Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Satu Kata Yang Tertahan


__ADS_3

Hari ini wanita itu memoles dirinya dengan riasan. Bagaimana pun dalam fikiran Pramana, cicit pertamanya ada dalam perut Nadila saat ini. Wanita yang menatap ke arah cermin, senyuman terlihat di wajahnya, wajah yang begitu menawan.


Situasi yang sejatinya berbalik menguntungkan pada dirinya. Jovi yang baru datang, menatap ke arah putrinya.


"Imanuel belum ditemukan. Bagaimana pun, yang ada kamu gugurkan anaknya. Jadi saat dia sudah mati nanti berikan sedikit permintaan maaf padanya." Ucap Jovi, menepuk bahu putri tunggalnya.


Nadila hanya tersenyum, meminta maaf? Kenapa harus? Lagi pula tidak pernah ada embrio dari awal. Dirinya tetap saja tersenyum, kenangan masa lalu kembali terbayang baginya.


Meraih sebuah album foto lama. Dirinya pernah benar-benar mencintai seseorang, air matanya mengalir, tapi senyuman terlihat di wajahnya.


Foto sepasang remaja berpakaian SMU, apa yang terjadi padanya? Mereka menjalin hubungan layaknya pasangan yang masih malu-malu. Tertawa bersama, pemuda yang bahkan tidak memiliki sepeda, bekerja sebagai buruh pabrik tebu, sepulang dirinya bersekolah.


Jovi tidak mengetahuinya sama sekali, sang ayah terlalu sibuk mengembangkan perusahaannya. Hingga pernah ada kalanya ketika sepasang remaja itu berteduh dari derasnya air hujan, saling menatap. Hingga berakhir saling memberikan kesucian mereka.


Hanya masa lalu yang ingin dilupakannya. Kala sang pemuda berjanji akan melamarnya setelah lulus SMU. Tapi itu tinggal sebuah janji, pemuda yang tersenyum untuk terakhir kali, dapat melupakan luka hatinya dengan sebuah kematian, tersenyum dengan tangan melambai, kala mereka berjanji untuk bertemu, berkencan bersama usai ujian akhir.


Suara membengkakkan telinga dari mobil yang hendak mengerem terdengar. Menabrak seluruh perjalan kaki yang ada di sana. Belasan orang tewas saat itu, termasuk kekasihnya.


Nadila menghapus air matanya, kini dirinya tidak percaya dengan keberadaan Tuhan. Jika Tuhan itu ada ibunya tidak akan mati, begitu juga dengan kekasihnya. Orang-orang baik tidak akan tersakiti.


Seolah Tuhan hanya menyiksanya. Jadi pantaskah dirinya bertanya dengan keberadaan Tuhan? Apa Tuhan itu ada?


Karena itu, dirinya tidak akan mencintai siapapun. Tidak akan menebarkan cinta kasih seperti keinginan Tuhan, Beliau yang merenggut nyawa ibu dan kekasihnya. Tidak ada kebahagiaan yang kekal.


Wajahnya tersenyum, mencari kebahagiaan sendiri. Apa yang terjadi sebenarnya? Dirinya menjerat Imanuel dengan sengaja. Bahkan sempat menjalani donor spr*ma di luar negeri sebelum berhubungan dengan Imanuel tanpa sepengetahuan ayahnya.


Kembali hanya untuk mendapatkan status tinggi. Bertemu dengan anak keluarga konglomerat, memberikan minuman padanya. Apa mereka benar-benar berhubungan? Tentu saja, namun Nadila sudah menjalani donor sp*rma satu hari sebelumnya.


Hanya diam-diam melukai jarinya sendiri, tenang tanpa ekspresi kala menjatuhkan darahnya di atas sprei seolah-olah ini yang pertama berhubungan untuknya. Ini sudah direncanakan, kehamilannya? Entah anak Imanuel atau hasil dari donor sp*rma, yang jelas proses pembuahan yang gagal. Hanya sebuah kegagalan untuknya.


Tidakkah dirinya merasa terluka? Mengapa mengorbankan tubuhnya, bahkan berinisiatif melakukan donor sp*rma sebelum menjerat Imanuel, hanya untuk meyakinkan dirinya akan hamil?


Mengapa harus terluka? Mengapa harus merasa bersalah? Pada siapa dirinya harus merasa bersalah? Pada ibunya? Atau kekasihnya yang telah tiada? Tetap saja, orang mati tidak dapat dihidupkan kembali. Kekejaman Tuhan? Hanya itulah yang ada dalam fikirannya. Hatinya sudah kebas, jika memiliki kekuasaan dan status tinggi tidak perlu takut akan kematian.

__ADS_1


Sebuah teori yang tidak masuk akal, karena setiap manusia akan membusuk dalam tanah, kaya ataupun miskin. Tapi sekali lagi wajah wanita itu menatap ke arah cermin, air matanya mengalir. Jika memiliki kekuasaan tertinggi dirinya akan bahagia, sama seperti istri pertama dari ayah tirinya yang tersenyum kala dirinya dan ibunya disiksa.


Uang dan kekuasaan adalah sumber kebahagiaan, karena sumber kebahagiaannya telah pergi di tarik paksa oleh sesuatu yang disebut dengan Tuhan. Wanita itu merapikan riasannya, mengenakan sepatu yang terkesan simpel tanpa hak mengingat dirinya tengah berpura-pura mengandung.


Riasan tipis terlihat cantik, memakai mini dress terkesan feminim. Citra wanita baik-baik bukan wanita penggoda, itulah yang ditujukannya. Dirinya tidak mencintai Raka ataupun Imanuel, hanya sebuah keyakinan jika kekayaan dan status tinggi akan mendatangkan sebuah kebahagiaan pada akhirnya.


*


Malam semakin menjelang, seperti janjinya kali ini Raka datang. Pemuda itu tersenyum terlihat duduk dengan sopan. Tenderloin steak terhidang, Raka sendiri yang memesannya.


"Makanlah! Ikan bagus untuk perkembangan janin," Itulah yang diucapkan pemuda di hadapannya.


Tidak ada yang aneh sama sekali. Perhatian juga ditujukan, mengelap sudut bibir Nadila yang sedikit kotor. Pria ramah yang baik hati, pintar, pekerja keras, itulah sosok Raka yang selalu diceritakan oleh Pramana.


"Apa kamu terbiasa meminum wine setelah makan? Pesanlah! Nanti biar aku yang menyetir." Ucap Nadila, tersenyum pada Raka.


"Tidak perlu, aku tidak minum. Lagipula kamu sedang hamil, tidak mungkin untuk memapahku yang mabuk untuk pulang." Jawaban dari Raka, menggenggam jemari tangannya.


"Tentang ibu dan Fujiko, maklumi mereka. Mereka belum sepenuhnya mengenalmu. Cepat atau lambat mereka akan menyukaimu," Raka tersenyum memberikan penjelasan.


Nadila hanya mengangguk, dirinya akan mempertimbangkan untuk tidak bertindak sekarang. Mungkin menunggu setelah menikah dengan Raka. Mertua kurang ajar, adik ipar benalu, dirinya benar-benar kesal.


"Raka, apa kamu sudah belajar menyukaiku?" tanya Nadila.


"Belum, tapi aku akan berusaha, bagaimana pun juga kamu tanggung jawab dari kakek yang diserahkan padaku. Di dalam kandunganmu juga mengalir darah keturunan keluarga kami. Jujur saja, aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, jadi maklumi jika aku sedikit kaku." Jawaban dari Raka. Benar-benar pria penggoda sejati, sosoknya seakan berubah. Dirinya harus melakukan ini untuk menemukan ayah dan sepupunya.


Orang-orangnya sudah bergerak, memeriksa mobil Nadila. Mencari petunjuk tentang keberadaan kedua anggota keluarganya. Dirinya hanya perlu mengulur waktu.


Hingga sebuah pesan tiba-tiba masuk. "Maaf," ucap Raka membaca pesan.


'Tidak ada petunjuk.' Itulah isi pesan yang masuk.


Raka mengenyitkan keningnya beralih menatap ke arah Nadila. Wanita br*ngsek yang pintar. Dirinya mungkin akan harus membuat acara kencan lagi di villa pemberian Imanuel. Agar lebih mudah menyusupkan orang-orang bayarannya.

__ADS_1


Raka mulai mengirim pesan kembali pada ketiga orang bayarannya. 'Kalian boleh makan! Bayaran masing-masing nanti aku transfer!'


Itulah isi pesan, membuat tiga orang yang telah memakai setelan jas dan gaun membulatkan matanya. Siapa yang tidak tertarik dengan cuan?


Tiga orang yang memasuki area restauran, mata mereka menelisik bagaikan mencari meja kosong. Padahal sejatinya tidak.


"Raka!" ucap salah satu diantara mereka, berpura-pura sebagai sahabat jauh.


Nadila menghela napas menatap jenuh. Kenapa disaat-saat seperti ini harus ada curut pengganggu. Bukan satu kini ada tiga.


"Hai! Lama tidak bertemu!" Raka memeluk tubuh sang pemuda, terlihat akrab.


"Nadila, perkenalkan ini Ragil, Evi dan Cahaya. Ketiganya adalah temanku ketika SMU." Dustanya.


Tiga orang yang tiba-tiba menambah ekstra kursi dan tambahan satu meja yang disambung menjadi satu pada pelayan.


"Lama tidak bertemu. Omong-ngomong ini Nadila kan? Yang terkenal di media sosial." Celoteh Evi begitu senang rasanya, bahkan mengambil beberapa foto. Sedangkan Nadia berusaha keras untuk tersenyum.


"Iya, ini Nadila calon istriku." Kata-kata dari mulut Raka membuat kedua orang itu terlihat semakin tertarik.


"Cantik!"


"Terkenal!"


"Baik!"


Itulah pujian dari mereka, walaupun sejatinya masih banyak lagi. Nadila hanya tersenyum, dirinya membenci ini. Benar-benar membenci situasi ini.


Hingga satu kalimat terucap dari bibir Cahaya.


"Kamu calon istri Raka. Berarti juga teman kami! Untuk merayakan hubungan kalian, makanan kita Nadila yang akan membayar!" Cahaya seenak jidatnya memutuskan.


"Asem!" Mungkin satu kata itu yang ingin diteriakkan Nadila dalam hatinya. Wanita yang masih tersenyum ramah menjaga citranya.

__ADS_1


__ADS_2