Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Menjadi Seorang Ayah


__ADS_3

Toeng!


Toeng!


Toeng!


Kepalanya terasa seperti dipukul pelan, pemuda itu kembali membenahi posisi tidurnya.


Toeng!


Toeng!


Toeng!


"Emh..." gumamnya baru saja terbangun, seorang anak berusia tiga tahun ada disana, memukulnya menggunakan mainan. Sementara seorang wanita duduk di dekat makam sambil memijit pelipisnya sendiri.


"Ini papa? Papa sudah pulang dari melaut?" tanya sang anak dengan wajah yang benar-benar polos, suara yang terdengar sedikit cadel. Membawa mainan yang dilengkapi dengan pir, memukul mukul kepala Imanuel.


Pemuda itu mengerjapkan matanya, hingga suara seorang wanita kembali terdengar.


"Bukan yang itu, papamu yang ini." Ucap sang ibu putus asa, menunjuk batu nisan yang ada disebelah Imanuel. Batu nisan dengan nama Rian.


"Itu batu, ini papa. Kata ibu ketemu papa bukan ketemu batu," gerutu sang anak, membuat ibunya kalah berdebat, kembali duduk memijit pelipisnya sendiri.


Imanuel duduk terdiam, kepalanya masih terasa pusing hingga saat ini. Mungkin pengaruh dari obat bius. Pemuda yang melihat keadaan sekitarnya, mencoba merogoh saku mencari keberadaan phonecellnya tapi nihil, phonecellnya tertinggal di mobil.


"Papa, papa pulang dari laut, katanya ada banyak ikan," sang anak yang terlihat manis, memeluk erat tubuhnya.


"Kamu siapa? Apa orang mabuk yang kebetulan tidur di makam! Besok-besok kalau mabuk tidur di kamar! Jangan di makam suami orang!" bentak sang wanita yang mungkin seusia dengan Imanuel.

__ADS_1


"Ibu, papa baru pulang, jangan marah! Nanti papa pergi," teriak sang anak menangis masih memeluk Imanuel.


"Bantu aku jelaskan padanya. Ini papanya!" sang wanita menunjuk ke arah batu nisan.


"Dan ini orang mabuk yang numpang tidur di makam ayahnya," lanjutnya menunjuk Imanuel.


Imanuel menghela napas kasar belum mengerti situasi yang terjadi. Setelah di restart mungkin otaknya masih loading 30%.


"Jadi begini, nak aku bukan ayahmu," ucapnya mengambil satu-satunya kesimpulan yang tidak dimengertinya.


Sang anak tertunduk, menitikkan air matanya."Ibu bilang kalau aku bisa berhitung sampai 100 papa pulang, bawa banyak ikan bulan depan. Egie tidak bisa berhitung sampai 100, jadi papa tidak sayang Egie,"


Sang ibu memeluk putranya."Papa sayang Egie, karena itu papa melaut. Mencari ikan, untuk Egie makan. Tapi ada badai jadi papa tidak pulang. Itu bukan papa Egie, papa Egie sudah tidur, tidak bisa bangun lagi. Tidurnya di rumah Tuhan," jelas sang ibu dengan air mata mengalir.


"Kasur kita jelek, makanya papa tidak pulang. Egie punya celengan, kita beli kasur supaya papa pulang ke rumah," celoteh sang anak yang belum mengetahui apa itu kematian.


Imanuel tertunduk, kini dirinya sudah bisa sepenuhnya menerka apa yang terjadi pada sang anak. Tapi ini bukan urusannya, ada Nadila dan calon anaknya yang menunggu di rumah. Dirinya harus segera pulang dan menikahinya, bertanggung jawab pada wanita yang dicintainya.


Mungkin satu hari saja, sembari meminjam alat komunikasi. Tempat terpencil di luar kota, kenapa sepupunya yang kikir malah tinggal di tempat seperti ini? Mungkin itulah yang ada di benaknya.


"Kita akan main ayah dan anak, tapi hanya satu hari saja! Ayo naik ke punggungku," Imanuel berjongkok di depan sang anak. Anak itu baik ke punggungnya. Kemudian berteriak senang ketika Imanuel berlari.


"Tunggu! Woi! Egie! Papamu disini!" teriak sang ibu lagi masih ada di makam suaminya. Entah dirinya bisa curhat pada siapa lagi. Fujiko saat ini ikut suaminya menjadi TKI, mungkin tukang cuci piring, atau bekerja menjadi cleaning service.


Hari ini Reina sudah bertekad menceritakan pada putranya tentang suaminya yang tidak kunjung pulang dari melaut. Kenyataan yang selalu disembunyikan dari putranya. Rian, sang suami sudah meninggal lebih dari satu tahun yang lalu, bahkan hampir dua tahun. Sejak itulah dirinya menjadi orang tua tunggal, menitipkan sang anak pada mertuanya di siang hari, pulang bekerja langsung menjemput putranya.


Seperti apa yang dikatakan Fujiko, mungkin dirinya harus mencari pacar, agar memiliki tempat untuk bersandar, terkadang begitu melelahkan baginya. Hingga langkah pertama adalah jujur pada putranya tentang kematian tulang punggung keluarga, sekaligus pria yang dicintainya.


Tapi kejadian aneh ini membuatnya tidak habis fikir. Kala dirinya dengan berlinang air mata, menunjuk ke arah makam suaminya. Putranya malah salah paham.

__ADS_1


"Ujian hidup, semoga pak Danu masih jomblo," gumamnya, mengikuti langkah mereka pelan, hendak meninggalkan makam suaminya.


"Sayang, aku pulang. Jika ada waktu aku datang lagi." Hanya itulah kata-kata dari Reina, antara rela dan tidak meninggalkan batu nisan dengan jazad suaminya yang terkubur.


Hingga tepat di gerbang area pemakaman. Pemuda yang tidak dikenalnya itu menadahkan tangan."Boleh aku pinjam phonecellmu? Aku akan bayar dengan uang," ucap sang pemuda menunjukkan selembar kertas bergambar tokoh proklamator.


"Ini tapi, jangan bawa kabur!" wanita itu meraih selembar uang dan putranya.


Beberapa kali Imanuel mencoba menghubungi tunangannya. Namun, tidak ada jawaban sama sekali, hingga panggilannya diangkat.


"Ha..." Belum mengucapkan sepatah kata, suara bentakan yang didengarnya.


"Sudah aku bilang jangan mengangkat telpon sembarangan." Suara Nadila yang terdengar, tapi kemarahan yang seperti bukan tertuju padanya.


Plak!


Bug!


Suara tamparan dan benda terjatuh yang begitu keras, seperti seseorang dibenturkan pada sesuatu."Asalkan nomor tidak dikenal jangan mengangkatnya! Kamu berani lancang menyentuh phonecellku!" teriak Nadila.


"Ampun nona!" teriak sang pelayan. Hingga panggilan tersebut dimatikan sepihak oleh Nadila.


Dirinya kebingungan saat ini. Harus menemukan pelaku percobaan penculikan atau mungkin pembunuhan terhadap dirinya sebelum kembali. Tidak ingin nyawanya terancam sama sekali.


Para tersangka dalam fikirannya, yang pastinya bukan rekan bisnis, karena tidak ada yang mengetahui dengan pasti keberangkatannya ke luar kota. Mungkin yang memiliki kekuasaan untuk melakukannya hanya Adinda, Patra, Raka, dan Pramana.


Ada yang aneh juga dengan sifat Nadila tadi, Nadila tidak pernah bertindak kasar pada pelayan. Tapi tadi? Apa sebenarnya yang terjadi? Mungkin dirinya harus bersembunyi terlebih dahulu jika ingin selamat.


Tapi bagaimana caranya? Tidak dapat memakai kartu ATM maupun kartu kreditnya sama sekali. Wajah ibu dan anak itu ditatapnya.

__ADS_1


"Kembalikan handphoneku!" Reina menadahkan tangannya. Imanuel berfikir keras, dirinya juga tidak bisa menyewa kamar hotel, karena membutuhkan kartu identitas nantinya. Bagaimana jika orang-orang jahat itu datang lagi? Dirinya benar-benar takut. Apa mungkin akan di mut*lansi?


Tangannya mengembalikan phonecell milik Reina. Tapi dengan cepat meraih Egie."Nak, aku mau jujur padamu. Aku ayahmu..."


__ADS_2