
Terkadang sesuatu yang terlihat mata berbeda dari kenyataannya. Mobil milik Dwi melaju membelah jalanan perkotaan. Tiga bersaudara ada di sana sengaja memanfaatkan libur akhir pekan untuk menjenguk adik mereka tercinta. Bagaikan jin teko yang membawa tiga bidadari cantik, Itulah Dwi saat ini.
Pria bertubuh gempal, dengan rambut yang jarang-jarang. Tidak ada rasa iri atau perebutan dalam diri keempat kakak beradik ini. Jangan mengharapkan sang kakak akan menjadi pelakor dari pernikahan adik mereka. Mungkin yang ada kini hanya rasa syukur, Fujiko tidak berakhir dengan ghost writer tidak terkenal dengan gaji kecil.
Adik mereka mendapatkan ikan paus raksasa, bukan ikan teri. Menghela napas berkali-kali.
"Fumiko apa kamu tau dari awal?" tanya Rosita.
Fumiko menggeleng."Pada awalnya saat memberitahu tentang pertunanganku, benalu itu masih ada di sana. Tanpa ragu menumpang mandi di kamar Fujiko. Aku sempat saling sindir dengannya. Mungkin dia tersinggung, hingga datang ke pesta pertunanganku. Kemudian memberikan hadiah, sambil mengancam ku, menegaskan statusnya."
"Pantas saja kamu menolak Sean yang terang-terangan adalah ikan kakap. Rupanya kamu tau adik kita diikuti paus raksasa." Ucap Tari, menghela napas berkali-kali.
"Siapa yang kalian bicarakan?" tanya Dwi masih konsentrasi menyetir mobil miliknya.
"Fujiko, dia akhirnya menikah dengan putra konglomerat yang datang ke pesta pertunangan kita. Aku belum cerita ya? Maaf, tapi kamu terlalu sering lembur," Fumiko bermanja-manja pada kekasihnya.
Pemuda yang melepaskan salah satu tangannya dari setir mobil. Kemudian mencubit hidung kekasihnya gemas.
"Dasar! Apa kamu iri melihat adikmu mendapatkan suami tampan ditambah kaya? Wajahku jelek, apa kamu---" Kata-kata Dwi disela.
"Kamu tetap yang tertampan. Siang malam bekerja untuk persiapan masa depan kita. Aku mencintaimu." Ucap Fumiko semakin lengket pada kekasihnya.
"Uuueekk!! Aku ingin muntah!" gerutu Tari.
"Kalau muntah jangan di mobil pacarku. Lagipula yang terpenting dari pria adalah perhatiannya! Perhatian yang membuat wajahnya bertambah tampan!" tegas Fumiko.
Bersamaan dengan itu Tari dan Rosita saling pandang, kemudian tertawa nyaring. Empat saudara yang memiliki tipe berbeda, tidak akan mengusik pasangan mereka masing-masing. Memangnya kenapa kalau materialistis? Mereka hanya ingin memastikan hidup mereka nanti setelah pernikahan.
Setiap orang memiliki kelemahan, termasuk pacar Rosita seorang duda beranak satu, pecinta makanan ekstrim. Atau pacar Tari, seorang dokter bedah yang selalu menceritakan hal-hal yang terjadi di meja operasi.
Mereka tidak mengeluh, karena pasangan memang begitu bukan? Saling melengkapi.
Jujur saja, Dwi semakin cemas saat ini, mungkin karena terlalu sering membaca novel dimana, sesama saudara berebut pria tampan mapan. Apa Fumiko akan melakukannya? Persiapan pernikahan Fumiko sudah mencapai 50%.
__ADS_1
Benar, dirinya harus memanjakan pacarnya yang materialistis.
"Sayang aku belikan set perhiasan yang baru ya? Atau kamu mau tas---" Kata-kata Dwi terpotong.
"Tabung untuk anak kita nanti. Punya anak itu tidak murah." Tegas Fumiko.
"Jadi kamu---" Kata-kata Dwi terhenti, Fumiko mencium pipi kekasihnya.
"Kita akan menikah! Kenapa!? Apa ada pelakor? Aku akan menghajarnya jika dia berani menggodamu!" bentak Fumiko.
Wajah Dwi bersemu merah, materialistis apanya? Wanita ini menerimanya apa adanya, memikirkan masa depan mereka nanti. Mata pria itu menelisik, sebenarnya tidak ada diantara empat bersaudara itu yang memanfaatkan pasangan mereka, seperti wanita materialistis lainnnya. Keempat bersaudara itu hanya ingin hidup dengan baik, setelah pernikahan nantinya. Tidak menginginkan apapun lagi.
*
Pada akhirnya mobil terhenti di area depan tempat kost. Fumiko yang menghubungi adiknya terakhir kali, sudah mendapatkan penjelasan sepintas. Intinya bagi Fujiko ini adalah tempat teraman, di tengah rumah suaminya yang kacau balau.
Mengapa bukan rumah besar atau apartemen saja? Tentu saja untuk berjaga-jaga manakala ada orang yang ingin mencelakainya. Di tempat kost yang ramai dirinya dapat meminta pertolongan dengan cepat.
Bug!
Suara pintu mobil tertutup terdengar. Keempat orang yang turun dari dalam mobil. Mendapatkan perhatian anak-anak kost yang berada di sana.
Benar-benar kecantikan yang hakiki dari tiga orang wanita yang melintas. Kecantikan yang bahkan membuat seorang pria dijewer kekasihnya, karena menatap mereka tanpa berkedip.
Pria lainnya bahkan tidak sengaja menabrak tiang bangunan. Kemana tujuan mereka? Tentu saja kamar Fujiko.
Suara pintu diketuk terdengar. Hingga pintu pada akhirnya terbuka, terlihatlah wajah si bungsu."Kakak!" teriak Fujiko senang.
"Pantas cantik, saudaranya Fujiko."
"Empat bersaudara cantik semua!"
"Mereka pakai skincare apa?"
__ADS_1
Itulah kata-kata yang terlontar dari para penghuni kost lain. Hingga pada akhirnya Fujiko mempersilahkan saudaranya masuk.
Kamar berukuran tiga kali tiga, dilengkapi dengan dapur dan kamar mandi. Tapi semua perabotannya terlihat bertambah, bahkan ada banyak yang diganti.
Mata Rosita menelisik, duduk di karpet bulu, yang lumayan nyaman. Tidak ada sofa, tentu saja tidak memungkinkan untuk sofa berada di sana, mengingat ukuran kamar tersebut.
Seragam pabrik? Adiknya memang masih bekerja di pabrik. Inilah adik kebanggaannya, memiliki suami kaya, tapi juga tidak sepenuhnya bergantung pada pria.
"Fujiko, dimana Raka?" tanya Fumiko.
"Sebentar lagi dia datang, masih di perjalanan." Jawaban dari Fujiko, yang ikut duduk bersama mereka.
"Sebenarnya ada masalah apa!?" tanya Rosita to the points. Dirinya tidak dapat terima jika iparnya akan mencarikan Fujiko madu. Adiknya yang cantik, dengan body yang membuat para pria meneteskan liur harus diduakan? Siapa yang akan terima.
"Bagaimana ya? Aku masih bingung sampai saat ini. Ayah mertua dan saudara sepupu suamiku menghilang. Sedangkan saudara sepupu Raka menghamili tunangannya, Raka harus bertanggung jawab menggantikan sepupunya." Penjelasan singkat dari Fujiko.
"Tidak bisa begitu! Kenapa sepupu Raka yang berbuat, Raka yang harus bertanggung jawab! Lagipula suamimu itu tidak boleh terlalu lembek, agar bisa melindungimu nanti!" Bentak Tari emosional.
"Hanya sementara, Raka berpura-pura menerima permintaan kakeknya. Sambil menyelidiki keberadaan ayahnya. Lagipula hanya wanita murahan, kalian tau selebgram Nadila!? Dia yang ingin merangkak ke ranjang suamiku." Ucap Fujiko dengan senyuman yang mengembang.
"Nadila?" Tari tertawa nyaring, jemari tangannya mengepal, penuh dendam. Jiwa bar-bar yang bangkit.
Fumiko, Tari dan Rosita saling melirik, kemudian mengangguk, memiliki pemikiran yang serupa. Apa yang ada dalam otak mereka? Menghancurkan seseorang dengan nama Nadila. Saudara harus saling bantu membantu, dalam susah maupun senang.
Hingga suara mobil lain terdengar, mungkin parkir di badan jalan.
Pintu dibuka kali ini oleh Fumiko, terlihat empat orang yang baru saja datang, membawa beberapa bungkus martabak manis dan asin.
"Bidadari..." Celetuk Ragil menatap empat wanita cantik.
Plak!
Kepalanya di pukul."Mata keranjang!" bentak Cahaya.
__ADS_1
Sementara Raka menghentikan keningnya, menghela napas kasar melihat kelakuan ketiga orang mahasiswa yang selama ini mengikutinya. Kerja sambilan? Kerja sambilan yang dimaksud adalah mengikuti Nadila, dan mencari keberadaan Patra.
Lambat, tapi juga cepat, tidak kalah dengan detektif. Hingga saat ini, dengan dalih persatuan dan kedamaian dunia, mereka telah menemukan jejak terakhir dari Patra. Walaupun belum menemukan keberadaannya.