
Seorang wanita mendatangi club'malam. Wajahnya tersenyum kali ini lebih tepatnya berpura-pura tersenyum. Menahan amarahnya, berjalan berlalu dengan cepat, menarik seorang pemuda dari ramainya hingar-bingar dentuman musik.
"Kamu perlu jasaku?" tanya sang pemuda, membelai pipi seorang wanita berpakaian minim.
"Iya, kali ini bukan masalah ranjang." Ucap Barbara menatap pemuda rupawan di hadapannya.
"Kamu gusar? Ada masalah apa? Cerita saja," ucap sang pemuda meminum Vodka di gelasnya.
"Aku menemukan orang yang sesuai untukku. Tapi dia tidak penurut sama sekali seperti pria lainnya, benar-benar pembangkang..." gumam Barbara merebut botol Vodka, menuangkan dalam gelas miliknya.
"Ada pria yang tidak tertarik padamu? Dia sudah buta." Sang pria tertawa kecil.
"Ada, ayahku menginginkannya untuk menjadi menantu. Dari status sosial juga lebih tinggi dariku, aset pribadi miliknya sebanding dengan ayahku. Aku juga mendengar informasi dari asisten pribadi kakeknya, perusahaan keluarga akan diserahkan padanya. Benar-benar gila jika aku melepaskannya dengan mudah," geram Barbara.
Pria itu menghela napas kasar, melirik ke arah kliennya yang bagaikan menggodanya di lantai dansa."Lalu apa yang kamu inginkan? Aku tidak punya banyak waktu," tanyanya.
"Aku akan membayarmu untuk menikahi wanita yang dekat dengannya." Jawaban dari Barbara, wanita yang tidak mengerti dengan sifat Raka. Pada akhirnya mencari informasi, dalam waktu satu hari, banyak informasi yang didapatkannya dari detektif bayaran, mengingat tetangga kost Raka yang memiliki mulut bagaikan ember bocor.
"Kenapa harus memakai jasaku? Bayaranku mahal, seharusnya jika kamu ingin mendekatinya, seperti pria lain, ajak dia makan malam, lalu mabuk bersama dan booking hotel. Puaskan dia di ranjang." Sang pria tidak mengerti tentang tingkah Barbara kali ini.
"Mahal? Mendekatinya itu lebih mahal, lebih baik membuatnya patah hati dan menyerah. Baru datang memberikan bahuku padanya." Ucap Barbara mengeluarkan selembar cek senilai 500 juta rupiah.
"Yakin hanya untuk menyingkirkan saingan rela mengeluarkan uang sebanyak ini? Tidak mau coba mendekati pria yang kamu suka dulu?" tanya sang pria memastikan.
Tidak masuk akal baginya, memilih membayar g*golo senilai 500 juta dari pada mendekati sang pemuda dengan cara normal tanpa mengusik saingan. Pasalnya bentuk tubuh Barbara benar-benar sempurna, kemampuan ranjang yang membuat pria bertekuk lutut padanya.
"Ini jauh lebih murah dan tanpa resiko, dari pada mendekatinya secara normal," ucap Barbara penuh perhitungan. 500 juta hanya cukup untuk makan selama lima jam dengan Raka. Jika dirinya meminta tidur bersama tarifnya akan dinaikkan. Dan sudah pasti Raka hanya akan tidur selama batas waktu yang dijanjikan. Pemuda yang selalu memiliki akal licik untuk mendapatkan uang lebih banyak.
Tapi satu yang pasti, pemuda itu akan terikat setelah berkeluarga dengan perilaku yang jauh berubah. Seperti kata-kata dari Pramana (kakek Raka), yang sempat bergurau dengan ayah Barbara.
Pramana selalu menceritakan tentang cucu kebanggaannya. Walaupun kikir, sifat yang menurun dari Patra (ayah Raka) tapi ketika menikah, Patra jauh berubah. Istri dan anaknya adalah prioritas utama. Itulah yang diyakini Pramana, cucunya akan merubah perilaku kikirnya setelah menikah.
__ADS_1
*
Sementara itu di tempat lain, seorang pria keluar dari kamar mandi hanya mengenakan boxernya saja. Merebahkan dirinya di ranjang berukuran king size. Sejenak kemudian menatap ke arah langit-langit kamar sambil memakan bagian pinggir roti yang seharusnya dibuang pelayan rumahnya.
"Sayang tidak bisakah kamu tidur menggunakan piyama? Seperti orang kaya di sinetron-sinetron," tanya Adinda pada suaminya.
Pria rupawan yang tidak lagi muda. Menghela napas kasar."Jika aku memakai piyama, aku harus membelinya. Belum lagi deterjen yang habis saat mencucinya," gumamnya, memasukan dirinya ke dalam selimut.
"Sayang...sayang...sayang... Tiara (ibu Imanuel, ipar Patra) dibelikan berlian oleh suaminya," ucap Adinda, memeluk suaminya dari belakang.
Patra membuka laci memberikan black card pada istrinya."Jalan-jalanlah ke Afrika Selatan, sekalian beli beberapa berlian. Cari yang berkwalitas untuk bisa dijual lagi saat kita punya menantu dan cucu nanti,"
Nasehat dari suaminya yang langsung tertidur karena terlalu lelah bekerja.
Adinda mengenyitkan keningnya suaminya memang seperti ini. Tidak mau istrinya dikalahkan, tapi juga tidak mau rugi. Setelah ini Adinda dapat menyombong pada Tiara akan pergi ke Afrika Selatan untuk liburan.
Lalu membeli beberapa perhiasan dengan kwalitas tinggi disana. Afrika Selatan, tambang berlian ada di sana, sudah ada di bayangan Adinda, berlibur tapi pulang membawa beberapa set perhiasan.
Adinda menghela napasnya merutuki nasibnya memiliki anak yang kikir. Jika saja putranya berperilaku lebih normal, walaupun tidak terlalu royal akan ada banyak wanita yang mengantri. Tapi ini? Putranya hidup bagaikan pengamen, bahkan pengamen sekali-sekali makan ayam goreng. Sedangkan putranya tahu, tempe, telur, sayur.
Dilarang pun tidak bisa. Mungkin satu-satunya harapannya untuk memiliki cucu adalah godaan Barbara.
"Dasar kikir! Entah, menurun dari mana sifatnya!" Geram Adinda memasuki selimut.
"Dariku," jawaban dari Patra dengan mata terpejam.
*
Perlahan wanita itu mendekat, menatap seorang pemuda yang mematung di hadapannya."Raka," ucapnya dengan jarak beberapa sentimeter dari wajah pemuda itu.
"Jangan mendekat! Kita tidur saja," ucap Raka, berusaha bertindak senormal mungkin.
__ADS_1
Namun tiba-tiba Fujiko mengalungkan tangannya pada leher Raka. Memangut bibirnya perlahan, pemuda yang pada awalnya terdiam membulatkan matanya.
Hingga pada akhirnya ikut memejamkan matanya. Menggerakkan bibirnya perlahan, hingga kala kedua buah bibir itu terbuka Raka mulai memainkan lidahnya. Benar-benar merindukan perasaan ini.
Apa ini hanya perasaan sebagai teman? Setidaknya itulah yang ada dalam benak Fujiko. Namun ini benar-benar nyaman, memeluknya erat dalam sebuah ciuman.
Seorang pemuda yang menemaninya setahun ini. Mengapa rasanya begitu nyaman? Tidak seperti sebelumnya kala didekati oleh Nolan. Ini berbeda, hanya perasaan nyaman dengan hati berdebar.
Hingga deru napas mereka memburu, tidak dapat didustai. Persahabatan mereka telah berubah menjadi cinta. Bagaimanapun fikiran mereka membuat pagar pembatas, namun hati mereka melompatinya. Fikiran mereka kelu, hanya menginginkan lebih dan lebih.
Ingin mengetahui sebatas mana rasa nyaman ini.
Bug!
Kedua tubuh itu terjatuh, tiada ada penerangan sama sekali dalam ruangan, hanya penerangan dari lampu belajar kecil yang ada di atas meja.
Fujiko dapat merasakannya deru napas pemuda yang ada diatas tubuhnya."Kamu yang mengundangku, karena itu kamu harusku miliki," bisiknya.
Fujiko hendak menjawab, hanya bayangan samar terlihat dari pemuda yang menghentikan mulutnya ingin berucap. Kembali memangutnya pelan, hingga tangan Raka turun membuka kancing kemeja yang dipakai Fujiko. Membuat beberapa tanda sedikit demi sedikit dari leher, turun ke area bawah leher. Membuat gadis itu menggigit bibirnya sendiri.
"Raka...akh..." lirihnya pelan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Tolong cepat dibuka! Kami dari pihak kepolisian ingin mengadakan sidak," ucap seseorang di luar sana. Sinar senter terlihat samar dari gorden yang tertutup.
Dua orang segera bangkit, bingung harus bagaimana.
__ADS_1