
Matanya menelisik, biasanya di saat-saat seperti ini Raka akan muncul menolongnya.
"Syukurlah," hanya itulah yang ada di benaknya tidak ingin suaminya cemburu. Dulu mungkin tidak apa-apa karena masih status teman. Tapi sekarang dirinya adalah istri Raka.
Fujiko menghirup napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Dirinya tengah dipancing untuk berkelahi. Prinsip yang benar-benar aneh, ketika sang suami berselingkuh maka yang berkelahi dan di hajar adalah selingkuhannya. Padahal orang ketiga tidak akan masuk jika tidak ada yang membukakan pintu.
"Kamu memang mantan pacarnya, dia sering membicarakanmu yang lebih cantik dariku. Aku menghabiskan banyak uang untuk tampil cantik menyaingimu, tapi setelah bertemu kalian berkata akan menikah? Aku tidak dapat menerimanya! Dasar perempuan gatal! Materialistis!" wanita itu hendak menyerang Fujiko.
"Cukup! Kamu bahkan tidak bisa memberikan aku seorang anak! Ditambah dengan gaya hidupmu yang berubah semua ingin serba mewah!" bentak Theo.
"Kamu jangan membelanya! Dia hanya wanita gatal yang materialistis!" bentak sang istri.
"Lalu kamu apa? Aku hanya menjadikanmu penggantinya, karena kamu wanita yang sederhana sama sepertinya. Tidak neko-neko sama sekali. Tapi setelah itu apa? Kamu menuntutku untuk membelikan orang tuamu mobil, memperbaiki rumahmu, membelikan perhiasan, pakaian, biaya ke salon. Awalnya aku fikir dapat mencintaimu lambat laun, membuatmu berubah. Tapi apa? Setengah dari gajiku kamu kirim ke kampung, agar orang tuamu dapat bergaya. Karena itu jika tidak mau dimadu kita bercerai," tegas Theo.
Wanita itu menitikkan air matanya, segera duduk. Dirinya memang dulunya hanya orang desa yang dinikahi Theo. Memang sudah keterlaluan memanfaatkan suaminya, tapi dirinya juga tidak ingin dimadu.
"Sudah selesai?" tanya Fujiko.
"Fujiko, aku mencintaimu. Jadi---" Kata-kata Theo disela.
"Kita menjalin hubungan selama dua tahun. Selama itu juga terus terang aku tidak nyaman. Menjaga etika di hadapanmu, harus berprilaku manis, berusaha mengatur keuanganmu yang saat itu benar-benar kacau balau. Aku tidak nyaman, tau kenapa aku menikah dengan orang yang gajinya rendah sedangkan banyak mantanku yang kaya?" tanya Fujiko, dengan cepat Theo menggeleng.
"Aku hanya mengenalnya selama satu tahun, tapi dia hafal bau kentutku, tidak ada rasa aneh saat melihatku makan menggunakan tangan sambil duduk di lantai, bahkan dia mengangkat pakaian dalamku tanpa jijik saat hujan akan turun. Itu karena aku nyaman, kami berteman selama setahun kemudian langsung menikah. Tidak peduli dengan sifatnya yang super kikir, tidak memberikan banyak uang padaku karena memang jumlah uangnya yang sedikit."
"Kamu tau? Dia setiap malam menjahit kaos kutang yang dipakainya sendiri jika sobek, dia juga hanya membeli barang diskon di Ind*maret, dia bahkan tidak segan-segan memakan makanan yang hampir kadaluarsa karena gajinya yang kecil. Tapi dia tetap berusaha memanjakanku, membelikanku makanan restauran yang pastinya dia sendiri beliau pernah mencicipinya."
"Dia adalah suami yang terbaik untukku, tidak peduli jika miskin seperti pengemis. Setidaknya dia mencintaiku dan berusaha membuatku nyaman." Komat-kamit mulut Fujiko berucap.
"Jadi kamu berhenti menjadi materialistis karena suamimu?" tanya Theo dijawab dengan anggukan kepala oleh Fujiko.
"Aku menikah dengannya karena aku merasa nyaman dengannya." jawaban dari Fujiko.
__ADS_1
Theo berusaha menyakinkannya lagi."Penghasilannya tidak akan cukup untuk kalian. Biaya skincare saja pasti tidak akan cukup."
"Biarkan saja! Dia sudah tidak mau! Dasar pelakor! Setidaknya kamu tau diri! Sana kembali dengan suamimu yang seperti gelandangan!" ucap sang wanita meludah ke arah Fujiko.
Begitu emosional tidak melihat tempatnya berada saat ini. Benar-benar muak rasanya pada wanita di hadapannya.
"Hentikan!" Ucap Theo geram pada istrinya.
"Ada apa ini?" tanya Moran, seorang pria berkebangsaan asing, diikuti dengan dengan pemuda.
"Maaf pak, karena lama menunggu saya bertemu kenalan lama. Ini pasti pak Raka, perkenalkan saya Theo..." ucap Theo berusaha sopan.
Sementara mendengar nama Raka disebut-sebut Fujiko membulatkan matanya. Sedikit melirik ke belakang, itu benar-benar suaminya, seseorang yang membuatnya tidak berdaya semalaman. Dengan cepat meraih daftar menu menutup wajahnya.
"Maaf, saya permisi, saya figuran yang hanya numpang lewat..." ucap Fujiko, berjalan dengan cepat, hingga tiba-tiba saja bagian bagian belakang kerah pakaiannya ditarik.
"Sedang apa disini, Fujiko?" ucap Raka penuh penekanan.
"Apa lagi yang dia katakan?" tanya Raka.
"Dia hanya wanita penggoda! Dasar pelakor! Maaf, karena membuat kekacauan! Entah pelet apa yang dia gunakan hingga suami saya tergila-gila padanya." Wanita yang tersulut emosi mendekat hendak menyerang Fujiko.
Plak!
Satu pukulan mendarat di pipi sang wanita. Pemuda yang kini telah melepaskan Fujiko yang sepertinya sudah tidak berniat melarikan diri lagi. Meraih napkin diatas meja kemudian mengelap tangannya sendiri, tertawa kecil tapi tawa yang terdengar ganjil.
Fujiko menelan ludahnya, menatap suaminya dari atas sampai bawah. Tidak seperti penampilannya saat berada di rumah, kini memakai setelan jas yang berharga tidak murah, tatanan rambut yang berbeda terlihat lebih dewasa, tidak seperti di rumah terlihat sungguh manis dengan rambut sedikit acak-acakan, jam tangan yang pastinya juga tidak murah. Wajah yang biasanya tersenyum cengengesan kini terlihat dingin.
"Aku hanya melihatnya dari jauh, kamu meludah pada wanita murahan ini?" tanya Raka.
"Dia yang duluan..." kata-kata istri dari Theo itu terhenti, pisau khusus tenderloin steak yang tajam kini ada di lehernya.
__ADS_1
"Tubuhnya basah pasti juga karenamu. Istriku tidak pernah dipermalukan seperti ini." Ucap Raka mulai bangkit, menatap wanita yang masih tertunduk dengan tubuh gemetar.
Brak!
Satu tendangan melayang ke arah dada Theo, membuat sang pemuda roboh."Hanya mantan kan? Perlu aku menggores wajahmu agar istriku tidak tertarik padamu?" tanyanya.
Sedangkan Moran memijit pelipisnya sendiri, sifat yang menurun dari Patra. Ini juga pernah terjadi sebelumnya."Kenapa diam saja? Hentikan suamimu!" perintahnya pada Fujiko.
"Dia Raka? Aku tidak salah orang kan?" tanya Fujiko.
"Kalian ke sini bersama, bahkan ada tanda di lehernya. Apa bukan kamu yang membuatnya?" geram Moran, menatap Fujiko yang masih ragu.
*
Theo gemetar saat ini. Dalam anggapannya suami Fujiko hanyalah seorang cleaning service. Tapi siapa sangka, suami mantannya adalah rekan bisnis dari bosnya.
"Fujiko kenapa kamu membohongiku!?" teriak Theo menangis, beringsut mundur kala Raka menyeret sebuah kursi besi.
"Aku tidak membohongimu. Aku juga baru tau! Lagipula aku juga sudah menolakmu!" bentak Fujiko tidak kalah paniknya.
Raka terlihat benar-benar kesal saat ini. Hingga dirinya mendekat."Pulang ya? Aku turuti keinginanmu. Jangan membuat keributan lagi..."
"Semuanya?" tanya Raka kembali meletakkan kursinya.
Fujiko mengangguk, ingin menangis rasanya. Ternyata Raka benar-benar adalah putra konglomerat yang ditamparnya saat pesta pertunangan Fumiko.
Tapi kenapa ingin menangis? Tentu saja karena keinginan aneh dari Raka, untuk rencana malam nanti.
"Wanita penggoda!" teriak istri Theo mulai bangkit.
Bug!
__ADS_1
Raka membanting tubuhnya."Dengar biasanya aku tidak pernah membanting wanita. Tapi ini pengecualian, tidak ada yang boleh merendahkan istri dari seorang Raka. Ini peringatan terakhir, sekali lagi kamu melakukannya. Aku akan menghubungi pembunuh bayaran."