
Hujan gerimis mengguyur, tiga cangkir teh hangat berada di sana. Tiga orang mahasiswa menikmati keripik singkong, berbagi menikmati dinginnya cuaca hari ini. Sudah sebulan tidak ada keributan sama sekali. Tidak ada peristiwa menarik ketika sidak.
Srak!
Suara gerbang besi terdengar, ketiga orang yang menoleh antusias. Dua orang itu kembali, ini sudah diduga oleh mereka. Apa yang akan mereka dapatkan sebagai oleh-oleh dari Singapura. Apa pintu ajaib Doraemon? Mengingat betapa majunya teknologi di tempat tersebut.
Hingga bukan kerinduan yang kini terlintas. Menatap dua orang yang menarik koper.
"Mana oleh-olehnya?" pinta Cahaya menadahkan tangan.
Raka menghela napas kasar."Ini sangat penting, sesuatu yang hanya ada di Singapura. Aku yakin setelah kalian mendapatkannya kalian akan menyimpannya di tempat yang aman, bahkan dengan bangga akan memperlihatkan pada teman kalian,"
Raka membuka kopernya, tiga orang yang menelan ludah menerka-nerka oleh-oleh yang akan mereka dapatkan.
"Baju! Aku mohon baju!" batin Cahaya antusias.
"Semoga perhiasan, Bros atau semacamnya," pinta Evi dalam hatinya.
"Barang elektronik tab, mungkin handphone." Kali ini Ragil menatap penuh harap. Mengingat deskripsi Raka tentang oleh-oleh mereka.
Hingga, ke-tiga orang itu hanya dapat bungkam terdiam.
"Ini untuk Evi, Ragil dan Cahaya, semuanya satu-satu simpan dengan baik, karena kalian belum tentu dapat berkunjung ke Singapura." Kata-kata dari Raka penuh senyuman.
Sesuai deskripsi, sesuatu yang akan dengan bangga mereka perlihatkan pada teman mereka. Memang akan mereka simpan dengan baik. Tapi tetap saja, kenapa harus koin 50 sen Singapura?
"Berapa nilai tukarnya?" tanya Evi menatap cahaya melihat ke phonecellnya.
"5.500 rupiah, jadi total satu orang dapat satu hanya cukup untuk membeli bakso satu mangkok bertiga." Gumam Cahaya menatap betapa kikirnya tetangga mereka.
"Fujiko! Kenapa koin? Setidaknya gantungan kunci atau baju!" pinta Ragil.
"Di pasar ada banyak pakaian dengan logo Singapura. Bahkan gantungan kunci juga ada. Jadi jika kalian menunjukkan pada teman kalian pakaian bertuliskan Singapura, teman kalian akan berfikir kalian membelinya di pasar. Sedangkan koin yang kami berikan multi fungsi, dapat menjadi bukti kalian pernah ke Singapura. Juga dapat dijadikan alat kesehatan." Jelas Fujiko.
"Alat kesehatan? Koin ini?" Ragil mengenyitkan keningnya.
Fujiko mengangguk."Kamu bisa minta tolong Cahaya untuk kerokan jika masuk angin. Gunakan koin itu."
__ADS_1
Seketika suasana hening. Hingga akhirnya Ragil tersenyum."Cahaya, aku masuk angin, mau bantu aku kerokan di kamar tidak?"
"Masuk angin minum obat!" geram Cahaya berusaha tersenyum.
Fujiko tersenyum simpul, kemudian membuka koper miliknya."Aku punya sekotak coklat, isinya blueberry. Kita makan sama-sama."
Pada akhirnya wajah murung mereka kembali tersenyum. Berbagi sekotak coklat yang pasti harganya tidak murah. Setidaknya dinginnya siang ini, kini tidak sama dengan dinginnya koin 50 sen Singapura yang mereka dapatkan.
Tapi itulah persahabatan kan? Tidak memandang usia maupun status. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Bug!
Pintu kamar Fujiko terbuka. Menghela napas kasar, menatap suaminya yang masuk menarik koper.
"Kamu sudah menghubungi pemilik kost?" tanya Fujiko.
"Sudah, kamar sebelah akan disewakan. Walaupun belum ada penyewa yang masuk." Jawab Raka duduk di samping istrinya. Tepatnya tempat tidur singgel milik Fujiko.
"Aku gerah!" Raka membuka pakaian ala keluarga konglomeratnya. Stelan jas yang membuatnya tidak nyaman. Dengan tidak tahu malunya mengganti pakaian di kamar, kini hanya mengenakan celana pendek dan kaos kutang."Kalau begini kan ada angin," gumamnya.
Sedangkan Fujiko menipiskan bibir menahan tawanya."Jadi kamu lebih suka tinggal di tempat kost karena dapat berpakaian bebas?" tanya Fujiko.
"Kenapa memakai skin care untuk wanita?" satu pertanyaan untuk Raka.
"Agar saat aku kembali ke rumah aromamu masih tercium." Jawaban aneh darinya.
Hingga Fujiko mengingat-ingat satu hal."Kalau parfum? Kenapa boxermu harus disemprot dengan parfumku?"
"Aku mengatakan pada ibuku, kalau aku sudah punya pacar dan tidak mau dijodohkan, lalu baru saja melakukannya hingga sisa bau parfum pacarku bahkan tertinggal di boxerku. Barbara adalah calon istri yang dipilihkan ibuku." Jelas Raka, berbaring di atas tempat tidur.
Fujiko mendekat, tersenyum-senyum sendiri."Jadi kamu menganggapku pacar waktu itu?" tanyanya salah tingkah.
"Tidak," jawaban dari Raka penuh kejujuran.
"Bisa gombal sedikit?" wanita itu ikut berbaring di samping suaminya, menghela napas terlihat kecewa.
"Memang tidak, aku tidak akan punya pacar atau menikah kecuali aku sudah yakin dapat menghidupi anak istriku. Dan sampai sekarang aku tidak yakin dapat menghidupi kalian dengan layak. Tapi---" Kata-kata Raka terhenti sejenak.
__ADS_1
"Tapi apa?" Fujiko mengenyitkan keningnya.
"Tapi aku cemas, setiap saat ada pria yang mendekatimu. Dan kamu juga merespon mendekat dengan pria kaya. Aku tidak kaya, tabunganku masih kurang untuk menghidupi kalian nantinya. Aku hanya merasa tidak mampu, tapi juga tidak ingin kehilanganmu. Karena itu aku meyakinkan diri untuk memilikimu." Jawaban dari Raka, lebih dari sekedar rayuan bagi Fujiko. Wanita itu menatap ke arah suaminya.
"Apa benar?" tanyanya lagi.
Raka mengangguk, masih menatap ke arah langit-langit kamar."Maaf, saat kecil aku menyakitimu. Itu karena aku panik, kamu tiba-tiba memelukku. Saat itu untuk pertama kalinya aku membunuh, aku takut. Polisi akan menangkap ku, semua orang akan menyudutkan ku sebagai pembunuh."
Fujiko semakin mendekat, memeluk tubuh suaminya dari samping."Pangeran..." ucapnya tertawa kecil.
"Kenapa pangeran?" tanya Raka, benar-benar ingin tahu isi fikiran istrinya saat itu.
"Kakakku selalu menceritakan tentang pangeran tampan, kaya, membawa pedang. Tinggal di istana yang indah, pakaiannya bagus dan rapi. Jika bersama pangeran aku dapat hidup senang, tanpa perlu bersusah-susah memikirkan makan apa besok. Tidak perlu berbagi jatah uang jajan setiap paginya. Dapat membantu ayah yang pergi bekerja hingga malam." Jelas Fujiko, pelajaran materialistis sejak dini oleh kakak-kakaknya.
"Tapi kamu pada akhirnya tidak memilih pangeran. Pada akhirnya kamu memilih temanmu yang hanya seorang benalu, kutu penghisap darah." Raka tertawa kecil.
"Kejadian akan berbalik setelah menikah. Aku akan menghisap darahmu." Fujiko ikut tertawa, mengecup pelan leher suaminya, kemudian menyesapnya.
"Tidak akan keluar darah," gumam Raka.
"Tidak akan keluar? Aku ingin darah dalam bentuk lain," Fujiko tertawa kecil.
"Akan aku berikan, kamu tidak perlu menghisapnya." Ucap Raka merubah posisi, kini dirinya ada di atas tubuh Fujiko.
Perlahan memejamkan matanya, menautkan bibir mereka.
Helai demi helai pakaian tercecer. Wanita itu melenguh, namun segera dibungkam oleh bibir Raka."Jangan berisik, kamar ini tidak ada peredam suara,"
Sprei dicengkeramnya, bingung harus bagaimana, hanya menonggakkan kepalanya dengan mata terpejam kala tubuhnya diguncang, dinikmati oleh suaminya.
*
Sedangkan di teras, ketiga orang itu masih menikmati hujan.
"Mereka tidak keluar lagi dari kamar," gumam Evi, meminum teh hangat.
"Adegan ranjang, dingin-dingin begini jika sedang libur apa lagi yang dilakukan pasangan suami-istri." Tebak Ragil.
__ADS_1
"Tapi tidak ada suaranya. Jika melakukannya di video yang aku tonton biasanya akan ada suara aneh." Cahaya menimpali.
"Raka pasti sudah memperingatkan, agar Fujiko diam. Atau mungkin saja, saat ini punggung Raka dicakar, atau bahunya digigit, agar tidak mengeluarkan suara." Ragil menghela napas kasar, sebagai mahasiswa yang diragukan keperjakaannya.