
Apa yang ada di fikirannya saat ini? Imanuel merasa dirinya benar-benar kacau. Pemuda itu bahkan meminjam mobil temannya tanpa meminta ijin. Ingat! Ini namanya bukan mencuri, hanya meminjam seperti yang tuan Crab katakan pada Spongebob dan Patrick.
Mobil melaju dalam kecepatan tinggi."Janda buluk si*ln!"
Entah mengapa dirinya mengumpat kasar. Benar-benar emosi rasanya akan mendatangi pernikahan Reina nantinya. Tahu begini dirinya tidak akan pergi, benar-benar wanita murahan! Br*ngsek!
Semua kata-kata kasar tertahan. Ingat! Papa menghela napasnya berkali-kali, karena sejatinya papa tidak cemburu. Hanya saja tidak suka ada pria yang menikahi mama.
Lalu dengan siapa mama seharusnya menikah? Sudah pasti tidak dengan papa, karena papa tidak sayang mama.
Tapi itulah kenyataannya, dirinya tidak memikirkan apapun lagi. Bahkan perutnya yang terlanjur lapar. Yang jelas dirinya harus segera sampai, ingin mengetahui anak presiden dari negara mana yang ingin merebut anak tercintanya.
Mengapa anak tercinta? Tentu saja dirinya sudah menyadari, mungkin Egie sudah menjadi pengganti anaknya yang sejatinya tidak pernah ada. Sebuah kebohongan keji yang membuatnya berharap, bahkan membuat ruang bermain khusus anak.
Mungkin Egie memang bukan putranya, tapi anak itu selalu menurut padanya. Orang pertama yang mencemaskan dirinya ketika terjatuh di tangga. Anak kecil yang tidak pernah mengijinkannya tidur siang. Bahkan terkadang terlihat manja ingin disuapi.
Dalam imajinasinya saat ini Egie akan memanggil seseorang dengan sebutan papa. Tidak! Tidak boleh! Hanya itulah yang ada dalam benaknya.
Hingga mobil luas seharga miliaran rupiah itu terhenti di depan rumah Reina. Keramaian terlihat di sana. Apa acara lamarannya sudah dimulai? Mungkin iya, bagaimana jika Reina menerimanya. Apa posisi Imanuel akan digantikan?
Berat? Itulah perasaan hatinya kini, pemuda yang mengepalkan tangannya entah kenapa. Pernikahan ini harus dicegahnya, nalurinya sebagai suami, maaf salah ayah mengatakan demikian.
Tidak ada pria yang cocok untuk Reina, satupun tidak ada. Pemuda egois yang belum bisa bersikap dewasa. Tapi terkadang itulah kelebihannya.
Hingga bibirnya tersenyum tipis, mendengar perdebatan. Dirinya memutuskan menghentikan langkah di area samping rumah yang cukup sepi.
"Lamarannya ditolak?" batin Imanuel menahan tawanya. Satu persatu kalimat perdebatan mereka di dengar olehnya. Termasuk mempermasalahkan Bu Lastri.
Sejatinya tidak ada yang salah menurutnya. Toh Reina tidak memiliki orang tua, mungkin Lastri yang membantunya merawat Egie sudah dianggap ibu angkat.
Hingga bocah itu bagaikan memiliki radar keberadaan ayahnya. Menoleh menatap Imanuel.
"Papa! Papa tidak jadi pergi! Egie sayang papa!" Egie tiba-tiba berlari, memeluknya.
Imanuel mengangkat tubuh kecil anak itu kemudian menciumnya berkali-kali.
"Egie sudah makan?" tanya Imanuel refleks.
__ADS_1
"Sudah, ada sayurnya juga, papa sudah janji kalau Egie makan banyak sayur, papa akan tidur satu kamar dengan Egie dan mama." Kata-kata dari tuyul kecil, maaf salah anak menggemaskan yang memiliki postur wajah bagaikan anak keturunan Chinese, mengingat kulit asli ibunya yang putih. Hanya kini jarang mengurus diri.
Kalimat yang sejatinya membuat semua orang mematung. Beberapa warga mulai berbisik-bisik.
"Itu kan adik iparnya Reina?"
"Egie bilang janji tidur sekamar? Jadi pisah kamar? Saya pikir kumpul kebo, hampir saya adukan ke pak RT."
"Tapi ganteng juga ya? Sudah dekat dengan Egie lagi. Apa tidak mau menikahi istri almarhum kakaknya?"
"Mana mau, ganteng seperti itu pastinya cari yang perawan."
"Omong-ngomong kenapa adiknya Rian tidak mau urus ibunya sendiri ya? Jangan-jangan modus supaya bisa nikah dengan kakak iparnya."
Banyak lagi kata-kata ibu-ibu maupun bapak-bapak yang kasak kusuk, membicarakan hubungan mama dan papa.
Perlu ditegaskan lagi, papa tidak sayang mama. Hanya iseng mencuri ciuman bibir di pagi hari. Salah mama sendiri, punya bibir menggoda.
Imanuel menghela napas berkali-kali menatap ke arah Reina. Benar-benar cantik seperti iklan kebaya, tatanan rambut yang terkesan klasik, tapi juga modern, wajah yang tertutup make up.
"Kamu sudah disini? Jadi sebaiknya kamu ikut bicara disini." Ajak pak Lurah pada Imanuel, seseorang yang dianggapnya adik almarhum Rian.
Imanuel ikut duduk, menatap ke arah curut yang memakai kacamata.
Pemuda yang mengintimidasi."Dibawah standar," cibirnya tersenyum dingin.
Permusuhan yang kental benar-benar terasa. Dirinya benar-benar tidak menyukai tatapan Lukman pada Reina. Apa maunya curut ini?
Tangan Imanuel mengepal tapi wajahnya tersenyum.
"Begini, kakakmu Rian sudah lama meninggal. Sudah saatnya kakak iparmu bebas menentukan pilihan hidupnya. Meraih kebahagiaannya, karena itu tolong, tunaikan kewajibanmu sebagai seorang anak. Jangan membebankan ibumu pada Reina. Karena Reina juga pantas bahagia." Kata-kata pak lurah menjelaskan pelan-pelan.
"Tidak mau, kalau aku tidak mau, kalian mau apa?" Kata-kata penuh tawa dari bibir Imanuel. Sejenak tawanya terhenti, menatap pejabat yang lebih tua darinya itu. Terlihat rileks, tapi suasana berubah ketika tawa itu terhenti, berganti senyuman ganjil.
Aneh? Tidak, ada beberapa anak keluarga konglomerat mengikuti berbagai pendidikan aneh sejak dini. Pendidikan tentang psikologi, mungkin cara mengintimidasi seseorang. Dan benar saja tiba-tiba pak lurah menelan ludahnya.
"Tapi dia ibumu! Tidak seharusnya kamu menitipkannya pada Reina! Reina berhak bahagia!" Kata-kata Lukman naik satu oktaf.
__ADS_1
Imanuel menyandarkan punggungnya di sofa. Masih setia tersenyum."Apa yang kamu punya untuk membahagiakannya?"
Tapi cara mengintimidasi yang aneh, semakin tenang di suasana tegang semakin pemuda itu merasa tersudutkan. Hingga jawaban kampungan aneh yang tercetus.
"Aku punya tanah! Aku juga akan membelikan perhiasan! Aku juga memiliki motor! Jabatanku perlahan akan naik!" bentak Lukman, mengepalkan tangannya.
"Ada lagi? Atau hanya itu?" tanya Imanuel lagi.
"Warisan ayah juga akan dibagikan nanti! Aku punya lebih banyak! Aku lebih kaya darimu!" Kemarahan yang tersulut dari pria di hadapannya.
"Kaya." Imanuel tertawa kecil mencibir."Bagaimana kamu dapat membahagiakan Reina, jika Reina ingin membiayai hidup Lastri saja tidak boleh? Kamu bisa membelikannya body lotion? Aku rasa tidak, benar-benar miskin..."
Hinaan dari cucu keluarga konglomerat. Pemuda yang sejatinya lebih gila dari Raka. Menutup sebuah restauran hanya karena menumpahkan minuman ke pakaian Nadila? Sesuatu yang pernah dilakukannya.
"Aku bisa! Hanya body lotion, siapa yang tidak!" Ucap Lukman.
Imanuel mengenyitkan keningnya."Bisa? Kita kembali ke fakta, kamu mengijinkan Reina bekerja. Tapi uang yang dipakainya tidak bebas dikelola. Kamu mau jadi pengemis dari istri?"
Lukman menghela napas dalam-dalam, dirinya sudah benar-benar berusaha menahan amarahnya tapi tidak lagi.
Entah bagaimana setiap kata yang terucap dari Imanuel, memang cara untuk mengintimidasi sepenuhnya.
Dan benar saja, pemuda itu akan mematahkan hati janda gatal. Jika memang janda gatal punya hati untuknya. Papa sebenarnya tidak cemburu, papa hanya ingin menghalangi hubungan mama dengan pria lain.
"Selain aku mana ada pria yang mau menikahi janda sepertinya! Anak kecil bawaan suami pertama yang merepotkan! Dan sekarang Reina ingin membawa ibu mertuanya! Dia seharusnya bersyukur sudah dilamar aku yang masih bujang!" Kata-kata dalam oktaf yang benar-benar tinggi.
"Reina! Dengar tidak akan ada yang mau menikah dengan janda sepertimu. Mungkin kamu hanya akan berakhir menjadi pelakor, wanita simpanan!" cecar Lukman, dirinya tidak dapat menjawab kata-kata Imanuel. Tapi malah melampiaskan emosinya pada Reina. Seseorang yang seharusnya di luluhkan hatinya.
Wanita itu menitikan air matanya merasa terhina."Aku bersyukur dulu hubungan kita berakhir. Jujur, selama menikah dan menjalin hubungan dengan Rian dia tidak pernah menghina dan membentak ku."
"Tapi belum juga menikah denganmu sudah seperti ini, mempermalukan ku di depan orang banyak." lanjut Reina.
Tangan Lukman mengepal masih berpadu emosi."Jika bukan aku mana ada yang mau menikahi bibit-bibit pelakor sepertimu! Kamu harus sadar! Kamu itu janda!"
Hati Imanuel panas, melihat mama dimarahi, papa benar-benar tidak tega. Entah keceplosan atau apa.
"Ada aku yang akan menikah dengannya."
__ADS_1