Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Kepalsuan Lebih Indah Dari Kenyataan


__ADS_3

Bug!


Kaki Imanuel tiba-tiba diinjaknya, pemuda itu meringis tanpa suara. Sedikit melirik ke arah Reina, terlihat guratan kecemburuan disana.


"Ja... jangan bicara sembarangan! Sebagai bawahan kamu sudah berani lancang pada keluarga majikanmu!" Ucap Imanuel tegas, tidak ingin mama cemburu. Karena sejatinya papa sayang mama, hanya saja papa pendam dalam hati.


Danu mengenyitkan keningnya."Anak kecil yang menghasilkan uang, tapi sayangnya menghambur-hamburkan uangnya untuk wanita."


"Kamu sendiri? Pria bodoh yang memberikan setengah asetnya pada mantan istri." Sindiran Imanuel bertambah pedas, sakit tapi tidak berdarah.


"Kamu harus segera pulang, walau bagaimanapun jangan memberikan tanggung jawab atas kesalahanmu pada saudara sepupumu. Dia sudah menikah, punya kehidupan sendiri, bagaimana dengan istrinya jika dia harus menikahi Nadila? Raka sampai sekarang tidak dapat bicara pada kakek kalian tentang Fujiko." Nasehat dari Danu.


"Ja... jadi ini tidak dilakukan oleh Raka? Dia tidak ingin membunuhku untuk berebut warisan dan Nadila?" tanya Imanuel, belum mengerti sepenuhnya.


Pria itu menghentikan aktivitas makanannya, menatap ke arah Imanuel."Kamu tau salah satu alasan kenapa Raka memilih meninggalkan kediaman utama? Karena kamu."


"Kenapa aku?" Imanuel mengenyitkan keningnya.


"Raka dipilih sepihak oleh kakekmu untuk meneruskan perusahaan. Bahkan Pramana memaksanya langsung memasuki posisi Direktur Utama. Tapi dia menolak, karena tidak ingin bersaing denganmu. Lagipula di luar sana dia memiliki lebih dari cukup. Untuk apa berebut?" Jawaban dari Danu membuat Imanuel terdiam sejenak, jemari tangannya mengepal. Sialnya kata-kata pria ini masuk akal.


"Dengar! Tidak peduli kamu kawin lari, atau kawin sambil berlari dengan Reina atau Barbara, membuat rekor gaya ranjang baru. Tapi kamu harus ingat, anakmu yang ada dalam kandungan Nadila dan Raka sepupumu. Pulang dan menikah lah dengan Nadila." Ucap Danu.


Reina terdiam sesaat, menghela napas kasar, sudah play boy, ditambah harus menikah dengan wanita lain."Maaf, sudah menjadi janda gatal. Kita putus saja..."


"Tidak ada alasan untuk putus!" tegas Imanuel, bersungut-sungut keras kepala seperti remaja ambekan.

__ADS_1


"Tapi kamu harus menikah dengan wanita yang kamu hamili! Lagipula sudah ada wanita bernama Barbara!" Reina bertambah marah, menoleh ke arah lain.


"Namanya Nadila, dia yang ingin menculik dan membunuhku. Tentang Barbara dia orang yang tadinya akan dijodohkan dengan Raka tidak ada sangkut pautnya denganku." Jawaban dari Imanuel menghela napas kasar, membuat Danu menghentikan aktivitas makannya sama sekali, menutup kotak bekal yang dibutakan oleh seseorang. Benar-benar tertarik dengan kata-kata yang keluar dari mulut Imanuel.


"Ingat anak yang aku katakan tidak pernah ada? Aku mabuk dan meniduri seorang wanita di pesta sosialita. Aku berjanji bertanggung jawab, dan pada akhirnya bertunangan dengannya. Pacaran yang cukup sehat, walaupun dia sudah mengandung, paling aku hanya sekedar memeluk tubuhnya, mencium perut atau bibir. Pada akhirnya dia menggugurkan kandungannya diam-diam, karena mengalami hamil anggur. Kamu ingat kejadian saat di kantor milik ayah Nadila?" tanya Imanuel menjelaskan.


Reina mengangguk, tanda dirinya mengingat segalanya."Tapi Barbara?"


"Aku tidak memiliki hubungan dengan Barbara. Hanya bertemu sekilas di pesta, terakhir berjanji untuk ke tempat kost Raka. Mendekorasi dengan perabotan baru, agar Raka terkesan dan Barbara lebih mudah mendekatinya. Tapi di tengah perjalanan, ada yang berniat buruk padaku dan Barbara. Barbara tertangkap sedangkan aku berhasil melarikan diri." Jawaban Imanuel membanggakan dirinya.


"Tu... tunggu dulu! Kamu tidak mempunyai hubungan dengan Barbara!? Lalu pesan dan foto via WA?" tanya Danu yang memang hanya mengetahui sekilas saja. Pasalnya tugas Raka yang dipegang olehnya terbilang cukup banyak.


"Pesan apa? Phonecellku ketinggalan di mobil. Setelah kejadian terakhir, aku bersembunyi di rumah Reina." Imanuel menghela napas kasar. Sedangkan Reina mengangguk, membenarkan cerita papa.


"Bu... bukan aku!" pekik Imanuel melihat foto dan isi pesan."Reina kamu percaya kan?" Sekali lagi papa hanya tidak ingin mama salah paham. Sebenarnya papa belum begitu sayang pada mama, hanya saja papa takut kehilangan.


"Ini memang bukan Imanuel. Ini pesan singkat yang pernah dia kirim melalui phonecell ibu mertuaku. Setiap menggunakan kata aku, dia akan mengetik aku terdengar lebih baku, bukan seperti pesan anak muda Aq." Reina menjawab dengan yakin.


"Iya! Aku juga tidak pernah menyingkat pesan atau menggunakan bahasa daerah. Karena terbiasa mengetik pesan untuk klien. Kamu lihat sendiri kan? Orang ini bahkan menggunakan YG untuk yang, ada juga alat perkembangbiakan menggunakan bahasa daerah. Satu lagi yang paling terlihat. Sejak kapan Barbara yang tinggal di luar negeri memakai kata Mas?" ucap Imanuel masuk akal.


Memang ada banyak kata menggunakan aku, dan kamu tapi semuanya disingkat tidak ada yang menggunakan kata-kata formal. Juga mungkin karena sang pengirim pesan asli yang dituntut harus mengirim dalam waktu cepat beberapa bahasa sehari-hari masuk kedalamnya, melupakan orang yang mereka culik merupakan keturunan Indo-Eropa yang terbiasa tinggal di luar negeri. Saat kembali pun kecil kemungkinannya akan menggunakan bahasa yang lazim dalam pergaulan.


"Aku baru kefikiran. Aku kira kamu melarikan diri dengan Barbara karena bodynya." Danu terkekeh, kemudian kembali membuka kotak bekalnya, memakan makanan tidak karuan yang entah buatan siapa.


"Aku ingin bicara dengan Raka secara pribadi. Kamu bisa membantuku?" pintanya tiba-tiba.

__ADS_1


"Tidak perlu aku, lihat pacarmu! Dia sedang mengirimkan pesan pada si matre(Fujiko)" Danu menunjuk-nunjuk ke arah Reina yang tengah berkirim pesan.


Wanita itu yang kali ini terkekeh."Tau saja, pak Danu memang pintar."


"Aku lebih pintar!" bentak Imanuel bersungut-sungut kembali dalam mode ngambek.


*


Janji temu sudah mereka kabarkan, besok di tempat kost Fujiko yang masih disewa Raka hingga saat ini. Hari sudah gelap. Kini dua orang itu tengah berusaha menidurkan Egie. Anak yang terlihat belum kelelahan sedikitpun.


"Egie mau mama dan papa tidur bersama Egie!" sang anak merengek.


Dua orang itu saling melirik sesekali tersipu malu. Hingga suara gedoran pintu terdengar. Dengan cepat Imanuel membuka pintu ada banyak suara orang diluar. Entah apa yang terjadi.


Brak!


Pintu itu dibuka olehnya. Terlihat pemuda dengan kulit sawo matang, berbadan tegap, memiliki tato layaknya preman serta seorang wanita dengan dandanan tebal ada di sampingnya menggendong anak yang terlihat tidak terurus. Tidak lupa juga lengkap dengan Lukman dan pak lurah yang ada di samping mereka dengan beberapa warga.


"Siapa?" tanya Reina mendekati Imanuel yang baru saja membuka pintu. Wanita itu menelan ludahnya menatap adik iparnya yang asli ada di sini.


"Dadang!?" ucapnya gelagapan dengan wajah pucat.


"Saya adik iparnya Reina! Mau apa kamu!?" bentak Dadang pada Imanuel.


"Mampus!" batin pemuda berkulit halus bingung harus bagaimana. Mungkinkah dirinya harus berpura-pura kesurupan arwah almarhum Rian? Tidak papa tidak percaya takhayul.

__ADS_1


__ADS_2