Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Bertemu


__ADS_3

Dirinya menatap pantulan wajahnya di cermin. Memakai seragam pabrik berwarna biru muda. Wajah rupawan dengan kulit yang benar-benar halus.


Sang pemuda yang menghela napas kasar, menyisir rambutnya sendiri."Sudah tampan," gumamnya, mengingat-ingat wajah Danu.


Kesal? Tentu saja, tapi papa tidak cemburu walaupun papa sudah sayang mama. Papa hanya kesal jika ada pria lain yang terlihat lebih tampan di mata mama.


"Papa!" Egie masuk ke kamarnya tanpa permisi, memeluk Imanuel. Membentangkan tangannya minta digendong."Papa kerja?"


"Papa kerja, Egie tinggal di rumah ya?" Ucap Imanuel, mengangkat tubuh mungil Egie.


"Iya, tapi papanya Joko (anak tetangga sebelah) selalu cium kening mamanya Joko. Papa kenapa tidak pernah cium kening mama?" Ucap mulut kecil Egie yang selalu melihat adegan tetangga sebelah. Tidak mengerti dengan sifat mama papanya.


Imanuel menggigit bagian bawah bibirnya sendiri. Bagaimana harus mengatakan mama dan papanya belum menikah? Anak keras kepala yang sampai saat ini melekat mengira dirinya adalah ayah kandung. Bahkan beberapa kali pun Egie dibawa ke makam Rian anak itu lebih melekat pada Imanuel.


Seorang anak yang bisa dibohongi? Memang benar, tapi kebohongan itu melekat di otaknya dianggap sebagai sebuah kebenaran. Pada akhirnya dirinya mengalah, setelah memakan sarapannya. Dua orang berbeda tinggi itu menghela napas saling menatap, kala berada di ruang tamu.


"Papa cium kening mama!" pinta sang anak merengek, ingin memiliki keluarga mesra bin harmonis seperti anak tetangga sebelah.


Canggung? Malu? Tapi bagaimana pun wanita ini sudah menjadi pacarnya bukan? Tapi tetap saja mencium kening di depan anak kecil, membuat mereka salah tingkah.


Pada akhirnya satu ciuman mendarat di kening Reina. Kecupan pelan, namun hanya sejenak. Hingga pada akhirnya dua orang itu mengalihkan pandangan.


"Katanya khilaf pilih-pilih..." Sindiran dan Lastri yang tengah menyapu ruang tamu. Menggeleng-gelengkan kepalanya menahan tawanya.


Dirinya kini sudah merelakan menantunya untuk bahagia. Terpaku pada Rian? Terkadang Reina tidak menunjukkannya, terlalu lelah, bahkan ketika sakit masih bekerja lembur. Namun, kehadiran Imanuel membuat segalanya lebih ringan untuk sang menantu. Akan ada yang merawat Reina nanti di masa tuanya.

__ADS_1


Mungkin ini juga yang diinginkan almarhum Rian, hingga Imanuel ditemukan tertidur disana. Entahlah, tidak ada yang tau.


Tapi memang cukup aneh, apa yang terjadi malam itu? Beberapa orang yang mengejar Imanuel mencari ke dalam hutan, hingga memasuki kebun warga, bahkan makam. Tapi tidak menemukan keberadaan Imanuel. Aneh bukan?


Pernahkah kalian menaruh kunci di atas meja, namun setelah dicari kalian tidak melihatnya. Beberapa saat kemudian kembali menemukannya di atas meja? Apa ingatan kalian yang salah? Entahlah, namun kejadian seperti itu memang ada, seperti memang ada sesuatu yang sengaja melakukannya. Sesuatu yang tidak diterima oleh logika sama sekali.


Jika difikirkan kembali oleh Lastri. Mungkin suatu hari nanti dirinya akan kehilangan menantunya yang memaksakan diri bekerja siang malam. Untuk menghidupi dirinya dan sang cucu. Kata-kata Lukman juga masih terngiang dalam dirinya. Melihat sosok Lukman sudah menunjukkan sikap cukup buruk baginya. Bagaimana jika suatu hari nanti Reina memilih pasangan yang lebih buruk dari Lukman.


Imanuel tersenyum."Kan khilaf nya sudah pilih Reina." Gombalan tingkat tinggi darinya.


*


Pemuda dingin itu akhirnya terlihat berjalan melewati para pekerja yang mulai berbisik-bisik. Wajah dingin terlihat matang, saat usianya yang kini sudah menginjak kepala tiga. Tapi masih terlihat di awal 20 tahunan.


Tapi memang benar, karma selalu berjalan. Mantan istrinya dikabarkan selalu berusaha kembali padanya, bahkan mendekatinya. Tapi tidak mempan, karena hatinya sudah beku, bahkan pop mie tidak dapat meluluhkan hatinya.


Imanuel yang bekerja di penyortiran sedikit melirik. Berkali-kali menatap cermin, dirinya memang lebih tampan dari Danu. Sesekali tersenyum-senyum sendiri.


Jam kerja belum dimulai sepenuhnya masih ada waktu 15 menit lagi. Tapi si janda gatal sudah terlihat sibuk. Berjalan kesana kemari.


"Maaf, aku karyawan baru mau bertanya, Reina sebenarnya bekerja di bagian mana ya?" tanyanya pada seorang karyawan pria.


"Reina? Dia sebelumnya bekerja di bagian penyortiran, tapi karena cekatan dan pintar dia bertugas secara random. Terkadang mengontrol barang yang masuk, termasuk juga memeriksa campuran bahan baku." Jawaban dari karyawan yang ada di sampingnya.


Matanya menatap ke arah Reina. Senyuman terlihat di wajah sang janda gatal, berbicara dengan beberapa orang. Mengatur karyawan lainnya, bahkan Nolan sang manager pabrik tidak secekatan itu.

__ADS_1


Sang manager malah tengah memainkan phonecellnya. Mata Imanuel kembali terpaku pada Reina, wanita karier yang terlihat tengah serius bekerja, benar-benar terlihat cantik. Itulah yang ada dalam dirinya saat ini.


Hingga pada akhirnya pemandangan menjemukan terlihat kala Danu berjalan mendekat, meminta map, dengan segera dua orang itu memasuki sebuah ruangan.


"Asisten Raka saja sombong! Lagaknya sudah seperti CEO." Geram papa mengomel dengan suara kecil, sekali lagi papa tidak cemburu walaupun sudah sayang mama. Hanya saja mama terlihat mencurigakan karena terlalu dekat dengan duda gatal.


Tapi hanya sejenak, kedua orang yang keluar dari ruangan. Kali ini Reina tidak terlihat tersipu-sipu seperti biasanya. Wanita itu lebih acuh, sedangkan Danu memang profesional dari awal, sama acuhnya.


Bug!


Beberapa bahan setengah jadi harus di sortirnya. Jujur saja walaupun lebih sulit, tapi lebih ada tantangannya bekerja sebagai direktur pelaksana di perusahaan keluarganya. Ini sangat membosankan, tapi harus tetap semangat jika ingin belajar hidup susah. Jika Raka ternyata memang dalangnya mungkin dirinya akan bersembunyi seumur hidup, menikah dengan Reina dan membesarkan Egie serta calon adik-adik Egie yang lain.


Semangat untuk bekerja, walaupun hanya buruh pabrik.


Hingga waktu makan siang tiba. Dirinya akan membicarakan segalanya dengan Danu kali ini. Menatap asisten dari sepupunya yang memang tidak setiap hari ada di pabrik menikmati makan siangnya. Walaupun ada yang aneh, pria itu memakan nasi goreng yang tidak karuan. Nasi dengan terlalu banyak air seperti bubur, dipaksakan di goreng hingga bagian luarnya kering. Dengan toping sosis dipotong asal.


Tangan Reina yang hendak duduk di meja berbeda ditarik oleh Imanuel. Mereka kini duduk berhadapan dengan duda yang memakan makanan aneh.


"Apa enak?" tanya Imanuel. Danu yang sepertinya mengenal asal suara mengalihkan perhatiannya dari tab dan makan siangnya.


"P...pak maaf pacar saya tidak sopan. Dia asal bicara. Ayo kita pindah," pinta Reina menarik tangan Imanuel. Tapi pacarnya itu tetap menatap tajam pada Danu.


"Pacar!? Jadi kamu melarikan diri dari rumah dengan Reina? Tidak dengan Barbara? Aku kira kamu menikmati pelarian ke Dubai dengan Barbara, bagaimanapun body Barbara termasuk mendapatkan nilai 95." Celetuk Danu, langsung membuat Reina membulatkan matanya.


"Br*ngsek! Dedemit kuburan! Sudah aku duga kamu buaya yang naik ke daratan!" batin Reina berusaha tetap tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2