
Senyuman terlihat di wajahnya tepatnya senyuman yang dipaksakan. Pemuda dengan setelah jas, bertopeng coklat itu sesekali memuji kecantikannya.
"Aku memiliki dua restaurant, satu lagi akan buka beberapa bulan lagi." Ucap Sean.
"Oh ya?" Fujiko tersenyum kecil terlihat malu-malu. Seorang gadis yang pandai menyembunyikan rasa tidak sukanya. Entah kenapa dirinya tidak menyukai Sean sama sekali, walaupun tertutup topeng tapi wajahnya dipastikan rupawan. Dari jam tangannya mungkin seharga lebih dari 10 juta.
Apa yang kurang? Entahlah, dirinya mengamati keadaan sekitar. Biasanya di saat seperti ini Raka akan hadir menyela. Tapi tidak ada lagi, pemuda itu mungkin kini sedang memakai kaos kutang dan celana pendek sambil menggunting kuku kaki.
"Kamu bekerja dimana? Apa sudah punya pacar?" tanya Sean lebih intens.
"Aku tidak punya pacar. Lebih fokus untuk bekerja," jawabnya menyelipkan anak rambut di telinganya sendiri.
Suara nyanyian selebriti ibukota terdengar. Bersamaan dengan MC acara yang menunjukkan beberapa foto Dwi dan Fumiko. Sang kakak benar-benar cantik, berbanding terbalik dengan tunangannya. Mungkin orang-orang berfikir Fumiko hanya menginginkan hartanya saja. Tapi kenyataannya tidak, kakaknya benar-bebar bahagia bersama Dwi yang humoris.
Hingga pasangan itu menyelipkan cincin pertunangan pada akhirnya. Suara aransemen musik klasik terdengar, bersamaan dengan tepuk tangan dari orang-orang.
"Kita juga mungkin akan seperti mereka," ucap Sean yang berdiri samping Fujiko.
*
"Terimakasih, atas kehadiran kalian di hari yang berbahagia ini. Mungkin kalian ada yang menganggap kami tidak serasi. Tidaklah mengapa karena aku memang Rahwana yang menculik Shita," candaan dari Dwi dari atas panggung. Diikuti dengan tawa orang-orang yang ada disana.
"Aku harap Rama tidak akan menangis karena Shita jatuh cinta pada Rahwana," Dwi kembali tertawa, bersamaan dengan Fumiko mencubit perutnya malu-malu.
"Terimakasih untuk kehadirannya, silahkan nikmati hidangan dan rangkaian acara. Satu lagi, bagi kalangan pebisnis ada tamu dadakan bagaikan tahu bulat di goreng dadakan datang malam ini. Sangat sulit untuk menghadirkan anggota keluarga ini. Salah satu anggota keluarga Pramana sedang berjalan akan memasuki ruangan."
Fujiko yang sudah mulai tidak nyaman dengan Sean berjalan mendekati Rosita. Sedangkan Sean malah mengekor mengikutinya.
__ADS_1
"Kakak, anggota keluarga Pramana? Maksudnya?" tanya Fujiko tidak mengerti.
"Keluarga Pramana, merupakan salah satu keluarga konglomerat. Jumlah aset? Tidak ada yang tahu pasti karena berkembang setiap tahunnya. Aku juga hanya mendengar sedikit dari teman-teman Anwar (pacar Rosita) di kalangan pebisnis. Keluarga Pramana mempunyai bank, maskapai, bahkan bidang ekspedisi. Sulit untuk memasuki keluarga itu, yang aku tau keluarga Pramana memiliki dua orang calon pewaris. Satunya bernama Imanuel sudah bertunangan dengan Nadila (tunangan Imanuel) selebgram terkenal yang sering memamerkan villa mewahnya. Sedangkan satu lagi aku tidak tau namanya. Tapi dia jarang hadir, gosipnya dia bahkan lebih kaya dari sepupunya Imanuel." Jelas Rosita pada adiknya.
Sedangkan Fujiko terlihat tidak peduli. Terlalu jauh untuk digapai. Lebih baik dengan yang terdekat saja.
"Mau makan malam bersama besok?" tanya Sean mengecup jemari tangannya.
*
Sementara di tempat lain tepatnya lorong menuju ballroom, seorang pemuda melangkah cepat diikuti Danu serta dua orang pegawai hotel yang ditugaskan Dwi untuk mengantar sang putra konglomerat.
Bibirnya tersenyum, melangkah dengan kaki panjangnya.
Bug!
Pintu dibukakan dua orang pegawai hotel. Seketika semua orang menoleh, memberi jalan padanya. Mata semua orang tertuju pada pemuda yang menggunakan topeng hitam. Kasak kusuk terdengar, dari model rambut terlihat bukan seperti Imanuel. Jika bukan, berarti cucu kesayangan Pramana yang paling jarang muncul.
Hingga bagaikan menemukan sesuatu, kemudian kembali berjalan diikuti Danu menuju ke panggung.
"Ini hadiah pertunangan dari tuanku." Ucap Danu memberikan sebuah paperbag.
Dwi segera membukanya. Terlihat satu set berlian di dalamnya. Dwi mengenyitkan keningnya, rasa cemburu dengan kadar yang terlalu tinggi, berkobar bagaikan api. Hadiah dengan nominal tinggi yang tidak wajar.
"Kita pernah bertemu sebelumnya, kamu tidak mengingatku?" tanyanya pada Fumiko dengan suara kecil. Masih bisa didengar oleh Dwi.
Gadis itu terlihat tidak mengerti, hingga sang pemuda mendekat kemudian berbisik."Tidak mengijinkanku mandi di kamar adikmu lagi?"
__ADS_1
Seketika wajah gadis itu pucat pasi, kalinya lemas hingga terjatuh duduk di panggung. Teringat dengan pemuda tengil yang keluar dari kamar mandi adiknya.
"Ini hadiah sekaligus kompensasi tutup mulut untukmu. Jangan katakan pada siapapun tentang kejadian kemarin dan hari ini." Kata-kata ambigu dari Raka, membuat Dwi semakin salah paham. Apalagi ekspresi Fumiko yang terlihat gemetar.
Raka meninggalkan panggung, berjalan menuju salah satu meja duduk di sana diikuti Danu.
Aura yang berbeda benar-benar terlihat dari kalangan atas. Sampai saat ini Fumiko tertunduk diam ketakutan. Tidak ada kalimat ancaman berarti dari Raka. Namun, dirinya merasa bagaikan seekor tikus yang ada di bawah cakar harimau putih. Berbeda dengan kemarin, bagaimana pun dirinya menyindir Raka pemuda yang memakai kaos kutang itu hanya akan tersenyum.
Dwi membantu tunangannya berdiri, membawa ke salah satu meja. Sementara selebriti lain kini tengah bernyanyi di atas panggung.
Air putih diberikannya pada kekasihnya tersayang. Pemuda yang terlalu banyak membaca novel online itu mulai menitikkan air matanya."Kalian melakukan one night stand. Dan perhiasan ini untuk menebus keperawananmu?" tanyanya pada tunangannya.
Memang begitu bukan? Di novel yang dibacanya, gadis cantik akan bertemu dengan pria tampan, CEO perusahaan besar. Tidak sengaja tidur bersama di dalam kamar hotel. Hingga pada akhirnya hamil, sang CEO akan menikahinya tapi, membuat perjanjian kontrak. Pada akhirnya mereka sama-sama melanggar perjanjian, jatuh cinta dan hidup bahagia selama-lamanya.
Tidak, Dwi tidak ingin tunangannya direbut hanya karena kejadian one night stand.
"Kamu bilang apa?" tanya Fumiko tidak mengerti, meminum air putih yang diberikan kekasihnya.
"Jika kamu hamil aku yang akan menikahimu. Walaupun ini bukan anakku, aku akan tetap mencintainya. Jangan batalkan pertunangan kita hanya untuk menikah dengannya, jangan merasa bersalah padaku. Aku mohon..." pinta Dwi, tiba-tiba menangis. Pria botak, dengan tubuh tidak proporsional akhirnya menemukan wanita yang mencintainya. Dirinya tidak akan melepaskan kekasihnya untuk CEO tampan sombong yang akan melakukan kekerasan pada Fumiko sebelum pada akhirnya saling jatuh cinta. Tepat seperti cerita novel yang pernah dibacanya.
"Hah? Hamil? Kapan kita melakukannya?" tanya Fumiko.
"Orang dari keluarga Pramana tadi, memberikanmu set berlian bernilai tinggi bukan karena tawaran atau ancaman untuk membatalkan pertunangan ini, menikah kontrak dengannya? Kalian melakukan one night stand kemarin kan?" tanyanya mengutarakan asumsinya.
"Perhiasan ini? Ini ancaman agar aku tutup mulut. Dia ingin tinggal dan numpang mandi di tempat kost adikku lebih lama. Kamu lihat sendiri kan pandangan mejanya mengarah kemana?" tanya Fumiko.
Dwi mulai memperhatikan, tepat ke arah Fujiko. Pemuda yang bagaikan sedang membuntuti istrinya yang berselingkuh.
__ADS_1
"Jadi dia---" Kata-kata Dwi disela.
"Tidak mereka hanya teman. Teman tapi tidur bersama, teman tapi berciuman, teman tapi berpelukan, teman tapi berbagi sabun dan sikat gigi. Mereka adalah pasangan kumpul kebo yang berkedok teman." Ucap Fumiko, mengenyitkan keningnya.