
Menelan ludahnya sendiri, jemari tangannya gemetar, dirinya ragu saat ini. Apa dugaan awalnya salah? Jika ini ulah calon ayah mertuanya, maka dirinya dapat pergi ke kediaman utama menemui Raka. Tapi apa Nadila terlibat?
"Apa ada tugas lain lagi?" tanya salah seorang dari beberapa orang berperawakan besar itu.
"Tidak ada, temukan Patra. Paksa dia menandatangani surat wasiat, akan menyerahkan seluruh asetnya pada Raka. Hanya itu..." Ucap Jovi.
"Baik tuan," Sekitar empat orang bagaikan F4, berbalik hendak keluar. Dengan cepat Imanuel kembali bersembunyi di salah satu lorong.
Tidak mengerti sama sekali. Apa Raka berniat membunuh Patra, ayahnya sendiri hanya karena uang? Lalu kenapa Jovi bekerja sama dengan Raka? Setidaknya itulah kesimpulan yang diambilnya. Dari segi siapa saja yang mendapatkan keuntungan saat ini.
Hingga dirinya melihat seorang wanita berjalan melewati lorong, telinga memakai earphone menghubungi seseorang, hingga tidak begitu fokus dengan keadaan sekitarnya.
"Nadi..." Kata-kata Imanuel terhenti mendengar nama Raka kembali disebut. Sang pemuda yang kembali bersembunyi di lorong.
"Sebentar lagi, aku sampai. Tidak masalah, undangan pernikahanku dengan Raka akan segera aku kirim. Harus banyak-banyak bersabar, tinggal dua bulan lagi," Kata-kata dari mulut Nadila yang tengah berjalan sambil menghubungi seseorang, mulai berjalan masuk ke dalam ruangan Jovi.
Imanuel mengepalkan tangannya, matanya memerah. Dari gelagatnya Nadila tidak mencemaskannya sama sekali. Fikirannya berkecamuk, mungkin Nadila dan Raka memang memiliki hubungan dibelakangnya.
Tapi bagaimana dengan anaknya yang ada di kandungan Nadila?
Rasa sesak menghujam dadanya, terasa benar-benar sesak. Langkahnya terasa berat kala berjalan menuju ruangan Jovi. Pemuda yang masih memakai masker dan topi hitam.
Hingga langkahnya terhenti di depan ruangan.
"Sudah digugurkan?" tanya Jovi pada putrinya.
"Sudah, kata dokter hamil anggur. Hanya akan membuat penyakit saja. Tidak ada bayinya," jawaban tenang dari Nadila yang sedikit terlihat telah melepaskan earphonenya.
"Tidak ada bayi? Anakku tidak ada?" batin Imanuel, mengamati segalanya, dengan air mata yang mengalir. Sebuah kenyataan yang sulit diterima olehnya. Bahkan dirinya sendiri sudah memesan desain kamar bayi pada seorang arsitek ternama. Tapi tidak ada bayi?
"Ingat! Setelah Imanuel ditemukan dia harus segera mati bersama Barbara. Jika tidak, semuanya akan gagal. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa." Peringatan dari Jovi.
"Ayah tenang saja, cepat atau lambat Imanuel akan menemuiku. Lagi pula, jika tidak dapat memberikan status tinggi harus mati. Untuk apa hidup." Nadila bangkit menatap hamster yang beberapa hari lalu diberikan oleh Imanuel pada Jovi.
Binatang pengerat kecil yang diraihnya, gigi kecil yang menggigit jarinya. Senyuman di wajah Nadila pudar. Wanita itu membanting sang hamster kemudian menginjak tubuhnya menggunakan sepatu hak tinggi.
"Nadila!" bentak Jovi.
"Untuk apa memiliki peliharaan yang tidak bisa menunduk." Senyuman terlihat di wajahnya. Bagaikan iblis yang mengerikan.
Pemuda itu membulatkan matanya masih tertegun dengan apa yang dilihatnya. Tidak normal sama sekali, itulah yang ada dalam sosok Nadila. Tangannya gemetar entah kenapa, aura membunuh yang tajam. Hanya Pramana, sang kakek harapannya kini. Mengingat kemungkinan besar Raka terlibat dalam hal ini.
Kekasih yang menjalin hubungan dengan sepupunya.
Suara dering telepon terdengar. Dengan cepat Jovi mengangkatnya."Tuan, tadi saya melihat kedatangan tuan Imanuel. Apa dia sudah pergi ke ruangan anda?" tanya sang resepsionis dari kantor depan.
Wanita yang belum pulang untuk mengatur kedatangan klien penting esok hari. Wajah Imanuel yang terlalu sering datang, hingga familiar baginya walaupun pemuda itu masuk dengan memakai masker dan topi.
"Dia datang!" bentak Jovi mematikan sambungan.
__ADS_1
Pria itu menjambak rambutnya, menghubungi security dan beberapa orang preman yang masih ada dalam gedung.
Imanuel segera pergi, berjalan dengan cepat, tidak ingin tertangkap, menurunkan ujung topinya agar wajahnya tidak terlihat. Hingga beberapa orang berlari di lorong terdengar, mungkin orang-orang yang tengah mencari keberadaannya.
Pemuda yang terdiam membulatkan matanya. Jika berbalik akan kembali ke dekat ruangan Jovi. Jika kembali berjalan dirinya akan tertangkap.
Bingung harus bagaimana. Pemuda itu mencoba membuka pintu area tangga darurat. Berjalan turun dengan cepat, kegaduhan terdengar dari luar sana.
Jika tertangkap dirinya akan terbunuh. Membuka pintu perlahan melihat area sekitar. Kembali bersembunyi di balik dinding, kala security melewati area lobby.
"Dari CCTV dia memakai jas dan celana panjang biru. Juga topi dan masker! Kemungkinan masih ada di lantai lima. Beberapa orang tetap diam disini. Berjaga-jaga jika dia keluar." Perintah seorang pria yang memakai tatto. CCTV yang tidak ada di area tangga darurat, serta tempat Imanuel bersembunyi saat ini, membuat tidak ada yang menyadari dirinya sudah turun ke lantai satu.
Beberapa orang naik ke lantai lima. Sedangkan beberapa orang lainnya memeriksa di area lantai satu.
Imanuel masih bersembunyi. Jantungnya berdegup cepat kala sang preman berjaga di area sekitar lorong buntu tempatnya bersembunyi. Hingga tiba-tiba tangannya ditarik masuk, ke dalam ruangan HRD yang tidak terkunci.
"Shttt...mereka berniat jahat? Mereka mencarimu?" bisik Reina, yang sempat diusir, kala mengatakan dirinya ada di sana untuk mencari suaminya yang bekerja di tempat tersebut. Namun, karena mengatakan dirinya, diselingkuhi dan tengah mencari bukti. Wanita itu diijinkan masuk.
Imanuel mengangguk, tidak tau bagaimana harus melarikan diri di tempat ini.
Ceklek!
Ceklek!
Tok!
Tok!
Tok!
Reina tidak menjawab bingung harus bagaimana. Hingga ide nekatnya pun tercetus.
"Buka pintunya! Atau saya dobrak!" perintah sang security.
"Maaf! Ini demi keselamatan kita!" ucap Reina, membuka topi, masker, jas, bahkan celana panjang Imanuel.
"Kamu mau apa!?" Imanuel menghentikan Reina.
"Ingin malu atau mati?" tanya Reina membuat Imanuel terdiam.
Kursi singgel dibuatnya membelakangi pintu. Wanita yang menyuruh Imanuel duduk sementara dirinya membuka pakaian hingga hanya pakaian dalam yang tersisa. Memalukan memang, tapi jika tidak ingin terbunuh ini harus dilakukan.
Kancing kemeja pemuda itu dibukanya. Dirinya duduk di atas pangkuan Imanuel. Dengan cepat menendang jas dan topi yang teronggok di lantai. Hingga tersembunyi di bawah meja.
Brak!
Brak!
Brak!
__ADS_1
Suara pintu di dobrak. Hingga pada akhirnya terbuka. Hal yang terlihat? Seorang pemuda yang membelakangi mereka, tidak terlihat wajahnya sama sekali. Sedangkan sang wanita menjambak pelan rambut sang pria, hingga karena rambut yang kusut, model rambut Imanuel tidak terlihat.
"Pak! Tidak tau kondisi apa!? Baru saja saya mau rujuk dengan suami saya!" bentak Reina, dalam posisi yang benar-benar meyakinkan.
Sementara wajah Imanuel memerah, dirinya tidak tau harus apa dan sedang apa. Menatap dua benda di hadapannya yang masih tertutup kain kecil. Dirinya pernah melakukannya dengan Nadila, tapi tidak ingat sama sekali dengan apa yang dilakukannya. Hanya mengingat Nadila menangis saat dirinya terbangun.
Untuk pertama kalinya dirinya kembali melihat sumber kehidupannya ketika bayi, setelah puluhan tahun berlalu, sejak terakhir kalinya dirinya meminum ASI. Tapi tidak milik ibunya, ini milik wanita lain. Perasaan apa ini? Dirinya bingung harus apa, memegang salah. Tidak memegang ingin.
"Bagaimana ini?" batinnya benar-benar dongkol.
"Maaf!" Dengan cepat sang security menutup pintu.
Sesaat kemudian Reina turun dari pangkuan Imanuel. Sedangkan Imanuel terpaku diam, dirinya sudah biasa melihat wanita berpakaian bikini. Tapi janda gatal ini menggodanya hanya dengan setelah pakaian dalam murah.
"Pasti sengaja!" batinnya kesal. Kembali memikirkan Reina yang mengatakan memiliki tipe pria baik, mapan, bertanggung jawab. Itulah dirinya, wanita ini sengaja.
"Aku tidak akan tertipu oleh godaan murahan!" tegasnya dengan suara kecil, penuh penekanan.
"Godaan murahan?" gumam Reina tidak mengerti.
Wanita yang tengah kembali memakai pakaiannya. Sedangkan Imanuel juga hanya mengenakan celana panjang dan kemeja saja. Jas, topi dan maskernya, digulung, bagaikan bola.
*
Mereka kembali merayap bagaikan cicak di dinding, berjalan cepat ke tempat yang buta dari jangkauan CCTV. Tidak boleh tertangkap, itulah yang utama.
Jantung keduanya berdegup cepat. Jangan kira ini adegan romantis. Karena mama tidak sayang papa, papa juga tidak sayang mama.
Hingga dua orang itu sampai di tempat parkir. Terdiam sejenak menunggu mobil karyawan yang melaju. Kemudian keluar dari kantor bersamaan dengan mobil box yang membawa stok contoh barang pabrik keluar. Berharap motor atau platnya tidak terekam, akibat tertutup badan mobil box.
Selama perjalanan Imanuel hanya terdiam saja. Menghentikan laju motor sejenak hanya untuk membuang jas, topi dan maskernya.
Namun, dengan cepat Reina menariknya, membeli beberapa sosis, nugget, dan kentang goreng di pedagang pinggir jalan. Dibungkus untuk putranya.
"Kamu tidak bertanya tadi apa yang terjadi?" tanya Imanuel tidak memiliki teman bicara.
"Tidak, jika tidak nyaman bercerita tidak apa-apa." jawaban dari Reina membuat Imanuel tertunduk diam.
Wanita itu menghela napas kasar. Menarik tangan pemuda itu ke area semak-semak. Aneh bukan? Apa mereka akan berbuat...
Tapi tidak, sang wanita hanya menemaninya duduk, di atas kayu bekas pohon yang ditebang. Dua orang yang sepertinya tidak takut kegelapan terlarut dalam fikirannya masing-masing.
Hingga, pemuda manja itu memeluk Reina.
"Dasar mesum! Aku hanya ingin mendengar cerita---" Kata-kata Reina yang hendak mendorong tubuh Imanuel terhenti.
Pemuda itu menangis dalam pelukannya."Tidak ada anakku tidak pernah ada..." gumamnya. Seseorang yang bagaikan berduka, menangisi janin yang tidak pernah ada.
"Tidak ada? Tinggal buat saja!" jawaban dari Reina, enteng.
__ADS_1