Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Dilarang Parkir


__ADS_3

"Ekhm..." suara batuk seorang pemuda terdengar. Batuk yang bagaikan disengaja.


"Sesama karyawan perusahaan tidak diperbolehkan memiliki hubungan. Jika tetap dipaksakan salah satunya harus resign. Itu aturan baru, agar kinerja kalian lebih baik." Sindiran telak dari Danu yang tiba-tiba berjalan melewati mereka.


Tapi dalam bayangan Nolan berbeda, menjadikan Fujiko penghangat ranjang. Jika timbul perasaan cinta dalam dirinya maka akan menikahinya. Saat itu, akan meminta Fujiko untuk resign, lagipula dirinya seorang manager, sedangkan Fujiko hanya karyawan biasa.


"Fujiko, sudah lama aku menyukaimu, kita sebaiknya---" Kata-kata Nolan dipotong.


"Kita hanya atasan dan bawahan, tidak baik mempunyai hubungan khusus," ucap dari sang wanita materialistis. Telah mengetahui bukan Nolan pria mapan yang tepat untuknya. Hanya akan menyebabkan dirinya dipecat nantinya.


"Tapi aku..." gumam Nolan, hingga Fujiko mulai bangkit berjalan menjauh duduk di kursi lainnya.


Tidak ingin mencari masalah? Itulah dirinya, mulai makan makanan yang dibuatkan sahabatnya dengan lahap. Senyuman mengembang di wajahnya, mengingat Raka yang telah memaafkannya. Walaupun dirinya tidak tahu apa kesalahannya.


*


Hari bekerja yang benar-benar ceria baginya, sesekali meraba bibirnya sendiri. Wajahnya tersenyum malu-malu membayangkan hal yang semalam dilakukan sahabatnya.


Hingga Reina yang duduk di sampingnya mulai bicara, sembari menyortir barang seperti yang dilakukan Fujiko.


"Apa kalian sudah melewati batas persahabatan?" tanya Reina.


"Tidak, kami hanya sahabat," jawaban dari Fujiko.


"Sahabat? Pria itu menahan diri, tapi sebenarnya dia bernapsu, ingin mengikatmu di tempat tidurnya. Tapi belum menemukan caranya saja," ucap Reina membuat Fujiko menoleh padanya.


"Dia kikir! Miskin! Dan..." Kalimat Fujiko disela.


"Dan berhasil membuat lehermu memerah. Berapa kali kalian melakukan semalam? Apa dia memakai pengaman? Mungkin kamu sedang mengandung anaknya." Reina meraih satu potong pakaian lagi, memeriksa jahitannya.


Fujiko membulatkan matanya. Hamil? Itu tidak terfikirkan olehnya, tapi setahunnya sel telur harus dibuahi untuk bisa hamil."A...apa ciuman dan berpelukan bisa menyebabkan kehamilan?" tanyanya ragu.


Reina menoleh padanya, menatap anak gadis polos di hadapannya."Bisa,"


Wajah Fujiko seketika pucat pasi, jadi mitologi yang didengarnya benar? Bagaimana ini? Mungkin itulah yang ada di otaknya saat ini.


Reina mulai tertawa kecil."Tentu saja tidak, selama kalian tidak berhubungan badan lebih dari itu. Tidak pernah mendapatkan pelajaran biologi?" sindirnya.


Gadis keturunan Indo-Jepang itu tersenyum pada akhirnya, kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Tapi jujur saja, Raka sebenarnya menyukaimu. Tapi kamu yang selalu membangun dinding pertemanan antara kalian." Kata-kata dari Reina membuat kegiatan Fujiko terhenti sejenak.


Dirinya mengingat pertemuan pertamanya dengan Raka. Seorang pemuda rupawan yang tersenyum mengulurkan tangannya. Hingga pada akhirnya sering meminta bantuannya.


Memeras dirinya, bertengkar kecil sembari bercanda, ada kalanya juga menaiki sepeda menikmati angin sebagai acara liburan mereka.

__ADS_1


"Kamu suka?"


"Aku pinjam garam,"


"Makanan sehat tidak seharusnya mahal."


Kalimat demi kalimat yang diucapkannya, terkadang menyebalkan, tapi juga terkadang membuatnya ingin tersenyum. Kala tangan itu mengacak-acak rambutnya.


"Aku mencintaimu juga! Uang!"


Kata-kata yang sempat dijeda sang pemuda. Apa Raka mencintainya? Entahlah namun memang perlahan ada yang aneh dengan hubungan mereka. Benar-benar aneh.


*


Hari sudah menjelang sore, hari ini dirinya sudah berpesan pada Raka akan pulang terlambat. Menaiki motornya, bersama rekan kerjanya yang lain. Hari ini sang kepala pabrik memang berencana mentraktir mereka makan bersama. Mungkin syukuran sederhana antara karyawan karena perusahaan tidak jadi pailit.


Jangan fikir ini jamuan mahal, hanya di sebuah kedai bakso yang cukup besar mengingat banyaknya karyawan dan uang yang berasal dari dompet sang kepala pabrik.


Entah kenapa sang perwakilan investor ikut berada di sana. Matanya selalu mengawasi setiap gerak-gerik Fujiko.


Beberapa karyawati juga mulai bergosip mungkin akan ada persaingan antara Nolan dan Danu untuk memperebutkan Fujiko.


"Pak Danu terus-terusan melihatmu. Mungkin dia menyukaimu, pria mapan, dewasa, kaya." Reina menggoda sahabatnya, mengingat tipikal pria idaman Fujiko.


Pria yang terlihat berkirim pesan dengan seseorang. Hingga Nolan kembali mendekati Fujiko duduk di sampingnya.


"Kamu mau?" ucap pemuda itu menawarkan minuman kaleng.


Hanya minuman kaleng, bahkan Reina juga diberikan olehnya, jadi tanpa sungkan Fujiko menerimanya.


"Aku serius dengan ucapanku tadi siang. Kita bisa menjalani hubungan diam-diam, jangan takut." Nolan kembali memegang jemari tangannya.


Jujur benar-benar tidak nyaman rasanya. Lagi pula tidak ada alasan untuk berusaha menyukai Nolan lagi, mengingat peraturan baru di perusahaan.


"Aku tidak tertarik," Fujiko menarik jemari tangannya sendiri.


Sedangkan Nolan sedikit melirik ke arah leher wanita itu, ada bekas keunguan disana. Wanita yang mungkin tidur dengan banyak pria? Itulah yang ada di fikirannya.


"Mau berteman denganku? Setidaknya kita bisa menjadi teman." Tanyanya tidak menyerah sama sekali. Ingin mengetahui bagaimana untuk menaklukkan gadis ini.


Fujiko tidak menanggapi lagi, lebih memilih berkirim pesan dengan ayahnya. Hingga sekitar 10 menit pesanan mereka tiba. Seorang pelayan kedai menyuguhkan bakso dan ice teh manis.


Pyur!


Wajah Fujiko tiba-tiba disiram oleh seorang wanita."Dasar wanita penghibur! Murahan!" bentak Tita, karyawati baru yang tadi pagi berbicara dengan Nolan.

__ADS_1


"Tita!" bentak Nolan.


"Wanita ini menggodamu lagi kan?! Kita sudah dua minggu pacaran. Aku tau kelakuan wanita penghibur sepertinya! Dia menggoda semua pria termasuk kamu dan pak Danu! Semua orang sudah tahu, bergosip membicarakannya! Dia wanita penghibur! Ada karyawan yang pernah melihatnya naik ke mobil mewah. Memberikan tubuhnya untuk uang!" Tita meninggikan intonasi bicaranya. Mending-nuding wanita yang bahkan baru sekitar tiga minggu dikenalnya. Bahkan dirinya tidak pernah bicara langsung pada Fujiko.


Kecuali hari ini, dirinya menjalin hubungan dengan Nolan. Bahkan setelah 10 hari pacaran sudah sempat tidur bersama. Tapi pria ini tiba-tiba tertarik pada Fujiko? Sudah pasti, wanita penghibur ini yang menggoda Nolan.


Nolan mengalihkan pandangannya, tidak membela Tita atau Fujiko. Sekali lagi, wanita-wanita ini terlalu murah, hanya dengan sedikit pujian akan bersedia memuaskan dengan status pacar.


"Wanita murahan! Mungkin saja kamu mengidap virus menular karena sering berganti pasangan!" teriak Tita lagi.


Karyawan lain mulai berbisik-bisik Fujiko memang beberapa kali dijemput oleh mobil mewah. Bahkan pernah ada kalanya pria tua berjas yang menjemputnya.


"Sudah selesai?" tanya Fujiko menatap wanita muda di hadapannya.


"Belum! Dasar br*ngsek!" Tita hendak menampar wanita di hadapannya. Namun dengan cepat Fujiko mencengkeram tangan Tita sebelum menampar pipinya.


"Skin careku harganya 650 ribu satu paket. Kamu tau modal utama wanita adalah wajahnya? Aku? Wanita penghibur? Menularkan penyakit? Mau ikut tes keperawanan denganku? Kamu juga harus di tes apa kamu masih perawan?" tanya Fujiko membuat Tita beringsut mundur.


"Usiamu lebih muda tapi masih berani membentak yang lebih tua! Jika aku menjual tubuh aku tidak akan tidur di kontrakan murah! Dengan modal wajah aku akan tidur di apartemen menjadi istri kedua pengusaha!" bentak Fujiko balik.


"Ta...tapi kamu masuk ke mobil Om-om gemuk---" Kata-katanya terpotong.


"Itu memang dulu pacarku! Kenapa?! Kamu iri?! Setiap wanita itu punya sifat alami materialistis, tapi ada yang materialistis untuk bersenang-senang. Ada juga yang materialistis agar jika punya anak nanti tidak sengsara! Apa kamu memikirkan masa depan? Sekarang aku tanya pacarmu siapa? Apa kamu pernah tidur dengannya!?" tanya Fujiko mengintimidasi.


"A...aku," wanita itu kembali beringsut mundur. Sedangkan Fujiko maju ke hadapannya.


"Kamu berani mengatakan aku wanita penghibur? Aku dapat menuntutmu atas pencemaran nama baik," ucap Fujiko di hadapannya.


Namun pandangan Tita beralih, terdapat tanda ungu di leher Fujiko."Lalu tanda itu apa? Yang ada di lehermu? Siapa yang membuatnya? Nyamuk! Berapa tarifmu per jam?" sindir Tita.


Fujiko mengenyitkan keningnya, dirinya benar-benar lupa pada bekas keunguan yang dibuat Raka.


*


Sedangkan di area luar restaurant Danu ada di sana bersama kepala pabrik.


"Jadi investor yang asli akan datang?" tanya kepala pabrik, membayangkan pria berjas keluar dari mobil, dengan asisten yang membukakan pintu.


"Iya, dia bilang sedang di perjalanan. Tapi kamu harus ingat, apa pun yang dimakannya harus kamu yang bayar. Karena kamu sendiri yang penasaran dengan wajahnya." Ucap Danu pada kepala pabrik. Bahkan CEO yang ada di kantor pusat tidak mengetahui wajah Raka.


Jantung kepala pabrik berdebar kencang tapi bukan karena jatuh cinta. Dirinya benar-benar penasaran, mungkin orang yang akan datang akan membawa dua mobil dipenuhi pengawal untuk mengamankan lokasi.


Namun setelah beberapa saat menunggu seseorang pemuda menaiki sepeda lengkap dengan celana pendek serta kaos partai pemilu bulan kemarin, memarkirkan sepedanya di hadapan mereka.


"Maaf, jangan parkir di sini, sebentar lagi ada mobil orang penting yang akan masuk." Ucap kepala pabrik pada sang pemuda, berusaha untuk tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2