Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Mundur


__ADS_3

Ceroboh? Memang, tapi sekali lagi setiap detik begitu berharga bagi sang Romeo. Pemuda yang kini mulai memarkirkan mobilnya cukup jauh dari lokasi.


Memakai celana jeans hitam dan sweater berwarna abu. Senjata api dikeluarkannya dari dalam koper, mengisi penuh peluru dari senjata jarak dekat tersebut.


Bug!


Suara mobil ditutup terdengar. Menemukan lokasi villa dengan cepat? Memang benar-benar Romeo sejati yang mengantar nyawanya. Sean berlari menuju balik pohon, menghela napas berkali-kali, jantungnya berdegup cepat bagaikan guru matematika menunjuknya untuk maju menjawab pertanyaan.


Bagaimanapun dirinya akan menyelamatkan Barbara, pintu besi terlihat di area belakang villa. Dalam fikirannya sudah pasti pintu saat ini terkunci. Dirinya mengambil akar pohon, membentuk kawat besi sebagai cengkeramannya, hendak memanjat tembok yang terdapat di samping pintu besi.


"Aku jarang olahraga, seharusnya aku push up 100 kali sehari," gumam pria yang berusaha naik, seorang pria yang memang sering push up, tapi sayangnya push up diatas tubuh wanita.


Wajahnya memerah, memanjat tembok menggunakan tali tidak semudah yang ada di fikirannya. Hingga salah satu kakinya tidak sengaja mendorong pintu besi.


Kriet!


Pintu itu terbuka, membuat Sean membulatkan matanya. Untung saja tidak ada yang lihat tingkah konyolnya. Pemuda yang turun kemudian masuk melalui pintu besi."Ternyata tidak terkunci," gumamnya benar-benar merasa dongkol.


Adegan penyelamatan pun dimulai, pemuda itu bergerak cepat. Berlari zig-zag bahkan melakukan rol untuk menghindari pandangan para penjaga. Beberapa orang terlihat di sana, dirinya benar-benar harus berhati-hati. Jika tidak akan menemui kematian.


Pemuda yang menelan ludahnya sendiri, berjalan menelusuri lorong. Beberapa orang bersenjata berada di sana. Tapi ada juga beberapa preman yang hanya membawa sebilah pisau.


"Aku akan mati, tapi aku tidak ingin mati walaupun aku sudah tidak perjaka lagi." Gumamnya, bersembunyi di salah satu lorong.


Ini benar-benar tempat penyekapan Barbara terlihat dari banyaknya penjaga. Pemuda itu mencoba merogoh sakunya guna menghubungi kepolisian setelah memastikan. Tapi seakan Tuhan tidak berpihak padanya, tidak ada sinyal maupun jaringan internet. Inilah kelemahan dari tinggal di wilayah perbukitan. Mencari sinyal harus angkat tangan bagaikan siswa yang ingin menjawab pertanyaan gurunya. Itupun kalau dapat.


Namun tidak ada sedikitpun sinyal yang didapatkannya. Hingga seorang wanita terlihat duduk di sana. Wanita yang cukup dikenalnya, tunangan Imanuel, Nadila.


Apa yang dilakukannya disini? Apa dia juga disekap? Hingga suara memekik, ketika dua besi bergesekan terdengar.


Brag!


Bung!

__ADS_1


Suara benturan yang terlihat. Nadila ada disana memukul salah satu preman, menggunakan stik golf.


Seketika Sean menutup mulutnya, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pasalnya citra Nadila di media sosial merupakan wanita polos yang mudah bergaul, terkadang membuat konten membantu orang-orang tidak mampu. Tapi saat ini.


Brak!


Suara benturan terdengar."Menemukan Patra saja tidak becus! Dia itu sudah berusia 50 tahun! Dasar lambat seperti siput! Masih muda tapi dikalahkan kakek tua!" bentak Nadila murka.


Bruk!


Preman itu kembali dipukuli, bahkan mengambil puntung rokok yang masih menyala. Mungkin Nadila baru datang dan melihat orang bayarannya duduk dengan tenang.


Wanita itu meraih puntung rokok, memadamkannya tepat di lengan sang preman hingga kulitnya terbakar."Sakit!" teriak sang preman.


Tidak ada satupun orang yang berani menolong rekan mereka. Mengapa? Semua lebih takut pada Jovi, pengusaha yang mempekerjakan mereka.


"Jadi Patra tidak ada disini? Masa bodoh! Yang penting aku dan Barbara keluar dulu." Dengan semangat bagaikan prajurit masa penjajahan yang membawa bambu runcing Sean masuk lebih dalam, membawa senjata api miliknya. Jujur saja ini tidak berguna, belasan preman dan mungkin lima orang pengawal profesional berada di sini lengkap dengan senjata mereka. Dan jujur saja, dirinya tidak jago bela diri.


Kembali? Mencari bala bantuan? Jika berbalik mungkin saja Nadila akan mengganti tempat persembunyiannya. Saat itu dirinya tidak dapat bertemu dengan Barbara lagi.


Hingga pintu dengan penjagaan paling ketat terlihat. Mungkin disanalah Julietnya sedang menunggu Romeo yang tidak kunjung datang. Tapi maaf, Romeo sedang bimbang saat ini. Antara tetap disini atau tinggal pergi menyelamatkan diri.


Prang!


Suara benda pecah terdengar. Saat ini Sean benar-benar panik. Ini demi kenalannya, dirinya tidak akan kembali walaupun pulang tinggal nama, seperti pahlawan yang gugur di medan perang.


Jantungnya berdegup cepat saat ini. Satu jalan yang dapat diambilnya. Pemuda yang berjalan menuju balkon, meletakkan tali dan guci disana. Tali tambang yang diletakkannya di bawah guci hingga membuat guci tidak stabil.


Tidak semua lampu di villa tua itu menyala, mempermudahkannya melakukan aksinya. Tali tambang yang cukup panjang. Hingga dirinya kini bersiap.


Tali ditariknya dengan cepat, membuat bagian bawah guci oleng ke arah bawah.


Prang!

__ADS_1


Suara benda jatuh ke lantai satu terdengar. Seorang penjaga yang berada di depan kamar segera berlari ke arah balkon yang cukup gelap berada di lorong pojok ruangan.


Seketika itu juga, Sean bergerak membuka pintu kamar dengan kunci yang masih melekat. Kemudian menutupnya kembali.


Pintu yang terbuka, tapi bukan kelegaan yang terlihat di wajahnya kini. Wanita itu memeluknya erat.


"Sean! Hanya kamu yang peduli!" ucap Barbara menangis sesegukan.


Mata Sean menelisik dirinya benar-benar iri. Ada makanan dan minuman berkwalitas tinggi disana. Tidak seperti bayangannya, wanita itu disiksa dan dilecehkan.


"Ka...kamu diculik kan?" tanya Sean mengamati penampilan Barbara. Bahkan ada skincare disana.


Barbara mengangguk dengan cepat."Awalnya aku bangun dengan tubuh terikat. Mereka seperti baru selesai mengambil fotoku."


"Saat itulah Nadila datang, mengatakan untuk memakaikanku pakaian. Tidak boleh terluka sama sekali sebelum Imanuel ditemukan. Sebenarnya aku juga bingung, jadi aku berteriak mengatakan akan bunuh diri jika semua keinginanku tidak dituruti." Jawaban jujur dari Barbara, dirinya tidak mengerti sama sekali.


"Kamu tidak dilukai oleh mereka kan?" tanya Sean panik.


"Tidak, tapi Nadila mengatakan aku akan disembelih bersama Imanuel nanti. Aku tidak boleh mati sekarang, takutnya dagingku membusuk saat ditemukan bersama mayat Imanuel yang segar bugar. Dia pikir aku sapi! Dasar wanita br*ngsek! Jika aku sudah pulang aku akan mengirim orang untuk menerornya. Sekalian saja perusahaan ayahnya yang secuil aku injak-injak!" gumam wanita itu murka. Curhat pada Romeo yang memijit kepalanya sendiri sambil duduk.


"Aku pulang saja," gumam Sean hendak pergi.


"Kamu bisa masuk tapi tidak bisa keluar. Lihat saja dari jendela balkon, penjagaan semakin diperketat karena sebuah guci yang pecah." Ucap Barbara melirik ke arah jendela.


Seperti yang Barbara katakan penjagaan memang diperketat.


Dor!


Suara letupan senjata api bahkan terdengar. Tidak lama kemudian seorang pengawal Nadila menyeret mayat yang kemungkinan besar warga sekitar yang sedang mencari madu hutan.


Sean menelan ludahnya sendiri."Lalu aku harus apa?" tanyanya.


"Bersembunyi di kamar ini, mereka hanya akan masuk untuk memberi makanan. Lagipula di tanganku dipasang gelang besi lengkap dengan GPS. Jika aku kabur mereka akan tau. Tapi mereka tidak rutin masuk, hanya saat sarapan, makan siang dan makan malam." Jelas Barbara.

__ADS_1


"Jadi?" Sean mengenyitkan keningnya menatap curiga.


"Aku kesepian, mau bermain di tempat tidur sambil menunggu seseorang membebaskan kita?" tanya Barbara, membuat Romeo beringsut mundur.


__ADS_2