Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Aku Akan Berusaha


__ADS_3

"Tanda kesepakatan?" Pramana mengenyitkan keningnya, tertawa sumbang. Ini memang biasa dalam bisnis, bersenang-senang sebagai perayaan. Tapi tidak semua orang menyukai ini.


"Iya, saya juga dapat menyewakan beberapa wanita untuk anda dan teman anda." Ucap pria itu menggunakan bahasa Inggris.


Pramana sedikit melirik kearah Fujiko yang tetap tersenyum. Mungkin masih bingung, menggunakan bahasa Inggris yang cepat, dengan logat British, jika orang Asia timur atau tenggara yang menggunakan bahasa Inggris mungkin akan lebih mudah dimengerti orang yang memang jarang bertemu warga negara asing.


Pramana meraih kertas yang baru ditandatanganinya."Korek api?" pria itu menadahkan tangannya pada Merald. Dan benar saja, tanda kesepakatan kontrak dibakar habis.


"Apa yang kamu lakukan!?" bentak pria berkebangsaan asing, menggunakan bahasa Inggris.


"Bicara bahasa Indonesia!" Pramana menggebrak meja tiba-tiba.


Sang pria menghela napas kasar menetralkan emosinya, mulai berbicara menggunakan bahasa Indonesia."Nilai investasi yang tidak begitu besar, resiko juga kecil, keuntungan yang tinggi. Saya dapat menawarkan proyek ini pada pengusaha lainnya."


"Lalu apa tanda kesepakatan yang kamu minta?" tanya Pramana tersenyum angkuh.


"Aku hanya ingin menghabiskan malam dengan asisten anda. Sudah saya bilang sebagai gantinya---" Kata-katanya terhenti.


Bug!


Fujiko menendang tepat di kedua telur, benar-benar sepasang anak ayam yang kasihan. Apakah telurnya pecah? Entahlah, pria itu berguling-guling menahan rasa sakit kini.


"Sakit? Mau aku menginjaknya lagi? Mau meniduriku!? Aku walaupun tidak pintar tapi bekerja menggunakan otak! Bukan kasur!" Ucap Fujiko dengan nada dingin benar-benar murka.


"A...aku akan menuntutmu..." Pemuda itu berucap lirih.


"Aku akan menuntutmu balik! Ada dua saksi disini kalau kamu berniat melecehkan ku!" murka Fujiko.


"Kalian mau bersaksi kan?" tanyanya pada Merald dan Pramana, kedua orang itu terlihat gugup, kemudian mengangguk bersamaan.


Fujiko kembali menginjak, harta pusaka sang pemuda."Jangan berani menuntutku. Jika tidak hanya kamu yang akan berakhir di penjara, sementara aku akan bebas karena hanya membela diri dari pelecehan." Kata-kata menusuk dari Fujiko berjalan meninggalkan ruangan.


Sedangkan pemuda itu masih berbaring di lantai marmer, memegang dua anak ayamnya, agar tidak lepas menjerit."A...aku hanya ingin wanita br*ngsek itu di pecat! Kerja sama kita akan berlanjut!"


Pramana tertawa, sedangkan Merald menipiskan bibir, istilah lainnya tertawa tanpa suara.


Sang kakek mulai bicara kembali menggunakan bahasa Inggris, tidak ingin Fujiko yang belum jauh pergi mendengar atau mengerti kata-katanya."Dia cucu menantuku, mungkin juga sedang mengandung cicitku. Kamu ingin menidurinya? Ingin mencampur darahmu dengan darah cucuku?"


"Cucu menantu? Is... istri Raka?" sang pemuda terlihat gugup.


"Iya, aku dengar-dengar Raka memiliki saham di perusahaanmu. Aku akan menyarankannya untuk menjual sahamnya. Karena proyek yang tidak aku dapatkan, maka harus aku hancurkan..." Pramana tersenyum menyeringai, sudah jelas bukan sifat mengerikan sang cucu menurun dari siapa?

__ADS_1


"A...apa maksudmu?" tanya sang pria mengeluarkan keringat dingin.


"Maksudku jika aku tidak dapat berinvestasi pada proyek ini. Maka satu orang pun tidak akan bisa." Jawaban dari Pramana. Butterfly efect mungkin akan terjadi, sebuah kesepakatan yang gagal. Proyek besar tanpa investor yang berani berinvestasi, karena Pramana. Kerugian besar pada perusahaan, pailit? Mungkin juga dapat terjadi.


"Tuan Pramana, ja... jangan menghalangi investor lain. Aku akan minta maaf pada cucu menantu anda," pintanya memegang ujung celana panjang sang kakek.


Pria tua dengan rambut yang telah memutih sempurna itu tersenyum."Pertimbangkan untuk menjual perusahaanmu padaku setelah pailit."


"Tuan Pramana!"


"Tuan Pramana!"


Tidak ada sahutan, pria tua itu berjalan diikuti oleh Merald. Dua orang yang melangkah tanpa berbalik sedikitpun.


*


Pramana menghela napas kasar, bersiap-siap menerima amukan dari wanita yang tengah ada di dalam mobil. Matanya sedikit melirik ke arah Merald."Kamu saja yang buka," perintahnya.


"Tuan saja," Merald juga terlihat ragu, mengingat bagaimana wanita jika sudah mengamuk. Membayangkan istrinya yang sering membawa sapu dan payung jika dirinya pulang lebih dari jam 12 malam.


"Kamu saja, aku majikanmu." Perintah Pramana.


Merald menelan ludahnya, hendak membuka pintu mobil. Tapi dengan cepat tangan Pramana mencegahnya.


Bug!


Pintu terbuka, menampakan Fujiko dengan pandangan mata berkaca-kaca."Tuan! Maaf! Tapi aku tidak mau!"


"Hah?" Pramana mengenyitkan keningnya.


"Nilai keuntungannya besar, resikonya kecil. Ta...tapi aku benar-benar tidak mau, aku tidak mau! Tolong jangan pecat aku!" Pinta Fujiko tertunduk.


Merald menahan tawanya, sebenarnya jika bukan Fujiko pun mereka akan menolak. Bagaimana pun mereka tidak akan melakukan hal aneh seperti itu.


Pramana menahan senyumannya. Kembali menetralkan dirinya."Kamu tidak mau disentuh. Jadi apa yang kamu punya sebagai asisten?" tanya Pramana.


"Aku akan bekerja keras! Belajar bahasa Inggris, ji...jika bahasa Jepang aku bisa. Aku akan belajar dan lebih giat!" Janji Fujiko dengan mata yang masih sembab.


"Ayo pulang, di rumah jangan panggil aku Tuan. Panggil kakek." Ucap Pramana mulai tersenyum.


"Iya! Kakek!" kata-kata dari mulut Fujiko.

__ADS_1


Aneh rasanya memiliki cucu perempuan. Tapi tidak buruk juga.


Mobil kembali melaju meninggalkan area restauran. Sementara Fujiko sedikit melirik ke arah Pramana. Dirinya pasti akan bisa menjadi wanita karier keren, seperti dalam drama Korea. Ini baru hari pertama, harus lebih bersemangat lagi, belajar lebih banyak, menjadi lebih pintar.


*


Seorang wanita terdiam menatap ke arah jendela villa tempatnya berada saat ini. Meminum segelas wine, duduk dengan air mata yang mengalir. Kembali tertawa kecil, kemudian meminum sedikit minuman di hadapannya.


Rasa menyengat menerpa mulut, tapi ada sedikit rasa lembut yang tertinggal. Nadila menghela napas kasar, kembali menuangkan minuman.


Pengganti? Tidak ada istilah pengganti, mungkin hanya ilusi tapi wajah itu terlihat lagi. Wajah pria cupu, kusam, dengan seragam menguning.


"Kenapa minum? Tidak baik untuk kesehatan," kata-kata lembut dari fatamorgana seseorang yang dirindukannya.


"Jika tidak minum tidak mungkin dapat melihatmu kan?" tanya Nadila, tersenyum lirih dengan air mata mengalir.


Pemuda itu hanya tersenyum lembut, membelai pucuk kepalanya."Aku tidak mempunyai siapapun selain dirimu. Jangan merusak hidupmu."


Wanita itu menangis terisak, dirinya tidak menyesal melakukan segalanya. Tidak sama sekali, hati yang terluka berkali-kali dipenuhi dendam.


Semua masih dapat diingat olehnya.


Malam yang indah saat itu, dirinya kabur dari rumah ayahnya. Tidak memiliki tujuan, bahkan uang pun tidak. Kelaparan? Tentu saja, tapi dirinya saat itu memegang cutter. Memiliki satu tujuan, membunuh ayah tirinya, seseorang yang menyebabkan kematian sang ibu.


Tapi tidak, didepan kantor polisi pun dirinya diusir. Mengapa? Tahanan tidak ingin bertemu dengannya. Tidak menyerah tapi tidak memiliki tujuan singgah. Membunuh... membunuh... hanya itu tujuannya, mengingat kejadian beberapa tahun lalu kala sang ibu meregang nyawa.


Perut yang lapar tidak diindahkannya. Hingga tangannya ditarik teman sekelasnya. Seseorang yang selalu terasing karena berasal dari keluarga miskin, wajah yang pas-pasan dan tidak menonjol di bidang akademis.


"Kamu tidak sekolah beberapa hari. Guru dan ayahmu mencarimu." Ucapnya tersenyum.


"Aku mau pergi..." Kata-kata Nadila terhenti kala pemuda itu memeluknya.


"Aku memelukmu? Maaf tapi aku memang terlahir mesum," ucapnya terkekeh. Setidaknya dirinya mengetahui cerita tentang kehidupan Nadila dari teman-teman lainnya.


Tidak dekat tapi ingin menghibur. Bagaimana caranya?


Isakan tangis terdengar, pada akhirnya gadis itu menjerit mencengkeram erat kaos lusuh pemuda yang memeluknya.


Sang pemuda hanya tersenyum dan diam, tidak ingin menanyakan apapun.


Tak!

__ADS_1


Cutter yang dibawa gadis itu selama beberapa hari pada akhirnya terjatuh. Diiringi dengan tangisan yang terdengar makin lirih.


__ADS_2