
Malam mulai menjelang, beberapa agar-agar sudah dicetaknya, didiamkan sebentar sebelum dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Inilah kesehariannya, besok sebelum berangkat ke pabrik dirinya harus membawa agar-agar untuk dititipkan ke warung.
"Tidak tidur?" tanya Imanuel mengenyitkan keningnya.
"Satu jam lagi, setelah ini dingin aku akan tidur." Jawaban darinya.
"Memang berapa keuntungan dari membuat agar-agar. Membuat sebanyak ini paling cuma 20 ribu." Cibir Imanuel heran.
"20 ribu, cukup untuk membeli beras dan sayur." Reina menghela napas kasar, menatap ke arah Imanuel yang hendak memasuki kamar menguap beberapa kali.
"Besok aku boleh pinjam motormu? Aku ingin bertemu seseorang," ucapnya.
"Biar aku yang antar! Nanti kamu melarikan motorku!" tegas Reina, belum dapat mempercayai pemuda di hadapannya.
"Motor butut, sama seperti orangnya, aku tidak akan melarikannya! Motor di rumahku bahkan harganya miliaran rupiah, tapi aku tidak sombong!" Gumam Imanuel mengingat motor bebek tua milik Reina yang masih saja gesit melewati area perbukitan. Masih bandel dan berkecepatan tinggi.
"Siapa tau saja, namanya juga manusia. Sudah kepepet ya jadi gelap mata." Reina menggeleng-gelengkan kepalanya heran, menatap ke arah Imanuel yang telah memasuki kamar.
*
Seperti biasanya, menu sarapan pagi hanya nasi, sayuran dan tahu. Sedangkan Imanuel sendiri memakan roti yang dibelinya di warung. Tidak puas memang rasanya, berbeda dengan sandwich yang biasanya dimakannya sebagai sarapan. Tapi ini adalah tempat bersembunyi paling aman, sebelum mengetahui situasi sebenarnya.
Matanya menelisik, menatap ke arah box plastik dan Egie yang terlihat sudah rapi. Berbeda dengan anak-anak di desa ini yang kurang terawat, memakai baju lusuh atau kaos kutang, bermain dengan mainan seadanya, tapi Egie tidak, anak itu terlihat dari kalangan menengah. Bukan pakaian mahal, namun terlihat bersih.
Mungkin ini alasan Reina selalu terlihat kekurangan walaupun sudah mencari tambahan, alasannya adalah anak.
"Nanti jam 5 sore aku sudah pulang. Kamu harus sudah siap, biar aku mengantarmu. Ongkosnya sama dengan tukang ojek pangkalan, agar aku tidak rugi karena tidak bisa membuat agar-agar nanti malam." Reina meminum airnya, menjelaskan pada Imanuel.
"Aku mengerti!" jawaban darinya pada wanita yang sudah mengenakan seragam pabrik. Dirinya terdiam sejenak, mengingat kejadian kemarin kala dirinya dipeluk dari belakang. Ada apa dengan dirinya? Dengan cepat menampar pipinya sendiri, tidak boleh menjadi playboy, Nadila sudah menunggunya di rumah.
Pria yang mengepalkan tangannya, kemudian menghela napas. Berimajinasi jika Nadila sedang terisak di tempat tidur menunggu kepulangannya.
Dua orang yang perlahan tersenyum-senyum sendiri di meja makan. Tepatnya Imanuel dan Reina.
__ADS_1
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Lastri pada menantunya.
"Ibu, apa aku boleh menikah lagi? Aku janji akan tetap menjadikan ibu, seperti ibu kandungku sendiri," jawaban Reina mempertimbangkan dengan keras usulan dari Fujiko untuk mendekati pak Danu.
Imanuel yang mendengarnya segera berpindah kursi menjauh. Mengira dirinya lah yang diincar sang janda gatal. Pemuda yang takut Reina akan berbuat nekat memasukkan sesuatu di makanan atau minumannya. Kemudian berbuat mesum padanya.
Plak!
Sang ibu mertua memukul pelan kepalanya."Jangan aneh-aneh berfikir untuk nikah lagi! Bagaimana jika bertemu dengan tukang selingkuh? Tidak semua pria itu baik seperti almarhum Rian."
"Iya, maaf...tapi kalau orangnya tampan, bertanggung jawab, kaya dan baik tidak apa-apa kan?" tanya Reina terkekeh.
Sesuatu yang membuat Imanuel semakin menjauh, tampan? Bertanggung jawab? Kaya? Dan baik? Itu adalah ciri-ciri darinya. Apa mama suka pada papa? Maaf salah, apa janda genit suka pada tuan muda?
"Jangan dekat-dekat!" peringatan Imanuel.
Tidak menyadari Reina tersenyum-senyum sendiri, berimajinasi bagaimana jika janda bertemu duda. Pasti akan dapat bertukar pengalaman ranjang. Sayangnya sejatinya mama tidak sayang papa. Itu hanya imajinasi papa saja.
*
Kini dirinya menunggu kedatangan Reina di area samping pabrik. Hingga kasak kusuk, sesuatu yang aneh didengarnya.
"Reina berani mendekati pak freezer (Danu)?"
"Namanya juga janda, tidak bisa lihat duda bening sedikit,"
"Tapi kalau pak freezer mau, walaupun masih gadis aku bersedia. Sudah ganteng, tajir, apa yang kurang. Apalagi soal ranjang, duda lebih berpengalaman,"
Tawa dua orang karyawati pabrik, berjalan menuju area parkir, kemudian mengendarai motor mereka pergi.
Jadi bukan dirinya? Rasa GR yang berubah menjadi kekecewaan. Tunggu dulu, kenapa jadi kecewa? Justru bagus bukan? Jika Reina tidak menyukai Imanuel?
Hingga wanita itu terlihat, berjalan menuju tempat parkir. Namun, seorang karyawan pabrik menghentikannya, memberikan mainan bekas untuk Egie. Reina tersenyum, berbincang dengan rekan kerjanya. Sedangkan Imanuel hanya melihatnya dari jauh.
__ADS_1
"Janda gatal..." gumamnya.
Memang kenapa dengan status janda? Jika masih gadis sekedar bicara dengan seorang pria dianggap wajar. Tapi jika janda, akan dianggap sedang menggoda. Tapi itulah kenyataannya, sejatinya tidak ada yang salah dengan status janda, hanya saja anggapan dan persepsi orang lah yang membuat status itu dianggap rendah.
Tidak lama kemudian, Reina berjalan menuju motornya. Menatap jenuh pada seorang pemuda yang sudah menunggu.
"Ayo berangkat!" ucap Imanuel terlihat kesal. Entah apa yang terjadi pada tuan muda tsundere itu.
"Iya! Pakai helmnya!" Jemari tangan wanita itu bergerak memakaikan helm pada Imanuel.
Pemuda itu menunduk menelan ludahnya sendiri. Mengapa? Entahlah, wanita ini benar-benar menyebalkan, bahkan sekertarisnya dan Nadila lebih cantik. Tapi berprilaku genit, membuat dirinya uring-uringan.
Imanuel segera memakai maskernya kala motor akan melaju. Dirinya yang mengendarai motor, sementara Reina berboncengan padanya. Sekitar satu jam perjalanan, motor itu berhenti di kantor perusahaan milik Jovi.
Meminta bantuan pada ayah mertuanya? Itulah yang akan dilakukannya. Menghela napas berkali-kali, Raka memang sudah keterlaluan, merencanakan penculikan dirinya. Satu-satunya orang yang memiliki motif untuk membunuhnya. Orang yang paling diuntungkan saat ini tentunya adalah Raka.
"Kamu tunggu disini!" perintahnya pada Reina. Pemuda yang berjalan memakai masker dan topinya. Tidak ingin bertemu orang yang ingin menyingkirkannya. Sekali lagi ini hanya untuk berjaga-jaga.
Sedangkan Reina terdiam, menghela napas kasar memutuskan untuk berjalan berkeliling.
*
Imanuel berjalan melewati beberapa lorong. Naik ke lantai lima langsung menuju ruangan Jovi. Ini sudah lebih dari pukul 6 dirinya hanya berharap Jovi belum pulang.
"Kita masuk sekarang?" tanya seseorang, suara yang dikenal oleh Imanuel. Suara dari salah satu preman yang sebelumnya hendak menculiknya.
Langkahnya terhenti, bersembunyi di sudut lorong, menatap beberapa orang pria memasuki ruangan Jovi. Apa orang suruhan Raka akan mencelakai calon ayah mertuanya? Itulah yang ada di fikirannya.
Dengan cepat Imanuel berjalan, hendak menyelamatkan ayah mertuanya. Namun, saat membuka pintu pernyataan aneh terdengar.
"Tuan, mayat Patra tidak ada dalam mobil. Kami cemas, tapi jejak terakhirnya berhasil kami dapatkan. Mungkin dalam tiga hari kita dapat memastikan dan menangkapnya,"
Kata-kata dari sang preman membuat Imanuel membulatkan matanya. Paman Patra sudah ada di tangan mereka? Apa sebenarnya yang terjadi? Ini bukan perbuatan Raka?
__ADS_1