Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Kebal


__ADS_3

Segalanya terlihat berbeda kali ini setelah menghilangnya Ragil. Pintu mobil mulai terbuka, sang pemuda yang mulai berjalan memasuki area restauran.


Menghela napas berkali-kali menetralkan emosinya. Dirinya harus bicara dengan Nadila kali ini. Dengan cepat melangkah, tidak menyadari langkahnya kali ini diikuti seseorang.


Hingga pada akhirnya Raka menghentikan langkahnya."Aku bilang tunggu di mobil!" perintahnya pada yang mulia istri.


"Aku tidak bisa membiarkan kalian makan malam berdua. Bagaimana jika dia mencampur makanan mu dengan sesuatu, kemudian kalian melakukannya. Nadila hamil anakmu, kalian menikah, perlahan kamu mulai mencintainya. Kemudian mengusir ku, dan anak kita. Pada akhirnya ketika kamu mati, anakku tidak mendapatkan bagian warisannya." Jelas wanita materialistis itu panjang lebar.


"Aku tidak akan berselingkuh dengannya." Tegas Raka.


"Kenapa tidak akan? Walaupun pendek dan hidungnya sedikit mengembang, tapi tampangnya lumayan." Sungut wanita yang selalu hidup di lingkungan empat bidadari itu.


"Uangku tidak cukup untuk memiliki dua istri." Jawaban serius dari Raka, dirinya tidak berbohong sama sekali. Membahagiakan satu istri saja sulit, apalagi membahagiakan dua istri.


"Jadi kalau uangmu cukup, kamu mau punya istri dua?"sungut Fujiko terlihat kesal.


Raka menghela napas kasar, beginilah nasib seorang pria. Jika memberikan jawaban jujur maka wanita akan marah, jadi bagaimana jika berbohong?


"Iya, aku mau punya istri dua. Kenapa kamu cemburu?" dusta Raka, dengan jari ada di dagu Fujiko.


"Dasar kikir! Brengs*k istri sedang berjuang untuk hamil tapi suami malah---" Fujiko melepaskan sepatunya, hendak mengejar Raka. Hingga langkah mereka terhenti menatap ke arah Nadila yang telah berdiri di depan pintu masuk restauran.


Wanita yang hanya menatap tanpa ekspresi. Tidak seperti biasanya yang dipenuhi senyuman palsu saat berhadapan dengan Raka. Kali ini hanya raut wajah dingin itu yang terlihat. Tidak dapat dimengerti sama sekali. Raka sedikit membenahi penampilannya berjalan diikuti oleh Fujiko.


Dua orang yang menghela napas kasar. Jika dugaan Evi dan Cahaya benar, maka mayat paman Raka yang ditemukan terkubur di tengah hutan adalah perbuatan Nadila yang hanya ingin mencari informasi tentang Fujiko.


Tapi apa tujuannya? Entahlah, wanita itu kini duduk setelah memesan beberapa menu. Seperti biasanya wajah cantik dengan penampilan anggun itu memotret makanan yang dipesannya untuk diunggah di media sosial. Kemudian mengangkat phonecellnya tinggi-tinggi mengambil fotonya sendiri.

__ADS_1


Raka dan Fujiko saling melirik, benar-benar pembunuh keji yang aneh. Siapa sangka wanita langsing, cantik, dengan senyuman menawan sepertinya adalah pembunuh berdarah dingin.


Pada akhirnya dari pada lapar, Raka membuka kotak bekalnya. Sedangkan Fujiko hanya memesan menu yang paling murah. Dua orang yang sudah mulai sepaham tentang arti yang sebenarnya.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu membuat pasangan suami-istri tersebut mengenyitkan keningnya sambil terus makan.


"Nadila---" Kata-kata Fujiko disela.


"Makan dulu, jika sudah selesai makan aku baru akan mulai bicara." Tegasnya, membuat Fujiko terdiam.


Pada akhirnya mereka hanya makan dengan tenang. Hingga semua hidangan telah tandas.


"Nadila, sebenarnya---" Kalimat Raka terpotong.


"Aku tidak mencintaimu atau Imanuel. Jangan terlalu besar kepala," Kata-kata dari mulutnya yang sejatinya tajam.


"Lepaskan Ragil! Kamu menahannya kan!?" tanya Raka menatap lekat wanita di hadapannya.


"Bisa kamu tetap menikahiku? Tidak ada pesta pernikahan sesungguhnya. Hanya resepsi, undang seseorang bernama Dwiguna datang. A...aku akan memberikan setengah aset yang aku miliki untuk kalian," ucapnya putus asa, dirinya sudah memikirkannya semalaman. Melawan Raka secara terang-terangan? Itu membutuhkan waktu dan jumlah uang yang besar.


Jika menang pun tujuannya akan sulit tercapai. Jemari tangannya mengepal, bersungguh-sungguh, hanya kali ini. Dirinya ingin menyaksikan sendiri kematian Dwiguna. Pria yang telah menghancurkan hidupnya, membunuh kekasihnya, tanpa menerima hukuman sedikit pun. Tangannya mengepal, memilih jalan salah untuk segalanya.


"Raka menghela napas kasar. Apa tujuanmu?" tanya Raka pada wanita di hadapannya.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Dwiguna, tapi tidak memiliki kesempatan. Dia adalah cinta pertamaku." Dustanya, dengan raut wajah penuh senyuman.


Fujiko mengenyitkan keningnya mencoba mengingat-ingat nama yang sepertinya familiar. Perlahan wanita itu membulatkan matanya."Dwiguna yang memakai kacamata kan? Punya sedikit kumis? Dia itu mantan pacarku." Ucap penjelajah cinta sejati itu terkekeh. Membuat Nadila dan Raka menoleh ke hadapan sang wanita materialistis sejati.

__ADS_1


"Ma... mantan pacar?" Raka memastikan pendengarannya. Dengan cepat Fujiko menutup mulutnya sendiri merasa salah bicara.


Perlahan yang mulia istri tersenyum."Kak Raka sendiri punya berapa mantan?"


"Aku cuma pernah pacaran sekali!" geramnya.


"Nadila pasti juga pernah punya pacar kan?" tanya Fujiko berusaha keras membenarkan tingkahnya dulu yang selalu mencari perhatian pria kaya. Walaupun berakhir gagal, bahkan sebelum berciuman sekalipun. Bagaikan sebuah kutukan dari pasangan kumpul kebonya ketika kecil. Kala dirinya mendatangi pangeran di rumah pak kades.


"Pernah," jawaban dingin darinya membuat Fujiko tertunduk.


Raka menghela napas kasar."Lepaskan Ragil! Atau---"


"Atau apa? Menghubungi polisi? Atas tuduhan apa? Apa ada yang akan percaya aku membunuh bahkan menyekap orang?" tanya Nadila tersenyum penuh keangkuhan.


Pemuda itu meminum segelas air putih di atas meja. Kemudian kembali menatap ke arah Nadila."Aku tidak bisa mengundangnya. Dia musuh dari keluargaku."


"Fujiko, kamu ingin Ragil, Barbara dan Sean kembali kan?" tanya Nadila pada wanita yang berhadapan dengannya.


"A...aku ingin tapi ada alasan tersendiri kenapa aku putus dengannya. Dia membawaku ke pesta pribadi di sebuah villa pulau terpencil. Ada beberapa wanita disana yang berhubungan dengan pria dalam keadaan mabuk. Saat melihatnya aku langsung melarikan diri ketakutan. Dia sempat menahan ku bahkan mengerahkan pengawalnya, tapi---" Fujiko menghentikan kata-katanya sejenak bingung bagaimana harus bercerita.


"Tapi?" Raka mengenyitkan keningnya. Tidak mengerti, dengan kecantikan Fujiko tidak mungkin Dwiguna melepaskannya dengan mudah. Tapi seingatnya saat malam pertama Fujiko masih perawan. Apa yang terjadi? Apa Dwiguna, CEO tampan, dingin, pintar, perayu wanita sejati mengalami impoten?


"Aku terkejut, karena melihat teman-temannya, berhubungan dalam keadaan mabuk di tangga, di sofa bahkan di dinding ruang tamu. Terlebih lagi para pengawal yang tiba-tiba mencegahku pergi. Jadi..." Fujiko kembali bingung bagaimana harus bercerita.


"Jadi?" Raka mengenyitkan keningnya.


"Jadi karena terlalu terkejut. Kentutku lebih besar dari biasanya. Teman-teman Dwiguna keluar dari villa dalam keadaan tanpa pakaian. Muntah-muntah, sedangkan Dwiguna juga sama muntah juga, sampai lemas. Awalnya dia maklum dan mendekat lagi. Tapi aku malah kentut lagi. Pada akhirnya dia menyewa speed boat untuk mengantarku pulang. Berteriak dan mengumpat katanya aku hanya meracuni udara bersih pulau." Jelasnya.

__ADS_1


"Apa sebau itu?" Pertanyaan aneh dari Nadila. Menanggapi cerita aneh yang baru didengarnya.


"Tidak sebau itu, setiap malam Fujiko memang sering kentut. Tapi tidak terlalu bau." Kalimat dari Raka membuat Fujiko semakin kagum padanya. Padahal sejatinya Raka tidak mencium bau mematikan itu karena sudah kebal.


__ADS_2