
Ini merupakan minggu ke 10 dari usia kandungannya. Mual, sakit di bagian pinggang lebih sering terjadi, hingga dirinya hari ini pergi ke dokter memeriksakan kandungannya.
Keadaan Imanuel yang tiba-tiba menghilang? Itu berubah menjadi situasi yang menguntungkan baginya. Phonecell tunangannya yang tertinggal di mobil ditemukan orang sewaannya.
Dirinya mengambil beberapa foto Barbara, mengirim menggunakan phonecell Barbara pada phonecell Imanuel, seolah-olah Imanuel menjalin hubungan dengan Barbara. Foto tanpa sehelai benang pun yang melekat pada tubuh wanita itu. Dan terakhir pesan bahwa mereka berencana melarikan diri bersama.
Pintar, benar-benar pintar, beberapa menit lalu Pramana menghubunginya, terdengar kepanikan dari sana. Mungkin mobil Imanuel dan Barbara sudah ditemukan di luar kota, dengan phonecell Imanuel berisikan chatt mesra dan foto Barbara.
Dirinya hanya tersenyum, berusaha terdengar cemas tidak mengetahui apapun. Berpura-pura tidak tahu tentang kecurigaan perselingkuhan Imanuel yang melarikan diri entah kemana dengan Barbara.
Melangkah dengan tenang menuju ruang pemeriksaan. Kala USG dilakukan, wajah sang dokter seperti terlihat cemas. Kemudian duduk menatap pada wanita di hadapannya. Ini asumsinya, semoga saja tidak, tapi memang kemungkinan besar iya.
"Bagaimana kondisi anak saya?" tanya Nadila terlihat tenang.
Sang dokter menghirup napas panjang."Janin terlambat berkembang, saya mencurigai terjadi kehamilan anggur. Plasenta tumbuh tapi menebal, janin juga belum terlihat."
"Hamil anggur?" tanya wanita yang belum begitu mengerti. Dirinya mulai cemas saat ini, tapi masih berusaha tersenyum.
"Pembentukan ari-ari yang tidak normal pada masa kehamilan. Tapi ini baru dugaan saya, sebaiknya kita melakukan tes darah untuk kepastiannya." Jawaban dari sang dokter.
Nadila terdiam, mengelus perutnya yang rata pelan."Cari cara untuk menyelamatkannya, saya akan membayar berapapun,"
Sang dokter terdiam sejenak, melepaskan kacamatanya."Begini hamil anggur dapat terjadi jika sperm* membuahi sel telur kosong atau satu sel telur dibuahi dua sperm*. Jika sel telur kosong dibuahi sperm* sering disebut hamil anggur lengkap dalam artian tidak ada embrio sama sekali. Dalam kasus ini anda mengalami hamil anggur lengkap. Tidak ada embrio, tapi sekali lagi untuk memastikannya kita harus melakukan tes darah."
"Jadi tidak ada janin?" tanya Nadila.
"Tenang, kita belum melakukan tes darah. Mungkin saja saya yang salah saat melakukan USG." Jawab sang dokter berhati-hati.
"Jika saya mengalami hamil anggur, apa yang terjadi? Tetap namanya hamil bukan? Jika hamil harus ada anak yang lahir kan? Aku bilang aku akan membayarmu untuk menyelamatkan anak ini," tegasnya menatap tajam.
"Jika benar-benar mengalami hamil anggur, tidak ada jalan selain kuret," jawaban dari sang dokter membuat Nadila terdiam sejenak. Wajahnya terlihat tenang, meskipun sedang memikirkan langkah selanjutnya.
"Setelah pemeriksaan aku ingin bicara pribadi dengan dokter." Ucap Nadila tetap tersenyum.
*
__ADS_1
Beberapa waktu berselang, sang dokter menghela napas kasar. Menatap hasil tes darah, benar seperti dugaannya, wanita ini mengalami hamil anggur.
"Apa hamil anggur?" tanya Nadila, dijawab dengan anggukan oleh sang dokter. Mungkin ini merupakan kabar duka, ingin menjaga hati pasiennya yang mungkin terguncang.
Tapi tidak, wanita itu masih terlihat tenang."Bisa tolong saya, rahasiakan saya mengalami hamil anggur, jika yang terbaik melakukan kuret, maka akan saya lakukan. Tapi jangan ada data tindakan medis sedikitpun, setiap bulan saya akan datang seolah-olah memeriksakan kandungan pada anda. Hanya sampai bulan keempat, setelah itu saya akan datang kembali dan pura-pura keguguran. Ini untuk kemanusiaan, saya hanya ingin pria yang menghamili saya bertanggung jawab. Hanya sampai pernikahan berlangsung. Tolong akan ada imbalan untuk anda," pintanya dengan air mata yang mengalir.
Sang dokter lagi-lagi menghela napasnya. Apa ini melanggar kode etik profesi? Tapi tetap saja dirinya iba. Mengingat data pasien yang memang belum menikah. Sang dokter mengangguk, mungkin terbujuk.
Hingga wanita itu mengeluarkan kartu ATM dari tasnya."Ini sekedar untuk rasa terimakasih saya. Dan ini nomor pin-nya." Kata-kata dari Nadila memberikan kertas yang baru ditulisnya dengan pena.
Wanita yang terdiam sejenak. Mungkin anak memang tidak seharusnya ada, hanya akan membuat jarak antara dirinya dan Raka setelah menikah. Berpura-pura keguguran, memang lebih baik, sifat manipulatif yang dimilikinya dari dulu.
*
Sedangkan di tempat antah berantah, dua orang saling menatap. Wanita yang benar-benar kesal, rasanya."Dia bukan papamu,"
"Papa," sang anak mendekap erat Imanuel, hingga tidak mau lepas sama sekali.
"Egie, papa Egie namanya Rian, dia sudah tidak ada tinggal di rumah Tuhan. Tuhan sayang pada papa Egie, makanya membawanya tidur disana. Dia bukan papa Egie," Reina tersenyum, kali ini tidak begitu keras. Mencoba meraih putranya pelan-pelan.
"Ibumu berbohong, dia sedang marah pada papa," bualan dari Imanuel.
Reina menghirup napas panjang, kemudian menghembuskannya."Apa sebenarnya maumu? Kenapa membohongi anak kecil?"
"Tempat tinggal, aku ingin menyewa tempat tinggal. Tapi tidak secara resmi, aku akan membayarmu." Ucap Imanuel, mengeluarkan selembar uang kertas 100 dolar.
Reina menelan ludahnya, mencoba mencari di internet tentang kurs mata uang asing."Satu setengah juta..."
Membeli popok, membeli susu diabetes untuk mertuanya, tidak perlu makan tahu malam ini, bisa membeli baju baru untuk putranya semua sudah terfikirkan olehnya. Tentang jalannya uang tersebut.
Tangannya gemetar ingin meraih, materialistis memang sifat alami untuk bertahan hidup. Insting untuk membuat anak dan mertuanya bertahan ada dalam jika kepahlawanannya.
"Ini biaya kontrakan untuk berapa bulan?" tanyanya ragu.
"Sebulan," jawaban Imanuel.
__ADS_1
Hus!
Dengan cepat uang menghilang dari tangannya. Mungkin jika di kota besar itu jumlah uang yang sedikit untuk mengontrak. Tapi tidak dengan di pinggiran kota, bisa dibilang mendekati daerah desa. Jumlah uang itu sudah cukup besar untuk harga sewa sebuah kamar.
"Ayo kita ke rumahku! Jika ada yang bertanya katakan kamu adik dari suamiku yang merantau ke Sulawesi!" peringatan darinya.
Pemuda yang menggeleng-gelengkan kepalanya heran, perlahan menuntun Egie berjalan.
"Apa yang disukai ibumu?" tanya Imanuel.
"Uang," jawaban terus terang dari sang anak memegang erat tangan Imanuel, masih mengira Imanuel adalah ayahnya yang tidak kunjung pulang dari melaut.
*
Rumah sederhana merupakan warisan almarhum orang tua Reina. Disana hanya tinggal mertuanya yang menderita diabetes, semenjak diusir anak bungsunya yang tinggal di Sulawesi karena dianggap benalu, sang mertua tinggal dengan Reina dan Rian.
Namun, umur Rian tidak panjang, hanya pernikahan yang berlangsung selama dua tahun, pemuda itu menghadap Yang Kuasa. Kini wanita paruh baya itu hanya memiliki Reina, menantu yang menganggapnya seperti ibunya sendiri.
Sejatinya sang mertua iba pada menantunya. Yang harus bekerja keras menjadi tulang punggung keluarga. Bahkan di saat pulang kerja dari pabrik, sang menantu membuat agar-agar, diletakkannya di lemari es, dititipkan di warung setiap paginya.
Tidak merawat diri setelah kematian Rian, itulah yang dilakukan Reina. Lebih memilih melihat senyuman anggota keluarganya yang tinggal dua orang saja.
Lastri (mertua Reina) kini tengah menyapu di halaman kala sang menantu yang memang libur hari ini datang membawa kejutan. Sang wanita paruh baya membulatkan matanya, menatap seorang pria yang datang dengan menantunya.
"Ibu..." ucapnya tersenyum cengengesan.
"Di...dia siapa?" tanya Lastri ketakutan. Takut jika putranya digantikan, tapi sekaligus iba dengan menantunya. Antara rela dan tidak rela.
"Dia ingin menyewa kamar, lumayan uang sewanya satu setengah juta per bulan. Tapi dia tidak punya KTP karena baru saja dirampok. Kalau ada yang tanya bilang saja dia adiknya Rian. Lumayan satu setengah juta," bisik Reina.
Lastri tiba-tiba tersenyum ke arah Imanuel."Masuk-masuk biar ibu buatkan teh. Tapi ingat ada peraturan mutlak di rumah ini, tidak boleh dekat-dekat dengan menantu ibu," ucapnya ramah.
"Dia bukan selera saya. Lagi pula calon istri saya di kota sedang hamil," Imanuel berusaha tersenyum, lumayan kesal. Nadila dan anaknya sudah menunggu di rumah. Dirinya harus segera menangkap sang pelaku yang memungkinkan besar adalah Raka, untuk melindungi dirinya dan anaknya nanti.
"Jaga-jaga saja! Siapa tau kamu khilaf!" tegas Lastri.
__ADS_1
"Khilaf juga harus pilih-pilih," batin Imanuel.