
Adinda menghela napasnya berkali-kali, berjalan memasuki pemukiman padat penduduk setelah turun dari bis. Oleh-oleh yang dibawanya hanya beberapa kotak kue kering.
Ini sangat memalukan baginya. Benar-benar memalukkan, tapi dari cerita putranya, tentang bagaimana Raka ditampar di hadapan umum, dirinya hanya dapat berfikir ada apa dengan menantunya yang katanya materialistis?
Dirinya sempat mengatakan pada Raka agar menjelaskan segalanya. Tapi putranya tidak mau mengambil resiko, mengingat dirinya sekitar dua minggu harus pergi ke negara lain.
Bagaimana jika mengatakan yang sebenarnya kemudian lamarannya ditolak? Bisakah memperbaiki hubungan dalam 2 minggu? Tentu hal yang sulit, mungkin saja saat dirinya pergi ada dan kekasihnya masih marah, akan ada pria lain yang menyelip bagaikan kutu. Menjadi orang ketiga.
Inilah alasan, mengapa untuk sementara waktu Raka membiarkan Fujiko salah paham. Lagipula dirinya tidak pernah berbohong, hanya saja Fujiko yang tidak percaya, mengingat betapa terlihat menyedihkannya hidup Raka.
Pria pelit yang tinggal di kontrakan murah, bahkan menggunakan ilmu kimia agar dapat memakai botol shampoo yang kosong. Hanya membeli produk diskon, dialah orang kaya yang memecahkan rekor kepelitan.
"Rumahnya di dekat sini?" tanya Adinda menghela napas kasar. Dijawab dengan anggukan oleh Raka.
Menelusuri gang yang berkelok-kelok, pada akhirnya rumah terbesar di daerah itu terlihat. Bukan rumah elite, hanya saja rumah di sekitarnya termasuk kecil dan kumuh, sedangkan rumah milik Firman yang telah mengalami banyak renovasi tentu saja menjadi rumah terbaik disana.
"Ini rumahnya?" tanya Adinda dijawab dengan anggukan kepala oleh Raka. Hingga langkah mereka terhenti, beberapa tetangga yang memiliki radar lebih hebat dari wartawan bertanya.
"Maaf, ibu dan adek ini cari siapa ya? Mau kemana?" tanya seorang ibu-ibu berdaster biru, membawa sapu lidi, berpura-pura menyapu di depan rumahnya. Padahal hanya penasaran saja.
"Saya pacarnya Fujiko, rencananya saya ingin melamarnya. Ini ibu saya." Ucap Raka tersenyum ramah.
"Pacar Fujiko? Mobil kamu diparkir dimana?" tanya ibu-ibu berdaster kuning yang baru datang dari warung. Mantannya menelisik mencari keberadaan mobil disana. Namun, hasilnya nihil.
__ADS_1
"Kami naik bus kemari, tidak membawa mobil," jawab Adinda tersenyum ramah.
"Kalau begitu jangan melamar. Kamu tidak tau saja keluarga matre itu. Berapa pemuda di daerah sini yang ditolak lamarannya karena mempunyai gaji dibawah 5 juta? Kalian akan ditolak mentah-mentah. Saya mengatakan ini agar kalian tidak sakit hati nantinya." Sang ibu-ibu berdaster biru memberikan saran.
"Sudah aku bilang kita datang dengan membawa banyak oleh-oleh, pakai mobil yang baru dibelikan ayahmu. Kita akan ditolak kan? Ibu juga akan benar-benar malu," batin Adinda menatap tajam pada putranya.
Tapi Raka terlihat acuh melirik ke arah lain, pemuda yang lebih percaya dengan sesuatu yang pasti. Jika mengatakan dirinya yang mencium paksa Fujiko di pesta, mungkin saja kekasihnya akan marah dan menolak lamarannya. Jadi biarkan Fujiko salah paham, dan menerima lamarannya, itulah jalan yang terbaik.
"Iya! Beberapa hari lalu saja anak pak RT mau lamar Fujiko. Tapi ditolak oleh pak Firman, katanya Fujiko sedang kerja di luar kota. Masalah jodoh biar saja Fujiko yang memilih, padahal itu cuma alasannya saja. Bilang saja terang-terangan anak pak RT yang kerja Alf*mart gajinya kurang besar. Dasar! Satu keluarga matre semua." Entah dari mana seorang ibu-ibu lainnya yang mengenakan stelan kulot datang, ikut angkat bicara.
"Jadi mereka materialistis?" tanya Adinda menghela napas kasar. Barbara mungkin lebih baik, karena dibesarkan di keluarga kaya, tidak mungkin memiliki sifat materialistis. Tapi ini adalah pilihan Raka, pilihan putranya yang baru memiliki keinginan memiliki sarang dan berkembang biak. Dirinya harus banyak-banyak bersabar.
"Iya! Saya tidak bohong, pacar Rosita duda beranak satu, seorang pilot. Pacar Fumiko memiliki perusahaan sendiri, walaupun wajahnya kayak seperti Jin. Pacar Tari dokter bedah, tapi cara bicaranya aneh. Mereka yang penting kaya, baru diterima." Celoteh ibu-ibu berdaster kuning.
"Ibu-ibu semua, bagaimana jika kita taruhan. Jika lamaran saya diterima, walaupun saya tidak mempunyai apa-apa, maka kalian memberikan uang pada saya, itung-itung sumbangan untuk pernikahan. Tapi jika lamaran saya ditolak, saya akan memberikan uang dua kali lipat." Ucap Raka yang memanfaatkan kesempatan.
Beberapa ibu-ibu itu berdiskusi, inilah saatnya untuk melipat gandakan uang mereka. Dilihat dari penampilannya yang hanya mengenakan sweater yang warnanya hampir pudar dan celana jeans, lamaran pemuda ini akan ditolak mentah-mentah.
Menghela napas kasar, mereka merogoh saku berharap untuk mendapatkan untung. Uang dikumpulkan oleh mereka, hingga mencapai 500 ribu rupiah.
"Setuju, tapi jika ditolak jangan menangis. Ini uangnya 500 ribu. Jika ditolak kembalikan pada kami 1juta. Jika diterima uang ini untukmu saja." Ibu-ibu yang memakai celana kulot, memberikan uang mereka.
Sedangkan Raka hanya tersenyum menerimanya. Citra keluarga matre terlanjur melekat pada keluarga kekasihnya. Tidak sabar rasanya menyebarkan berita, seorang pemuda miskin yang lagi-lagi ditolak keluarga itu.
__ADS_1
Raka meraih uangnya, mungkin lumayan untuk beli stok produk diskonan di Ind*Maret.
Beberapa ibu-ibu itu mengintip, menelan ludah mereka. Kasihan pada nasib sang pemuda. Tapi juga seolah senang akan melipat gandakan uang sekaligus mendapatkan berita ekslusif. Karena netizen terkadang lebih hebat daripada seorang detektif.
"Permisi!" panggil Raka menggedor pintu gerbang besi."Permisi!" panggilnya lagi.
"Pasti tidak dibukakan," cibir salah seorang ibu-ibu dari jauh.
Namun, hanya beberapa saat pintu dibukakan. Fumiko terlihat disana."Adik iparku sayang datang," ucapnya senang.
Para tetangga yang mengintip atau berpura-pura menyapu seakan tidak percaya dengan kata-kata Fumiko. Hingga hal yang lebih gila lagi terjadi.
Fujiko berlari dari dalam rumah, kemudian memeluk Raka."Sayang kamu sudah datang? Ini siapa? Apa ibumu?"
"Iya, ini ibuku, ibu ini yang namanya Fujiko." Raka memperkenalkan calon teman kumpul kebo, maaf salah calon teman hidupnya.
"I...ibu mertua silahkan masuk," Fujiko terlihat malu-malu, menyelipkan anak rambutnya di telinga. Kemudian menuntun Adinda ke dalam rumahnya.
Para tetangga terdiam bahkan ibu-ibu berdaster biru yang pura-pura menyapu di jalan menjatuhkan sapunya. Jantung mereka hampir copot rasanya, kemudian persatuan ibu-ibu itu kembali berdiskusi.
"Fumiko bilang apa tadi? Adik ipar? Dia setuju adiknya menikah dengan orang biasa? Tau begini, anak saya saja yang melamar Fujiko, sudah cantik, punya penghasilan tetap," geram seorang ibu-ibu berdaster kuning.
"Fujiko bilang ibu mertua?" Ibu-ibu berdaster biru yang memegang sapu masih tertegun, mencerna segalanya.
__ADS_1
"Uang belanja hari ini raip! Mau untung malah jadi buntung!" celetuk ibu-ibu lainnya, kesal, walaupun dirinya hanya ikut mengumpulkan 50.000.