
Fujiko menggigit bibirnya sendiri menjambak pelan rambut Raka. Namun juga ingin mendorongnya. Dirinya bingung saat ini, tidak bisa bersuara sama sekali, takut perbuatan absurb mereka ketahuan.
Kenapa tidak di semak-semak sekalian jika ingin di tempat ekstrim? Jika di semak-semak mungkin akan tertangkap oleh orang desa, dapat melarikan diri dengan cepat. Tapi ini? Di kamar rumah anak keluarga konglomerat? Apa Raka sudah gila? Jika tertangkap mereka akan dimasukkan ke dalam penjara.
"Raka sudah!" lirihnya, tapi malah memeluk Raka kala tubuh mereka perlahan menyatu."Hen...hentikan!" pintanya, mencakar kuat punggung pria yang tengah menikmati ceruk lehernya.
"Hentikan!?" tanya Raka menggerakkan tubuhnya, ini benar-benar menyenangkan, istrinya bahkan menutup mulutnya sendiri, tidak ingin mengeluarkan suara sedikitpun. Matanya terpejam dengan tubuh yang berguncang pelan.
"Ayo bicara, keluarkan suaramu," ucap Raka, menjilat lehernya lagi. Ini menyenangkan, benar-benar menyenangkan. Wanita yang ketakutan tapi menginginkannya. Bagaikan tertekan secara psikologis.
"Ra... Raka, jika pemilik kamar masuk. Kita---" Kata-katanya terhenti, pemuda itu mencium bibirnya. Bodohnya lagi Fujiko membalas.
Ingin tapi takut, sensasi yang aneh dari istrinya. Sekali-sekali memang menyenangkan berbuat seperti ini. Fujiko tetap menutup mulutnya sendiri dalam kamar yang dilengkapi peredam suara.
"Hentikan! Sudah!" pinta Fujiko lagi.
Raka hanya diam, tidak banyak bicara seperti istrinya. Benar-benar gemas rasanya, hingga sang pemuda terengah-engah, mengecup kembali leher istrinya. Merasakan tubuhnya yang terasa lebih rileks, rasa bahagia yang membuatnya tersenyum, menginginkan anak dari istrinya? Tentu saja.
"Aku ingin lagi. Kita coba di bathtub ya?" tanya Raka.
Plak!
"Raka!" suara bentakan dari Fujiko, setelah memukul kepala suaminya.
Tapi tetap saja, tiga jam berlalu, sang pemilik kamar belum datang juga. Hingga mereka membersihkan tubuh mereka. Berkembang biak, merupakan suatu keharusan untuk mempertahankan populasi bukan? Karena itu mereka merupakan salah satu anggota spesies manusia yang bertanggung jawab untuk memperbanyak populasi manusia.
Mata Fujiko menelisik dengan rambut yang basah. Interior klasik, khas pria dewasa. Tempat tidur bagaikan kaum bangsawan, dilengkapi tirai. Ruangan khusus berisikan pakaian, sepatu, serta aksesoris pria. Siapa sebenarnya pemilik kamar ini?
Wanita yang baru menyadari terdapat beberapa foto di ruangan tersebut. Foto anak-anak yang menjadi perhatiannya. Wajahnya tersenyum, terlihat foto lama, seorang anak dengan cukuran berponi bagaikan mangkok, memakai setelan tuxedo, khas putra konglomerat. Anak yang benar-benar tampan.
__ADS_1
Namun, seperti tidak asing dengan sang anak. Fujiko mencoba mengingatnya, sesaat kemudian menutup mulutnya sendiri.
"Pangeran!" batinnya, mengingat tingkah konyolnya memasuki rumah kepala desa, hanya untuk menemui pangeran kaya korban penculikan.
"Sial, ini kamarnya! Kenapa bisa kebetulan?" batinnya lagi.
Hingga matanya kembali menelisik, menelan ludahnya sendiri. Ingin mengetahui bagaimana anak itu tumbuh setelah belasan tahun berlalu. Kita anggap saja hanya kepo.
"Ayo kita pulang," Raka yang baru keluar dari kamar mandi memeluknya dari belakang.
Wanita itu menghela napas kasar. Dirinya tidak boleh mengatakannya pada Raka. Jika Raka tahu apa akan cemburu dan mendiamkannya seperti sebelumnya? Tidak, Raka tidak boleh tahu sama sekali.
Satu foto yang terlihat dari sisi kanan rak kaca tidak jadi diraihnya. Foto yang sejatinya berisikan foto suaminya ketika SMU.
"Kita pulang..." Fujiko menghela napas kasar, dirinya melakukan hal tidak sen*noh di dalam kamar kenalannya ketika kecil.
Ketika melewati rak, foto yang hanya dapat dilihat dari sisi kanan rak kaca itu dilirik oleh Fujiko. Tapi dengan cepat Raka menutupi foto dengan cara menyandar pada rak.
"Ada apa?" tanya Raka penuh senyuman, menyembunyikan foto pemilik kamar sebenarnya.
"Ti... tidak apa-apa," jawaban dari Fujiko, bagaikan istri yang takut ketahuan selingkuh.
"Oh... ayo kita pulang sebelum ketahuan. Lain kali bagaimana jika kita berbuat seperti ini lagi?" tanya Raka mengikuti langkah Fujiko yang berjalan pergi.
"Tidak mau!" tegas Fujiko.
*
Seperti sebelumnya, pemuda itu dan istrinya mengendap-endap, menuju tempat parkir. Sedangkan dua orang security yang ada di post keamanan mengenyitkan keningnya menatap aneh pada CCTV yang berada di sekitar rumah.
__ADS_1
"Tuan muda Raka sedang apa?" tanya security yang tengah meminum kopi.
"Mungkin membawa pacarnya diam-diam. Biasa anak muda, omong-ngomong pacarnya cantik juga ya? Lebih cantik dari tunangan tuan muda Imanuel." Gumam security lain yang tengah memakan donat.
"Beberapa jam lalu mereka masuk ke kamar lewat pintu samping, kemudian menutup tirai kamar kan?" Security yang masih memegang kopinya kembali bertanya.
"Iya, dasar anak orang kaya, kelakuannya ada-ada saja. Punya pacar cantik bukannya diperkenalkan baik-baik malah langsung kumpul kebo," Mulut security yang memakan donat masih penuh. Tombol di tekannya membuka pintu gerbang secara otomatis, kala Raka mengendarai motor milik Fujiko meninggalkan kediaman utama.
*
Fujiko menatap heran, pintu gerbang yang tertutup, terbuka secara otomatis lagi. Ada apa ini? Apa hanya kebetulan sistemnya rusak? Entahlah, tapi benar-benar menegangkan baginya.
Angin menerpa sedikit rambut Raka yang tidak tertutup sempurna oleh helm. Sesekali bersenandung ria melajukan motor milik istrinya."Akhirnya melakukannya di bathtub juga," gumamnya dengan fantasi liar yang terpenuhi. Tiga tempat sudah dicobanya, tempat tidur kamarnya, bathtub, bahkan di bawah shower.
"Akhirnya! Akhirnya! Aku hampir mati jantungan! Jika pemilik asli kamar datang bagaimana!?" bentak Fujiko, masih memeluk Raka dari belakang.
"Tidak apa-apa, aku kan punya kunci pintu samping. Jadi kita bisa kabur dengan cepat," jawaban tanpa dosa dari sang suami.
Suami yang benar-benar menyebalkan, selalu menganggap enteng segala hal. Tapi entah kenapa Fujiko masih berfikir satu hal, tentang anak yang ada di foto, tiba-tiba saja memeluk Raka dengan erat.
Ingatan masa kecil yang hanya sekilas, dirinya sebelumnya hanya ingat dirinya memasuki kamar kepala desa, lalu tidur dengan sang anak yang dipanggilnya pangeran. Tapi entah kenapa tiba-tiba tangannya gemetar, mengingat sesuatu.
Anak laki-laki yang menatap dingin dengan napas terengah-engah, membawa sebuah pisau."Jangan mendekat! Atau aku akan membunuhmu!" bentak sang anak kala itu.
Wajah tampan yang dulu selalu dikaguminya berubah. Darah yang menetes dari luka sang anak diingatnya. Dirinya juga mulai mengingat, bagaimana sang sang anak hampir menggores lehernya sendiri, karena orang tuanya yang menjemputnya secara paksa. Kejadian yang disaksikan seluruh warga desa.
Dirinya yang masih terlalu kecil saat itu, hanya terpaku pada wajah tampan dan pakaian mahal menganggap anak mengerikan itu adalah pangeran. Menyelinap masuk ke dalam kamar kepala desa tengah malam. Tempat sang anak bersembunyi membawa sebilah pisau. Kini Fujiko ingat, anak itu juga mengancam dan melukai lengannya.
"Aku bahagia!" teriak Raka setelah mendapatkan jatah. Sedangkan Fujiko hanya tersenyum, dirinya hanya akan mengingat sang anak bukan sebagai ke kenangan yang indah lagi. Tapi kenangan yang menakutkan, mungkin anak itu akan tumbuh menjadi pembunuh berantai.
__ADS_1