
Apa yang sebenarnya terjadi pada Sean tiga minggu ini?
Tepatnya dua minggu lalu...
Bagaikan bulan madu, dua orang itu masih berada di atas tempat tidur, dengan sang pemuda yang memangku Barbara. Hanya tertutup selimut dengan sang pemuda yang menyelimuti diri dari bagian punggung, sedangkan Barbara yang duduk di pangkuan Sean, memegang selimut dari depan. Satu selimut berdua, menahan hawa dingin dari hujan yang menerpa.
Saling mengecup, menahan tawa mereka agar tidak terdengar. Hingga suara mobil terdengar, Sean menghela napas kasar, mengambil pakaiannya, kemudian berjalan ke kamar mandi hendak bersembunyi.
Wanita dengan gaun biru tuanya itu melangkah memasuki villa. Berjalan dengan cepat."Kamu benar-benar mendengar suara pria?" tanya Nadila.
"Iya, nona!" Jawaban dari sang pengawal.
Wanita itu menghela napas kasar, meraih samurai yang sebelumnya hanya menjadi pajangan di atas meja. Tangan kurusnya menyeret pedang menaiki anak tangga.
Apa tujuannya harus tercapai, mungkin sifat itulah yang nanti akan diturunkan pada Valentino, putranya.
Tang!
Tang!
Tang!
Suara besi berbenturan dengan keramik terdengar. Sebuah samurai yang berat terbuat dari bahan terbaik. Perlahan membentur tangga, wanita dengan wajah tanpa ekspresi. Hanya senyuman yang terlihat di wajahnya. Tidak ada lagi orang yang dicintainya di dunia ini. Mungkin ada hanya Valentino yang terlihat bahagia dengan keluarga barunya. Atau ayahnya Jovi. Hanya dua orang yang mungkin akan tetap bahagia setelah kepergiannya nanti. Mati bersama seseorang bernama Dwiguna.
Tapi jalan yang susah payah dibuatnya tidak boleh gagal sama sekali. Dan sekarang ada seseorang yang ingin menyelamatkan Barbara. Jangan mimpi dapat keluar dari villa ini dalam keadaan hidup.
"Buka," ucap Nadila pada dua orang penjaga yang berada di depan kamar Barbara.
Pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang wanita yang duduk dengan tatapan mata tidak suka padanya. Nadila menghela napas kasar, masih dengan samurai di tangannya.
"Siapa yang datang? Apa Raka?" tanya Nadila pada wanita di hadapannya.
"Apa maksudmu!? Kamu sudah mengurungku hampir dua bulan! Dasar wanita kampungan..." cibir Barbara mengalihkan perhatian. Namun tidak ada reaksi berbeda dengan biasanya.
Tangan putih, dingin itu masih menyeret pedang."Jika aku menemukan tikus itu aku akan membunuhnya tepat di hadapan mu." Senyuman terlihat di wajah Nadila.
Sedangkan Sean yang dari tadi mengintip dari kamar mandi menelan ludahnya sendiri. Bingung harus bagaimana nantinya.
Tang!
Tang!
Tang!
Suara pedang membentur lantai marmer terdengar. Terlihat wanita itu melihat ke bawah tempat tidur Nadila.
__ADS_1
"Aku tidak tau dengan yang kamu katakan! Sudah aku bilang aku sendiri! Aku---" Kata-kata Barbara disela.
"Aku terlalu berbaik hati membebaskan mu. Mulai sekarang aku akan mengikatmu. Apa kamu mengerti?" Nadila tertawa kecil.
"A...apa maksudnya?" tanya Barbara ketakutan, mulai cemas.
"Aku berubah fikiran. Hanya perlu kamu bertahan hidup hingga waktu yang diperlukan. Setelah itu tinggal bakar mayatmu. Lagipula tidak akan dapat menentukan penyebab kematian korban dengan tubuh yang hancur total kan?" Nadila masih setia tersenyum, mengarahkan ujung samurainya pada wajah Barbara.
"A...aku mohon, aku ingin hidup..." pinta Barbara pada akhirnya ketakutan.
Sean hanya dapat bersembunyi tidak tahu harus apa. Menyelamatkan Barbara? Dirinya ingin melakukannya, jemari tangannya mengepal air matanya mengalir. Bagaimana pun ber*ngseknya, dirinya masih tetap memiliki hati.
"Barbara!" batinnya hendak keluar, namun Barbara menggeleng tipis seakan memberikan isyarat baginya untuk diam.
"Dia bersembunyi di kamar mandi..." Nadila tertawa kecil.
Dan benar saja, kedua orang pengawal menyeret Sean. Pemuda yang berusaha memberontak. Tapi gerakannya terhenti kala sepucuk senjata api ditodongkan pada pelipisnya.
Matanya menatap iba pada Barbara yang menangis, entah karena ketakutan atau mencemaskan nasibnya.
Bruk!
Sean didudukkan paksa di lantai tepatnya di hadapan Barbara. Sedangkan Nadila kini beralih mendekati Sean."Kamu siapa? Apa sudah bosan hidup?" tanyanya.
"A...aku Sean, kekasih Barbara!" tegas Sean tertunduk.
"A... aku---" Kata- kata Sean terpotong.
"Dia hanya kebetulan lewat. Kami tidak saling mengenal! Tolong biarkan dia keluar!" pinta Barbara dengan air mata yang mengalir."Lepaskan dia..." pintanya terisak.
Nadila mengenyitkan keningnya."Wanita sepertimu juga bisa menangis?"
"Lepaskan Sean! Aku akan menuruti kata-katamu." pintanya lirik.
"Tau penghukuman orang jaman dulu? Tebas..." gumam Nadila, mengangkat samurainya menggunakan kedua tangannya.
Sedangkan Sean hanya tertunduk dengan air mata mengalir."Hiduplah dengan baik..." pintanya pada Barbara.
Tang!
Tangan Nadila gemetar, menjatuhkan samurai di tangannya. Napasnya terasa sesak, bagaikan tikaman pisau menghujam dadanya. Kalimat yang hampir serupa, seragam berlumuran darah itu lagi. Juga wajah ibunya yang tertunduk, melindunginya dari amukan sang ayah tiri.
Dirinya masih mengingat segalanya. Matanya melirik ke arah Sean, pemuda yang tertunduk. Tidak dapat berbuat apa-apa dengan hidupnya kali ini.
"A...aku tau kamu tidak akan segan-segan membunuh kami. Ta...tapi sepertinya aku hamil, apa kamu akan membakar ku bersama anakku. Nadila a...aku mohon, biarkan Sean dan aku hidup. Aku akan membantumu meraih tujuanmu. A...aku mohon, hanya dia dan ayahku yang aku miliki saat ini." pintanya lirih.
__ADS_1
Wanita itu kembali memungut samurainya. Matanya menatap ke arah mereka. Air matanya mengalir tapi wajah yang terlihat tanpa ekspresi sedikitpun.
"Anggap saja aku tidak datang hari ini dan melihat keberadaan mu," gumam Nadila dengan air mata mengalir.
Tidak mengerti dengan apapun, wanita yang memakai dress biru muda itu melangkah pergi. Diikuti dengan pengawal pribadi miliknya.
Bug!
Pintu kembali tertutup, Barbara segera bangkit, menjatuhkan dirinya dalam pelukan Sean.
"Ja... jangan menangis." Pinta Sean, menghapus air mata Barbara.
Wanita itu mengangguk. Kembali memeluk kekasihnya, satu-satunya pria yang peduli padanya selain ayahnya sendiri.
"A...apa kamu benar-benar hamil?" tanya Sean pelan.
"Tidak tau, tapi sudah lima hari periode bulananku belum datang. A...apa aku hamil? Aku belum siap," Ucap Barbara ragu.
Sean mengeratkan pelukannya tidak dapat berkata apapun, air mata kebahagiaan yang mengalir. Mengingat dirinya ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang menikah lagi. Kali ini akan memiliki keluarga utuh.
"Aku mencintaimu..." Kata-kata lirih darinya.
*
Dua orang yang tidak menyadari seorang wanita berada di balik pintu. Memerintahkan semua pengawal meninggalkannya.
Air matanya mengalir, jika saja Dahlan masih hidup. Mungkin dia juga akan bahagia dengan kehadiran Valentino. Membesarkannya bersama-sama, tapi segalanya sudah terlambat hati yang bercampur dendam tidak akan dapat membesarkan putranya dengan baik. Karena itu, mungkin ini lebih baik.
Merindukan setiap detik kebahagiaan bersamanya. Tidak ada yang dapat menggantikannya. Wanita yang mulai bangkit, menghela napas berkali-kali memikirkan langkah selanjutnya.
*
Kembali pada saat ini, kala sepasang muda-mudi terlihat canggung. Ragil menghela napas kasar, menatap ke arah Cahaya.
"Cahaya, apa kamu sedang menyukai seorang pria?" satu pertanyaan dari Ragil, ingin mengetahui apa dirinya masih memiliki harapan di tengah cuaca mendung.
"Tidak..." Bagaikan petir, menyambar jiwa Ragil.
"Tidak satupun?" tanya Ragil lagi, tidak ingin mati penasaran jika tertangkap.
"Aku menyukai seseorang, kamu ingat anak rektor yang sering naik motor sport. Sudah ganteng, tinggi dan gentle ditambah menempuh S1 di Singapura." jawaban dari Cahaya.
"Aku mengerti," Ucap Ragil terdengar aneh."Aku akan melindungimu. Walaupun bunga hatimu bukan aku..."
"Bunga bank? Kalau bunga bank aku tidak punya. Ragil apa rasa sosis bakar jumbo dengan saus mayones itu sakit?" Satu pertanyaan dari mulut Cahaya dengan berbisik.
__ADS_1
"Sakit! Hati ini sakit!" gumamnya, mencari jalan masuk lebih dalam diikuti Cahaya.