari tangan Raka.


"Raka aku---" Ucapnya tertunduk ragu."Aku akan berusaha mencintaimu. Terimakasih sudah mau menerimaku,"


"Kakak!" Suara Fujiko terdengar, berlari membawa beberapa berkas.


Perhatian Raka teralih bangkit mendekati orang yang katanya dianggap sebagai adik. Atau kita sebut saja pasangan ranjang, maaf pasangan meja makan.


Seketika tangan Nadila terlepas, senyuman di wajah wanita itu memudar. Kalian tau rasanya memakan sayur tanpa garam, kelebihan jahe? Anyep, itulah raut mukanya saat ini. Ingin marah tapi tidak bisa.


"Kak, besok aku akan ke perusahaan. Tolong ajari aku tentang ini," pinta Fujiko membawa sebuah berkas, membukanya asal.


"Ini terbalik." Batin Raka menahan tawanya, menatap berkas asal yang diberikan istrinya.


"Iya, nanti kakak jelaskan. Nadila, sebaiknya kamu istirahat, agar calon anak kita sehat." Raka menghela napas kasar tersenyum hangat.


"Raka, sebenarnya aku ingin membuat foto tahap kehamilan, dari perutku datar hingga membesar nanti sebagai kenang-kenangan. Tapi menyewa fotografer---" Kata-kata Nadila yang ingin mendapatkan perlakuan istimewa disela.


"Biar aku saja yang foto. Kak Raka baru saja membelikanku iPhone keluaran terbaru. Kameranya lumayan bagus, lagipula kalian harus irit! Ingat membesarkan bayi itu tidak murah." Kata-kata dari Fujiko penuh senyuman mengamankan isi dompet dari suaminya.


"Benar kata Fujiko, kita harus hemat." Ucapan dari anak seorang konglomerat.


"Kak, aku minta uang untuk membayar kost." Fujiko bergelayut manja.


"Nanti aku transfer," jawaban Raka penuh senyuman.


"Tapi kalian bilang harus hemat!" bentak Nadila tidak terima.


"Nadila, Fujiko ini adikku, dia baru saja datang dari Singapura dan akan tinggal mandiri mencari pekerjaan. Tolong maklumi, kebutuhan dia lebih banyak daripada kebutuhanmu." Jawaban dari Raka tidak dapat terbantahkan. Sang pemuda yang kembali duduk di kursinya. Sedangkan Fujiko menarik kursi lain di samping Raka.


Pemuda yang terlihat menjelaskan pelan-pelan pada adiknya.


Taukah kalian yang paling menyebalkan selain ibu mertua sebagai seorang istri? Ipar seorang benalu sejati dan pandai mengambil perhatian semua orang.


"Aku ingin mencincangnya," batin Nadila.

__ADS_1


"Kakak ipar, buatkan aku teh hijau juga ya? Aku haus." Kata-kata tidak tahu malu dari Fujiko.


__ADS_2