Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Maaf


__ADS_3

Seperti biasa mereka melakukan janji temu secara tertutup dengan Adinda. Namun, Adinda kali ini tidak dapat hadir entah kenapa. Beberapa kali mereka hendak menghubungi namun tidak ada hasil sama sekali. Bagaikan menghilang, seperti kejadian ketika Patra menghilang.


Satu jam? Tidak, sudah 8 jam mereka menunggu hingga cafe tempat janji temu tutup. Nomor Adinda pun tidak aktif tiba-tiba. Rasa cemas ada dalam benak mereka, segera menghubungi Raka.


Dimana pemuda itu saat ini? Tentunya tengah duduk mengerjakan tugasnya, menghendel seluruh usaha ayahnya. Walaupun hanya dari kiriman data-data orang kepercayaan sang ayah saja.


Mulutnya terbuka, kala disuapi apel yang telah dikupas oleh istri tersayang. Tubuh mereka masih sedikit basah, baru selesai membersihkan diri.


"Ada informasi apa?" tanya Raka mengangkat panggilan.


"Ada yang ingin kami tanyakan pada bibi Adinda. Tapi saat kami berjanji akan bertemu dia tidak datang. Aku hubungi nomornya tidak aktif sama sekali." Jawab Evi, menghela napas berkali-kali.


Tangan Raka gemetar, melirik ke arah Fujiko dengan mata memerah."Ibuku menghilang. A...aku akan membunuhnya..." ucapnya tergagap tiba-tiba sedikit tersenyum.


Fujiko meraih phonecell Raka, mematikan panggilan Evi sepihak.


"Aku akan membunuhnya." Gumam Raka kembali dengan air mata mengalir, bangkit dari tempatnya duduk.


Dengan cepat Fujiko memeluk suaminya."Jika menyukaiku jangan lakukan. Kita akan mencarinya bersama ya?"


Raka membalas pelukannya. Pemuda itu terisak, kali ini yang menghilang adalah ibunya orang yang paling dekat dengannya. Tangannya mengepal, tidak dapat menerima semua ini.


Wanita itu hanya menepuk pelan punggung suaminya berusaha menenangkannya."Semua akan baik-baik saja,"


"Tapi---" Ucapan Raka dipotong.


"Aku masih ada," Kalimat lembut dari Fujiko.


Raka mengangguk menangis lirih."Aku tetap ingin membunuhnya. Ibu!"


"Kalian sedang apa? Apa sudah jadi? Perempuan atau laki-laki?" tanya Adinda masuk ke dalam villa tersenyum tanpa dosa melihat pasangan muda berpelukan.


Suasana seketika hening. Raka melepaskan pelukannya dari istrinya. Kemudian menghapus air matanya, ini benar-benar ibunya yang br*ngsek.


"Ibu kenapa di sini!?" tanya Raka.


"Memang seharusnya ibu dimana?" Adinda bertanya balik.


"Ibu seharusnya diculik!" Ucap Raka spontan.


Bug!


Bantal melayang tepat di kepalanya."Harusnya diculik!? Dasar anak Durhaka!"


"Bu...bukan begitu. Aku---" Kata-kata Raka disela.


"Ibu kemari bukan untuk bertengkar. Tapi untuk memberi peringatan Nadila sudah mulai mencurigai identitas Fujiko. Saudara tiri ibu menghilang beberapa hari yang lalu. Ini ada kaitannya dengan Nadila. Karena itu, mulai sekarang Fujiko harus tinggal di tempat yang aman. Satu lagi, keluargamu yang sempat tampil di TV, aku yakin mereka juga ada dalam bahaya." Peringatan dari Adinda.

__ADS_1


"Aku besok akan menyewa orang untuk melindungi para kakak iparku. Villa ini juga tinggal di tambah securitynya saja." Ucap Raka pada ibunya.


"Tidak! Tempat teraman saat ini adalah kediaman utama. Besok Fujiko harus sudah pindah." Tegasnya menatap ke arah pasangan yang terdiam sesaat.


Tempat tergelap adalah di bawah cahaya lilin. Bersembunyi di kediaman utama, dengan begitu Adinda dan Fujiko dapat saling menjaga. Ini keputusan mutlak yang diambilnya.


Pasangan labil yang saling bertatapan menghela napas berkali-kali, kemudian mengangguk. Menerima kenyataan, jatah olahraga malam mereka harus dikurangi.


Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan Evi, Ragil dan Cahaya?


"Omong-ngomong kenapa ibu tidak datang ke cafe?" tanya Raka.


"Ibu diikuti orang-orang sewaan Nadila, phonecell ibu juga lowbat jadi tidak bisa menghubungi mereka. Maaf," Ucap wanita paruh baya itu tersenyum.


*


Sementara itu seorang wanita hanya tertunduk saat ini menatap kekasihnya yang tengah mengemudikan mobil. Dirinya salah, benar-benar salah.


"Sayang," panggil Rosita manja.


"Em..." Hanya itulah jawaban dari kekasihnya. Pria yang masih mengenakan seragam pilot, sang duda beranak satu.


Apa alasan pemuda itu bercerai? Sejatinya istrinya yang menceraikannya. Mengejar karier sebagai model dengan pergaulan yang bebas. Sejatinya sudah ada baby sitter untuk anak mereka, namun istrinya enggan bahkan untuk menyusui putra mereka sendiri dengan alasan takut bagian depannya kendor.


Status sudah berkeluarga selalu di rahasiakan mantan istrinya. Hingga pada akhirnya mendapat tawaran kontrak di Millan sebagai brand ambassador salah satu produk. Karier yang melesat tinggi, membuatnya lebih memilih menceraikan suaminya dan meninggalkan putranya yang baru berusia beberapa bulan.


"Maaf---" Rosita tertunduk.


"Untuk apa?" tanya Anwar sok dingin.


"Sudah tampil di TV tanpa ijin. Aku juga menidurkan Gerril (anak Anwar) lebih awal. Tapi aku benar-benar hanya ikut-ikutan. Ini ide Fumiko." Dustanya tertunduk.


"Ide siapa!?" tanya Anwar tegas.


"Iya ideku," Rosita masih tertunduk.


"Kamu yang tertua, tapi bukannya menjadi teladan untuk adik-adikmu malah mengajari mereka bersikap kekanak-kanakan." Omelan dari sang kapten.


Rosita hanya tertunduk dengan raut wajah yang mulai cemberut seperti akan menangis."Aku mau turun,"


"Ka...kamu bilang apa?" tanya Anwar.


"A...aku bilang aku mau turun!" bentak Rosita, membuka pintu mobil. Dengan terpaksa Anwar menepikan mobilnya.


"Turun," perintah Anwar dengan nada datar.


"Aku turun! Br*ngsek! Aku memang kekanak-kanakan lalu kenapa!?" teriak gadis itu membanting pintu mobil. Dirinya sudah berusaha bersikap dewasa, berjalan beberapa ratus meter di jalan yang lumayan sepi.

__ADS_1


Hingga sebuah mobil minibus berhenti di dekatnya, beberapa orang pria keluar dari dalam mobil hendak menariknya secara paksa, membekap mulutnya. Kejadian yang berlangsung hanya sekitar 10 detik, hingga mobil minibus itu kembali melaju.


Anwar yang mengikuti Rosita jauh dari belakang menggunakan mobilnya. Hendak turun mencegah, namun kejadian yang begitu cepat, kekasihnya telah dibawa paksa.


Pemuda itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak sempat berfikir apapun, keadaan sudah benar-benar kacau. Dirinya hanya berniat bermain-main sebelum memaafkan kekasihnya, tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi.


Mobil itu diikutinya, hingga dirinya membulatkan mata, menatap tujuan mereka adalah rumah kosong yang terpencil. Menyeret kekasihnya dalam keadaan terikat dari dalam mobil.


Dengan cepat Anwar keluar dari mobil. Tidak satu patah katapun keluar dari mulutnya.


"Kamu siapa!?" tanya salah seorang dari mereka mengarahkan senjatanya.


Brak!


Pria itu ditendang tepat di bagian wajahnya, hingga mulutnya mengeluarkan darah. Mungkin beberapa giginya copot.


Senjata api yang terjatuh diraih oleh sang kapten.


Dor!


Dor!


Dor!


Dua orang bersenjata menembaknya, namun dirinya menghindar bersembunyi di bawah pohon beringin.


Dor!


Dor!


Dor!


Berpengalaman? Tentu saja, itulah kelebihan sang duda. Dirinya termasuk penembak jitu yang menjalankan hobinya latihan tiap minggu. Berbeda dengan beberapa preman yang diberikan senjata asal tembak saja.


Cukup menghabiskan tiga peluru , orang yang membawa senjata api ditembak tepat di bagian perut dan lengannya. Sedangkan yang menyeret paksa Rosita ditembak di bagian tulang belikat nya.


Wanita yang berlari menangis ke arah kekasihnya. Satu orang bersenjata lagi keluar dari minibus hendak menembak Rosita. Tembakan yang tidak di lihat oleh sang gadis yang hanya fokus berlari ke arah sang kapten.


Dor!


Anwar menarik tangannya, memeluk Rosita. Tembakan yang pada akhirnya mengenai lengan sang kapten.


Dor!


Anwar menembak tulang belikat sang pria yang hendak turun dari minibus.


Rosita menonggakkan kepalanya sembari menangis, menatap wajah rupawan kekasihnya tersenyum dengan napas terengah-engah."Maaf," kalimat dari sang pemuda, melepaskan lakban dan ikatan di tangan kekasihnya.

__ADS_1


Rosita masih menangis, melihat lengan kekasihnya."Aaa... kapten jahat! Kamu jahat!" teriaknya. Sedangkan Anwar tertawa kecil, mengelus rambut sales nakalnya.


__ADS_2