Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Mitos


__ADS_3

Fujiko menghirup napasnya kemudian menghembuskannya perlahan. Dirinya harus banyak-banyak bersabar dalam menghadapi sang mantan.


Bagaimana mereka dapat bersama dan dapat putus? Semua dimulai ketika Fujiko dikenalkan dengan seorang pemuda oleh sahabatnya. Pemuda yang bekerja sebagai salah satu staf kepercayaan di perusahaan milik seorang WNA. Penghasilannya? Saat itu gaji Theo 10 juta per bulannya, sesuai syarat dan memenuhi kriteria dari kakak-kakaknya.


Dirinya berusaha menerima Theo, tidak meminta atau menyinggung apapun. Hingga hal aneh, kekasihnya memang berpenghasilan tinggi tapi memiliki gaya hidup hedon. Gaji bulanannya habis sebelum awal bulan, hingga sering merayunya untuk meminjamkan uang.


Hingga pada akhirnya Fujiko memilih putus, tidak melanjutkan hubungan yang terasa kurang sehat lagi. Waktu yang mereka habiskan juga tidak banyak dengan alasan lembur. Nyatanya, meminum-minuman mahal di club'malam ternama. Anehnya lagi, karena Fujiko sering mengkritiknya tentang masalah keuangan dia malah menyebut Fujiko materialistis.


"Jika suamiku memang cleaning service kenapa? Lagi pula sebelum kita putus kamu masih berhutang padaku 3 juta rupiah." Ucap Fujiko tersenyum menghina.


"Uang segitu tidak ada apa-apanya. Aku sekarang menjadi pengurus usaha bosku di Singapura. Ini! Sisanya untukmu, aku itu dermawan!" geram Theo memberikan uang 300 dollar Singapura.


"Sisanya? Cuma lebih 300 ribu, bunga bank saja lebih tinggi," gumam Fujiko tetap memasukan uang ke sakunya. Lumayan berhemat untuk bekalnya dan Raka nanti.


"Jadi nona mau pesan apa?" tanya Fujiko.


"Sama seperti suamiku." Jawaban dari sang wanita menatap sinis pada Fujiko. Tidak menggunakan riasan mencolok tapi bisa benar-benar cantik seperti iklan skincare. Dan ini adalah mantannya Theo, suaminya.


"Jadi dua tenderloin steak, dua orange juice dan dua tiramisu." Ucap Fujiko memastikan pesanan mereka.


"Iya, benar. Omong-ngomong kamu semakin cantik saja." Theo tersenyum, tidak segan-segan merayu di hadapan istrinya. Seorang istri yang hanya gadis desa miskin, dinikahinya karena wajah cantiknya saja. Seorang istri penurut karena tebalnya kantong suaminya. Tapi tetap saja, istri mana yang tidak akan cemburu, melihat suaminya merayu wanita yang lebih cantik darinya.


"Maaf aku harus mengambil pesanan." Ucap Fujiko berjalan menuju kitchen, membawa kertas order.

__ADS_1


Theo tampak terdiam, tersenyum-senyum sendiri. Wanita yang benar-benar cantik dan mandiri mau bekerja apa saja, pandai mengatur keuangan. Dirinya masih menyukai Fujiko hingga saat ini, andai saja waktu dapat terulang. Tapi tidak apa juga, Fujiko merupakan tipikal wanita yang materialistis, mungkin menjadi istri ke dua, wanita itu akan mau, mengingat profesi suaminya saat ini.


"Sayang, apa kamu ingin aku bahagia?" tanyanya terus terang pada istrinya.


Sang wanita menatap curiga kemudian mengangguk."Sebenarnya aku masih mencintai Fujiko dari beberapa tahun lalu. Tapi mencoba untuk melupakannya merupakan hal yang sulit. Sebagai sesama wanita kamu peduli padanya kan? Kasihan dia harus bekerja walaupun memiliki suami. Aku ingin menjadikannya istri kedua,"


Sang wanita mengepalkan tangannya, istri mana yang rela dimadu, walaupun dirinya pernah didiagnosa oleh dokter, dirinya tidak subur. Tapi mengatakan secara terang-terangan?


"Tidak, kamu masih ingat kata-katamu ketika melamarku kan? Aku---" Kata-kata sang wanita disela.


"Kalau begitu kita bercerai saja. Lagipula selain merawat diri apa yang bisa kamu lakukan. Sudah miliaran uangku habis untuk perawatan, renovasi rumah orang tuamu di kampung, bahkan aku yang membiayai pengobatan adikmu. Aku juga ingin anak, kamu tidak dapat memberikannya," Kata-kata penuh senyuman dari Theo.


Tangan wanita itu gemetar dirinya benar-benar menahan amarahnya."Dengan mudah kamu mengatakan bercerai? Aku menjadi istri yang penurut, mengabdi pada suami."


"Aku menjadi suami yang baik, memenuhi semua keinginanmu yang tidak masuk akal termasuk menyekolahkan adikmu yang bodoh ke luar negeri. Fujiko saat menjadi kekasihku bahkan tidak sepertimu, walaupun dia selalu ingin tau kemana jalannya uangku tapi dia tidak pernah meminta apapun. Malah aku yang sering merepotkannya." Kali ini Theo menghembuskan napasnya berusaha agar tidak emosi. Bagaimana pun dirinya ke tempat ini untuk urusan bisnis, bertemu dengan partner bisnis bosnya.


"Diam! Jaga sikapmu! Atau aku benar-benar akan menceraikanmu," tegas Theo membuat wanita itu terdiam memendam rasa kesalnya.


Beberapa belas menit berselang, sang partner bisnis belum juga datang. Hingga pesanan kembali diantarkan oleh Fujiko, tanpa makanan pembuka hanya tenderloin steak dan orange juice, dessert akan menyusul setelah makanan utama habis.


Tangan Theo terangkat memanggil manager restaurant. Meminta ijin, sekaligus memberikan tip agar Fujiko diijinkan untuk duduk bersama mereka.


Uang bicara, benar begitu bukan? Walaupun tidak nyaman Fujiko tetap duduk setelah diberikan bagian tip oleh manager restaurant.

__ADS_1


"Ada apa? Aku harus bekerja." Geram Fujiko yang hanya dapat menatap mantan tidak mengenakkannya.


"Duduklah, aku hanya ingin bicara sesuatu padamu. Apa benar suamimu hanya cleaning service disini?" tanya Theo penasaran.


"Tidak tau, tapi dia lulusan SMU, aku jarang bertanya soal pekerjaannya. Tapi kelihatannya begitu, memangnya kenapa?" Fujiko balik bertanya.


"Aku hanya mencemaskanmu, sebenarnya aku tidak enak mengatakan ini karena kita baru saja bertemu. Tapi jika kamu menjadi istri keduaku kehidupanmu akan terjamin. Suamimu pria yang tidak akan dapat membahagiakanmu. Jadi---" Kata-kata Theo dipotong.


"Memangnya kenapa jika suamiku penghasilannya rendah!? Dia dengan sepenuh hati bekerja keras agar aku bahagia. Bahkan setelah kami pulang dari menjadi TKI, dia akan membuka toko kecil," tegas Fujiko.


"Tapi jika menjadi istri kedua---" ucapan Theo kembali dipotong.


"Theo dengar! Jika aku memang ingin menyakiti hati wanita lain, beberapa bulan yang lalu ada seorang direktur yang bersedia menceraikan istrinya demi bisa menikahi denganku." Jelas Fujiko pelan-pelan tidak ingin menyulut pertengkaran dengan mantannya yang memang dari dulu tidak tahu malu.


"Apa kelebihan suamimu dibandingkan denganku?" tanya Theo menyombongkan dirinya. Gajinya kini? Jangan ditanya lagi, dihitung dengan dollar tidak seperti beberapa tahun lalu yang masih berada di posisi staf.


"Dia lebih tampan, jauh lebih tampan. Jika saja aku tidak cemburuan aku mungkin sudah mengusulkannya untuk menjadi selebriti. Bahkan ketampanannya bisa dimasukkan ke dalam kategori lima besar artis Asia timur tertampan!" ucap Fujiko dengan sombongnya membeberkan fakta.


Theo menghela napas kasar."Fujiko dengar! Istriku sudah rela dimadu, aku akan berbagi kasih sayang dengan adil. Bahkan lebih menyayangimu," bujuk rayuan darinya, memegang jemari tangan Fujiko, menelan ludahnya sendiri, lekuk tubuh walaupun berbalut pakaian lengkap, wajah tanpa polesan, tapi kecantikannya jangan ditanyakan lagi. Jauh mengalahkan istrinya saat ini, andai saja dulu dirinya lebih dewasa menyikapi saran kekasihnya. Dirinya dan Fujiko tidak akan berakhir putus.


Brak!


Pyur!

__ADS_1


"Cukup!" teriak sang istri yang emosi, menyiram wajah Fujiko."Pelet apa yang kamu gunakan untuk merayu suamiku!"


"Aku disiram lagi," gumam Fujiko, sudah berkali-kali ini terjadi padanya."Ini Singapura, apa masih ada istilah pelet? Kenapa tidak sekalian saja santet?"


__ADS_2