Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Susu


__ADS_3

Hari sudah mulai sore saat itu. Semua orang telah kembali dari aktivitas mereka masing-masing, termasuk Tiara dan Heru, sepasang suami-istri yang masih memikirkan nasib putra tunggal mereka.


Imanuel sudah menghilang hampir dua bulan lamanya, begitu juga dengan Barbara. Ayah Barbara bahkan mengerahkan banyak orang untuk mencari putrinya, tapi tidak ada hasil sama sekali. Hampir sama dengan mereka yang juga mencari Imanuel. Jika saling mencintai kenapa tidak katakan saja? Semua dapat didiskusikan. Mengapa harus melarikan diri dari rumah. Jalan yang benar-benar aneh menurutnya.


"Ini," Fujiko memberikan dua kotak coklat."Dapat menenangkan fikiran. Semoga saja Imanuel segera ditemukan, kasihan dia pasti sudah kehabisan uang di luar sana. Paman dan bibi juga harus tetap tenang dan jaga kesehatan."


"Semoga saja sepupu br*ngsek segera ditemukan, sehingga tidak ada madu dalam pernikahan ku!" batin Fujiko dengan wajah masih setia tersenyum.


"Terimakasih," ucap Tiara mengelus rambut Fujiko. Sedikit melirik pada Nadila yang tengah memotret hidangan makan malam mereka. Benar-benar tidak peduli dengan dirinya lagi. Inikah calon menantunya dulu?


Inilah wajah sebenarnya dari Nadila? Itulah yang ada di fikiran Heru dan Tiara saat ini. Mengendalikan situasi dengan cara halus, mengubah topik pembicaraan, membuat orang berfikiran buruk pada lawan. Wanita materialistis yang berpengalaman.


Jangan fikir bersikap baik dan penurut saja dapat mempertahankan rumah tangga atau karier. Tapi mencari banyak relasi lebih baik, tidak peduli menjadi serigala berbulu domba atau singgung berbulu serigala. Yang memiliki pendukung terbanyak akan menang.


Tapi hanya sesaat hingga Pramana datang. Satu-satunya orang yang selalu ditempeli kuntilanak (Nadila) ini."Kakek harus jaga kesehatan. Aku sudah menyuruh koki agar hanya memberi sedikit garam pada makanan kakek agar tekanan darah kakek tidak naik."


Fujiko hanya makan sambil tertunduk diam. Dirinya membiarkan semua ini. Mengapa? Karena bukan tangannya yang akan bergerak.


"Ayah, Fujiko membuatkan dessert tadi. Mungkin ayah akan menyukainya." Heru tersenyum pada ayahnya. Bagaikan dirinya memiliki anak perempuan. Bagaimana pun hanya Fujiko yang memberi perhatian pada mereka.


"Fujiko kalau berbuat baik tidak gembar-gembor, seperti seseorang," sindiran pedas dari Tiara, membuat Nadila melotot ke arahnya.


"Apa!? Kenapa melihatku seperti itu? Kamu mau mengata-ngatai yang lebih tua!?" geram Tiara, meminum air putihnya.


Diam-diam Fujiko tersenyum, kemudian menyelipkan rambut di telinganya."Paman dan bibi terlalu memujiku. Itu sudah kebiasaanku. Setidaknya membuat satu hidangan, selepas enak atau tidak."


"Bibi hanya jujur saja. Kamu terlihat lebih baik daripada orang-orang yang munafik." Celetuk Tiara penuh penekanan.


Hubungannya dan Nadila dahulu cukup baik. Berbelanja bersama, bahkan menghadiri berbagai pesta, sebagai calon menantu dan mertua cukup akrab. Tapi segalanya berubah semenjak Imanuel menghilang, dari pada ikut mencari Nadila malah semakin menyudutkan Imanuel di hadapan Pramana. Tidak ada komunikasi sama sekali, bahkan jika berkirim pesan akan ada dua tanda centang biru tanpa balasan.


Inilah wajah asli calon menantu idamannya. Mungkin dirinya sedikit bersyukur Imanuel melarikan diri. Jika tidak setelah menikah nanti baru akan terlihat sifat aslinya, sudah terlambat.

__ADS_1


Namun Tiara hanya dapat menghela napasnya mengingat cucunya yang berada dalam perut Nadila."Sabar," batinnya.


"Rafa, ini untukmu," Nadila tersenyum, mengalihkan fikirannya, meletakkan udang di piring Raka.


"Terimakasih, omong-ngomong Fujiko kenapa kamu tidak ikut kakek saja ke perusahaan. Kamu dapat belajar lebih banyak daripada menjadi karyawan pabrik." Raka tersenyum, menatap ke arah kakeknya menunggu reaksi.


Tidak mengerti dan susah menebak. Namun, tempat teraman bagi Fujiko jika berpihak pada Pramana.


"Tidak! Aku---" Kata-kata Nadila disela.


"Kakek?" Raka mengenyitkan keningnya.


Pramana menghela napas tersenyum kemudian mengangguk. Melihat sekilas pada Raka, memakan makanannya dengan tenang.


Ini tidak seperti yang ada di fikiran Raka. Seharusnya sang kakek menolak, menentang segalanya yang berhubungan dengan Fujiko. Apa Pramana memang belum mengetahui Raka sudah menikah?


Jika sudah, mungkin Fujiko akan disingkirkan nya. Tapi entahlah, dirinya tidak dapat berbuat gegabah. Matanya melirik ke arah Adinda yang terlihat tenang, tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.


Sesekali melihat ke arah phonecellnya. Apa yang terlihat disana? Raka pun tidak jelas, apa ibunya berselingkuh? Tingkah ibunya seperti remaja yang tengah jatuh cinta.


'Kapan kita bertemu lagi?'


Pesan yang dikirimkan suaminya, lengkap dengan foto memakai kimono pria dengan bagian atas yang terbuka, memperlihatkan bentuk tubuh idealnya yang membuat Adinda ingin berteriak. Astaga, di sini kangen, tapi jika sudah ketemu, beberapa kali sudah kalah melawan suaminya.


'Abang Jahat!'


Balasan dari Adinda, tersenyum-senyum sendiri. Ala remaja kecanduan tik tok. Tidak peduli apapun yang penting lahan keringnya sudah sering digarap dan dialiri air.


*


Kini sudah memasuki waktu istirahat, semua orang berada di kamarnya. Perlahan dua orang mengendap-endap keluar. Benar, itu Nadila membuatkan minuman untuk Raka. Segelas susu putih hangat yang dicampur dengan obat tidur. Tujuannya? Sekali Raka merasa bersalah telah menidurinya selama itu juga Raka akan terikat memastikan pernikahan mereka.

__ADS_1


Tidak menyadari Fujiko melihat segalanya, jemari tangannya mengepal, wajahnya tersenyum. Dirinya benar-benar dendam, Bukan masalah apa, Fujiko sudah tidak datang bulan selama dua hari. Bagaimana jika anaknya sudah tumbuh?


Anaknya harus berbagi kasih sayang ayah, harus berbagi warisan juga. Seperti kata ibu mertua, wanita tidak tahu diri, harus dihadapi dengan cara tidak tahu diri juga.


Fujiko berjalan cepat menuju kamar Raka. Namun hanya sekitar satu menit, wanita itu keluar lagi, memperhatikan baik-baik, bersembunyi di ruang tamu yang gelap.


Benar saja, Nadila terlihat mengetuk pintu kamar Raka. Seperti biasa pemuda itu mempersilahkannya masuk.


"Aku membuatkan susu untukmu." Ucap Nadila menyodorkan segelas susu.


"Aku sedang bekerja. Taruh saja," Raka duduk di sofa kamarnya, kembali fokus pada pekerjaannya.


Tidak lama suara pintu diketuk kembali terdengar. Perlahan Raka membukanya, terlihat Fujiko disana membawakan segelas susu.


"Ma... maaf mengganggu. Kakak ipar ada disini. Aku jadi malu... maklum masih gadis," ucap Fujiko cengengesan, padahal aslinya menahan rasa kesal.


"Mau apa lagi adik ipar benalu itu? Dia pasti ingin mengacaukan rencana malam ini." batin Nadila berusaha tersenyum.


"Sudah dibuatkan susu ya? Kalau begitu ini buat kak Nadila saja. Selamat menikmati malam dingin." Fujiko melarikan diri, memberikan segelas susu pada Raka.


"Dia pergi? Tumben?" kata-kata, yang tidak diucapkan Nadila, menatap heran pada adik ipar br*ngseknya.


Pintu tertutup, bersamaan dengan Raka yang kembali duduk di dekat Nadila. Meletakkan dua gelas susu yang memiliki gelas serupa itu.


"Raka diminum dulu susunya." Pinta Nadila, menyodorkan gelas miliknya.


"Em," Raka yang terlalu fokus dengan laptop menjatuhkan sedikit susu pada pahanya sendiri."Agh!" ucapnya meletakkan kembali gelas ke atas meja.


Dengan cepat Nadila mengambil kesempatan, membersihkan celana panjang Raka menggunakan tissue. Mata mereka bertemu sesaat. Raka hanya tersenyum padanya, kemudian kembali meraih gelas yang berada di atas meja.


Malam yang dingin? Mungkin hanya untuk Fujiko, adik ipar tidak tahu diri. Malam ini dirinya akan memastikan mengukuhkan statusnya dengan Raka.

__ADS_1


Jakun pemuda itu terlihat naik turun, meminum susu berisikan obat tidur. Tidak ingin melakukannya, hanya ingin Raka menganggap mereka sudah melakukannya.


"Kamu minum juga, walaupun bukan susu ibu hamil tapi setidaknya bagus untuk kesehatan. Kamu hamil tapi masih bekerja, aku iba padamu dan anak kita." Ucap Raka tersenyum cerah, membuat Nadila meminum segelas susu lainnya.


__ADS_2