
Misi penyelamatan dimulai, dua orang yang benar-benar ketakutan kali ini. Sesekali bersembunyi kala beberapa pengawal dan preman itu terlihat. Bagaimana caranya dapat menggeledah masuk?
"Ikuti aku..." ucap Ragil percaya diri, tangan Cahaya ditariknya.
Pemuda itu mengintip dari bawah tangga, dua orang pengawal terlihat menuruni tangga. Dirinya mundur, memeluk tubuh Cahaya merapat tidak ingin mereka terlihat. Pandangan matanya fokus pada misi.
"Tampan," gumam Cahaya menatap rambut Ragil yang mulai kering, tidak seperti semula yang berlapis minyak kelapa murni. Kini terlihat lebih natural, mungkin karena air hujan. Tangan pemuda itu masih mendekapnya, lesung pipinya sedikit terlihat.
"Astaga, keindahan mana yang engkau dustai..." batin Cahaya menghela napasnya. Tidak terlalu putih seperti Raka, namun setelah terkena hujan wajahnya yang biasanya kusam berminyak terlihat lebih bersih.
Tidak begitu mancung, berkulit sawo matang, tapi memiliki senyuman yang manis. Istilah lainnya, terkadang gula merah terasa lebih manis daripada gula pasir.
"Kamu bilang apa?" tanya Ragil tidak mendengar dengan jelas.
"Ti... tidak bilang apa-apa. Ayo kita cari jalan," jawab Cahaya menetralkan detak jantungnya. Tidak dirinya tidak boleh menjadi budak cinta, dirinya tidak menyukai Ragil, tapi Ragil yang harus menyukainya.
"Jalan untuk mendapatkan hatimu sudah tertutup. Aku akan mencari jalan lain untuk hidupku," lagi-lagi kata-kata ambigu darinya yang tidak dimengerti oleh Cahaya.
Tapi yang jelas kalimat itu diucapkan dengan berbisik di telinganya. Hingga membuat tubuhnya meremang. Astaga ada apa dengan dirinya. Fikiran kotornya tiba-tiba muncul, mengingat video dewasa yang ditunjukkan Evi dua minggu lalu, berimajinasi Ragil mencium bibirnya, kemudian menjilati lehernya. Menanggalkan pakaian mereka, kemudian mencumbui tubuhnya tiada henti. Hingga pada akhirnya menyatukan tubuh mereka. Berteriak menjerit seperti dalam video.
"Aku sudah gila!" batin Cahaya menyesali dirinya dan imajinasi liarnya.
"Ayo kita pergi," ucap Ragil dengan suara berat, tidak seperti biasanya menjadi tetangga julid tukang gosip. Kali ini terlihat benar-benar melindungi dirinya.
Dengan cepat Ragil bergerak, membuat gerakan parkur, bertujuan untuk menghindari pengelihatan penjaga.
"Dia sedang apa?" gumam Cahaya yang naik perlahan dengan cara normal. Aneh, tapi terlihat keren, terutama beberapa menit lalu, kala pemuda itu melompati tembok tinggi. Dirinya benar-benar kagum, hingga tanpa terasa mengikuti langkah Ragil dengan membuka pintu belakang yang tidak terkunci.
Begitulah hidup bukan? Jika ada yang susah kenapa cari yang gampang?
Hingga sampai di lantai dua. Ragil menghentikan gerakan parkurnya, menatap seorang wanita yang tersenyum ramah padanya."Hai," ucapnya.
"Ha...hai juga, aku fans fanatik mu boleh aku minta tanda tangan?" tanyanya pada Nadila.
"Tandatangan? Harga tandatanganku lumayan mahal." Nadila tersenyum, mengelus pipi Ragil menggunakan senjata api.
Pemuda itu menelan ludahnya sendiri. Memberi isyarat tangan pada Cahaya yang masih berada di anak tangga bawah untuk mundur.
Gadis itu menutup mulutnya sendiri ketakutan, melangkah mundur perlahan. Air matanya mengalir, bagaimana dengan Ragil.
__ADS_1
Bug!
Suara dirinya yang hampir terjatuh. Perhatian Nadila teralih sejenak menatap ke arah tangga di belakang Ragil.
"Cahaya lari!" batin Ragil, melawan Nadila sekuat tenaga. Mengalihkan perhatian Nadila agar tidak memperhatikan tangga lagi.
Dor!
Prang!
Suara tembakan dan benda pecah terdengar. Cairan merah mengalir menuruni anak tangga. Cahaya masih menahan tangisannya mulai melangkah mundur. Air matanya mengalir tidak tertahankan.
"Ragil..." batinnya berusaha bergerak walaupun enggan. Ingin menyelamatkannya saat ini, tapi tidak bisa. Menemui Evi adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk menyelamatkan Ragil.
Air matanya mengalir, berjalan cepat dalam kepanikan. Beberapa pengawal berjalan ke lantai dua.
"Ragil tunggu aku, aku akan membawa polisi untuk menyelamatkanmu. Ragil, bertahanlah aku mohon..." batinnya berjalan berlalu, sesekali bersembunyi, mencari celah, menuju gerbang belakang yang tidak terkunci.
Hingga dirinya berhasil keluar, di tengah kekacauan yang mungkin disebabkan oleh Ragil yang menyusup atau mungkin pemuda itu terus melawan, agar para pengawal hanya fokus padanya. Entahlah yang mana yang benar. Namun air mata wanita mengalir tanpa henti. Berlari melewati area hutan jati.
Bruk!
"Ragil masih hidup. Dia harus hidup. Kalau kamu hidup aku berjanji akan menikah denganmu. Bertahanlah aku mohon..." ucapnya mengingat cairan merah yang mengalir cukup banyak.
Takut? Dirinya benar-benar takut kehilangan saat ini. Sudah sejak lama mereka tinggal bersama, dari semester satu hingga hampir wisuda. Ragil tidak akan mati, orang jelek tidak akan mati dalam misi.
Tapi Cahaya baru menyadari satu hal, pacarnya tampan. Sial! Benar-benar sial."Ragil," gumamnya sembari menangis, berlari tidak tentu arah. Darah masih mengalir dari lututnya.
Napasnya terengah-engah harus berlari dengan jarak 1 kilometer. Tidak peduli apapun, hidup Ragil lebih penting dari apapun.
Hingga pada akhirnya Evi terlihat juga, tengah menonton siaran live salah satu YouTuber ternama. Tertawa sendiri.
"Evi! Hubungi polisi, aku mohon... Ragil..." gumamnya menangis sesenggukan.
"I...iya!" Ucap Evi cepat, menghubungi petugas kepolisian.
Sedangkan Cahaya terduduk lemas di atas tanah. Napasnya masih tinggi beraturan, matanya sembab."Ragil..." lirihnya.
"Aku mau jadi pacarmu..." Ucapnya lagi penuh penyesalan.
__ADS_1
"Tunggu disini ya? Kita harus mempersiapkan makam Ragil nantinya," celetuk Evi ikut menangis.
"Kamu bilang apa!? Ragil tidak akan mati. Dia tidak mati. A...aku belum mengatakan aku juga menyukainya. Dia tidak boleh mati," Ucap Cahaya menangis.
"Ikhlas kan saja ya? Masih ada Lee Min-ho yang menunggumu." Evi memberi semangat.
"Tidak mau! Aku maunya Ragil. Ragil masih hidup. A...aku akan kembali menyelamatkannya," Cahaya hendak berjalan kembali setelah mengatur napasnya.
"Tidak! Jangan! Sebaiknya kita menghubungi Raka." Evi berusaha menenangkan wanita patah hati.
"Tapi Ragil? Dia bisa mati kehabisan darah..." teriaknya histeris.
"Tenang, kita tunggu Raka dan petugas kepolisian datang," Evi memeluk Cahaya erat.
"Dasar bucin!" celetuk Evi pada Cahaya.
"Aku tidak mencintainya! Tapi dia yang mencintaiku!" masih saja gadis itu mengelak.
*
Hingga beberapa belas menit kemudian petugas kepolisian datang. Laporan yang aneh dan ambigu, mengatakan teman mereka disekap dalam villa. Pada akhirnya mereka diikuti delapan orang petugas kepolisian berjalan mendekati villa.
Suasana yang benar-benar berbeda dari saat Cahaya masuk. Tidak ada satupun pengawal atau jejak mobil. Diculik dedemit? Apa mungkin sejatinya mereka tadi masuk ke alam lain? Entahlah, tapi Ragil menghilang. Tidak ada satu orangpun disana.
Hanya dapat menangis. Menatap pada sang petugas memberi keterangan.
"Kamu bilang tadi temanmu dilukai hingga darahnya mengalir dari tangga lantai dua ke lantai satu?" tanya petugas kepolisian.
Dengan cepat Cahaya mengangguk, cairan merah itu memang sudah tidak terlihat lagi. Apa sudah dibersihkan? Entahlah. Atau kemungkinan terburuk mayat Ragil sudah dibuang atau dikubur di suatu tempat.
Hingga petugas kepolisian menyemprotkan cairan khusus untuk mencari jejak darah. Menyemprotkan di area tangga. Tidak ada reaksi sama sekali.
"Kalian mencoba membuat laporan palsu?" tanya petugas kepolisian.
"La... laporan palsu?" tanya Evi.
"Tidak ada reaksi jejak darah pada tangga." Ucap sang petugas menghela napas kasar.
"Mungkin sudah dibersihkan," jawaban dari Evi.
__ADS_1
"Jejak darah akan tertinggal, walaupun hanya sedikit luminol akan bereaksi. Tapi kalian lihat? Dengan jumlah darah yang kamu ceritakan seharusnya ada reaksi walaupun sedikit." Geram sang petugas.