Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Lanjut


__ADS_3

Mobil milik Raka melaju meninggalkan tempat acara. Sesekali matanya melirik ke arah Fujiko, wajahnya tersenyum menghela napas berkali-kali.


"Terimakasih," hanya itulah yang dikatakan oleh Raka. Setidaknya dirinya dapat mengelak dari keinginan Pramana, untuk mengumumkan pernikahannya dengan Nadila. Pernikahan yang direncanakan akan dilangsungkan dua minggu lagi. Memikirkan cara untuk menemukan ayahnya dan Imanuel.


"Hanya itu?" tanya Fujiko.


Raka mengangguk."Jika aku turuti keinginanmu, mungkin aku akan kecewa di tengah jalan," ucapnya mengambil kantong belanja berisikan pembalut wanita yang sengaja dibelinya.


"Seharusnya hari ini kan?" tanyanya.


Fujiko mengangguk."Mungkin nanti malam, paling lambat besok. Maaf, mungkin bulan ini kita belum beruntung."


"Atau mungkin kita beruntung. Ini hari-hari penentuannya ." Ucap Raka masih mengemudikan mobilnya.


"Em... Raka, aku tidak mau terlalu berharap setelah bulan kemarin gagal. Bagaimana jika aku mandul?" Fujiko menghela napas berkali-kali, meraih botol minuman buah dengan bulir jeruk Florida asli, dibuat dan dikemas secara khusus.


"Ada orang yang bahkan puluhan tahun belum memiliki keturunan tapi mereka masih bersama. Lagipula jika salah satu dari kita mandul lebih baik mengadopsi anak." Jawaban dari Raka membuat Fujiko menoleh padanya.


"Ka... kalau aku mandul kamu tidak ingin menikah lagi? Mempunyai istri dua seperti orang kaya, konglomerat lainnya?" Fujiko kembali bertanya terlihat ragu.


"Kamu mau tidur dengan pria lain? Harus beradaptasi dengan kebiasaan tidurnya, atau harus menjaga etika di depannya?" tanya Raka, dijawab dengan gelengan kepala oleh Fujiko.


"Begitu juga aku, saat p*ntatku gatal, harus jaga etika agar tidak menggaruk. Makan di meja makan penuh etika, terlalu gengsi menggunakan kaos kutang atau mencium bau kuku kaki sendiri saat memotongnya. Aku tidak bisa hidup seperti itu. Lagipula anak itu pemberian Tuhan, jika tidak terlahir dari rahimmu, mungkin karena Tuhan mengistimewakan kita. Ada anak lain yang kehilangan kedua orang tuanya dan Tuhan ingin kita menjaganya, menjadi penolong untuknya menggantikan-Nya." Kata-kata dari Raka membuat Fujiko menatap lekat ke wajah suaminya.


"Benar?" tanyanya lirih, kini dirinya mulai takut. Sudah melakukannya tapi belum hamil. Tidak seperti di novel atau film, dimana sekali cetak, one night stand dengan orang tidak dikenal, langsung goll kembar tiga.


"Iya! Aku janji akan setia pada Fujiko. Lagipula baru juga dua bulan. Kita nikmati saja status kita saat ini." Raka terkekeh.


"Tapi periode bulanan---" Kata-kata Fujiko di sela.


"Sudah ada tanda-tandanya?" Raka mengenyitkan keningnya.


"Masih bersih." Jawaban dari Fujiko.


"Berarti masih bisa." Raka tersenyum simpul, dengan cepat menepikan kendaraannya. Melaju ke arah depan pantai yang memang berada di dekat jalan raya.

__ADS_1


"Tapi! Jangan disini juga!" geram Fujiko, mengetahui kebiasaan aneh suaminya..


"Bisa menolak?" tanya Raka melepaskan sabuk pengamannya. Pemuda yang menarik paksa istrinya keluar dari mobil.


Pikiran wanita itu sudah kemana-mana, jika tidak di pasir pantai, mungkin semak-semak, tapi tangannya terus dibimbing, terdapat kapal nelayan yang terparkir disana. Apa diatas kapal nelayan?


Tapi tidak, suaminya masih melangkah, area kosong dengan pantai yang lebih indah. Ada seorang petugas keamanan disana, terlihat dari pakaiannya yang bertuliskan security.


Hup!


Raka melempar kunci mobilnya segera ditangkap oleh sang security."Sekitar 300 meter dari sini ada mobil hitam yang terparkir. Bawa ke villa lewat jalur depan."


"Baik tuan," ucap pria berpakaian security, berjalan ke arah Raka dan Fujiko datang.


Belum mengerti situasi saat ini, itulah yang dirasakan Fujiko. Wanita itu hanya melangkah mengikuti suaminya. Hingga di balik pohon bakau besar terlihat sebuah villa tepi pantai. Dirinya baru menyadari tempat mereka berada saat ini adalah area belakang sebuah villa pribadi.


"Ini milik siapa?" tanya Fujiko enggan untuk masuk.


"Imanuel membelikan Nadila villa di pinggir kota. Jadi aku fikir saat kamu menjadi pacarku, aku harus menyiapkan sesuatu. Villa ini aku beli di hari kamu resmi menjadi kekasihku." Jawaban dari Raka.


Bangunan mengelilingi area villa, sementara terdapat kolam renang dan gazebo di area tengahnya. Sebuah villa dua lantai, terlihat sepi dari aktivitas sama sekali.


Suara deburan ombak terdengar, tempat yang benar-benar sunyi.


Tapi apa benar? Beberapa lilin terlihat di sana, dirinya mulai kembali melangkah, mengikuti Raka. Setiap jalan yang mereka tapaki ada lilin yang berjejer. Padahal lampu PLN menyala. Apa Raka tidak takut boros dengan menghabiskan banyak lilin? Entahlah apa yang ada di fikiran si kikir.


Hingga langkah mereka terhenti di area kolam renang. Kelopak mawar menghiasi permukaan air kolam. Gazebo yang cukup besar itu juga tertutup tirai tipis dengan tempat tidur berukuran king size didalamnya.


"Ini apa?" tanya Fujiko, menatap begitu banyak pemborosan.


Namun Raka tiba-tiba menggendongnya, melemparkannya ke dalam kolam renang. Wanita yang menghirup napas dalam-dalam ditengah gaunnya yang basah.


"Raka!" teriaknya. Namun pemuda itu juga ikut masuk ke dalam kolam dengan pakaian lengkap.


"Ini? Honeymoon..." Jawaban darinya mencium bibir Fujiko tiba-tiba. Tapi siapa sangka, wanita itu mengalungkan tangannya pada leher Raka. Menjilat lidah sang pemuda di luar mulut. Hingga kembali masuk ke dalam bertukar cairan. Sungguh dingin, namun rasa hangat perlahan menjalar.

__ADS_1


Punggungnya diraba perlahan oleh sang pemuda. Entah kenapa dirinya bagaikan tunduk tidak berkutik. Resleting gaunnya diturunkan, sentuhan pelan jemari tangan Raka yang mengikuti garis punggungnya membuat Fujiko tidak dapat berkata-kata.


Semakin hari ini semakin gila baginya. Bukannya bosan, dirinya malah semakin menginginkan Raka.


Celana panjang yang basah, kemeja, jas, dasi dan bahan boxer berada di pinggir kolam.


"Agh!" lenguh Fujiko tertahan kala Raka mempermainkan sumber nutrisi calon anaknya nanti. Hanya dapat meracau, menjambak pelan kepala suaminya. Apa yang terjadi selanjutnya? Air kolam bergerak tidak beraturan, gelombang-gelombang kecil terlihat, dari area pinggir kolam.


Hanya selang sekitar dua jam kemudian, area kolam telah kosong. Hanya dari sinar lilin yang menebus tirai putih transparan, bayangan dari dua orang terlihat. Seorang pemuda yang duduk di atas tempat tidur, dengan seorang wanita berambut panjang yang bergerak di pangkuannya.


Racauan keduanya semakin keras terdengar. Hingga, sepasang tubuh yang menegang itu terlihat lemas dari balik tirai. Saling memeluk, mencium dengan rasa sayang, pertanda mengakhiri permainan mereka.


*


Drrrtt!


Drrrtt!


Getar suara phonecell terdengar, dengan malas Raka membuka matanya. Matanya menatap ke arah istrinya yang berbalut selimut yang sama dengannya. Wanita dengan bentuk tubuh sempurna, wajah yang rupawan, kentut yang menawan."Cantik, kenapa aku baru menyadari tetanggaku yang matre begitu cantik?" gumamnya, tersenyum sendiri mengingat sahabat yang dinikahinya.


Perlahan Raka mengangkat panggilan dari kakeknya, masih dalam posisi berbaring.


"Raka! Kenapa kamu tinggalkan Nadila sendirian di acara!?" bentak Pramana dari seberang sana.


Raka menghela napas kasar, melirik ke arah istrinya yang tertidur.


"Semalam Fujiko jatuh ke dalam kolam renang. Dia hanya ingin menjadi seperti Nadila, tapi Nadila menganggap Fujiko menghinanya. Jujur semalam Fujiko benar-benar kacau, entah apa alasannya sampai sengaja jatuh ke dalam kolam renang. Mungkin---" Raka menghentikan kata-katanya dengan suara bergetar. Dengan sengaja, agar sang kakek menyimpulkan sendiri.


"Dia mencoba bunuh diri?" tanya Pramana.


Raka tidak menjawab, membuat sesuatu yang lebih ambingu lagi."Aku takut, saking takutnya dia nekat. Aku sampai-sampai harus tidur di tempat tidurnya. Sekarang Fujiko sudah tenang setelah mengkonsumsi obat penenang."


"Obat penenang? Akulah obat penenang nya," batin Raka mengingat hal yang terjadi semalam. Pemuda yang tersenyum-senyum sendiri dengan moto, ini baru namanya honeymoon.


"Kakek akan menyuruh Nadila minta maaf. Dia sudah keterlaluan. Lebih baik seminggu ini, kamu tidak usah pulang. Fokus menjaga Fujiko. Kakek cemas padanya." Ucap Pramana pada Raka.

__ADS_1


"Bulan madu berlanjut!" Kata-kata yang tidak diucapkannya.


__ADS_2