
Makan malam seperti biasanya. Mungkin hanya saat sarapan dan makan malam keluarga ini berkumpul. Tapi ada yang berbeda, Nadila tidak hadir hari ini.
Menjadi MC sebuah acara ulangtahun anak kecil menjadi alasannya. Keluarga pengusaha yang memiliki perusahaan kecil. Apa mungkin mampu menyewa Nadila? Entahlah, tapi hari ini bertepatan dengan tanggal 14 February.
Tidak ada yang tau apapun, semuanya makan dengan tenang. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik terdengar.
Hingga Raka yang tinggal memakan dessertnya saja memulai pembicaraan."Fujiko bagaimana hari pertamamu?" tanyanya tersenyum, namun sejatinya benar-benar cemas. Matanya sedikit melirik ke arah Pramana yang masih makan dengan tenang.
"Kak Raka, bisa ajari aku bahasa Inggris?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Dia tidak bisa berhadapan dengan orang asing. Ajari dia baik-baik!" tegas Pramana, meminum air putih kemudian bangkit berjalan menuju lantai dua.
"Yes!" batin Raka, memiliki alasan untuk berlama-lama satu ruangan dengan istrinya.
Tapi bibirnya berkata lain."Kamu menyusahkan."
"Memang," Fujiko bersungut-sungut.
Tidak ada yang curiga sama sekali dengan sikap Pramana. Sang kakek yang hanya dapat menghela napas kasar. Benar-benar mengetahui isi otak cucunya. Tapi setidaknya Raka tidak akan pergi dari rumah lagi. Tetap dalam pengawasannya.
Apa yang ada dalam fikirannya? Entahlah, kesalahan masa lalu pada almarhum istri pertamanya yang masih diingatnya hingga kini. Membuatnya benar-benar tidak ingin melihat anak pertamanya. Walaupun perlahan hatinya telah diluluhkan oleh cucu dan menantunya.
Terkadang hubungan menantu dan ibu mertua yang tidak baik menjadi penyebabnya. Istri pertama Pramana membunuh ibu mertuanya sendiri di hadapan Patra yang saat itu masih berusia lima tahun. Anak yang tahunnya menangis saja, tidak jujur mengatakan segalanya pada Pramana.
Kematian yang disangkanya karena jatuh dari tangga. Hingga satu minggu setelahnya barulah Patra yang masih berusia lima tahun berkata jujur, menceritakan penyebab kematian sang nenek adalah ibunya.
Istri pertama Pramana berakhir di penjara dan bunuh diri setelahnya. Sedangkan Patra tetap tinggal dan mengikutinya, dirinya begitu muak melihat wajah itu, wajah yang menyerupai istri pertamanya. Hingga wajah itu diwariskan Patra pada Raka.
Sempat tersulut dendam hingga merencanakan penculikan cucunya sendiri. Tapi perlahan hatinya luluh, dengan setiap detik perhatian tulus dari cucunya. Rasa sakit hati hanya tersisa pada Patra. Kini dirinya benar-benar menyayangi Raka. Rasa sayang yang berubah menjadi protektif, hingga membiarkan Nadila masuk ke keluarganya. Mengetahui penyebab kepergian Raka adalah Imanuel. Raka menginginkan Imanuel menjadi pemimpin perusahaan, itu tidak akan dibiarkan olehnya.
Aneh? Mengorbankan cucu satunya untuk cucunya yang lain? Dirinya tidak mengorbankan Imanuel, hanya membicarakannya saja. Membiarkan Nadila yang bertindak sendiri. Sang kakek yang hanya mengawasi jalan cucunya.
__ADS_1
Benar-benar kepribadian yang aneh bukan? Rasa obsesif yang tidak sehat, ingin mengendalikan kehidupan Raka walaupun dalam jalan paksaan. Lalu mengapa Fujiko dibiarkannya begitu saja? Karena Fujiko bukan ancaman untuk hidup Raka. Mengendalikan Raka bagaikan boneka, cucu sempurnanya akan menjadi pemimpin perusahaan miliknya. Tinggal di sini dengannya seperti dulu.
*
Hari semakin gelap kalau dua orang tengah belajar bahasa Inggris."Lafal kan kata-katanya. Mulai hari ini lima kata perhari!" tegas Raka yang tengah berbaring di tempat tidur memeluk Fujiko. Sama-sama tidak mengenakan sehelai benangpun, hanya selimut tebal yang melapisi tubuh mereka.
"Lima kata?" tanya Fujiko menonggakkan kepalanya.
"Iya lima kata, seperti mencicil. Di setiap pertemuan dengan warga negara asing aku juga akan membawamu," jawabnya tersenyum.
"Kamu mengajariku sudah satu jam, tapi hanya menghafalkan lima kata." Wanita itu memincingkan matanya.
"Belajar bahasa Inggris perlu pelan-pelan. Selain itu, aku juga harus mengairi lahanku agar tetap subur." Jawaban enteng dari Raka.
"Omong-ngomong apa Imanuel dan ayahmu sudah ditemukan?" tanya Fujiko, memeluk erat tubuh suaminya, mengingat tanggal pernikahan yang kurang dari dua minggu lagi.
"Jejak terakhir ayah ada di daerah terpencil. Tapi sudah kembali ke kota ini. Ayah mungkin belum tertangkap. Jika belum apa susahnya menemuiku," Raka menghela napas kasar.
Dua orang yang sama-sama menghela napas kasar."Besok sore aku akan pulang terlambat. Ada janji dengan pemilik kost-kostan. Kamu ingin kita tetap tinggal di sana. Atau tinggal di sini nantinya?"
"Aku ingin kembali tinggal di sana." Fujiko terkekeh."Bagaimana jika setelah semuanya selesai kita tetap tinggal di sana. Membesarkan anak kita menjadi keluarga biasa yang tidak perlu takut diculik?" tanya Fujiko penuh harap.
"Lalu pekerjaanmu dan pekerjaanku?" Raka mengenyitkan keningnya.
"Kamu bisa bekerja di rumah, hanya sesekali menghadiri pertemuan atau rapat kan? Aku mungkin akan tetap bekerja full time hingga sore. Aku mohon..." Fujiko memelas, entah kenapa dirinya tidak ingin anak mereka tumbuh di keluarga konglomerat. Terasa tidak nyaman dan penuh gengsi. Membayangkan anaknya tumbuh di keluarga biasa memakai seragam dan sepatu yang tidak begitu mahal.
Hanya keluarga biasa...
"Terserah padamu, tapi aku ingin lagi." Ucap Raka tersenyum, mengeratkan pelukannya, mengecup tulang selangka istrinya. Benar-benar adik kakak yang kumpul kebo.
Itulah hal yang terjadi sebelum hari ini. Hari dimana Imanuel telah ditemukan.
__ADS_1
Kembali pada empat orang yang menghela napas mereka berkali-kali.
"Aku tidak ingin kembali. Setidaknya tidak untuk sekarang. Walau bagaimanapun aku sudah meniduri Nadila. Meskipun tidak ada anak dia akan tetap memaksa untuk menikah jika aku terlihat. Mungkin saja juga dapat mencari cara membunuhku lagi." Jawaban tegas dari Imanuel.
"Yakin kamu sudah meniduri Nadila?" satu pertanyaan dari Raka.
"Kenapa?" tanya Imanuel tidak mengerti dengan kata-kata sepupunya.
"Tidak, aku hanya merasa dia aneh saja. Bukan obat per*ngsang yang dicampur dalam minumanku. Tapi obat tidur. Coba kamu ingat-ingat malam itu apa yang terjadi?" Raka kembali bertanya.
Imanuel menelan ludahnya sendiri, sedikit melirik ke arah mama. Bukan apa-apa papa hanya takut mama cemburu ketika papa menceritakan masa lalu mama.
Tapi sayangnya mama hanya mengenyitkan keningnya saja. Bukan tipikal wanita kekanak-kanakan yang terpaku pada masa lalu. Toh dirinya juga tidur dengan Rian bahkan memiliki Egie.
"Malam itu aku minum berdua dengannya. Hanya meminum segelas. Tapi badanku panas, efek mabuk yang tidak biasa. Setelahnya aku membuka pakaian, mencoba menciumnya paksa walaupun dia berontak. Hal terakhir yang aku ingat, aku merobek pakaiannya. Setelahnya tidak ingat apa-apa lagi." Jelas Imanuel.
Prasangka yang aneh, Raka menghela napas kasar."Dia memberontak?" tanyanya lagi.
Imanuel mengangguk."Selama pacaran juga sama, kami tidak pernah berciuman intens. Hanya sekedar kecupan saja, awalnya aku tidak begitu peduli karena aku baru belajar menyukainya. Tapi karena kamu mengungkitnya aku juga baru merasa aneh,"
"Kamu pernah bilang padaku kamu yang pertama menidurinya kan?" tanya Raka lagi.
Imanuel mengangguk."Aku yakin karena saat dia menangis, dan pergi ke kamar mandi ada noda merah di atas sprei. Kenapa?"
"Tidak apa-apa," Raka menghela napas kasar. Memang lebih masuk akal jika Imanuel yang menghamili Nadila. Tapi kenapa bertindak sejauh itu tapi tidak mau untuk disentuh?
"Sekarang yang terpenting tentang pernikahanmu! Ini masalahmu! Jadi kamu yang atasi sendiri." Fujiko menatap kesal pada Imanuel, pemuda yang juga bingung bagaimana cara menyelesaikan masalahnya. Bagaimana pun Nadila adalah public figure, semua kata-katanya akan lebih dipercayai.
Mungkin cepat atau lambat Reina dan Egie juga akan terlibat. Sekali wanita itu berucap pada media tentang perselingkuhan. Apa yang harus dilakukannya?
"Apa Nadila punya kekasih gelap? Pacar rahasia misalnya seperti di FTV yang bercerita tentang wanita licik dan selingkuhannya. Mencurangi suaminya untuk menguras hartanya. Kemudian mereka berakhir mati karena tersambar petir, jenazahnya tertimpa tabung gas menggelinding, kuburannya terdapat banyak ular, lalu kejatuhan meteor!?" Khayalan tingkat tinggi dari Imanuel, ingin membalikkan keadaan jika Nadila mempunyai kekasih lain. Membuat mama memukul kepala papa.
__ADS_1
"Korban FTV!" cibirnya.