Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Papa, Da! Da!


__ADS_3

Perlahan Imanuel terbangun. Ini hari kedua Reina dan Egie tidur di kamarnya. Entah kenapa terasa nyaman baginya. Pemuda yang mulai duduk merapikan anak rambut Reina.


Menghela napas kasar."Aku memang harus segera pulang sebelum terjebak di sini,"


Menyadari dirinya semakin hari semakin terikat dengan ibu dan anak ini. Tapi dirinya hanya dapat menghela napas lega, mungkin karena tidak ada orang di sekitarnya.


Besok dirinya akan menginap di apartemen temannya, yang seharusnya baru datang dari liburan di Belanda, mengingat kakinya yang sudah sembuh. Setidaknya sedikit sakit walaupun bengkaknya sudah menghilang.


Uang sewa kembali diletakkannya. Walaupun baru melebihi satu minggu. Anggap saja ini adalah kemurahan hati untuk janda dan anak yatim. Pemuda yang bangun pagi-pagi buta hanya meletakkan secarik kertas, serta selembar uang seratus dolar.


Tidak ada yang dibawanya. Kembali mengenakan kemeja putih dan celana panjangnya yang telah dicuci. Bahkan baju almarhum Rian yang dibelinya dari Lastri diletakkannya kembali.


Dirinya akan menghilang seperti tidak pernah ada, keren bukan? Mungkin janda gatal ini akan merasa kehilangannya. Matanya menelisik saat akan pergi, celingak-celinguk tidak ingin ketahuan dirinya tidak pilih ketika khilaf.


Satu kecupan mendarat di bibir Reina yang masih memejamkan mata, memeluk Egie. Ini adalah hari terakhirnya tinggal di sini. Tidak ada yang salah, hanya saja dirinya memang harus kembali.


Mengapa dari awal tidak menginap di apartemen temannya? Alasannya dirinya tidak mudah akrab, hanya memiliki sedikit teman yang dapat dipercaya. Salah satu temannya yang dapat di percaya mungkin hanya Dede yang seharusnya sudah datang kemarin.


Dirinya berjalan hingga area depan rumah."Terimakasih," hanya satu kata yang terucap untuk orang yang mau menyembunyikannya ramah padanya beberapa minggu ini. Dirinya kembali melangkah, di pagi buta yang dingin.


Hingga menunggu angkot yang seharusnya menuju halte bus. Desakan-desakan merupakan hal biasa. Dirinya hanya dapat menghela napas ketika mencium bau ikan asin.


Hingga dirinya kembali mendengar hot news.


"Anaknya pak lurah besok mau lamaran," ucap seorang ibu-ibu yang membawa tas belanjaan plastik. Mungkin belum melaksanakan himbauan pemerintah tentang pengurangan sampah plastik.


"Lamaran? Lukman yang pegawai negeri itu? Aduh! Udah ganteng! Gagah! Berseragam lagi!" ibu-ibu kantoran yang memakai seragam pegawai pemerintahan ikut nimbrung.


Imanuel hanya dapat menghela napasnya. Masa bodoh dengan gosip di kampung ini. Papa yang benar-benar melupakan tentang mantan pacar mama.


Hingga angkot berhenti di halte bus, dirinya mulai memakai masker, menyembunyikan wajah glowingnya. Tidak ingin karena wajah rupawannya dirinya mati. Mungkin ganteng juga merupakan suatu musibah.

__ADS_1


Hingga bus berhenti di hadapannya. Dirinya sebenarnya ragu untuk masuk, entah kenapa langkah kakinya berat. Apa dirinya diikuti dedemit hingga sulit melangkah?


Sejatinya tidak, dirinya tidak begitu rela meninggalkan tempat ini. Hingga pada akhirnya Imanuel mengepalkan tangannya, menaiki bis yang mulai melaju.


Hingga beberapa meter bis berjalan. Hatinya masih terasa berat.


Suara kecil anak yang menangis mulai di dengarnya. Imanuel membulatkan matanya, menatap ke arah jendela.


"Papa! Papa! Da! Da!" sang anak yang digendong ibunya menangis, tangan kecil yang melambai mengantar kepergian Imanuel.


Reina hanya sempat mengejar beberapa meter dari saat bis melaju, sambil menggendong tubuh putranya. Wanita itu tersenyum dengan tangan melambai, mungkin isyarat mengucapkan selamat tinggal.


"Papa! Papa! Da! Da!" anak itu tetap menangis sesenggukan sambil melambaikan tangannya. Seorang anak keras kepala yang masih menyangka Imanuel adalah ayahnya yang tidak kunjung pulang dari melaut.


Sejatinya Reina sudah terbangun dari Imanuel bersiap-siap untuk pergi. Dirinya tidak ingin mencegah hanya mengucapkan salam perpisahan. Mereka tidak memiliki hubungan yang mengikat. Hanya saja senyuman yang terlihat di wajah Reina memang terasa terlalu berat.


"Mama! Mama! Papa pergi melaut lagi! Papa tidak sayang Egie!" ucap anak itu menangis lirih.


"Mama, jadi dia bukan papa Egie? Papa Egie sudah tidur di rumah Tuhan?" tanya anak itu. Dengan cepat Reina mengangguk, anak yang masih menangis mulai meruntuhkan ego, menerima kenyataan kepergian ayahnya.


Reina menatap ke arah langit biru yang luas. Dirinya benar-benar tidak berharap apapun, cukup lelah untuk segalanya. Tidak ada yang dapat dilakukannya selain kembali mengantar putranya untuk mengirim doa pada almarhum Rian. Pemuda yang mungkin sudah tenang di sisi-Nya.


*


Sementara itu Imanuel mengepalkan tangannya. Tidak menoleh sama sekali, air matanya tiba-tiba mengalir tidak terkendali. Jujur saja, setelah mengetahui anak yang diharapkannya tidak pernah ada, pemuda itu tanpa sadar meletakkan Egie di dalam hatinya. Bukan hanya Egie, pemuda itu belum juga sadar, dirinya perlahan bergantung pada Reina.


Dengan prinsip papa tidak sayang mama, dirinya menghapus air matanya."Aku tidak boleh cengeng! Setelah ini pulang, merebut semuanya dari Raka dan menikah dengan putri konglomerat!" ucapnya percaya diri.


Tapi apa bisa? Hingga bus terhenti dirinya enggan untuk turun. Tapi tetap saja, ini adalah apartemen mewah, bukan rumah sederhana seperti yang beberapa hari ditempatinya.


Berendam di bathtub, berenang, main bowling, semua ada dalam benaknya saat ini. Berjalan tanpa membawa apapun hendak menemui temannya yang bernama Dede.

__ADS_1


Tombol lift ditekannya, menunju unit tempat Dede berada. Tentunya setelah konfirmasi dari pihak security.


Bel ditekannya beberapa kali. Hingga pada akhirnya pintu apartemen terbuka. Seorang pemuda bertubuh tinggi kurus terlihat di sana, nyengir kuda bagaikan orang aneh.


"Tumben kemari?" tanya Dede, pemuda yang berprofesi sebagai produser film, memberi jalan agar Imanuel bisa masuk.


Tanpa basa-basi Imanuel membaringkan tubuhnya di sofa, menatap ke arah langit-langit ruangan."Rahasiakan aku ada disini dari semua orang," ucapnya tiba-tiba.


"Ada masalah apa? Kamu kabur dari rumah?" tanya Dede, duduk kembali memeriksa naskah yang baru dikirimkan.


"Ada yang berusaha membunuhku, paman Patra dan Barbara juga mungkin sudah tertangkap. Pelakunya tunanganku, tapi dari segi keuntungan aku yakin Raka juga terlibat." Jelasnya.


"Keluarga konglomerat yang rumit. Untung saja aku anak daerah yang mandiri, jadi tidak perlu berebut harta warisan." Jawaban tenang dari sang pria jangkung.


"Memang kamu tidak berebut harta warisan?" tanya Imanuel.


"Ayahku punya berhektar-hektar tanah, usahanya juga ada banyak. Tapi adikku ada 11 mereka bahkan tetap sekolah dan kerja di toko atau lahan sekalian menjaga bagian warisan mereka nanti. Jadi dari awal aku pasrah, lebih baik untuk mereka saja. Aku hanya minta biaya kuliah, setelah lulus kerja, lihat sekarang, aku bahkan sudah punya lima apartemen yang disewakan di tempat strategis. Belum lagi beberapa ruko, intinya mereka lebih memilih meminta ikan berebut bagian mereka, sedangkan aku meminta pancing pada orang tuaku." Jawaban santai dari Dede.


"Aku juga tidak mengerti apa maunya Raka sampai-sampai ingin menangkapku. Omong-ngomong dimana istri dan anakmu?" tanya Imanuel dengan mata menelisik.


Sejenak Dede ya terlihat fokus meletakkan kertas di tangannya."Kami bercerai."


"Kenapa?" tanya Imanuel tertarik, pasalnya wanita desa yang dinikahi Dede terlihat begitu menempel dan penurut. Apa Dede yang menceraikannya?


"Wanita yang baik akan melakukan apapun untuk anaknya. Beberapa kali aku tidak membawanya ke pesta, mengaku masih singgel di depan teman-temanku. Tapi dia masih terima dan bertahan. Melayani setiap aku sakit, merawat anak kembar kami dengan baik. Tidak pernah dia mengecewakanku. Bahkan saat aku ketahuan selingkuh dengan artis, dia memaafkan ku dengan mudah." Dede tersenyum lirih dengan air mata yang mengalir.


"Tapi kesalahan yang paling besar aku lakukan. Istriku menghubungiku berkali-kali mengatakan si kembar sakit. Tapi aku hanya mengira demam biasa, istriku melebih-lebihkan. Hingga aku menonaktifkan handphoneku. Kamu tau hal yang terjadi sebenarnya? Si kembar terkena demam berdarah, mengalami pendarahan hebat, mereka kritis dan memerlukan donor darah. Tapi stok darah tidak cukup, pada akhirnya salah satu dari putraku mengalami koma, pada akhirnya meninggal."


"Istriku tidak tersenyum lagi setelahnya. Saat aku pulang hanya surat cerai yang tersisa. Tau butter fly efect? Hal kecil yang kita lakukan dapat merubah masa depan. Jika saja waktu itu aku membiarkan phonecellku aktif, salah satu putraku tidak akan meninggal, aku dapat mendonorkan darah untuknya. Istriku juga akan tetap disini. Dia sudah pergi kembali ke desa bersama putraku yang masih hidup. Aku bersimpuh dan memohon, tapi dia tetap pergi, memutuskan untuk bercerai denganku."


"Pada akhirnya aku kalah, dia hanya seorang wanita biasa. Tidak cantik, cenderung cerewet dan galak, bahkan mata duitan. Tapi nyatanya tempat ini terasa kosong tanpanya. Tepatnya bukan tempat ini. Tapi disini." Jelas Dede menyentuh dada kirinya sendiri. Nyatanya menenangkan dirinya di Belanda tidak ada hasilnya sama sekali. Dirinya semakin merindukan istri dan anaknya.

__ADS_1


Sedangkan Imanuel hanya terdiam mendengarkan. Entah apa yang ada di fikirannya saat ini.


__ADS_2