
Sebuah mobil terparkir di depan tempat kost yang tidak begitu besar. Gang yang tidak begitu besar, tidak ada akses parkir memadai. Beginikah kehidupan putra pelitnya?
Seorang wanita mengenakan pakaian bermerek, jam tangan rolex dengan harga yang pastinya tidak murah, rambutnya ditata rapi. Pakaian yang cukup simpel, ala sosialita yang telah berumur. Berjalan perlahan mengingat banyaknya lubang di tempat itu.
Inilah sosialita sejati, tubuhnya masih terlihat indah mengingat olahraga dan makanan sehat yang dikonsumsinya, inilah istri seorang Patra.
Jujur saja, ini untuk pertama kalinya sang ibu mengunjungi tempat kost putranya. Hanya satu kesan yang ada di benaknya saat ini."Benar-benar pelit," gumamnya yang dapat menebak, tempat kost yang jauh dari jalanan utama. Bentuk bagian depan bangunannya, lokasi yang ada di pinggir kota, sudah pasti harganya dibawah 600.000.
Beberapa tetangga kost terlihat ricuh, ingin tahu istri jenderal mana yang datang, atau mungkin orang dari kedutaan asing mengingat warna rambutnya yang putih total. Gaya unik seorang Adinda, ketika muncul uban di rambutnya, langsung saja memakai rambut palsu dengan warna putih.
Mobil seharga miliaran rupiah, bahkan sang supir terlihat enggan turun, hanya nyonyanya saja yang turun.
Hingga mulut Ragil yang ceplas-ceplos, mulai berkicau."Tan, nyari brondong ya? Aku mau jika secantik Tante," ucapnya mengedipkan sebelah matanya genit.
Sedangkan Evi tidak berkedip sedikitpun, setelah mengetahui Raka berasal dari keluarga konglomerat. Kini dirinya bertemu nyonya rumah. Dengan sigap gadis itu mengambil kursi, untuk tempat duduk, orang yang mungkin akan memberikannya pekerjaan.
"Tan, silahkan duduk, Raka sedang keluar. Tante mau kripik singkong?" tanya Evi, menyodorkan keripik singkong yang belum dibukanya.
Mata Adinda menelisik dari atas sampai bawah. Terlihat tidak begitu cantik, bentuk dada yang datar bagaikan triplek. Dapat menyaingi Nadila? Jangan bercanda, sangat jauh dari bayangannya. Dirinya hanya akan jadi bahan olok-olok oleh Tiara (Ibu Imanuel). Tapi ini adalah Fujiko, kekasih putranya, mungkin saja wajah dan bentuk tubuhnya dapat diperbaiki dengan beberapa kali operasi plastik.
"Kamu Fujiko?" tanya sang ibu mertua yang duduk mengintimidasi.
"Bu ... bukan Tante, aku Evi temannya Raka." Ucap Evi gugup, wanita kalangan atas dengan aura mengintimidasi, siapa yang tidak akan takut.
"Oh..." hanya itulah kata yang keluar dari mulutnya, membuka kripik singkong tanpa ragu.
Hingga suara motor terdengar, seorang wanita terlihat kesal menatap mobil mewah yang sedikit menghalangi jalannya masuk. Hingga langkah cahaya terhenti."Maaf, anda siapa ya? Apa penagih hutang? Tuan rumah tempat kost kami sedang keluar," ucap Cahaya sopan.
__ADS_1
Wanita itu mengamati penampilan cahaya dari atas sampai bawah. Bentuk tubuh yang cukup bagus, tapi sayangnya kulitnya kusam dan hidungnya lumayan besar.
"Tenang, masih bisa dioperasi," batin Adinda, mengira Cahaya adalah Fujiko.
"Kamu Fujiko?" tanya Adinda pada akhirnya.
"Tidak! Apa kamu tante-tante yang menyukai Raka? Tan, Tante sudah tua, tidak pantas dengan anak muda. Raka dan Fujiko sudah cukup bahagia, anda tidak tau saja perjuangan dari pasangan kumpul kebo berkedok teman itu." Jawaban dari Cahaya membuat Adinda tertarik.
"Memangnya bagaimana perjuangan mereka?" tanyanya menelan ludah, ingin mengetahui sifat asli dari calon menantunya.
"Fujiko materialistis, selalu berusaha mencari pacar kaya. Walaupun selalu berkahir dengan Raka yang melindunginya dari pria jahat. Sedangkan Raka yang pelitnya mengalahkan pengemis selalu menumpang hidup pada Fujiko, mulai dari sarapan hingga menumpang mandi dengan alasan sabun habis. Fujiko mengelus dada menatap betapa miskinnya Raka. Hingga pada akhirnya mereka menyadari perasaan mereka, jadi harap Tante melepaskan Raka!" tegas Cahaya.
Adinda memijit pelipisnya sendiri. Percintaan antara si matre dengan si pelit. Apa yang harus dikatakannya? Ini benar-benar aneh, karakter yang bertolak belakang, mungkin satu-satunya persamaan mereka adalah mencintai uang.
Hingga putra tunggalnya tiba, seorang pemuda yang memakai celana pendek dan kaos pemilu. Membawa roti murah seharga 1000 rupiah."Ibu?" ucapnya menatap ke arah Adinda.
Adinda segera bangkit, menghampiri putranya."Dimana cucuku, maksudnya dimana Fujiko?" tanya sang ibu, yang ada di fikirannya hanya rahim tempat cucunya akan tumbuh.
"Dia sedang di rumah orang tuanya. Nanti sore kita ke rumahnya. Tapi pakaian ibu...ibu mau aku ditampar?" tanya Raka mengingat kejadian di pesta pertunangan Fumiko.
Dengan cepat wanita itu menggeleng, berjalan mengambil sesuatu di mobilnya, sebuah paperbag berisikan baju.
"Raka itu ibumu? Bukannya ibumu dari kampung ya?" tanya Ragil penasaran.
"Aku tidak pernah bilang dari kampung kalian yang menyimpulkannya sendiri. Dan jangan katakan pada Fujiko, karena dia pernah menamparku di hadapan umum." Pinta Raka penuh senyuman.
Seketika semua orang membisu menatap pasangan ibu dan anak itu memasuki kamar kost. Bahkan Cahaya duduk di lantai, melirik ke arah mobil seharga miliaran rupiah yang terparkir.
__ADS_1
"Apa aku masih sempat menjadi pelakor?" gumam Cahaya.
"Tidak melihat cermin? Daripada menjadi pelakor lebih baik kita menjunjung tinggi istri bos. Setidaknya setelah lulus kuliah kita punya koneksi untuk mendapatkan pekerjaan." Saran dari Evi, mengambil sisa keripik singkong yang hanya dimakan sedikit, oleh Adinda.
"Benar! Aku harus berjuang untuk melamar Cahaya!" semangat dari Ragil. Hingga tiba-tiba menutup mulutnya sendiri merasa salah bicara."Maksudku, berjuang demi masa depan dan perdamaian dunia,"
*
Sementara kini sang ibu sudah berganti pakaian dan menghapus make-upnya. Walaupun memakai pakaian sederhana, Adinda masih terlihat seperti istri muda juragan tanah.
Matanya sedikit melirik ke arah putranya."Apa dia benar-benar cantik? Apa sesuai di foto?" tanyanya penasaran. Dengan cepat Raka mengangguk.
"Aku hidup di sini selama dua tahun, bertemu dengannya satu tahun yang lalu. Awalnya aku ingin memanfaatkannya karena terlalu baik, menjadi kutu kecil yang perlahan menghisap darahnya." Ucap Raka tersenyum-senyum sendiri.
Plak!
Sang ibu memukul punggung putranya."Dasar pria parasit! Benalu! Ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi parasit yang menghisap darah wanita!"
"Maaf!" Raka terkekeh."Dia tidak pernah mempermasalahkan itu, hanya tersenyum padaku. Saat aku diare karena memakan-makanan kadaluarsa dia memberikan obat. Saat aku sedang lapar tapi tidak ingin menguras tabungan, dia memberiku makan, saat stok sabun menipis, aku mandi di tempatnya. Saat itulah aku menyadari aku mencintainya, tidak bisa hidup tanpanya."
Plak!
Plak!
Plak!
Benar-benar geram rasanya Adinda pada sifat kikir putranya."Dia yang akan melahirkan anak-anakmu! Tapi kamu malah menjadi kutu di hidupnya! Contoh ayahmu! Sebenarnya kamu turunan siapa!?"
__ADS_1
"Itu dulu, sekarang dia sudah naik level dari teman menjadi pacar," Ucap Raka, dengan senyuman yang mengembang.