
Wanita itu meringis kesakitan. Tapi Fujiko yang wajahnya mendadak pucat pasi. Menghela napas berkali-kali, apa ini benar-benar Raka? Pemuda yang sering memakai celana pendek dan kaos kutang, bahkan memotong kuku kaki sembarangan, sesekali mencium bau kakinya sendiri? Suami tercintanya?
Atau suaminya punya kembaran? Berbagai kesimpulan ada di otaknya.
"Raka, duduk dulu, kita bicarakan baik-baik." Ucap Moran, menatap kesal pada Theo.
"Nanti malam saja kita bicarakan. Istriku kedinginan karena karyawan rendahanmu." Raka menghela napas kasar, menatap ke arah Fujiko.
"Tapi, aku, dia, aku sedang bekerja." Fujiko menghentikan sang suami yang menariknya pergi.
Pemuda yang menyilangkan lengan pada dadanya sendiri. Menatap penampilan istrinya dari atas sampai bawah."Kamu menyukai pekerjaan ini?" tanya Raka.
Fujiko menelan ludahnya sendiri, kemudian mengangguk cepat. Ini lebih mengerikan daripada berhadapan langsung dengan kepala pabrik.
"Moran, kamu tau pemilik restauran ini? Aku ingin membeli salah satu cabangnya," ucapan dari Raka membuat Moran memijit pelipisnya sendiri, benar-benar keturunan dari Patra. Tidak sedikitpun sifatnya yang tidak menurun.
Fujiko mengenyitkan keningnya. Ini sudah keterlaluan, benar-benar keterlaluan, menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting.
Plak!
Satu pukulan mendarat di kepala suaminya."Kita pulang! Sebelum kamu membuatku malu!" teriak Fujiko kali ini, menarik tangan suaminya.
Wanita yang masih dalam masa training di restauran itu mengembalikan nametagnya."Maaf sudah membuat keributan, saya berhenti," ucapnya pada sang manager restaurant menahan rasa malunya, masih dengan posisi menarik tangan suaminya.
Moran menghela napas kasar."Seperti kutukan Patra dan keturunannya akan menjadi orang yang benar-benar kikir, sekaligus budak istri," gumamnya.
"Ja...jadi itu pak Raka?" tanya Theo, mulai bangkit. Tidak terfikirkan olehnya partner bisnis bosnya adalah suami mantannya. Benar-benar hubungan yang rumit bagaikan judul sinetron FTV yang katanya berkisah tentang kisah nyata.
"Iya, dia yang akan ikut menanamkan modal. Kamu ingin bersaing dengannya? Menjadikan istrinya sebagai istri keduamu? Jangan mimpi, karena sedikit saja istrinya tertarik pada pria lain, dia akan menyewa pembunuh bayaran. Berhati-hatilah, bisa saja saat berjalan ada mobil yang menabrakmu, atau mungkin ada kabel terkelupas di bathtub tempatmu mandi." Nasehat Moran pada karyawan kepercayaannya. Pemuda yang telah bekerja padanya lebih dari lima tahun.
Theo menelan ludahnya sendiri, melirik kursi yang hampir digunakan Raka menghantam tubuhnya."A...aku boleh tidak hadir nanti malam?" tanyanya tidak ingin mengalami kejadian serupa.
Moran menggeleng."Dia akan menjadi atasanmu juga nantinya, jadi kamu harus hadir nanti malam."
__ADS_1
Sementara istri Theo terlihat kesal, segera bangkit."Dasar wanita murahan! Bahkan menggoda bos kaya! Mengatakan suaminya miskin padahal high class! Br*ngsek!" teriaknya yang sejatinya dari rasa cemburu, takut kehilangan Theo, menjadi rasa iri.
"Mulutmu benar-benar tidak dapat dijaga. Kita bercerai saja, setelah ini aku akan mengirim mu kembali ke kampung." Tegas Theo dengan masalah yang sudah menumpuk di hidupnya.
"Sayang, aku---" kata-kata wanita itu disela.
"Kemarin dia mendatangi club'malam, menampar seorang karyawan karena terlalu dekat denganmu. Kamu sempat kasbon karena uang gajimu yang dikuras olehnya. Pencemburu, benalu, satu lagi tukang selingkuh..." sinis Moran bagaikan menyiram bensin ke dalam kobaran api.
"Tukang selingkuh?" tanya Theo tidak mengerti.
"Kamu tidak tau? Bartender baru yang kamu rekrut pernah bersamanya semalaman, baru kemarin malam istrimu menginap di apartemennya." Sindiran dari Moran penuh senyuman. Sudah menganggap Theo bagaikan adiknya sendiri, walaupun hidupnya berantakan, namun royalitas bawahannya ini tidak dapat diragukan.
"A...aku tidak," ucap wanita itu gelagapan.
"Aku sudah curiga, tiga bulan ini kita tidak pernah berhubungan dengan alasan kamu lelah. Kamu selalu menuduhku selingkuh, jadi agar aku tidak benar-benar berselingkuh karena kamu yang menolak ku tidur bersama. Aku berniat mencari istri kedua. Tapi kenyataannya---" Kata-kata Theo terpotong.
"Aku tidak selingkuh! Tidak ada bukti. Aku benar-benar mencintaimu," lirihnya memegang jemari tangan Theo.
"CCTV di lift club'malam. Kamu berciuman dengan si anak baru," gumam Moran menipiskan bibir menahan tawanya.
"Theo kamu akan menyesal! Aku akan bangkit menjadi wanita karier dengan harta gono-gini nantinya. Saat bisnisku sukses dan kamu terpuruk, menyadari hanya aku istri yang terbaik. Aku akan menolakmu dan menemukan pria yang lebih baik darimu. Saat itu kamu hanya pengemis!" ucapnya istri Theo menitikkan air matanya.
Takdir akan berbalik, suami pengkhianat dan pelakor selamanya tidak akan menang.
"Dia kenapa?" tanya Moran yang melangkah pergi bersama Theo.
"Syndrom terlalu banyak membaca novel istri baik hati yang tersisa bangkit, menganiaya mantan suaminya." jawaban Theo memijit pelipisnya sendiri. Saat sebelum menikah istrinya wanita desa lugu, pemalu, setidaknya itulah citra yang melekat. Tapi selanjutnya? Setiap pegang uang selalu ludes, memang masa pacaran adalah masa yang paling indah. Tapi saat pernikahan kehidupan yang sesungguhnya akan dimulai, karena itu sifat partner hidup yang sebenarnya akan terlihat.
Theo menunjukkan sifat apa adanya ketika pacaran, suka menggoda wanita lain, ceroboh mengatur keuangan dan sebagainya. Tapi istrinya menyembunyikan segalanya berpura-pura sebagai gadis desa sederhana, tidak peduli dengan harta.
Karena itulah sang istri yang tidak menerima kekurangan Theo menjadi pencemburu, bukannya berusaha membimbing suaminya berubah, malah memusuhi setiap wanita yang didekati suaminya. Siapa yang salah? Apa Theo yang tidak setia? Keduanya yang salah, menjalani hubungan yang tidak sehat dari awal.
*
__ADS_1
Jantung Fujiko ingin rasanya berhenti berdetak. Pria yang berdansa dengannya adalah Raka? Seseorang yang ditamparnya di hadapan umum?
"Raka," ucapnya kala sang suami mengeringkan rambut Fujiko, pemuda yang masih memakai setelan jas.
"Apa?" Raka mulai mengambil sisir menyisir pelan rambut Fujiko.
"Kenapa kamu berbohong?" tanya Fujiko.
Pemuda itu terdiam sejenak kemudian menghela napas kasar."Aku tidak pernah berbohong, tapi kalian yang salah paham."
"Salah paham?" Fujiko mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Kamu sudah tau sendiri kan, aku menjadi ghost writer tidak terkenal? Ada satu profesi sampingan lagi, inilah profesi sampinganku." Jawaban dari Raka.
"Tapi kamu bilang akan menjadi TKI," protes Fujiko.
"Bukan aku, aku hanya mengatakan ada pekerjaan di Singapura. Kalian yang menyimpulkan aku akan menjadi TKI." ucapan Raka tidak terbantahkan.
"Saldo rekeningmu? Kamu bilang 20 juta," lagi-lagi wanita itu protes.
"Dalam mata uang dollar," Benar-benar pemuda yang senang menatap istrinya keheranan.
"Rantai sepeda? Roti kadaluarsa? Sayuran layu setengah harga? Numpang mandi di kamar mandiku---" Kata-kata Fujiko disela, pemuda itu tersenyum kemudian mengecup bibirnya.
"Karena memang sifatku yang suka mengumpulkan uang. Sedangkan memakai sabun dan skincare-mu, karena aku menyukai aromamu, ingin menyentuhmu, perlahan ingin memilikimu, setelah setahun mengenalmu." Kalimat darinya, membuat Fujiko menatap langsung mata suaminya.
"Aku mencintaimu, menjadikanmu teman hidupku," bisik Raka di telinga istrinya, mengecup lehernya pelan.
Aura yang berbeda dari orang yang sama. Penampilan yang benar-benar berbeda terlihat lebih mendominasi dan dewasa dengan stelan jasnya. Inilah suaminya.
"Aku---" Kata-kata Fujiko terhenti.
Proot!
__ADS_1
Suara kentut yang benar-benar nyaring.
"Maaf," wanita itu terkekeh sendiri. Tidak pernah bisa menjaga image di hadapan suaminya.