Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Bohong


__ADS_3

Fumiko terdiam sejenak menghela napas, berusaha menetralkan emosinya. Wanita yang ingin berteriak pada keluarganya bahwa pemuda ini ikan paus besar, bukan ikan teri. Tapi tidak bisa sama sekali, dirinya sudah menerima berlian suap dari Raka. Apa yang harus dilakukannya?


"Mereka saling mencintai! Kakak tidak boleh begitu! Fujiko pasti sudah memikirkannya baik-baik!" Fumiko menyela, menentang sang kakak.


"Fumiko, kamu fikirkan secara logika bagaimana Fujiko bisa bahagia!? Kalau lulusan S1 mungkin kamu bisa memasukkannya bekerja di perusahaan tunanganmu. Tapi masalahnya di hanya lulusan SMU! Kamu mau adik kita hamil tapi harus tetap bekerja supaya bisa menabung untuk persalinan!? Menjadi ibu-ibu yang berjuang untuk mencukupi kebutuhan keluarga!?" Ucap Rosita tidak kalah sengit.


Fumiko sedikit melirik ke arah Raka."Lulusan SMU?" tanyanya. Sialnya pemuda itu hanya tersenyum dan mengangguk, membenarkan bahwa dirinya hanya lulusan SMU.


Fumiko memijit pelipisnya sendiri, mungkin dirinya sama pusingnya dengan Firman saat ini. Bagaimana mungkin cucu kesayangan dari keluarga konglomerat hanya lulusan SMU? Tapi dari suara, gerak-gerik dan kata-kata ambigunya, ikan paus semalam memang pemuda ini.


"Dia bisa bekerja sambil masuk ke universitas terbuka!" Fumiko tidak mau kalah, membela adik ipar tersayangnya.


"Fujiko, aku sebagai kakak yang baik menasehatimu. Jangan hanya karena tertarik pada wajahnya saja kamu mau menerimanya, agar kamu tidak menyesal nantinya. Banyak yang dulu mengejar kakak, bahkan ada yang wajahnya mirip model majalah, tapi kakak menolak mereka, untuk pacar kakak sekarang yang wajahnya biasa-biasa saja. Kamu tau kenapa?" tanya Tari, dijawab dengan gelengan kepala oleh Fujiko.


"Kakak berusaha mencintainya meskipun dia tipikal orang yang dingin, perlahan dia mencair menjadi lebih baik, membuat kakak nyaman, perasaan cinta bisa dipupuk. Seperti perasaanmu pada Raka. Mungkin jika yang tinggal denganmu adalah Sean, maka Sean lah yang kamu cintai. Karena itu ini juga demi masa depanmu. Hubungan kalian harus berakhir," pinta Tari pada adiknya.


"Aku bisa menghidupinya. Aku mempunyai tabungan dan rumah, jadi---" Kalimat Raka disela.


"Tabungan? Kalau tidak punya pekerjaan tetap, cepat atau lambat tabungan akan habis. Rumah? Apa rumah warisan orang tuamu di desa? Dengar! Aku tidak ingin tangan mulus adikku memegang sabit mencari rumput untuk memberi makan sapi." Ucap Rosita bersikukuh.


"Sebaiknya, kalian jangan menghakimi pilihan adik kalian. Fujiko pertimbangkan saran kakak-kakakmu. Tapi kalau kamu mencintainya, ayah juga tidak akan melarang. Tangan ayah akan tetap terulur melindungi dan menyambutmu pulang." Firman menghela napas kasar bibirnya tersenyum, menjadi pihak netral yang tidak memihak.

__ADS_1


"Jadi kak Rosita dan Tari tidak setuju?" tanya Fujiko. Dijawab dengan anggukan oleh kedua kakaknya.


Raka kembali menghela napasnya mungkin dirinya harus menjelaskan segalanya."Sebenarnya aku---"


"Kami akan bunuh diri bersama jika kalian tidak merestui!" Ucap Fujiko dengan air mata mengalir membuat semua orang mengalihkan perhatian padanya.


"Bu...bunuh diri!? Kamu jangan bercanda!" Rosita membentak menatap tajam pada adiknya.


Fujiko kembali menangis tersedu-sedu."Aku menyayangi kalian, sangat. Kalian yang menjagaku saat ibu meninggal dan ayah sibuk bekerja. Kak Rosita tidak kuliah tapi berusaha membiayai kuliah Fumiko, Tari dan biaya kuliahku. Tapi belakangan ini aku merasa seperti wanita penghibur, aku tidak seberuntung kalian. Memiliki orang berstatus lebih tinggi, tapi tulus mencintai kalian."


"Kakak tau? Aku pernah hampir menjadi pelakor, karena Om-om gemuk yang mengaku duda. Dia hampir menciumku! Bahkan menyiapkan alat pengaman ingin meniduriku. Ada juga pria yang mengaku sebagai anak dari keluarga kaya, ternyata pacarnya lebih dari satu, sama juga, dia hanya ingin meniduriku!" teriak Fujiko, menangis semakin kencang, mengatakan hal-hal yang dialaminya selama ini.


"Ketika aku kuliah, ada dosen yang mengatakan mencintaiku. Walaupun tidak mencintainya, aku menerimanya. Tapi hanya karena berbalas pesan dengannya, seorang wanita tiba-tiba datang ke kampus, itu adalah tunangannya. Mengatakan aku sebagai pelakor! Aku malu! Semua orang di kampus membicarakanku, sebagai wanita murahan pinggir jalan! Aku tidak memiliki keberuntungan seperti kalian, pria kaya yang mendekatiku semuanya br*ngsek!" pekiknya, hingga semua orang masih terdiam. Kecuali Raka, pemuda itu memeluknya dari samping.


Kedua orang yang menghela napas kasar, berusaha ikhlas. Jika Fujiko ada dalam kesulitan nanti mungkin mereka akan mengulurkan tangannya membantunya. Bagaimana pun Fujiko tetaplah si bungsu yang manja.


Dua orang yang saling menatap, kemudian mengangguk."Kami setuju," ucap Rosita pada akhirnya.


"Tapi jika sampai kamu menyakiti adikku sedikit saja, aku akan menyewa preman untuk memotong habis alat perkembangbiakan mu!" tegas Rosita.


Plak!

__ADS_1


Fumiko berusaha tersenyum, benar-benar berusaha tersenyum. Setelah memukul bahu Rosita. Berani-beraninya dia bicara begitu pada ikan paus? Bagaimana jika Raka menyewa pembunuh bayaran menembak kepalanya."Rosita hanya bercanda, tapi kata-katanya benar, kalian boleh menjalin hubungan. Tapi jangan pernah menyakiti hati adikku."


Raka mengangguk, menghela napas kasar mengecup kening Fujiko."Tidak perlu khawatir, sebenarnya aku cucu dari Pramana. Kalaupun aku berakhir bangkrut, aku bisa pulang ke rumah, masih bisa membahagiakan Fujiko," ucapnya.


Rosita tertawa kencang diikuti dengan tawa adik-adiknya, kecuali Fumiko tentunya yang tidak tertawa sama sekali.


"Kamu pintar bercanda!" Entah kenapa tawa aneh terdengar dari Fujiko dirinya takut saat ini, benar-benar takut ketahuan oleh Raka tentang kejadian tadi malam. Dimana pemuda br*ngsek itu menciumnya secara paksa di depan umum.


Matanya menelisik, perawakan yang sama, bentuk bibir yang sama."Tidak mungkin pacarku yang kikir orang kaya. Lagi pula, jika dari keluarga konglomerat tidak mungkin hanya lulusan SMU. Sudah pasti Raka orang desa pedalaman yang merantau. Ayahnya mungkin buruh pemetik cengkeh dan ibunya mungkin petani miskin. Aku harus lebih beradaptasi lagi dengan kehidupan pacarku. Selain itu tidak boleh ketahuan, berciuman dengan pria lain di depan umum." Batinnya dengan tekad menggebu-gebu.


"Mungkin kamu pernah bertemu sekilas dengannya, jadi tau perawakan kalian sama. Walaupun perawakan sama tapi nasib memang berbeda. Sudah, tidak usah disesali, sekarang kalian lebih baik berusaha untuk kedepannya, jangan terpaku pada konglomerat yang entah ada di level mana." Rosita tertawa kecil, memberi semangat, tidak ingin adiknya nekat.


*


Malam semakin menjelang, hari ini Raka menginap, namun tidak kumpul kebo. Ingat! Ini rumah calon mertuanya, dirinya mungkin menginap di kamar Firman.


Masih duduk berdua dengan Fujiko, kala kakak-kakak Fujiko dan Firman tengah makan malam di ruangan lain.


"Jangan berfikiran pendek. Lebih baik berjuang dari pada bunuh diri," Raka mencubit hidung Fujiko gemas.


"Aku hanya mengancam, fikiran ku tidak sependek itu. Jika mereka tetap tidak setuju dengan ancamanku, rencananya aku akan membeli tenda, kita tinggal bersama di depan rumah sampai mereka setuju." Ucap Fujiko, membuat Raka tertawa kecil. Namun, matanya menelisik, entah kenapa dirinya merasa ada yang tidak beres dengan sosok Sean.

__ADS_1


Dua minggu lagi dirinya harus pergi. Lalu bagaimana dengan Fujiko?


__ADS_2