Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Bagaimana Jika Kamu


__ADS_3

Sudah dua minggu dari hari pernikahan mereka. Kini saatnya keberangkatan, tidak ada yang mengantarkan kepergian mereka, hanya keluarga dari Fujiko. Saudara yang akan terpisah dalam jarak yang jauh.


"Kalau kontrak kerjanya sudah selesai jangan lupa untuk pulang," Rosita menangis memeluk erat si bungsu.


Tari juga ikut-ikutan menangis mengeluarkan ingusnya, menggunakan tissue."Raka! Jangan kamu jual adikku yang cantik! Jika sampai kamu jual, aku akan membuatmu menjadi mandul!" ancaman dari kakak ketiga, mencemaskan adiknya, mengingat betapa kikirnya Raka.


"Tidak akan, aku ditakdirkan menjadi budak istri." Ucap Raka, yang membawa beberapa makanan yang hampir kadaluarsa, untuk dimakannya dalam pesawat.


Sedangkan Fumiko terlihat lebih rileks, mungkin mengetahui perjalanan Raka tidak akan lama seperti TKI yang terikat kontrak kerja minimal satu bahkan lima tahun. Pemuda ini adalah pebisnis muda, jadi begitu urusannya selesai, mereka akan kembali, setelah bosan celap-celup di Singapura.


"Ini hadiah untuk bulan madu kalian." Fumiko tersenyum, memberikan hadiah beberapa bungkus alat tes kehamilan. Perlahan berjalan mendekati Raka kemudian berbisik."Ingat! Keponakanku harus jadi ahli waris hartamu. Jika kamu menikah lagi, aku akan mengirim orang untuk menghabisi istri keduamu."


Raka mengenyitkan keningnya, ancaman yang luar biasa tapi ditanggapi dengan ekspresi datar."Baik," hanya itu, menyadari dirinya yang tidak punya kuasa untuk selingkuh.


Pada awalnya pasangan itu melambaikan tangan, menyeret koper mereka. Apa yang ada dalam imajinasi Fujiko? Kehidupan di sebuah mes kecil yang kumuh. Dirinya juga mungkin harus mencuci menggunakan tangan untuk menghemat biaya laundry. Tunggu dulu apa di Singapura ada sikat untuk mencuci? Tapi jangan khawatir, Fujiko telah menyimpan tiga sikat yang biasanya digunakan untuk mencuci pakaian. Stok suaminya yang mungkin akan ada dalam waktu lama di luar negeri.


Wajahnya tersenyum, mencari tempat mereka duduk, mengikuti langkah suaminya. Melewati penumpang kelas ekonomi.


"Mungkin kursi paling depan," batinnya.


Hingga tiba di kelas bisnis, dirinya masih berfikir positif, menganggap mungkin Raka tersesat. Pada akhirnya berjalan lebih dalam lagi.


Tempat duduk yang berhadapan, pramugari bagaikan pelayan. Ini kelas apa? VIP? Memangnya maskapai menyediakan kelas VIP?


"Ini tempatmu duduk. Aku mau kembali ke kelas ekonomi. Jika ada apa-apa katakan pada pramugari," Raka tersenyum pada istrinya, mengecup bibirnya sekilas.


Fujiko membulatkan matanya, hanya orang asing yang ada di sana. Dirinya bingung saat ini, kala mencocokkan tiketnya. Ini memang tiketnya, dapat uang darimana suaminya untuk menyewa tiket VIP. Dengan cepat Fujiko berjalan, memegang bahu suaminya.


"Aku tidak ingin berpisah denganmu. Bagaimana jika tiket ini kita jual setengah harga pada penumpang yang duduk di sampingmu. Aku ingin bersamamu di kelas Ekonomi," ucapnya iba sekaligus terharu pada suaminya yang bersedia mengorbankan banyak uang untuknya. Sedangkan Raka sendiri hanya makan-makanan yang hampir kadaluarsa.

__ADS_1


Pangeran di masa kecilnya tidak ada apa-apanya dengan Raka yang romantis dan rela berkorban.


"Seharusnya aku menyewa jet pribadi saja," gumamnya memijit pelipisnya sendiri. Seorang istri yang tidak ingin dimanjakan dan suaminya yang ingin memanjakan istrinya.


*


Nadila tersenyum kala Imanuel mengelus pelan perut ratanya."Ada anakku disini," gumamnya tersenyum.


Wanita itu mengangguk, menatap sang pemuda yang benar-benar antusias.


"Aku ingin kita menikah secepatnya, pernikahan sederhana juga tidak apa-apa. Tapi resepsi bisa kita adakan secara besar-besaran. Aku tidak ingin kamu digunjingkan karena hamil diluar nikah," ucapnya yang telah lengkap memakai setelan jas.


Nadila menggeleng kemudian tersenyum."Tidak usah difikirkan apa yang dikatakan orang-orang. Yang jelas kita bertiga bahagia dan akan hidup bersama."


"Kamu terlalu baik. Omong-ngomong, Raka akan pergi ke Singapura, tadi bibi Adinda menitipkan peralatan bayi untukmu. Katanya sebagai doa atau pancingan agar Raka segera punya anak." Imanuel tertawa kecil, menghela napas berkali-kali.


"Punya anak?" tanya Nadila, berusaha keras untuk tersenyum.


"Mungkin saja, semoga Raka akan segera menikah." Kata-kata penuh senyuman dari mulutnya, benar-benar ambigu.


Mengapa begini? Andai saja Imanuel memiliki kecerdasan dan aset yang lebih tinggi dibandingkan Raka, semuanya akan baik-baik saja. Tapi kenyataannya tidak, bahkan Barbara yang menjadi calon istri Raka sama-sama berasal dari kalangan atas. Ini sudah pasti status nyonya rumah akan dimiliki Barbara.


Jemari tangannya mengepal, wajahnya tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa, menyaksikan betapa tidak selevelnya pemuda yang ada di sampingnya saat ini.


Hari manusia mungkin lebih dalam dari Palung Mariana hingga dapat menyembunyikan segala isinya.


Segalanya akan dimulai pada malam ini. Hari kematian Imanuel dan Barbara.


"Imanuel, bagaimana jika untuk mendekatkan Barbara dan Raka kamu mengantarnya untuk mendekorasi tempat kost yang ditempati Raka. Siapa tau Raka terkesan. Ini juga sebagai rasa terimakasih untuk bibi Adinda yang sudah mengirimkan banyak hadiah." Ucap Nadila, menggenggam jemari tangan kekasihnya.

__ADS_1


"Tapi aku jadi harus keluar dengan Barbara. Kamu tidak cemburu?" tanyanya.


"Tidak, karena aku percaya kamu akan selalu setia padaku." Nadila tersenyum kecil mengecup bibir Imanuel, pemuda yang membalas senyumannya, mengelus pucuk kepalanya.


*


Malam semakin menjelang saat itu, beberapa jam telah berlalu. Sang wanita hamil mengelus pelan perutnya, sambil memberi makan ikan koi peliharaannya.


Terdiam seorang diri di tepi kolam, matanya menatap jutaan bintang di atas sana. Orang mati akan menjadi bintang yang terus mengawasi? Itu adalah hal konyol. Orang mati hanya seonggok daging yang tidak dapat bergerak, sama seperti ibunya yang telah tiada.


Kini Imanuel tengah menyetir mobilnya, diikuti dengan mobil Barbara. Bagaimana pun status Imanuel lebih rendah, Barbara tidak akan mendekatinya.


Jalanan yang sepi menuju tempat kost yang berada di luar kota. Hingga Imanuel menyadari hal yang aneh dengan mobilnya. Ban mobilnya kempes, perlahan menepikan mobilnya, diikuti mobil Barbara yang juga ikut menepi.


"Ada paku," ucap Imanuel, menghela napas berkali-kali.


Namun tanpa diduga sebuah mobil minibus berhenti di hadapan mereka. Beberapa orang pria keluar dari dalamnya. Bergerak cepat, hendak menangkap Barbara dan dirinya.


Obat bius disuntikkan pada Barbara yang dengan cepat tidak sadarkan diri. Namun baru setengah dosis yang disuntikkan pada Imanuel, pemuda itu merogoh cutter dari sakunya, menggores lengan pria yang menangkapnya.


Benar-benar panik, pemuda yang berlari ketakutan.


"Jangan lari kamu!" teriak seseorang yang sepertinya preman pada dirinya.


"Kalau bapak jadi saya, apa bapak tidak akan lari!" Kata-kata konyolnya yang selalu memenangkan lomba lari, bahkan sejatinya beberapa mendali dan piala dikantonginya.


"Larinya cepat," keluh mereka mengamati Imanuel yang memasuki hutan lebih dalam.


Tapi tetap saja, obat bius sudah disuntikkan padanya. Langkahnya melemah kala keluar dari hutan memasuki area pemakaman daerah setempat.

__ADS_1


"Sial!" hanya itulah umpatannya yang mulai tidak dapat menahan matanya lagi untuk tertutup, tempat di sebuah batu nisan.


__ADS_2