Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Stay


__ADS_3

Bingung harus bagaimana. Raka yang tidak ingin nama sang kakek terbawa-bawa mengingat ada kemungkinan kakeknya terlibat. Tapi di sisi lain dirinya juga ingin menemukan sang ayah. Hanya dapat menghela napas kasar bingung harus bagaimana.


Mengatasi pernikahan yang akan berlangsung kurang dari dua minggu lagi. Wajah Fujiko yang tengah tertidur di kursi penumpang bagian belakang di liriknya. Seorang anak bernama Fadil berada di samping istrinya. Anak berusia 8 tahun yang cukup pintar dan penurut. Anak kecil ini akan menjadi adik iparnya? Raka hanya dapat menghela napas kasar jika itu adalah titah yang mulia istri.


Hingga hari mulai sore, mobil itu akhirnya terhenti di tukang martabak dekat rumah Fujiko. Membeli martabak manis dan martabak asin sekitar 10 bungkus.


Tumben si kikir royal? Sejatinya sebagian untuk Evi, Ragil dan Cahaya yang baru mengirim pesan sudah dalam perjalanan kembali ke tempat kost. Menemukan jejak terakhir Patra yang pernah menginap beberapa kali di hotel berbeda dengan seorang wanita.


Tidak hotel tetap, lebih tepatnya berpindah-pindah. Informasi yang sangat berarti, setidaknya sang ayah tidak tertangkap. Itu artinya lebih aman bergerak jika yang ada di tangan Nadila hanya Barbara.


Apa yang akan dilakukan Raka? Bagaimana pun Nadila adalah public figure. Apa yang diucapkannya dapat dianggap kebenaran oleh fans fanatiknya.


Karena itu langkah lain akan diambilnya nanti. Pada akhirnya mobil itu sampai di depan rumah Fujiko. Terlihat Tari membukakan pintu gerbang, masih dengan seragam karyawan rumah sakit.


Sedangkan seorang ibu-ibu yang sedang membujuk anaknya masuk ke rumah karena hari sudah senja. Menatap aneh, kemudian berjalan ke warung depan dengan cepat, setelah mengambil uang 2000 rupiah.


"Bu...saya mau beli Ch*tato rasa barbeque buat anak saya." Alasannya pada penjaga warung, menyodorkan uang 2000 rupiah.


Tapi belum beranjak pulang juga."Buk, masak tadi saya lihat suaminya Fujiko yang kemarin dari kampung bawa mobil. Mobilnya mewah lagi."


"Mungkin karena jadi TKI, saya dengar-dengar Raka berangkat jadi TKI. Pak Firman sendiri yang bilang." Celoteh penjaga warung hendak menghentikan gosip.


"Mana ada gaji TKI sebesar itu! Gaji TKI paling sampai belasan juta. Kecuali punya jabatan yang lumayan." Ucap seorang ibu yang memakai kacamata.


"Benar juga ya? Apa mungkin mereka ikut pesugihan?" tanya ibu-ibu yang baru datang dari kondangan memakai kebaya.


"Iya! Masak jadi TKI beberapa bulan sudah jadi kaya. Mungkin jadi TKI-nya di gunung S*lak, nyembah dedemit, cari tumbal. Kemarin ada tuh kejadian kayak gitu, keluarganya habis dijadikan tumbal." Ibu-ibu berbaju pink ikut bergabung.


"Itulah akibatnya menikah ke keluarga matre. Lihat! Anaknya pak Firman nggak bener semua cuma mandang duit." Ucap ibu-ibu berkacamata.


"Kalian juga sama mandang duit. Coba kalau dua bulan suaminya nganggur nggak kasih nafkah, kalian juga ogah kan ngelirik? Kalau sudah dikasih uang langsung kopi disediain, nasi diambilin, air hangat buat mandi disediain, lipstik buat bergaya di ranjang pun dijabanin." Sindir penjaga warung, membuat kumpulan ibu-ibu itu melotot ke arahnya.


"Kok jadi bela orang sesat sih!" bentak ibu-ibu berkebaya.

__ADS_1


"Kita jadi orang realistis saja. Coba fikir kalau pesugihan, pelihara tuyul dan penggandaan uang bisa bikin kaya, seharusnya orang terkaya di dunia itu dukun semua, bukan pengusaha. Lagipula buat apa dukun bagi-bagi ilmunya, mending kaya sendiri saja gandain uang sendiri daripada gandain uang orang." Kata-kata masuk akal dari penjaga warung yang tiba-tiba mengeluarkan phonecellnya.


"Tapi walaupun harus realistis. Sebenarnya jin, makhluk mistis itu ada, gimana kalau kamu dijadikan tumbal nanti?" ucap ibu-ibu berbaju pink.


"Saya berfikiran tentang kenyataan saja. Pak Firman tidak pernah ngutang, sedangkan catatan hutang kalian selalu ada setiap bulannya. Kenapa mau bayar hutang atau mau belanja? Dari tadi cuma satu orang yang belanja, itupun cuma 2000." Mulut pedas penjaga warung komat-kamit, membuat semua orang salah tingkah. Pada awalnya mereka yang ingin mendengarkan hot news, harus membeli sesuatu untuk mempertahankan gengsi.


Semuanya mengambil satu barang dan hampir kompak mengatakan.


"Ngutang dulu ya bang..."


Hanya penjaga warung yang dapat menghela napas mengeluarkan buku hutangnya, menatap rentetan nama dan total bon yang menumpuk.


"Gosip aja cepet!" gerutunya, menatap kepergian ibu-ibu itu yang menyebar ke segala arah.


*


Pintu gerbang dibuka oleh Tari, membiarkan mobil adik iparnya tersayang masuk. Senang sekali rasanya, lega, berbagai perasaan campur aduk ketika mengetahui adiknya menikah dengan konglomerat. Itu artinya kehidupan Fujiko akan terjamin, tidak akan mengalami kesulitan finansial.


Hingga pada akhirnya memasuki ruang tamu. Seperti Dwi dan Fumiko berada di sana, pria yang tengah membatu kekasihnya memakai obat merah, setelah berusaha memasak kepiting hidup.


"Seharusnya memang begitu, aku lapar," Pria tambun dengan rambut yang hampir botak itu hendak mencomot martabak. Namun dengan cepat Fumiko memukul jarinya.


"Ingat! Kolesterol!" tegas Fumiko, tengah berusaha melakukan diet ketat pada kekasihnya.


"Iya!" Dwi hanya dapat menelan ludahnya saja, sambil menghela napas berkali-kali.


Hingga satu orang lagi hadir, membawa anaknya kecil. Pria berbadan tegap, dengan wajah terlihat dewasa rupawan. Dialah sang kapten, pria yang keluar hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan, dengan rambut setengah kering.


"Ada martabak," ucap Anwar mengambil martabat manis.


"Aku kira cuma Dwi? Kamu tinggal disini?" Fujiko mengenyitkan keningnya.


"Kami tinggal di bekas kamarmu! Berdempetan bertiga, Jovanka, sedang praktek di rumah sakit." Ucap Dwi dengan mulut penuh, mengambil martabak asin saat Fumiko lengah.

__ADS_1


"Aku mencemaskan Rosita, setelah hal yang terjadi kemarin. Ini peringatan dariku, tapi orang yang merencanakan semua ini cukup pintar. Semua bukti tentang penculikan hilang dalam waktu 15 menit." Gumam Anwar mengingat dirinya yang sempat melapor pada petugas kepolisian. Tapi tempat yang akan dijadikan tempat penyekapan tidak ada jejak sama sekali. Bahkan orang-orang yang sudah tertembak juga menghilang.


Fadil masih terdiam duduk di samping Fujiko."Kak aku minta satu."


Fujiko mengangguk mengambilkan untuknya."Mulai sekarang kamu akan tinggal disini. Beradaptasi pelan-pelan, mereka semua orang baik." ucapnya menyakinkan.


Anak itu hanya tertunduk sambil memakan martabak. Apa ini akan menjadi keluarganya? Entahlah, masih terasa asing baginya. Hingga anak Anwar yang hampir seumuran mengajaknya bermain di tangan lain bersama.


"Omong-ngomong Sean datang kemari mencarimu. Katanya dia ingin meminta bantuan soal menghilangnya Barbara." Fumiko menghela napas kasar, dengan masker masih bertengger di wajahnya.


"Sean apa hubungannya dengan Barbara?" tanya Fujiko belum mengerti.


"Dia teman seseorang bernama Barbara. Katanya dia dibayar mahal untuk menikah denganmu. Tapi karena kamu sudah menikah dengan Raka, Sean berniat mengembalikan uangnya. Tapi sayangnya Barbara menghilang." Fumiko meminum teh yang diambilkan Tari pelan tidak ingin maskernya pecah. Inilah nikmatnya hari minggu dapat berbaring di rumah, dengan kekasih yang memanjakan.


"Lalu apa yang Sean temukan?" tanya Fujiko lagi, benar-benar bersemangat ingin memberantas calon madu dari suaminya.


"Aku menyuruhnya memeriksa kembali foto yang dikirim dari phonecell Barbara ke phonecell Imanuel. Tanggal dan waktu pengiriman yang sama, mungkin akan ada petunjuk." Kata-kata dari mulut Fumiko, dengan pelan, sekali lagi tidak ingin maskernya pecah.


"Apa kamu punya alamat rumah atau restauran milik Sean?" tanya Raka. Fumiko bangkit kemudian, mengambil kartu nama di dalam kamarnya, memberikannya pada Raka.


Pemuda yang super sibuk itu kemudian mengirimkan misi baru pada detektif kepercayaannya. Menghela napas kasar, sudah mengirim DP pada sang detektif profesional. Detektif dengan bayaran tertinggi versi Raka.


*


Bug!


Hari ini ketiga orang itu beristirahat di kamar Cahaya. Menghela napas berkali-kali, setiap petunjuk yang didapatkan akan menjadi uang. Jika berhasil memecahkan misteri maka akan mendapatkan bayaran yang besar.


"Ada misi!" Ucap Ragil bangkit setelah memastikan uang jajan masuk ke rekening mereka.


Apa misi mereka? Bekerja sama menemukan Barbara dengan Sean. Dengan peringatan, akan ada bonus tambahan nanti. Mengingat Adelio (ayah Barbara) juga mencari keberadaan putrinya.


"Apa misinya!?" tanya Cahaya.

__ADS_1


"Menemukan seseorang yang bernama Sean. Kemudian bekerja sama dengannya, menyelamatkan seseorang yang bernama Barbara," Jawab Evi.


__ADS_2