Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Rukun


__ADS_3

Anak itu masih menangis hingga kini."Aku ingin dengan ibu..." ucapnya.


Fujiko menghela napas kasar mensejajarkan tingginya dengan Fadil. Dirinya memaklumi menatap Reina yang tertunduk, Imanuel yang masih terdiam dengan berpura-pura memainkan phonecellnya, padahal tangannya gemetar saat ini.


Mengapa tidak Reina saja? Reina baru menjalin hubungan dengan Imanuel, tidak ada yang pasti dalam hubungan ini. Selain itu dirinya merasa tidak sanggup, janda satu orang anak, ditambah mertua yang menderita diabetes? Belajar bertanggung jawab sudah dilakukan olehnya. Bukan hal yang mudah, dirinya ingin membawa Fadil. Tapi sekali lagi, beban hidup yang ada di pundaknya tidak ringan. Hubungan dengan Imanuel? Dapat kandas kapan saja, mengingat perbedaan status dan sifat Imanuel yang bergantung pada keluarganya.


Tidak ada yang pasti dalam masa depan, mungkin dalam asuhan orang lain Fadil akan dapat makan ayam goreng sepuasnya, sedangkan jika bersamanya hanya mendapatkan tempe sayuran dan ayam yang dibagi.


Dirinya belajar lebih dewasa perlahan, jika tidak yakin dapat membahagiakannya, tidak boleh menghalangi kebahagiaannya. Jika mencintainya, cukup awasi apa dia sudah bahagia? Jika tidak bahagia, hanya dapat bersiap menjadi rumah untuknya kembali.


Sedangkan Imanuel, bibirnya bergetar. Merasa iba pada anak dengan tubuh kurus. Tapi untuk mendapatkan restu dari ibunya akan jauh lebih sulit. Janda satu anak dari kalangan menengah ke bawah? Ibunya akan langsung menamparnya, sedangkan ayahnya akan mengeluarkan pedang samurai, bersiap menyerangnya.


Tidak, dirinya harus tega tidak mengadopsi anak ini. Walaupun dirinya ingin."Fu... Fujiko, jika hubunganku dan Reina sudah direstui, boleh aku mengadopsi Fadil sebagai anak kami?"


"Tidak! Tidak perlu cemas! Aku serius saat mengatakan ayahku kesepian. Ketiga kakakku mengulur waktu untuk menikah karena tidak ingin meninggalkan ayah sendiri. Dengan keberadaan Fadil setidaknya ayah punya kesibukan." Fujiko tersenyum, menghapus air mata Fadil.


"Kenapa menangis?" tanya Fujiko padanya.


"I...ibu mengatakan jika bukan dia tidak akan ada uang mau merawatku. Orang tuaku saja membuang ku di truk pengangkut pasir." Jawabnya menangis.


"Kamu tau, kamu anak adopsi?" Fujiko kembali bertanya.


Fadil mengangguk."Ibu selalu mengatakan itu, semenjak kepergian nenek."


Fujiko tersenyum, kemudian memeluknya erat."Jika saja rumah tanggaku dan suamiku tidak sedang dalam masalah, kami yang akan membawamu tinggal bersama. Tapi kamu sepertinya memang ditakdirkan menjadi adikku. Nanti jika aku punya anak akan memanggilmu paman ya?"


"A...aku, apa ada orang yang meneri---" Kata-kata anak itu dipotong.


Fujiko melepaskan pelukannya, meraih phonecellnya. Melakukan video call.


"Ayah aku membawakan oleh-oleh untuk ayah!" ucap Fujiko penuh semangat.


"Hadiah?" Firman yang masih berada di toko elektronik mengenyitkan keningnya.

__ADS_1


Fujiko menarik tangan seorang anak."Ini kejutannya!"


"Kamu pedofil? Anak itu masih terlalu muda! Apa kamu bermasalah dengan Raka!? Tapi bukan ini jalan keluarnya!? Kamu bisa ditangkap polisi jika melakukan hal menyimpang!" bentak sang ayah dari seberang sana. Tegas dalam mendidik putra-putrinya yang benar-benar nakal dalam menggoda pria.


"Aku akan mengadopsinya untuk ayah. Dia ditelantarkan orang tua angkatnya. Ayah tau situasiku dan Raka kan? Jika ada ada yang atau ada anak diantara kami maka semuanya akan hancur." Jelas Fujiko.


Firman membulatkan matanya, pria yang terlihat mengatur nada bicaranya. Dibuat secadel mungkin agar akrab dengan anak kecil."Hai! Aku teman paman Santa, kamu mau berteman denganku? Nanti akan ada mainan dan hadiah!" ucapnya gembira. Sudah bosan pada keempat putrinya.


Fadil mulai tersenyum, berucap dengan ragu."A...apa aku mendapatkan makanan jika tinggal dengan paman?"


Semua orang tertegun dengan kata-katanya termasuk Lastri yang mengetahui segalanya. Bagaimana anak itu dihajar jika merengek sedikit saja.


Firman tertawa kecil, terlihat dari sambungan video call."Kita masak bersama. Menjadi ayah dengan anak laki-lakinya."


Senyuman merekah di wajah anak yang kurus. Anak itu menangis, sesegukan."A...aku mau, tapi jangan dibakar api rokok. Dipukul tidak apa..." ucapnya lirih, memang benar di lengan anak itu terdapat bekas luka bakar kecil dari puntung rokok. Benar-benar tega bukan? Mungkin karena itulah Wiwit dan Dadang belum dikaruniai anak kandung hingga saat ini.


"Tidak ada!" tegas Firman penuh senyuman.


*


Fadil saat ini berada di kamar, masih bicara dengan Firman melalui sambungan telepon. Sementara Egie bermain seorang diri dekat dapur ditemani Lastri yang tengah memasak makan siang, tidak ingin terlibat pembicaraan yang tidak dimengertinya.


Fujiko menghela napas kasar kemudian tersenyum."Dia saudara sepupumu? Kebetulan sekali, bertanggung jawablah! Nikahi wanita yang bernama Nadila sehingga suamiku tidak perlu mencari istri kedua!" geramnya.


"Tidak bisa. Aku memang sudah tidur dengannya sekali ketika mabuk. Jujur aku tidak nyaman dengannya. Hanya saja, aku menyayangi bayi dalam kandungannya. Ingin menjadi ayah, tapi semuanya hanya semu. Nadila sudah melakukan kuret, dia mengalami hamil anggur. Tidak ada janin sama sekali dari awal." Kata-kata dari Imanuel sudah berusaha untuk ikhlas, lagipula dirinya memiliki Egie saat ini.


"Jadi dia tidak hamil? Perempuan si*lan! Karenanya aku harus selalu membuatkan susu ibu hamil. Diperintah, menjadi ipar yang tersiksa!" geram Fujiko mengingat hal-hal yang membuatnya muak.


"Jadi apa yang akan kalian lakukan? Membongkar semuanya? Walau bagaimanapun Imanuel sudah menidurinya. Walaupun keguguran, orang tua Nadila akan tetap meminta pertanggungjawaban." Tanya Reina.


"Jangan bongkar! Ayahku belum ditemukan! Begitu juga dengan Barbara! Meskipun berstatus lebih rendah tapi ayah Barbara mempunyai banyak relasi di Eropa! Aku tidak mau memiliki dendam dengan keluarganya!" tegas Raka, masih merahasiakan dalang masalah selama ini adalah kakeknya.


"Lapor polisi!" celetuk Fujiko.

__ADS_1


"Tetap tidak boleh!" tegas Raka, bagaimana jika kakeknya tertangkap nanti. Kakeknya memiliki penyakit jantung.


"Lalu harus bagaimana?" tanya Fujiko kesal, menoleh ke arah lain.


"Maaf, terpaksa untuk dua minggu kedepan kita seperti ini dulu." Raka menjambak rambutnya sendiri, berharap dapat menemukan ide.


"Seperti ini? Memang apa yang terjadi?" tanya Imanuel penasaran.


*


Beberapa hari yang lalu...


Bug!


Fujiko mulai melangkah masuk menarik kopernya. Dirinya benar-benar bersemangat kali ini. Matanya menelisik menatap ke arah wanita tidak tahu diri yang tengah duduk, terlihat dari tim yang berada di tempat tersebut Nadila baru selesai membuat konten.


Walaupun banyak dari netizen yang menyerangnya karena kejadian di ajang penghargaan dirinya harus berusaha bangkit bukan? Tidak seperti di Korea, jika artis memiliki skandal maka karier akan tamat.


Tidak, belakangan ini dirinya mendapatkan peran antagonis dalam sebuah film layar lebar yang mungkin akan digarap setelah acara pernikahan.


"Fujiko, aku minta maaf soal kejadian kemarin. Aku fikir kalian---" Kata-kata Nadila di sela.


"Tidak apa-apa, aku paham. Teman-temanku memang sudah keterlaluan. Kita masih menjadi teman kan?" tanya Fujiko.


"Tentu saja masih..." Nadila memeluk tubuhnya erat.


Benar-benar dongkol dan menyebalkan rasanya. Isi fikiran yang sama, dua orang dengan tujuan dan kepentingan yang berbeda.


"Dasar calon istri kedua. Aku akan menghabisi mu pelan-pelan, sebelum anakku harus berbagi warisan dengan anakmu." batin Fujiko masih tersenyum.


"Dasar ipar culas! Aku akan menghabisi mu pelan-pelan, membuatmu mati dalam penderitaan. Sebelum kamu mengambil uang Raka lebih banyak," batin Nadila.


Dua orang wanita tamak yang tinggal dalam satu rumah. Pelukan yang benar-benar rukun bukan?

__ADS_1


__ADS_2