
Raka sudah siap memakai helm, wajahnya tersenyum, menatap istrinya keluar dari kamar. Istri? Dirinya memang sudah menikah, ada cincin seharga 156.365.427 rupiah di jemari tangannya. Sedangkan yang ada di jemari tangan istrinya, cincin dengan harga 289.637.784 rupiah.
Bukan harga yang murah, berlian milik ibunya. Tapi sayangnya dirinya harus berbohong, mengatakan bahan pembuat cincin merupakan siver dengan batu biasa. Dibeli senilai 358.000 sepasang di internet.
Wanita yang kini tengah memeluknya dari belakang kala melewati area jembatan gantung."Apa pekerjaanmu di Singapura? Bagaimana kamu bisa berangkat? Apa menjadi TKI ilegal?" tanya Fujiko penasaran.
"Ini rahasia antara kita berdua. Ayahku punya kasino disana. Dan rencananya aku mau membuat club'malam, karena ayah bilang prospeknya bagus." Jawaban dari Raka, membuat Fujiko memukul punggung kekasihnya.
"Waiter atau tukang cuci piring saja bangga! Impianmu sudah setinggi langit." Wanita yang menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
Pemuda itu menatap langit yang semakin cerah saja. Ada yang aneh dengan dirinya."Aku ingin lagi," gumamnya.
"Apa?" tanya Fujiko.
"Bagaimana jika nanti kita melakukannya di tempat berbahaya?" tanya Raka, sedangkan sang istri hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti.
Hingga motor Fujiko berhenti di area pabrik. Dirinya sudah bertekad bulat memutuskan untuk berhenti, pergi ke luar negeri bersama suaminya walaupun nekad menjadi TKI ilegal.
"Raka kamu punya uang lima juta?" tanya Fujiko.
"Berapa nomor rekeningmu?" Raka meraih phonecellnya. Berjalan mendekati pabrik mencari sinyal WiFi. Benar-benar sifat yang menurun dari Patra. Tidak bertanya untuk apa sama sekali. Yang jelas kepentingan istri adalah yang utama.
"Akan aku gunakan untuk membayar denda pelanggaran kontrak. Kontrak kerjaku sebenarnya masih satu tahun lagi," ucap Fujiko ragu bercerita.
Raka tersenyum simpul, kembali memasukkan phonecell ke sakunya."Kamu tidak akan didenda. Katakan kamu sudah menikah dengan pacarmu yang sering naik sepeda, lalu memutuskan berbulan madu ke Singapura."
"Tapi---" Kata-kata Fujiko disela.
"Tidak ada tapi-tapian!" tegas Raka mendorong istrinya masuk.
Fujiko menelan ludahnya, ini sudah cukup siang, mungkin kepala pabrik ada di ruangannya.
"Fujiko," sapa Nolan tiba-tiba, tersenyum memegang bahunya.
"Apa?" tanya Fujiko yang sejatinya malas untuk bicara.
"Bagaimana jika kita makan malam di restauran Prancis?" tawaran darinya.
Bug!
Tepat sasaran anak ayam yang meringis kala telur itu retak. Menatap tajam pada Nolan yang tersungkur di lantai.
"Jika ketika belum menikah bebas menyentuhku. Saat sudah menikah ini adalah milik suamiku! Seluruh tubuhku ada tanda patoknya! Satu lagi, kamu sudah punya Tita tapi masih ingin berkencan denganku?" tegas Fujiko.
"Dasar playboy! Dari bau tubuhnya aku sudah bisa mencium aroma h*rmon wanita," gumam wanita itu terlihat kesal.
Hingga pada akhirnya ruangan paling mengerikan itu terlihat juga. Ruangan kepala pabrik, gadis yang hanya dapat menelan ludahnya, mulai mengetuk pintu.
"Masuk," ucap seseorang yang berada di dalam sana.
__ADS_1
Denda senilai lima juta rupiah masih terbayang hingga kini. Dengan ragu dirinya duduk perlahan.
"Fujiko! Ada apa kemari? Kamu tidak suka posisimu, aku bisa meminta ke kantor pusat, untuk menaikkanmu menjadi sekertaris direktur." Ucap kepala pabrik antusias. Ini memang rencananya, telah menghubungi sang CEO kantor pusat sebelumnya. Membocorkan identitas investor.
Mengikat Fujiko di perusahaan akan berdampak baik. Raka tidak mungkin akan menjual sahamnya, bahkan CEO sendiri yang mengatakan akan menaikkan posisi Fujiko dari buruh pabrik menjadi sekretaris, benar-benar KKN.
"Sebenarnya aku menikah kemarin dengan temanku yang sering menaiki sepeda. Dia akan menjadi TKI di Singapura. Aku ingin ikut tinggal dengannya." Ucap Fujiko cepat.
Sang kepala pabrik mengenyitkan keningnya tidak mengerti dengan istilah TKI, apa TKI adalah singkatan dari Teknologi Komunikasi antara Investor? Tapi prinsip asal bos senang, memang harus selalu dipegangnya. Dirinya tersenyum ramah kali ini.
"Kamu boleh bekerja di pabrik ini lagi jika mau. Kalau kamu sudah kembali dari luar negeri." Sang kepala pabrik tersenyum.
"Tapi uang denda---" Kata-kata Fujiko disela.
"Khusus untuk pegawai teladan sepertimu tidak ada uang denda. Omong-ngomong sampaikan salam bapak pada suamimu. Katakan bapak adalah bos yang baik, pekerja keras, pintar, cekatan dan termasuk handal," pintanya, dijawab dengan anggukan kepala oleh Fujiko.
"Semoga aku naik jabatan," batin kepala pabrik, penuh harap Raka akan bicara pada CEO untuk menaikkan jabatannya.
*
Wanita itu berjalan perlahan melewati area yang dipadati dengan karyawan pabrik. Hingga seseorang menyapanya.
"Fujiko, kenapa tidak menggunakan seragam?" tanya Reina.
"Aku mengundurkan diri. Aku dan Raka sudah menikah. Dia akan bekerja di Singapura menjadi TKI. Karena itu aku ikut pergi dengannya." Jawaban darinya, pada sahabatnya.
"Carilah pacar, kamu tidak akan kesepian," ucap Fujiko memeluk janda beranak satu itu.
"Aku janda, wajahku juga tidak secantik wajahmu. Siapa yang akan mau denganku," gumamnya menghela napas berkali-kali.
"Pak Danu juga duda," bisik Fujiko.
Plak!
Satu pukulan mendarat di bahunya. Reina mengenyitkan keningnya, menghela napas berkali-kali."Aku tidak menyukai pria tegas sepertinya. Tidak ada tantangannya. Aku lebih menyukai pria yang tiba-tiba datang seperti almarhum suamiku. Dia takut padaku tapi juga menginginkanku,"
Fujiko hanya dapat memijit pelipisnya sendiri, menatap kelakuan sahabatnya."Takut padamu?"
"Selalu aku yang diatas," ucapnya tertawa, wanita yang sudah terbiasa dengan kepergian almarhum suaminya. Pria yang berprofesi sebagai nahkoda kapal nelayan. Sayangnya meninggal saat melaut.
Mencintai suaminya? Tentu saja, namun takdir berkata lain. Hubungan yang terjalin selama 8 tahun kandas karena maut memisahkan.
Putranya kini berusia 3 tahun, selalu menanyakan pada sang ibu kapan ayahnya pulang dari melaut. Jawaban dari Reina, selalu satu bulan lagi, menunggu waktu untuk mengatakan yang sesungguhnya pada putranya.
"Fujiko, kita mungkin cukup lama tidak akan bertemu jadi aku akan memberikan saran untukmu. Sebagai seorang istri, aku cukup cemas dengan kemampuan pelakor saat ini. Jadi jika ada pelakor, strategi terbaik adalah buat suamimu tidak berdaya di ranjang. Habiskan tenaganya, hisap sampai kering. Agar pelakor tidak mendapatkan bagian." Saran yang terdengar begitu serius dari Reina.
"I...iya..." jawab Fujiko memaksakan dirinya tersenyum.
*
__ADS_1
Fujiko berfikir sejenak, melirik ke arah suaminya yang memacu kendaraan. Apa benar akan ada pelakor? Tapi, sebelumnya tidak pernah ada wanita yang mendekati si kikir. Mengingat walaupun tampan tapi betapa kikirnya dia.
"Kita mau kemana?" tanya Fujiko.
"Tempat yang ada bathtubnya." Hanya itu jawaban dari Raka, tersenyum licik. Memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Gerbang rumah besar terlihat, rumah yang tidak pernah dilihat Fujiko sebelumnya."Ini rumah siapa?" tanyanya.
"Salah satu rumah keluarga konglomerat. Kita akan melakukannya di sini kali ini. Agar ada tantangannya." Jawaban Raka, menarik istrinya masuk.
Aneh memang, gerbang terbuka otomatis. Hingga motor diparkirkan tidak ada security yang menghentikan mereka. Mata Fujiko menelisik, dirinya benar-benar ketakutan saat ini.
"Kita pulang," pintanya.
"Tidak!" tegas Raka yang seperti melihat situasi.
Pemuda itu tidak ingin ada yang tahu dirinya pulang kecuali security yang memantau dari CCTV. Bersembunyi, mengendap-endap seperti pencuri.
Hingga akhirnya sampai di kamar dengan sekat pintu kaca yang besar. Kamar yang berhadapan langsung dengan taman samping. Pintu yang benar-benar terkunci.
"Kita tidak bisa masuk. Lagipula kamu aneh-aneh saja. Bagaimana jika ketahuan?" bisik Fujiko.
"Tidak akan ketahuan, karena aku punya kuncinya." Raka tersenyum lebar membuka kunci pintu kamarnya sendiri.
Graag!
Bug!
Suara pintu kaca digeser, ditutup, kemudian dikunci. Tirai sekat kaca itu tutupnya. Ruangan yang luas, banyak barang-barang mewah disana. Semuanya terlihat tertata rapi.
"Raka ayo kita pulang. Apa ini rumah kenalanmu? Tapi tetap saja, jika ketahuan---" Kata-kata Fujiko disela.
Tubuhnya didorong di atas tempat tidur berukuran king size. Kedua tangannya ditahan ke atas kepalanya. Benar-benar kesulitan untuk bergerak.
"Kamu tau? Belakangan ini dalam imajinasi liarku, aku ingin mengurungmu di tempat ini. Memanjakanmu seperti dalam sangkar emas," bisiknya menjilat telinga Fujiko.
Wanita yang tidak menyadari ada beberapa foto anak korban penculikan disana. Juga beberapa foto Raka ketika lulus SMU.
"Raka bagaimana jika pemilik kamar datang dan---" Lagi-lagi ucapan wanita itu dipotong.
"Kamu gemetaran? Ketakutan? Justru itulah tantangannya," Ucap Raka melepaskan pakaiannya sendiri, melemparkannya asal.
Wanita yang takut, benar-benar takut dengan ulah suaminya. Inikah yang dimaksud tempat ekstrim? Masuk ke rumah keluarga konglomerat bagaikan pencuri, kemudian membuat anak di salah satu kamar.
"Kamu sudah gila ya?" tanya Fujiko pada Raka.
"Gila karenamu," Raka tersenyum, memangut bibirnya. Dirinya tidak bisa menolak antara sensasi menginginkan dan takut ketahuan.
Pemilik kamar ini, mungkin putra di keluarga tersebut, mengingat barang-barang dan interior yang terlihat. Entah dirinya akan diapakan jika tertangkap.
__ADS_1