Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Aku Ingin Kamu Hidup


__ADS_3

Tiba-tiba suara kunci pintu terdengar, pertanda seseorang akan masuk memeriksa keadaan. Secepat kilat Sean segera bersembunyi di bawah tempat tidur. Tidak terfikirkan tempat lain. Sedangkan Barbara berusaha bersikap normal, duduk mengupas buah apel piyama kimono dengan bahan kain satin melekat di tubuhnya. Motif yang benar-benar terlihat mewah, tempat itu memang bagaikan rumahnya sendiri.


Apa yang dimintanya harus dituruti, jika tidak wanita itu akan mengancam bunuh diri.


Ada alasan tersendiri mengapa Nadila tidak menyiksa atau berniat membunuhnya sekarang. Jika Barbara terluka atau mati lebih dulu dari Imanuel, maka tidak akan terlihat seperti bunuh diri bersama, karena cinta tidak direstui.


Brak!


Pintu dibuka dengan kencang, terlihat Nadila berdiri di sana memeriksa keadaan Barbara. Ada pecahan gelas yang tertinggal, mungkin Barbara memang sempat menjatuhkan gelasnya.


Tapi tidak dengan guci, benda itu tidak berasal dari ruangan ini.


"Ada yang masuk kemari?" tanya Nadila.


"Mau apel?" Barbara mengenyitkan keningnya, menawarkan apel yang sudah dikupasnya. Wanita murahan melawan wanita psiko inilah yang terjadi. Tapi syukurlah tidak ada istri teraniaya dan suami bodoh di sini. Jika ada mungkin sang istri lemah akan mati kurang dari 24 jam.


Nadila berjalan cepat, kuku-kukunya mencengkeram pipi Barbara."Siapa yang datang!?" bentaknya, mencurigai ada orang yang menyusup ke dalam villa.


Sedangkan Sean hanya dapat terdiam, mengepalkan tangannya tidak dapat menolong Barbara saat ini.


"Mana aku tau! Aku ada disini dari tadi! Kemarin saja ada tikus menjatuhkan vas bunga kalian takut setengah mati. Aku bisa melihat dari balkon tempat ini dijaga ketat! Makanya aku tidak kabur! Pipiku sakit! Kamu mau ada bekasnya, jika aku tergores sedikit saja mungkin DNA akan tertinggal nanti." Ancaman dari Barbara agar tidak dilukai.


Nadila menghela napas kasar dirinya memang tidak boleh melukai si br*ngsek ini. Matanya menelisik, tempat yang terlihat rapi. Apa mungkin ada orang yang bersembunyi? Tapi tidak, pengawal ada di balik pintu saat ini.


"Tetap makan dan jangan melukai diri sendiri! Atau setelah kematianmu aku akan membunuh ayahmu," tegas Nadila berjalan pergi.


Brak!


Pintu kembali tertutup, dikunci dari luar. Segera setelahnya Sean menghela napas berkali-kali. Pemuda yang keluar dari tempat persembunyiannya.


Barbara hanya terdiam, sembari memakan apel yang baru dikupasnya. Tapi tangan wanita itu gemetar, dirinya benar-benar takut saat ini jika tidak ada yang menyelamatkannya.


"Orang-orang dari ayahmu sedang mencarimu, kamu tenang ya?" Sean meraih pisau buah di tangan Barbara. Pemuda yang segera memeluknya, menenangkannya yang mulai menangis.


"Aku tidak mau mati!" ucapnya terisak dengan suara kecil.


"Fumiko, saudara dari Fujiko yang memberikanku petunjuk. Mungkin jika aku menghilang dia akan segera sadar dan mengikuti petunjuk yang diberikannya padaku." Sean meyakinkan, harapan yang sejatinya sangat tipis. Apa Fumiko dapat menemukan foto lukisan diantara 20 foto chatt? Atau apa Fumiko peduli untuk mencarinya? Entahlah, tapi dirinya harus menenangkan Barbara, wanita yang menangis terisak.


"Jangan menangis. Ular berbisa sepertimu harus tegar, agar dapat menikah dengan Raka dan menjadi nyonya rumah." Pemuda itu melepaskan pelukannya, menghapus air mata Barbara.

__ADS_1


Dua mata yang saling menatap sesaat."Apa ini akan menjadi akhir hidupku?" tanya sang wanita.


Sean menggeleng."Tidak akan, Raka akan datang menyelamatkanmu."


"A...aku ingin menikah." Barbara menghela napas kasar.


"Raka akan menikah denganmu," jawaban dari Sean.


Wanita itu menggeleng."Bagaimana jika kita berjanji menikah jika kita selamat?"


"Aku dan kamu? Tidak salah?" Sean tertawa kecil.


Barbara mengenyitkan keningnya, menatap jengkel."Kamu tidak menyukaiku?"


"Sebr*ngsek- br*ngseknya pria akan menginginkan wanita baik-baik. Begitu juga wanita, sebr*ngsek-br*ngseknya wanita akan menginginkan pria bertanggung jawab dan setia. Kita tidak akan cocok." Jawaban dari Sean.


"Lalu kenapa kamu berkorban nyawa sampai kemari? Karena 500 juta? Tidak mungkin kan?" Barbara menyipitkan matanya.


"I...itu karena---" Sean terbata-bata.


"Karena apa? Raka tidak peduli kan? Malah kamu yang peduli. Dilihat dari kantong matamu sudah beberapa hari kamu tidur tidak nyenyak!" tegas Barbara.


"Kita dapat belajar lebih bertanggung jawab dan setia bersama. Kita sama-sama br*ngsek, jika memiliki pasangan baik, kemudian mengetahui masa lalu kita, bukannya kita hanya akan dipandang rendah. Lain halnya jika kita bersama." Ucap Barbara menyudutkan Sean. Bahkan menarik sabuk sang pemuda, melepaskannya perlahan.


Sean tertawa."Barbara kamu bercanda kan?"


"Aku hampir mati disini, kamu tau betapa cemasnya aku akan mati besok atau lusa! Aku juga merindukanmu," wanita yang sejatinya ragu untuk berucap.


Apa Sean dapat menjadi suami yang baik? Tapi memang beberapa minggu dalam penyekapan bukan Raka yang ada di fikirannya untuk menyelamatkannya. Tapi Sean, satu-satunya orang selain ayahnya yang akan menganggap keberadaannya. Hubungan ambingu yang berawal dari sama-sama ingin bersenang-senang.


Tapi bagaimana jika dirinya mati besok tanpa dapat bertemu dengan Sean. Pemuda itu kini berada disini, ikat pinggang pemuda itu dilemparkannya di atas tempat tidur.


Bibir pemuda itu diciumnya bringas.


"Barbara! Hentikan! Bagaimana jika ada orang masuk! Selain itu tidak ada pengaman di sini!" Sean mencorong tubuh wanita di hadapannya.


"Sudah aku bilang! Kita akan menikah, jika kamu tidak mau setelah kita selamat nanti aku pastikan kedua restauran milikmu akan tutup!" ancaman dari Barbara.


Mata pemuda itu menatap lekat padanya."Hentikan, ayahmu tidak akan setuju pada pria kelas bawah, br*ngsek sepertiku."

__ADS_1


"Masa bodoh!" jawaban dari Barbara, wanita yang tersenyum mengganjal pintu menggunakan balok kayu, mempersulit orang untuk masuk.


Sang wanita yang mendekat. Mungkin ajalnya hanya beberapa hari lagi, karena itu dirinya ingin bersenang-senang dan menghabiskan waktunya yang berharga. Berbuat dosa? Dua orang antagonis aneh yang sudah biasa melakukannya.


Perlahan bibir mereka mendekat, saling menaut terlihat brutal. Tali kimono satin ditarik oleh Sean hingga teronggok di lantai.


Bug!


Tubuh Barbara dijatuhkan di atas tempat tidur."Dengar baik-baik, jika kamu tidak membalasnya tolong lupakan kata-kataku. Aku menyukaimu, mencintaimu. Wanita nakal yang sama br*ngseknya denganku."


"Aku membalasnya..." Ucap Barbara dengan bibir kembali bertaut.


Masa bodoh tidak ada alat pengaman, benar-benar masa bodoh. Helai demi helai pakaian Sean teronggok di lantai.


Dua orang yang berciuman berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Keringat mereka bercucuran, ini terasa berbeda dengan saat-saat sebelumnya. Saling mencintai? Kata yang ambigu.


Bahu Sean bahkan sempat digigit olehnya.


"Barbara..." lirih pemuda itu kala tertunduk lemas dengan wanita si bawah tubuhnya. Untuk pertama kalinya membuahi rahim wanita. Sepasang cairan yang menyatu terasa benar-benar hangat.


Kenapa harus di situasi ini? Kenapa harus di situasi hidup dan mati? Karena mungkin Barbara telah banyak berfikir kala beberapa minggu dalam penyekapan. Setiap orang memiliki kelemahan dan sifat buruk. Ini hanya tentang bagaimana mereka berusaha untuk berubah.


Hingga dua orang yang menatap langit-langit kamar. Sejenak Sean memeluk tubuhnya, sesuatu yang untuk pertama kali dilakukan playboy itu.


"Aku akan berubah, hanya konsentrasi pada restauran dan padamu. Tapi jangan dekati pria lain, karena mulai saat ini, di tempat ini hanya akan ada anak-anakku." Bisik Sean terlihat serius, mengusap-usap perut Barbara.


Barbara mengenyitkan keningnya."Memang kamu bisa berubah?"


Pemuda yang mengangguk."Jika kita bisa keluar nanti aku akan menikahimu. Tapi jika salah satu dari kita harus mati. Aku ingin aku yang mati, agar kamu dapat keluar dengan anakku yang mungkin akan ada nanti."


Gombalan tingkat tinggi, tapi kali ini dengan hati yang tulus. Dirinya tidak tahu mengapa, dapat membuat hidupnya dalam bahaya hanya untuk wanita murahan. Wanita murahan yang dicintai pria murahan.


"Kamu tidak akan mati, kita akan keluar bersama-sama. Omong-ngomong aku ingin lagi." Barbara tersenyum, tiba-tiba duduk di atas tubuh Sean.


"Dasar!" Sean tertawa kecil. Pemuda yang selalu cemas menatap ke arah pintu. Semoga Imanuel tidak ditemukan, sebelum seseorang datang menyelamatkan mereka.


"Kita terlalu santai untuk orang yang disekap." Gumam Sean.


"Aku sudah berminggu-minggu disini tanpa TV dan Internet, aku benar-benar bosan. Karena itu, hanya ini hiburanku!" Barbara tersenyum simpul.

__ADS_1


__ADS_2