Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Cari Istri


__ADS_3

Komat kamit mulut Nadila menggerutu. Menghela napas berkali-kali, ingin rasanya memasukkan racun ke dalam minuman Fujiko. Tapi tetap saja tidak boleh, gadis itu merupakan jalan tercepat mendekati Raka.


"Kamu sedang apa?" tanya Adinda, entah muncul dari mana.


"Meminta pelayan membuatkan teh untuk Fujiko." Jawaban dari Nadila.


Adinda menghela napas kasar."Kamu harus sabar menghadapi Fujiko, orang tuanya memiliki usaha di bidang elektronik. Dimanjakan dari kecil, jujur saja Fujiko sedang sakit, tidak ada yang tau hidupnya sampai kapan. Karena itu ayahnya menitipkannya pada Raka, agar ada yang menjaganya di sisa umurnya."


Benar-benar licik ibu mertua yang satu ini, menantunya memang sakit malarindu sayang kangen. Menitipkan di sisa umurnya? Tentu saja, mereka sudah menikah, jadi Raka memang harus menjaga Fujiko seumur hidupnya. Bahasa politik yang sulit dimengerti orang awam.


Ingat! Dimasa lalu Adinda sudah lebih banyak melawan beberapa ibu tiri dan saudara-saudara tirinya. Trik licik? Saling menjatuhkan? Itu sudah biasa untuk mempertahankan harga diri dan perhatian dari ayahnya.


Bagaimana dirinya dapat menjadi istri Patra? Perjuangan yang juga tidak mudah, menaklukkan hati mertuanya. Menghadapi beberapa putri konglomerat yang menginginkan suaminya menggunakan berbagai macam trik. Yang dapat dilakukannya adalah menikam dengan pisau tidak terlihat. Seperti saat ini, wanita lemah yang mencengkeram seekor ular perlahan lahan.


"Dia akan mati?" tanya Nadila meyakinkan pendengaran.


Adinda mengangguk membenarkan."Tidak ada yang tau hidupnya sampai kapan. Bahkan dokter sudah angkat tangan."


Wanita itu menghela napas kasar. Tidak perlu sakit hati pada orang yang akan mati. Malah lebih bagus lagi, dirinya dapat membuat Fujiko bergantung pada dirinya. Perlahan Raka juga akan takluk, mencintainya seumur hidup, saat mengingat tentang Fujiko yang tidak lama lagi akan mati.


*


Sedangkan di ruang baca, pemuda itu kembali serius mengetik."Kamu akan pindah? Kenapa?" tanyanya.


"Disini tidak bebas, jika kembali di tempat kost maka. Kita---" Kata-kata Fujiko disela, dengan cepat bibirnya dikecup.


"Pintar, lebih leluasa melakukannya di luar rumah." Puji Raka tertawa kecil.


"Aku ingin diatas," bisik Fujiko.


"Dasar," Raka kembali tertawa.


Suara tawa yang didengar oleh Nadila. Membuka pintu dengan cepat. Tidak ada gelagat mesra sedikitpun, bagaikan melihat sepasang sahabat atau adik kakak yang bercanda. Tidak ada yang aneh sama sekali.


"Kalian membicarakan apa?" tanya Nadila berusaha tersenyum.


"Cinta tidak berbalas!"


"Cinta tidak berbalas!"

__ADS_1


Jawaban mereka kompak, kemudian kembali tertawa. Benar-benar sulit untuk memasuki pembicaraan mereka.


"Kamu masih ingat Ragil menyembunyikan surat cintanya?" tanya Fujiko.


"Aku ingat! Aku yang menemukannya, bahkan menjualnya pada Evi untuk bahan gosip," jawaban Raka kembali tertawa.


"Kalian sebaiknya minum, nanti tehnya dingin," pinta calon istri Raka yang katanya dua bulan lagi akan menikah.


"Terimakasih, istirahatlah. Agar anak kita baik-baik saja. Dia harus sehat, aku masih ada pekerjaan. Juga akan menjelaskan tugas Fujiko di tempat kerjanya yang baru," penjelasan dari Raka, membuat Nadila hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kak, nanti aku akan menghubungi pelayan, agar membuatkan susu untuk kakak dan calon keponakanku." Senyuman terlihat di wajah Fujiko.


Kesal? Tapi tidak bisa dirinya tidak boleh kesal. Dua orang ini menunjukkan perhatiannya, sudah mulai menyukai dirinya. Tidak boleh merusak rasa suka sama sekali. Hanya hubungan seperti kakak beradik atau sahabat dekat, benar-benar terlihat dari gesture mereka.


Brot!


"Maaf! Gas beracun!" Fujiko tertawa kecil, diikuti dengan tawa Raka yang menyentil dahi Fujiko.


Mana ada wanita yang tidak menjaga image di depan pria yang hendak digodanya? Hanya dapat bersabar sampai umur adik terkutuk ini berakhir.


Pada akhirnya Nadila memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Berjalan menuju kamar yang terletak di lantai dua.


Bersamaan dengan itu, Fujiko mengunci pintu ruang baca dari dalam. Tubuhnya dipeluk dari belakang, pakaiannya dilucuti sang pemuda yang membuang kacamata dan dasinya entah kemana.


Mengapa begitu penurut? Tentu saja karena rasa cemburu tidak ingin Raka dimiliki oleh wanita lain. Merelakan kala tubuhnya diguncang bersandar pada rak buku. Atau kala barang-barang berceceran di atas lantai, saat semua benda di atas meja dijatuhkan oleh Raka.


Pemuda yang benar-benar brutal, kala sudah pertama kali merasakannya, tidak menyia-nyiakan satu kesempatan pun. Namun, hal yang aneh Fujiko hanya dapat mencakar pelan tubuhnya. Menikmati setiap hal yang dilakukan suaminya.


Menanam jagung memang menyenangkan bukan? Hingga hari mulai larut. Hanya sinar bulan yang memasuki ventilasi. Raka kini hanya mengenakan celana panjangnya tanpa atasan. Sedangkan Fujiko mengenakan kemeja suaminya tanpa pakaian dalam.


Duduk di sofa panjang ruang baca. Dua orang yang mulai tertawa kecil, menertawakan diri mereka sendiri. Merasa geli sendiri dengan tingkah mereka dan hal yang baru mereka lakukan. Itulah persahabatan yang entah mengapa dapat menjadi seperti ini. Benar-benar dunia yang kacau.


"Apa basah? Mungkin sudah ada?" tanya Raka yang tidak mengenakkan atasan sama sekali.


"Mungkin saja! Si kikir junior sudah ada di sini." Jawaban dari Fujiko.


"Ingin lagi?" tawaran dari suaminya.


Wanita itu menggeleng, kemudian mengecup bibir Raka."Setelah ini jelaskan semuanya pada orang tua dan kakak-kakakku agar mereka tidak salah paham nantinya."

__ADS_1


Raka mengangguk."Disini tidak nyaman, di tempat kost aku bisa memakai kaos kutang dan duduk dimana saja," gumamnya.


"Iya, sekali-sekali aku juga ingin makan di lantai." Gerutu Fujiko.


Sepasang sahabat yang menemukan keajaiban kala jatuh cinta. Wanita yang menemukan fakta betapa banyak saldo tabungan suaminya. Kaya? Miskin? Semua itu tidak menjadi tolak ukur dirinya bahagia.


"Aku mencintaimu," kata-kata yang terucap dari bibir Raka kala mengecup pucuk kepalanya. Wanita yang menyadari kebahagiaannya bukan masalah saldo tabungan, namun masalah di detik keberapa dirinya bahagia.


"Aku juga," jawaban dari Fujiko.


Dan detik ini dirinya bahagia, saat menjadi anak kost, maupun istri anak konglomerat, kebahagiaannya bersama pemuda ini. Pemuda yang membuatnya benar-benar nyaman. Tidak ada rasa sakit hati atau kebohongan, tidak perlu menjaga etika.


Pemuda yang berjalan mengambil minuman bersoda dalam kulkas kecil. Kemudian berjalan, wajah rupawan, bentuk tubuh ideal, terlihat dari seorang pemuda yang tidak memakai atasan.


Fujiko menelan ludahnya sendiri. Hingga seperti biasanya, pemuda itu memasukan tangannya ke arah belakang celana panjangnya. Menggaruk-garuk tepat di pant*tnya. Sangat manusiawi sekali, mereka pengantin baru tapi menebar citra buruk ke pasangannya.


Wanita yang pada akhirnya menahan tawanya sendiri.


"Lebih baik kita mandi, disini ada kamar mandi kan?" tanya Fujiko.


"Ada, kita mandi di kamarku," Raka tersenyum, mengecup singkat bibir istrinya.


Penampilan yang benar-benar fulgar, seorang wanita yang hanya mengenakan kemeja kebesaran, dan seorang pemuda yang hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan.


Senyuman terlihat di wajah mereka, dengan kening yang menempel. Saling mengecup beberapa kali. Inikah hubungan adik kakak? Entahlah...


*


Hingga pagi menjelang, seperti biasanya Nadila memoles penampilannya agar terkesan natural. Berjalan menuruni tangga, dirinya hari ini akan membuat beberapa video, kemudian menemui Pramana di kantor, membawa makan siang yang dibelikan di restauran.


Hingga langkahnya terhenti. Fujiko memakai celemek dibantu para koki dan pelayan menghidangkan makanan.


Sebagian besar makanan Jepang yang sebenarnya aneh jika dibuatkan sarapan. Tapi entah kenapa semua orang tertawa dan tersenyum.


"Nadila!" wanita s*alan itu datang menghampirinya."Kamu baru bangun? Hari ini aku akan pindah ke tempat kost, jadi aku memasak sebagai rasa terimakasih,"


"Fujiko bahkan membuatkan kakek bekal, lihat! Benar-benar menggemaskan." Pramana tertawa, menatap nasi yang dibentuk Doraemon, dengan sosis dan wortel bagaikan bunga. Telur gulung yang ditata cantik, ada juga beberapa rumput laut, salad dan buah di kotak yang berbeda.


"Kenapa tempat kost!? Paman sudah bilang gunakan apartemen paman saja!" Heru tersenyum, begitu juga dengan Tiara. Dalam satu hari semua orang takluk tewas. Hanya mungkin Raka saja yang menahan tawanya, sembari memakan sushi.

__ADS_1


"Kamu pintar cari istri," gumam Adinda dengan suara kecil.


"Bakat dari ayah," jawaban aneh dari Raka.


__ADS_2