
Apa yang akan mereka lakukan? Hari ini ketiga orang itu memulai tugas barunya. Foto Sean mereka kantongi dari akun media sosial.
"Tampan,"
"Tampan,"
Ucap Cahaya dan Evi bersamaan, menggigit bagian bawah bibir mereka sendiri.
"Cahaya! Aku juga tampan kan?" Ragil berucap penuh senyuman. Namun, tidak ada respon dari mereka berdua yang menatap aneh kemudian acuh. Bukannya tidak tampan, bisa dibilang sedikit di atas standar. Tapi sayangnya gaya berpakaian yang aneh, terlalu kampungan dengan rambut berlumuran minyak kelapa. Ingat minyak kelapa, bukan biskuit R*ma kelapa.
Tiga motor yang melaju menuju area restauran milik Sean. Total ada dua restauran yang dimiliki sang pemuda. Termasuk mapan bukan? Benar-benar pria kalangan menengah idaman wanita, andai saja tidak playboy dan sering celap-celup bagaikan daun teh pilihan.
Hingga kala mereka memarkirkan motornya. Perlahan masuk, dengan egonya ketiga mahasiswa memasuki restauran bergaya Jepang itu.
"Permisi saya calon istri masa depan pemilik restauran. Bisa bertemu dengan suami saya?" tanya Cahaya, mengibaskan rambutnya di depan kasir yang hanya mengenyitkan keningnya tanpa ekspresi.
"Bohong! Saya tunangan Sean! Saya ingin bertemu dengannya!" tegas Evi.
Sang kasir makin menatap aneh, mengambil gagang telepon hendak menghubungi security. Sedangkan Ragil memijat pelipisnya sendiri.
"Tunggu! Saya Ragil, teman Sean dan Barbara. Sean menghubungi saya mengatakan akan bertemu di restaurannya. Apa dia sudah datang?" dusta Ragil, pada akhirnya sang kasir menghela napas kasar, mengetahui nama Barbara. Wanita yang paling sering datang menemui Sean.
"Maaf tapi pemilik restauran sudah lebih dari tiga minggu tidak datang. Aku akan memanggil manager restaurant untuk menemani kalian di ruangan Pak Sean." Ucap sang kasir sopan, kembali meletakkan gagang teleponnya.
"Terimakasih," Ragil menghela napas kasar kembali tersenyum. Matanya sedikit melirik ke arah Cahaya. Menghela napas berkali-kali.
"Ada saatnya aku akan jenuh," gumamnya, membuat Cahaya menoleh padanya.
"Kamu bilang apa?" tanya Cahaya.
"Buka apa-apa." Jawaban dari Ragil.
Tidak banyak tapi jika uang yang diberikan Raka terkumpul dirinya akan pulang setelah wisuda. Melanjutkan usaha ternak ikan nila milik ayahnya. Mungkin menikah dengan orang yang berasal dari desanya, menghela napas kasar menatap Cahaya yang mustahil di gapai. Wanita yang berasal dari kota, kost hanya karena mencari lokasi yang dekat dengan kampusnya saja. Tidak akan mau hidup di desa, itulah yang disadarinya, kala sang ibu menghubunginya, mengatakan ayahnya sudah sakit-sakitan.
__ADS_1
Hanya cinta semu yang tidak berbalas, disimpan sebagai kenangan. Menjadi rasa yang akan terlupakan, kala dirinya menikah dan memiliki anak nanti. Mungkin akan ada wanita desa yang mencintainya dengan tulus.
*
Tiga orang yang menunggu di ruangan Sean. Sudah tiga minggu menghilang? Apa yang terjadi dengannya? Entahlah, mereka juga tidak pernah bertemu. Tapi menurut informasi yang dikirimkan Raka, terakhir Sean berkata akan memeriksa foto syur Barbara.
Pada akhirnya manager restaurant masuk. Pria yang mengatur restauran selama sang pemilik tidak ada.
"Jadi kalian teman Pak Sean dan Barbara?" tanya sang manager mulai duduk di hadapan mereka, meminum teh hijau.
"Bukan, aku pacarnya," Candaan Ragil, penuh senyuman membuat sang manager restaurant menyemburkan teh hijaunya.
"Pacar!? Kalian jangan bercanda! Sean itu normal! Bahkan terlalu normal kalau masalah wanita! Tidak mungkin dia main pedang-pedangan! Dia tidak kekurangan sarung pedang!" Ucap sang manager bersungut-sungut.
"Aku hanya bercanda. Sebenarnya kami dimintai tolong oleh seseorang untuk menemui Sean dan mencari informasi tentang Barbara." Jelas Ragil, diikuti dengan anggukan oleh kedua wanita di sampingnya. Berada diantara dua wanita, wah... nikmatnya beristri dua. Padahal satupun tidak.
Pria itu menghela napas kasar, kemudian bangkit mengambil phonecellnya yang ada di ruangan berbeda. Sesaat kemudian kembali datang.
"Tunggu disini, karena sebenarnya Sean sudah menghilang dari tiga minggu yang lalu. Dia tidak memiliki kerabat, hanya seorang paman yang bekerja di Papua. Karena itu aku bingung sampai sekarang untuk pengelolaan keuntungan restauran. Aku sudah pergi ke rumahnya tapi tidak ada orang. Sampai detektif yang disewanya datang, menanyakan tentang kejelasan informasi Sean." Jelasnya.
Tugas yang bertambah berat, ternyata bukan hanya Barbara yang menghilang, tapi juga Sean. Tiga orang yang bingung harus bagaimana, dengan kompak mengatakan dalam hati mereka."Harus minta uang lebih."
*
Beberapa lama kemudian, sembilan gelas minuman sudah ada di atas meja. Mereka telah kekenyangan dengan air. Lama, benar-benar lama, entah apa yang dilakukan sang detektif.
Hingga pada akhirnya pintu terbuka. Seseorang melangkah masuk, seorang wanita dengan pakaian ketat. Memakai kacamata hitam dengan jubahnya. Duduk di hadapan mereka.
"Jadi kalian mencari Sean?" tanyanya to the points.
"I...iya, kakak foto model ya?" tanya Evi kagum.
"Saya teman Sean, lebih tepatnya detektif yang disewa Sean." Jawaban dari mulutnya.
__ADS_1
Pria yang pintar memilih detektif, mendapatkan diskon besar-besaran setelah sang detektif jatuh hati padanya, walaupun belum pernah berhubungan ranjang. Tapi setidaknya Sean memberikan harapan palsu. Benar-benar playboy tengil sejati.
Cahaya menghela napas kasar memukul kepala Ragil yang hampir meneteskan air liurnya.
"Dasar mata keranjang!" batin sahabat yang tidak cemburu itu. Dirinya hanya ingin Ragil lebih konsentrasi pada kasus. Hanya perasaan kesal kala pemudanya itu mengagumi kecantikan wanita lain.
"Begini, kami dimintai tolong oleh seseorang yang bernama Fujiko untuk bekerja sama dengan Sean, mencari keberadaan Barbara. Tapi Sean menghilang apa kamu ada petunjuk?" tanya Cahaya.
"Sebenarnya tidak ada, hal terakhir yang dilakukan Sean, menugaskan ku untuk memperbesar salah satu foto Barbara. Setelah itu dia menghilang, aku juga memiliki beberapa klien lain. Jadi belakangan ini aku sibuk. Setelah tidak mendapatkan tugas lagi darinya, aku berniat menemuinya tapi dia tidak ada. Aku juga sudah terlanjur tandatangan kontrak, menyelidiki kasus perselingkuhan di luar kota. Sore ini harus berangkat, maaf tidak dapat membantu." Ucap sang wanita yang memang terlanjur mengambil dua kasus. Menyodorkan foto Barbara yang telah diperbesar.
Dengan cepat Cahaya menutup mata Ragil. Dirinya tidak ingin jiwa kekasih, maaf salah sahabatnya ini tercemar.
"Aku permisi dulu. Sekali lagi maaf, dan sampaikan salamku pada Sean jika dia sudah ketemu." Wanita itu mengedipkan sebelah matanya, kemudian berjalan keluar dari ruangan.
Cahaya menatap foto itu dengan seksama tapi tidak ada petunjuk sama sekali. Meminta tolong pada Ragil nanti pacarnya, maksudnya sahabatnya melihat foto syur wanita lain.
*
Pada akhirnya dirinya menyimpan foto itu dengan Evi. Dua hari berlalu tidak ada petunjuk sama sekali. Tidak terfikirkan apapun mereka berdua benar-benar buntu.
Hingga ada saatnya mereka berkumpul di kamar Ragil sepulang kuliah pada akhirnya menyerah, meminta bantuan sang pemuda.
Mata Ragil menelisik."Gila, bodynya!"
Plak!
Satu pukulan mendarat di kepala Ragil. Dilakukan oleh Cahaya."Fokus!" bentaknya.
Ragil menghela napas kasar mengamati apa yang aneh dari foto yang telah diperbesar itu. Setiap sudut ditelitinya hingga suara celetukannya terdengar."Gila, panjang!"
"Jangan ngeres!" bentak Cahaya kembali.
"Bukan nama pelukisnya yang panjang. Kalian baca saja, Wiranto Mangun Sarkoro Wijaya Winata Kusuma Mangku Dirjo Sabto Winangun Karto Joyo. Petugas catatan sipil pasti bingung menulis namanya." Ragil menghela napas kasar.
__ADS_1
"Kamu memang pintar!" dengan cepat Cahaya memeluk pacarnya. Maaf salah calon pacar, rangkap sahabatnya.